Alur maju-mundur.
****
Kini senyum menawan itu hilang, menyisakan penyesalan merayap datang.
Hal terindah di sia-siakan demi nafsu pekerjaan.
Terpuruk dalam kesedihan, seakan mimpi menjadi kenyataan.
Istri cantik ku berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Menikahi seorang wanita yang masih asing, membuat Ridwan acuh dalam rumah tangganya. Ridwan yang merupakan seorang peneliti, tetap sibuk dengan penelitian meski sudah menikah. Hingga suatu saat, Ridwan baru menyadari jika dirinya mulai nyaman dan tertarik Ketika istrinya sudah tiada.
Apa yang akan di lakukan seorang genius gila penelitian untuk menebus kesalahannya?
Hal gila akan di lakukan demi melihat senyum istrinya yang sangat jarang nampak di lihat.
Akan tetapi, hal gila tersebut membuatnya merasakan sakit yang berulang dan lebih sakit dari sebelumnya.
yuk ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bentak Ridwan
Setelah penandatanganan yang di saksikan KBRI di Perancis, itulah titik balik di mana Ridwan mulai kembali membangkitkan ambisinya untuk membangun mesin teleportasi yang dapat memudahkan manusia berpindah tempat dengan cepat.
Di mana hal itu juga titik permasalahan yang membuat Ridwan seakan lupa jika sudah tidak lagi bujang.
Braaak… Suara pukulan di mobil Ridwan.
Ridwan yang berada di rest area, merasa jengkel dan marah kepada dirinya sendiri saat mengingat hal tersebut. Hal yang kini di lihat menjadi awal kesalahannya hingga menyia-nyiakan istri yang kini telah tiada.
"Aaaaaaaaaaa… …" Ridwan berteriak di sebelah mobilnya hingga menjadi pusat perhatian banyak orang yang sedang beristirahat di rest area tol.
Penyesalan terlihat jelas di raut wajah Ridwan yang berteriak dengan meneteskan air mata. Dalam kesedihannya, Ridwan membuka galeri di handphonenya. Ridwan mencari foto Reisya yang pernah dia potret dengan kameranya.
Akan tetapi, Ridwan tidak menemukan banyak foto Reisya di galeri handphonenya. Hanya foto-foto pernikahan yang banyak Ridwan punya. Itupun foto bersama, bukan sebuah foto close-up yang dapat mengusir penyesalan dan kerinduannya.
"Mungkin ini maksudku memasuki tol, aku menginginkan pergi ke kediri. Alam bawah sadarku memerintahkanku untuk memiliki foto Reisya. Sehingga dapat mengobati kerinduanku." Setelah berpikir demikian, Ridwan segera naik ke mobilnya dan menancap gas menuju kediri, rumah orang tua Reisya.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Ridwan sampai di rumah tempat Reisya di besarkan saat matahari sudah hampir terbenam. Di sana Ridwan di sambut dengan hangat oleh kedua orang tua Reisya.
Ridwan tetap di anggap menantu oleh orang tua Reisya. Bahkan lebih dari sekedar menantu, Ridwan di anggap putranya sendiri oleh orang tua Reisya. Terlebih Ridwan sudah tidak memiliki orang tua kandung karena sudah meninggal.
Kini Ridwan duduk di kursi di mana Ridwan di temani minum kopi oleh Reisya sebelum Ridwan ke Bekasi karena ada urusan mendadak. Kesedihan terus membayangi Ridwan, air mata sering jatuh tanpa Ridwan sadari.
"Kau harus kuat, hadapi ujian ini dengan tegar." Ayah Reisya berbicara dengan menepuk-nepuk pundak Ridwan supaya lebih kuat menghadapi cobaan.
****
Ke esokan harinya, Ridwan menghabiskan waktunya untuk melihat semua album foto yang di miliki oleh orang tua Reisya. Bahkan Ridwan juga meminta handphone milik Reisya supaya dapat memiliki semua foto yang berada di galeri handphone Reisya.
Saat Ridwan melihat salah satu foto Reisya, Ridwan kembali mengingat kejadian 3 bulan 3 hari yang lalu. Di mana saat Ridwan baru datang dari Perancis, Ridwan tidak langsung pulang. Tetapi pergi menuju kantor barunya yang merupakan gedung penelitian milik tuan Jimmy.Saat Ridwan baru pulang dari tempat penelitian, Ridwan mendapati Reisya sedang menyiapkan makan malam di rumah.
"Kau sudah datang mas..? Kenapa tidak salam..? Setelah membersihkan diri, kita makan malam bersama ya."
Ridwan tidak menjawab ucapan Reisya dan langsung memasuki kamarnya. Di sana Ridwan sudah mendapati kamarnya sudah rapi tertata.
"Mungkin mas Ridwan sedang capek dari memikirkan penelitian." Melihat Ridwan tidak menjawab pertanyaannya, Reisya hanya berfikir positif akan hal itu.
"Kapan Reisya datang kemari? Syukurlah, berarti Surya dan Ayla yang menjemput Reisya. Aku harus mengucapkan terimakasih pada Surya." Setelah membatin demikian, Ridwan segera menelpon Surya.
"Surya, terimakasih sudah menjemput Reisya. Maafkan aku karena aku sempat mengira jika kau tidak akan menjemput Reisya." Surya yang mendapat telepon dari Ridwan yang tiba-tiba mengucapkan terimakasih padanya, cukup bingung. Sebab Surya tidak merasa menjemput Reisya.
"Bukankah yang.." Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Belum sampai Surya menjawab, Ridwan telah menutup teleponnya. Surya tidak terlalu memikirkannya dan lebih memilih kembali fokus pada jalan. Sebab Surya sedang berada di perjalanan.
Setelah membersihkan diri, Ridwan keluar kamar dan sudah di tunggu oleh Reisya untuk makan malam bersama. Di meja makan, Ridwan tidak mempedulikan Reisya dan tidak berbicara apapun dengan Reisya.
Meski beberapa kali Reisya menanyakan sesuatu, Ridwan tidak menjawabnya dan tetap melihat sebuah rumus-rumus fisika yang tidak Reisya mengerti.
"Aku akan ke lantai atas, jangan menggangguku." Ridwan berbicara kepada Reisya yang menjawab ucapan Reisya dengan anggukan.
"Mengapa mas Ridwan menjadi cuek? Mungkin mas Ridwan sedang pusing dengan penelitiannya." Reisya membatin saat melihat Ridwan menuju lantai atas.
Hari pertama Reisya di rumah Ridwan, Reisya harus tidur sendiri. Sebab semalaman Ridwan berada di lantai atas untuk melakukan penelitian yang tidak Reisya ketahui.
****
"Aku berangkat." Di pagi yang buta, Ridwan sudah berpamitan kepada Reisya untuk berangkat ke laboraturium untuk merealisasikan apa yang sudah Ridwan kerjakan semalam.
"Haruskah sepagi ini mas..?" Reisya bertanya kepada Ridwan saat Ridwan sudah berlalu pergi keluar dari rumah.
Reisya hanya bisa mengikuti Ridwan dari belakang dan melihat suaminya menaiki mobil lalu pergi menuju tempat kerjanya.
"Apakah selalu seperti ini jika mas Ridwan sedang melakukan penelitian? Padahal aku baru menikah dan belum berumur 1 minggu. Tetapi, seakan aku tidak merasakan perbedaan menjadi pengantin baru. Bahkan seakan aku tidak memiliki suami." Reisya membatin saat Ridwan sudah benar-benar pergi dari rumah.
Dalam kesendirian menunggu suaminya pulang supaya dapat mengabdi kepada suaminya, Reisya menghabiskan waktunya dengan membantu bi ina membersihkan rumah dan memulai menulis diary pertamanya setelah menjadi seorang istri.
****
Kriiinggg… Kriiiingg… Kriiinggg… Kriiiingg… Suara handphone Ridwan berbunyi. Terlihat foto Reisya di layar handphone Ridwan. Tetapi Ridwan menghiraukannya dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
Setelah beberapa saat setelah telepon dari Reisya terhenti sendiri karena Ridwan tidak mengangkatnya. Handphone Ridwan kembali berbunyi dan terlihat lagi jika istrinya yang sedang menelpon. Tetapi lagi-lagi Ridwan tidak mengangkat dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.
Hingga beberapa kali handphone Ridwan berbunyi mendapat panggilan dari istrinya. Merasa terganggu dan tidak nyaman bekerja, akhirnya Ridwan mengangkat telepon dari Reisya.
"Mengapa kau menelpon ku berkali-kali. Jika 1-2 kali aku tidak mengangkatnya, itu artinya aku sedang tidak bisa di ganggu dan membutuhkan konsentrasi." Ridwan mengangkat telepon dari Reisya dengan marah.
"Aku.. Aku hanya ingin menanyakan kepulanganmu. Ini sudah malam, tetapi kamu belum pulang mas. Aku hanya merasa khawatir." Dengan suara bergetar, karena di bentak oleh Ridwan. Risya menjawab pembicaraan Ridwan.
"Jika aku sudah selesai, aku pasti akan pulang. Jika aku belum pulang, itu artinya pekerjaanku hari ini belum selesai." Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Setelah mendengar Ridwan marah, Reisya mendengar suara panggilan yang di akhiri.
Mendapatkan bentakan yang demikian, Reisya meneteskan air mata.
"Apakah aku salah jika aku menanyakan kepulangan suamiku..? Apakah seperti ini rasanya menjadi seorang istri." Reisya membatin dalam kesenditiannya di rumah Ridwan yang cukup besar.
setiap org mengharapkan dpt istri salehah yg selalu berbakti pd suami, krn tanggungan sebagai suami itu sangat lh berat..
penelitian apa yg membuat Ridwan tega meninggalkan istri yg baru 1 hari dinikahinya..