NovelToon NovelToon
SADNESS

SADNESS

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kang-jun!!!

Seren hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Hidup dan tumbuh dari hasil keringat seorang pelacur tak membuat Seren termotivasi untuk menjadi salah satu di antaranya.
Dalam 18 tahun kehidupannya, Seren selalu bertekad tidak ingin menjadi seperti sang ibu. Karena ia sangat tahu di balik kehidupan mewah seorang Pelacur tersimpan sebuah hal berbahaya yang bahkan satu orang pelacur- pun belum dapat keluar darinya.

"Hmm- Kamu percaya kalau aku ini bajingan, bukan?"

peringatan: mengandung percakapan orang dewasa, disarankan untuk bijak memilih jenis bacaan anda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang-jun!!!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Rekan kerja

"Namanya Veiner Abdi Adidjaya, dia seorang Arsitek, tidak asing lagi sih melihat dia, selain hebat di bidangnya dia juga hebat di dunia gelap, contohnya di bar kalian." Jawab suara di belakang Seren hingga wanita itu meremang ketakutan namun tak sanggup berteriak saat pria itu langsung menutup mulut Seren yang hendak berteriak kencang.

"Shuuuttt... Jangan teriak nanti mereka dengar." Bisiknya tepat di telinga Seren yang sudah berkeringat dingin ketakutan.

.......

.......

.......

.......

.......

...Sadness...

...Rekan kerja...

.......

.......

"Shuuutt... Sekarang ikut aku ya." Bisiknya mengarahkan Seren pergi.

'Apa yang akan terjadi padaku? Apa aku akan dalam masalah?'

Lirih hati Seren ketakutan.

.

.

.

.

"Nah, sekarang kamu boleh perkenalkan diri." Ucapnya dengan senyuman yang lebar.

Seren menatapnya "Sorry, senyummu sepahit garis hidupku."

Sontak pria itu langsung menurunkan senyumnya mendengar penuturan Seren yang begitu, spontanitas.

Seren langsung berjalan pergi meninggalkan pria itu.

"A-apa? Aku padahal sudah tersenyum setampan biasanya kenapa kau malah pergi oii!!!" Pria itu langsung berlari mengejar Seren, dan di balik tikungan ia langsung menabrak badan seseorang dengan kencang.

BRUK!

"Auch! Kepalaku." Gumam pria itu menyentuh kepalanya yang baru saja bertubrukan dengan kepala sang lawan.

"Kau sedang apa berlari-lari seperti pencuri di rumah orang."

"Auch-ah Willy, hye." Sapa pria itu tanpa ada rasa bersalah, senyuman lebarnya begitu ceria namun wajah muram William tidak dapat luntur.

"Josephan Dantly, sedang apa kau di rumahku?" Tanya William curiga, bahkan kedua tangan sudah dilipat di dada.

"Ahhh~ heheheheh (menggaruk tengkuk) yaaa.... Berkunjung, apalagi bukan? Hahahahahahha." Joseph langsung merangkul pundak William yang masih setia memandang Joseph murka.

"Oh iya (menatap sekitar) kemana tamu-mu tadi? Aku tak melihatnya." Dalih Joseph.

"Tamu-mu apa maksudmu? Jangan berputar-putar, kau hampir membuatku menendangmu ke luar sekarang juga Joseph, sekarang pulanglah. Kau bertamu di saat aku tak ingin menerima pengemis. Jadi silahkan pergi!" Teriak William mengusir Joseph yang tanpa sadar sudah berjalan mundur sampai ke pintu ke luar.

BRAK!

Pintu langsung terkunci, menyisakan Joseph yang masih syok di perlakukan demikian oleh William yang tanpa hati mengusirnya sebelum Joseph sempat menikmati teh di rumah ini.

"Benar-benar manusia aneh." Gumam Joseph berbalik.

Pandangannya liar mencari objek tujuannya kemari "Gotcha! Aku menemukannya." Ucap Joseph tersenyum miring, kali ini bukanlah senyum ceria ataupun bersahabat lagi, namun senyuman yang menggambarkan siapa Joseph sebenarnya.

.

.

.

"Iiiii.... Siapa sih tu orang, tiba-tiba hadir aja kayak setan!" Maki Seren sendirian di pinggir kolam renang. Dengan sekaleng soda di tangan ia terus mengoceh tiada henti mengutarakan betapa kesalnya ia pada pria itu (Joseph) walaupun ia belum berkenalan.

"Haish! Mengesalkan." Rutuk Seren menghempaskan air kolam kesal.

"Berhati-hatilah dengan airnya, kau fikir itu kolam ikan seenaknya mencelupkan kaki dan membuang air kesembarang tempat?" Tiba-tiba William hadir, berjalan ke hadapan Seren yang langsung berdiri kaku menatap kehadiran William yang terus melangkah maju.

"K-kau mau apa?" Tanya Seren terbata, ia langsung melangkah mundur sampai batas kolam renang.

'Astaga! Bagaimana nasibku setelah ini ya ampun.'

Rutuk Seren menatap dirinya yang begitu menyedihkan, sedikit banyaknya Seren benar-benar masih trauma akan perlakuan William padanya.

Tapi...

"Kau kenapa sih?" Tanya William ketus, ia pergi berbelok meninggalkan Seren yang masih kaku di tempat menatap William yang datang mengambil sebuah buku yang terletak di atas meja di samping kursi yang tepat menghadap ke arah kolam renang.

William kembali melangkah dan berhenti tepat di samping Seren "Kau kenapa berdiri seperti orang idiot? Dasar aneh." Ucap William dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Seren setelahnya.

Setelah cukup lama, melihat William yang sudah hilang di antara dinding barulah Seren bergerak. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai William melakukan hal-hal aneh padanya.

.

.

.

"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Suara batuk yang begitu keras terdengar dari salah satu kamar.

"UHUK.... Hah.. Hah... Hah.... Uhuk.. Ghmmmm... Astaga, ada apa denganku?" Tanya Ririn menyentuh kepalanya yang semakin pusing setiap kali ia membuka mata.

Meski begitu, Ririn tidak ingin bermalasan, meski sakit sekalipun Ririn tetap harus bekerja demi menghidupi dirinya dengan 'Seren'.

"S-Seren..." Gumam Ririn kembali teringat akan putri semata wayangnya itu.

Ingatan kembali berputar ketika pagi menjelang setelah malamnya Ririn memberikan Seren pada Dita untuk menemui customer. Di pagi harinya, Ririn yang bertanya pada Dita malah diminta untuk pergi ke ruang VVIP, katanya ada yang ingin bertemu.

Dengan pikiran bertanya, Ririn masih mengikuti perintah. Setelah sampai, disana Ririn dapat melihat ada 2 pria yang berdiri di belakang 1 pria asing. Sementara dihadapan mereka adalah Golern yang sedang berwajah senang.

"P-permisi." Ucap Ririn memasuki ruangan.

"Ah, Ririn kemarilah." Golern beranjak dari kursinya kemudian menghampiri Ririn untuk dibawa duduk disamping Golern.

Ririn dengan wajah bertanya hanya menurut.Ia memperhatikan pria asing yang berhadapan dengannya kini menunjukkan senyum misterius.

"Dia adalah ibu kandung sekaligus wali Seren." Ucap Golern memulai.

"Wah... benarkah? Senang sekali saya dapat bertemu dengan anda." Ucap pria itu ramah.

"Baiklah, langsung saja. Aku William Birtrainy, aku ingin membeli putrimu."

Seketika Ririn membeku, ia tertunduk, tangannya mendingin dan kakinya seolah tak mampu bertapak. Ia tak mampu mengeluarkan kata apapun hingga Golern yang berada disampingnya berbisik.

"Dia ingin membeli putrimu, berapapun harga yang kau minta. Bukankah kau kesulitan menafkahi putrimu? Ini kesempatan bagus Rin, sebaiknya tidak dilewatkan."

Golern kembali ke posisi awalnya, ia juga kembali memberikan senyum lebar. Sementara Ririn berkutat dengan fikirannya sendiri.

'Jika aku setuju, apakah hidup Seren akan terjamin? Apakah ia akan bahagia? Sebenarnya aku tidak sampai hati pada anak itu, namun keadaan yang membuatku sering melampiaskan rasa kesal padanya. Apakah?'

Tiba-tiba Ririn teringat seorang pria yang berhasil membuat Seren ada, seketika tangannya terkepal, ia tiba-tiba kesal.

'Ini demi kebahagiaan Seren, jika ia selalu bersamaku, aku takut ia tidak dapat bahagia.'

Ririn mendongak "Aku setuju, namun aku punya kesepakatan yang harus di matrei."

"Hmm..." Satu alis terangkat, William langsung mengisyaratkan Rasyid untuk mencatat.

"Baiklah, itu mudah..."

.

.

.

Setelah kedua belah pihak setuju, William memerintah Robert untuk memberi cek sebesar 1M pada Ririn yang ber-ekspresi gusar.

"Baiklah, Sepertinya kehadirannya di rumahku sudah tidak menjadi masalah lagi. Sekarang izinkan aku untuk mendidiknya ....." William berdiri dan berjalan pelan ke arah Ririn yang masih diam.

William tersenyum, ia menyukai ekspresi yang di keluarkan Ririn. Dengan gerakan pelan ia menunduk untuk menatap wajah Ririn dengan sengit "Dengan baik."

.

.

.

.

"Ibu?" Gumam Seren tanpa sadar.

Tiba-tiba ia terbangun di tengah malam seraya memikirkan sang ibu yang tiba-tiba singgah dalam fikirannya.

Ia menatap plafond, setidaknya sudah 3 jam lamanya. Mencoba tidur setelah memimpikan sang ibu benar-benar sulit bagi Seren yang berakhir hanya menatap sekeliling sambil memperhatikan interior kamar tamu.

Di dalam ketenangan malam, terlintas cepat di benak Seren, apakah ia boleh kembali? Setidaknya untuk melihat sang ibu? Atau apa sebenarnya pekerjaan Seren disini? Ia masih bingung dan bertanya.

Setiap hari ia selalu memikirkan berbagai kemungkinan yang telah terjadi pada dirinya, apakah ia telah di jual?

Ia harus memperjelas semua ini, ia tidak perduli meskipun jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Yang jelas saat ini Seren ingin menuntaskan rasa hausnya akan semua pertanyaan yang sebenarnya sudah bersarang cukup lama di otaknya.

Dan semua pertanyaan ini akan langsung di tanyakan Seren pada pelaku utama.

"Tuan Will- ah maaf." Seren langsung menutup pintu kembali.

"Astaga, aku memandang sesuatu hal yang tak seharusnya aku lihat." Gumam Seren syok.

Di dalam sana William tengah bercumbu, namun Seren malah mengintrupsi kegiatan nista itu secepat kilat dan sekarang ia tidak tau harus bagaimana lagi.

"Aaaa.. Aha! Sebaiknya aku kembali ke kamar saja hahahahaha... I-iya iya sebaiknya ke kamar saja hahahahahahwuaaaahhh!"

"Kau mau kemana?" Tanya suara itu penuh nafsu.

Seren langsung berbalik menatap ke asal suara yang menahan pergelangan tangannya.

Dapat ia lihat di sana William dengan setelan piyama yang belum terpasang sempurna tengah memandangnya tajam, atau dapatkah ia mendefinisikan pandangan pria itu seperti mengancam?

"Ah-itu tuan... Aku tidak sengaja berjalan tidur lagi hahahahaha...." Alibi Seren menggaruk tengkuk yang tak gatal sambil berusaha untuk melepaskan cengkeraman William.

"Hoh! Tidur berjalan ya?" Tanya William memberikan senyum miring.

"Hahahaha... I-iya begitulah." Balas Seren.

"Hmmm... (mengusap dagu) ah bagaimana jika kau masuk ke dalam dan menemaniku. Aku butuh beberapa hiburan malam ini, bagaimana?" William memberikan senyum seraya membuka pintu kamarnya dengan kaki, memperlihatkan kamar yang masih terang akan cahaya lampu.

Seren menelan ludah dengan susah payah" T-tidak, tidak. Sepertinya aku tidak bisa, besok aku ingin sekolah, ya sekolah. Karna aku sudah membayarnya tidak mungkin aku sia-siakan hahahahahahha..... " Tawa canggung Seren menjadi tidak berbobot di pandangan William yang hanya diam.

"Ck! (menghempas tangan William) kau sudah punya jal*ng di dalam sana kenapa masih meminta lagi sih dasar serakah!" Ucap Seren menaikkan nada suaranya emosi.

William yang semula hanya diam dan menatap Seren kini membuka suaranya "Karna kau di jual memang untuk mela*ur padaku, jadi sadari posisimu yang kini sudah di jual, Seren,"

Seren seketika termangu, "A-apa?"

"Hmmm... Hehh... Apa perlu kuulangi? (menatap Seren merendahkan) Sepertinya hanya perlu di pertegas sedikit ya, baiklah. Kau itu sudah di jual padaku sebagai konfensasi bar Golern yang hampir gulung tikar Seren, dan Ririn,"

Seren langsung memandang William tepat di mata pria bule itu.

"Ririn sudah menyerahkan seluruh hal yang berhubungan denganmu, bahkan aku sudah menjadi wali sahmu untuk semuanya. Jadi Seren....." William menjeda, memandang Seren dengan wajah tak percaya serta raut kecewa sungguh menghiburnya.

"Welcome to my World little kitty, selamat datang di kehidupan menakjubkan-ku." Ucap William dengan nada menggoda sambil mencolek dagu Seren gemas dan di saat gadis itu lengah William langsung menyeretnya untuk masuk ke dalam kamar sang blonde.

.......

.......

.......

.......

...TBC...

visual William.

1
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
kalau tau dia beban kenapa dijempit lagi dasar aneh.. bukannya anda orang kaya.. kehilangan uang segitu mah gak ada apa2nya
❥␠⃝ ͭ🍁JN-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: dia butuh hiburan kak /Facepalm/
total 1 replies
Nona TIMOR
Makin seru ceritanya Thor , please up lagi dong Thor terimakasih banyak Gbu 🙏
❥␠⃝ ͭ🍁JN-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: terimakasih banyak atas dukungannya kak, akan diusahakan /Good/
total 1 replies
Nona TIMOR
Makin seru ceritanya thot pease up lagi dong Thor terimakasih Gbu 🙏
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
hati seorang ibu tetaplah lembut, walaupun dia selalu bicara kasar.
❥␠⃝ ͭ🍁JN-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: benar sekali, tante memang hebat /Doge//Good/
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
wasuh dikatain pengemis
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
merinding eh bulu romaku eh salah merinding bulu roma Seren
❥␠⃝ ͭ🍁JN-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: merinding dan hampir pingsan/Facepalm/
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/jangan metong dong, nanti kamu nyesel loh
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ: iyaa kalau di awal namanya pendaftaran/Chuckle/
total 2 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
baru pacar aja udah bangga. nah elu ngapain masuk kamar tuh cowok kalau baru jadi pacar??aneh
❥␠⃝ ͭ🍁JN-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: tau aja tante /Doge//Rose/
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
koq PT3K/Facepalm/sambil ngelamun yaa nulisnya
❥␠⃝ ͭ🍁JN-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: siap tante /Facepalm/
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
kabur/Facepalm/
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
andai aja.. yahh begitulah manusia selalu berandai andai
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ: bisa bae 😂😂😂
total 2 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
wuih beberan cantik ini mah, bukan gadis kampung
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
mereka udah kayak tom dan jerry yaa🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁JN-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: lebih dari pada itu kak/Facepalm/
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/kocak nih seren
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
kenapa selalu kalah dengan uang??
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ: hmm memang..
total 2 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
oooo jadi begitu ceritanya
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
aku kira namanya Tuan Golem eh ternyata Tuan Golern🙈🤣🤣
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ: maafkan🙏🏽🙏🏽🤭🤭🤭
total 4 replies
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
malu tapi penasaran yaa🤣
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
polos sekali kamu Seren
❤️⃟Wᵃf🦀༄SN🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ
habislah kamu Seren, sudah masuk circle itu akan sulit untuk keluar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!