Kisah ini tentang seorang gadis polos bernama Aluna George yang terjebak dalam pernikahan bersama seorang mafia berdarah dingin. Alexandre Graham seorang pria tampan yang tidak pernaheduli soal cinta, baginya wanita mainan.
Harta, tahta dan kekuasaan membuatnya mampu memilih wanita manapun yang ia inginkan. namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan gadis manis dari acara lelang.
Hubungan yang awalnya baik, akhirnya rusak karena sebuah kesalahan. kesalahan yang membuat keduanya harus terikat, kesalahan apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti sepasang kekasih 2
Aluna memakan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja, meski jarang datang ke tempat ini Alex masih tetap memberikan uang untuk mengisi kulkas.
Gadis itu sibuk mengunyah tapi fikirannya terbang jauh, mata indah milik Alex benar-benar membuatnya terpesona. Apalagi tadi ia dapat menikmati keindahan itu dengan jarak yang cukup dekat, ohh jantungnya lagi-lagi berdebar.
Di sekolah Aluna memang cukup terkenal, selain pintar ia juga cantik. Tentu dua hal itu mampu membuat ia menjadi idola para pria, tapi sayangnya waktu itu Aluna tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti itu.
Ayahnya ingin ia menjadi jauh lebih baik darinya, itulah kenapa masa SMAnya di habiskan hanya untuk belajar. Makanya berada dekat dengan seorang pria adalah hal baru untuknya, apalagi pria itu cukup tampan ingat hanya cukup bukan berati tampan.
Sibuk tenggelam dalam ingatannya, Aluna tidak menyadari jika di kursi depan sudah ada Alex yang menatapnya bingung. Ini pertama kalinya Alex melihat seseorang makan sambil tersenyum tidak jelas, apa gadis ini sudah ketularan penyakit Elena batin Alex.
"Kau kenapa?" Tanya Alex, dan tanpa ia duga gadis itu malau tersedak. Dengan gerakan refleks Alex mengambil gelas yang berisi air dan memberikannya pada gadis itu.
"Dasar ceroboh, bagaimana bisa kamu makan sambil menghayal," kesal Alex tapi entah mengapa malah terdengar seperti sebuah perhatian di telinga Aluna.
Setelah merasa lebih baik, Aluna kembali meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Terimakasih," ucap Aluna pelan, tunggu dulu apa pipinya baru saja memerah.
"Tentu saja kau harus berterimakasih, aku baru saja menyelamatkan nyawamu," jawab Alex dengan penuh percaya diri, gadis itu langsung menatapnya sinis. Dasar pria sombong, baru aja mau baper.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? kau mau ku hukum lagi," ucap Alex garang karena mendapat tatapan sinis dari Aluna.
Gadis itu langsung menyadari tatapannya dan tersenyum manis, tidak tentu dia tidak mau di gelitiki lagi.
"Jangan lagi, iya-iya aku minta maaf tuan," ucap Aluna dengan mata yang di buat sesendu mungkin.
"Untungnya kau sedang makan, cepat habiskan makananmu," ucap Alex lalu berlalu dari tempat itu.
Tanpa di perintah dua kali gadis itu langsung menghabiskan makanannya tanpa banyak bersuara, yah karena memang ia saat ini sendiri.
Setelah selesai makan, Aluna bergegas membersihkan meja dan mencuci piringnya. Setelah itu ia langsung berjalan ke kamar tempat dia bangun tadi.
Setibanya di sana, ia melihat Alex sedang duduk di sofa sambil memainkan handphone miliknya. Menyadari kehadiran Aluna pria itu mendongak menatap Aluna, lalu berdiri dan berjalan ke arah lemari.
Pria itu membuka pintu lemari dan mengambil selimut dari sana, tanpa suara apapun ia berjalan ke arah sofa bersiap untuj tidur.
"Tuan kenapa tidur di sofa?" tanya Aluna sambil menatap heran Alex.
"Memangnya kau mau seranjang denganku?" Bukannya menjawab pria itu malah memberikan pertanyaan yang sukses membuat Aluna menggeleng cepat.
"Kalau begitu kenapa harus bertanya?" sambung Alex setelah melihat gelengan gadis itu.
"Tapi tuankan bisa tidur di kamar lain, atau aku bisa tidur di kamar lain," jelas Aluna, yang benar ia akan tidur sekamar dengan Alex. Meski pria itu tidur di sofa tapikan tetap saja mereka sekamar.
"Baguslah, kalau begitu kamu bisa tidur di kamar mandi," jawab pria itu, posisinya yang tadi berbaring ia rubah menjadi duduk.
"Di villa ini hanya ada dua kamar, yang satunya lagi di tempati oleh penjaga villa dan istrinya." jelas Alex setelah terus melihat Ekspresi bingung Aluna.
Gadis itu mengangguk tanda mengerti, itu tandanya mau tidak mau dia harus tidur sekamar dengan Alex. Ia berharap pria itu tidak khilaf.
"Memangnya kau berfikir aku akan macam-macam denganmu? tipeku bukan sepertimu datar atas bawah," sambung Alex setelah itu langsung masuk ke dalam selimut miliknya.
Aluna yang mendengar itu mendengus kesal, padahal ia baru saja hendak memuji Alex karena memilih tidur di sofa. Di novel-novel biasanya tuan seperti Alex akan menyuruh bawahannya tidur di sofa, tapi mendengar kalimat tadi, pujian itu menjadi hangus.
Dengan langkah kesal Aluna berjalan ke arah tempat tidur, dan tanpa banyak bicara ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
Nikmat mana lagi yang kau dusta kan Aluna, batin gadis itu.
Sambil berusaha memejamkan matanya gadis itu melirik ke bawah, tepatnya melirik ke arah pria yang sedang tertidur di sofa.
Dari yang ia lihat sepertinya pria itu sangat tidak nyaman, terbukti dengan gerakan yang terus berubah seolah mencari tempat yang nyaman.
Tubuh pria itu memang tinggi, jadi tidak cukup jika hanya tidur di sofa kecil. Melihat itu Aluna jadi merasa kasihan, sepertinya akan lebih baik jika dirinya saja yang tidur di sofa. Tubuh mungilnya tentu akan muat jika berada di sana, gadis itu mengangguk tanda menyetujui idenya.
"Tuan," ucap Aluna, pria yang memang sedari tadi tidak bisa tidur itu membuka matanya.
"Ada apa?" tanya Alex, sebenarnya ia sudah sangat mengantuk tapi tempat ia berbaring tidak memungkinkan dirinya untuk tidur.
Gadis itu bangun dari tempat tidur, "Tuan tidur di ranjang saja, biar saya yang tidur di sofa,"
Mendengar itu Alex mengubah lagi posisinya menjadi duduk.
"Tidak perlu, kau itu wanita tidak mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa, sudah sana tidurlah." tolak Alex, sebenarnya jika wanita lain pria itu tentu akan menerimanya tapi melihat gadis mungil seperti Aluna membuat ia seperti tidak tega.
"Tapi kamu telihat tidak nyaman," jelas Aluna membuat pria itu menatapnya dengan tatapan yang tidak di mengerti gadis itu.
"Kalau begitu kita seranjang saja bagaimana?" Tawar Alex berhasil membuat Aluna menggeleng lalu berjalan kembali ke tempat tidur dan merebahkan dirinya.
Melihat tingkah menggemaskan itu Alex tersenyum lalu kembali mengubah posisi duduknya menjadi berbaring, ternyata menakuti Aluna semudah itu.
Gadis itu berfikir keras, ia merasa kasihan tapi tidak mungkin ia membiarkan pria itu tidur di sampingnya. Tapi jika tidak, pasti pria itu tidak akan bisa tidur.
"Tuan?" Lagi-lagi Aluna memanggil pria itu.
"Kamu bisa tidur di sini," sambung Aluna, ia berfikir kata Alex tadi gadis itu bukanlah tipenya jadi tentu saja tidak akan tertarik padanya.
Tanpa banyak bertanya pria itu langsung bangun, ia tidak mau gadis itu berubah fikiran. Setelah melihat Alex beranjak Aluna berbalik merubah posisinya untuk membelakangi pria itu, tak lupa tadi ia sudah memberi batal di tengah mereka.
"Terimakasih," ucap Alex saat ia sudah merebahkan tubuhnya.
"Sama-sama," jawab Aluna.
Mereka berdua pun memutuskan untuk tidur, meski sebenarnya rasa canggung membuat mereka sulit memejamkan mata.
Namun pada akhirnya mereka tetap tertidur, lagipula berlari di dalam hutan tentu membuat mereka berdua lelah.
"Selamat tidur tuan," ucap Aluna pelan.
TBC