"Apa ???" Mata Bella terbelalak mendengar apa yang keluar dari mulut orang tuanya.
"Bella sudah dewasa pa, Aku Bisa Memilih Lelaki yang pantas untukku, Tidak Perlu Mencari kan ku pasangan Hidup." Ucap Bella Dengan Nada Kesal.
"Ini semua demi Kebaikan kamu juga nak" ujar mama Bella.
"Jangan Membantah Papa, apa Papa pernah mengajarimu Berkata Seperti itu? Jangan Buat malu papa. Seperti Tidak pernah mengajarimu Sopan Santun" Ucap Wira Pratama, Ayahnya Bella.
"Bella tidak akan pernah Menerima Perjodohan Ini Pa." Balas Bella dengan Nada Ketus
"Kalau Kau tidak Menerima Perjodohan Ini, Kau bisa angkat kaki dari Rumah Ini" Teriak Wira dengan kesal.
"Baik Kalau Begitu, Aku juga Sudah Muak Dengan Kelakuan Papa yang Tidak Pernah Mengerti Perasaanku" Ucap Bella dengan Air Mata yang hampir jatuh.
"Tunggu Apalagi, Lekas Pergi" Ucap Wira Kepada anak nya itu, ia tak pernah menyangka Putri satu-satunya itu bisa membantah nya.
Jangan Lupa Like,komen dan Votenya.
Selamat Membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Menjadi Seketaris Tuan Brayen (Part II)
Bella mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangannya menuju ruangan brayen.
Berulang kali dia mengetuk pintu tetapi tidak ada sahutan.
Bella menjadi kesal lalu mengulangi ketukannya diiringi dengan suara yang keluar dari mulutnya.
Tok...tok..tok...
“Maaf tuan , apa anda ada didalam ?” tanya bella menahan emosinya
Jangan bilang kalau dia sudah pulang. Batin nya
“tuan, apa saya boleh masuk ?” tanya nya lagi
“Hmm” ucap brayen dari dalam.
Dia masih didalam, apa dia tidak mendengar dari tadi aku mengetuk pintu nya ? Batin nya lagi.
Lalu membuka pintu itu dengan memamerkan senyum khasnya.
“Selamat sore tuan brayen, ada keperluan apa bapak memanggil saya?” tanyanya lembut.
“Antar aku pulang.” Jawab brayen tanpa menoleh, lalu menyambar jasnya dan pergi meninggalkan bella yang masih berdiri di depan mejanya.
Sialan, dia pikir dia itu siapa ? bagaimana kalau aku tidak punya mobil ? mau diantar pake apa dia pulang ? Mentang-mentang kaya, dia seenaknya saja menuntut orang lain. Batin bella kesal.
Kemudian menutup pintu ruangan brayen dan mengejar lelaki itu. Sesampainya di parkiran, bella masuk kedalam mobilnya duduk di depan kemudi.
“Ayo masuk tuan” ucapnya setengah teriak melihat brayen yang masih berdiri di depan mobilnya.
“Turun kau.” Ucap brayen kesal
Kenapa lagi ini ? apa ada yang salah ? dia memang menjengkelkan sekali. Batin bella saat keluar dari mobilnya.
“kenapa tuan tidak masuk ? apa tuan tidak suka dengan mobil saya ?” tanyanya polos.
“Apa dodi tidak memberi tahu mu bagaimana layak nya menjadi seketarisku ?” ucap brayen marah.
Bella mengingat-ingat pesan dodi padanya, lalu tertegun dan panik.
“Jangan pernah membantahnya, dia baik. Dan jika kau bekerja disana kau harus mengantar-jemputnya dan membuka kan pintu untuknya setiap dia mau masuk mobil atau ruangan.”
tiba-tiba pesan itu muncul di kepalanya.
“Oh, maaf kan saya tuan. Saya masih belajar menjadi seketaris yang baik. Mari “
ucap bella berjalan mendekati mobilnya dan membukakan pintu untuk tuannya itu.
“Silahkan masuk tuan.” Ucap bella memegang pintu.
Brayen mendesah kesal, lalu masuk kedalam mobil itu.
Huh.. mobil mobilku, tetapi aku diperlakukan seperti supir pribadinya saja. dasar tidak tahu di untung. Udah numpang malah ingin diperlakukan seperti raja .Batin bella kesal saat menutup pintu mobil.
Kemudian berlari kecil ke pintu kemudinya. Di perjalanan bella fokus mengemudi.
Brayen yang duduk di belakang merasa tidak nyaman duduk di kursi mobil itu.
“apa kau bisa mengganti mobil mu? Aku tidak nyaman duduk disini” ucap brayen
“maaf tuan, tetapi saya hanya punya mobil ini. Nanti kalau saya sudah punya uang saya akan menggantinya agar tuan nyaman duduk di mobil saya.” Ucap bella tersenyum mengemudi.
Tuh kan, lagi-lagi kau mengeluh. Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku merengek ke papa untuk dibelikan mobil.itu pun gaji ku selalu dipotong tiap bulannya. Batin bella kesal
“siapa namamu.?” Tanya brayen yang menyenderkan kepalanya di kursi.
“Oh iya, Maaf tuan saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Bella tuan.”
Jawab bella melirik tuannya dibelakang.
“Hmm.” Gumam brayen
“arah rumah tuan kemana ?” tanyanya sopan.
Brayen yang tidak ingin di ganggu melemparkan ponselnya ke arah bella. Bella terkejut dan menginjak rem .
Crittttttt.....
“Hei, kau hampir saja membuat ku mati.” Teriak brayen
“maaf tuan saya terkejut.” Jawab bella singkat.
“ini buat apa tuan ?” tanyanya memegang ponsel yang dilemparkan brayen.
“tadi kau Bertanya alamat rumah ku, lihat di map.” Ucap brayen membenarkan posisi duduknya.
Lalu bella menyalakan ponsel itu, tetapi layarnya dikunci oleh pemiliknya.
“maaf tuan, silahkan masukkan password nya.” Ucap bella menyerahkan ponsel itu.
“PONSELKU” ucap brayen menyenderkan kepalanya lagi sambil memejamkan matanya.
“ini tuan.” Ucap bella mendekatkan ponsel itu ke depan brayen.
“passwordnya PONSELKU bodoh.” Ucap brayen kesal.
“Maaf tuan, saya baru mengerti.” Angguk bella paham. Lalu membuka layar kunci ponsel itu, kemudian mengklik map disana sudah ada lokasi yang tersimpan. “Rumah”
“ apa lokasi rumah ini adalah alamat tuan ?” tanya bella memastikan
“hmm” jawab brayen datar.
Kemudian bella meluncurkan kembali kemudinya menuju rumah brayen.
“Buka kaca.” Ucap brayen saat satpam rumahnya mendekati mobil bella.
Bella hanya menurut membuka kaca di sebelah tuannya itu.
Setelah melihat tuan brayen didalam mobil bella, satpam itu langsung membukakan gerbang dan mempersilahkan mobi itu masuk.
“Silahkan tuan.” Ucap bella membukakan pintu untuk tuannya.
“Sebaiknya kau banyak bertanya kepada dodi dan catat apa saja perintah-perintah nya. Lama-lama aku muak melihat hasil kerjamu.” Ucap brayen saat bella menuup pintu mobil.
“Baik tuan. Nanti saya akan menanyakan kembali kepada seketaris dodi.” Ucap bella mengangguk.
Brayen langsung pergi meninggalkan bella setelah mendengar jawaban gadis itu.
“Tuan brayen, tunggu” ucap bella berlari mendekati brayen.
Brayen menoleh melihat bella di depannya.
“ini ponsel tuan.” Ucap bella menyerahkan ponsel itu.
“Simpan nomor mu disitu.” Kata brayen menatap ponselnya.
“Baik tuan.” Jawab bella dan langsung mencatat nomor teleponnya.
“Ini tuan, saya sudah menyimpannya dengan nama bella.” Jawabnya polos
Brayen mengambil ponsel itu lalu pergi meninggallkan bella .
Dasar sombong.
Dengus bella kesal.
lalu kembali kemobilnya dan pergi meninggalkan rumah tuan brayen.
Hari pertama kerja saja dia sudah muak melihatku. Apa aku tidak bekerja dengan baik ? aku bahkan menuruti apa saja yang dia mau. Tapi dia mengataiku bodoh, kan aku juga belajar jadi seketaris seperti dodi, wajar aja dong aku masih suka lupa pesan-pesan dodi. Nggak mungkin juga semua perintah itu kuhafalkan dikepalaku. Batin bella mengeluh.
Sesampainya di apartement christin bella langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang.
“lelah sekali hari ini.” Gumamnya memejamkan matanya.
“Aku harus menanyakan ulang pada dodi tentang tuan brayen.” Ucapnya duduk di tepi ranjang.
“Hallo bella, ada apa menelponku ? Bagaimana kerjamu hari ini ?”
sapa yang di sebrang sana.
Aaaaa mendengar suara nya saja jantungku berdebar cepat.
“Hmmm, lumayan baik . bolehkah aku menanyakan tentang tuan brayen padamu ? sepertinya dia tidak suka dengan sikap ku melayaninya.” Jawab bella
“maksudmu ?” dodi
“begini saja, boleh kah kau menjelaskan apa saja yang kau lakukan dari pagi hingga jam pulang kantor saat menjadi seketaris disana ? aku belum memahami sifat tuan brayen, aku sudah melakukan banyak kesalahan hari ini.” Ucap bella mengeluh.
“Sepertinya penjelasanku kemarin tidak kau cerna dengan baik.” Ucap dodi kesal
“Maafkan aku, kemarin aku tidak fokus mendengarkan mu dan belum mencatat semua pesan-pesan mu. Tolong bantu aku kali ini, setelah ini aku akan berkerja dengan baik disana.” Ucap bella memelas.
“Hm, baiklah. Nanti akan kukirimkan kepadamu. Aku harap kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik.” Balas dodi mengalah
“Terimakasih , Kau baik sekali.” Ujar bella memutuskan sambungannya.
Huh.. ini demi tuan brayen. Aku tidak mau dia menilaiku tidak becus dalam memilih seketaris untuknya. Batin dodi sambil mengetikkan pesan di ponselnya.
“Aku diperlakukan seperti pembantu pribadinya saja. seharusnya kan aku melayaninya saat-saat jam kantor saja. huh.. menyebalkan” dengus bella kesal setelah membaca semua yang dikirim dodi.
“tapi aku harus bertahan. Aku tidak mau selalu bergantung pada orang lain. Setelah gaji pertama ku keluar, aku akan pergi dari tempat ini. Aku tahu christin juga pasti terganggu dengan kehadiranku, meskipun dia tetap santai menerimaku tinggal disini. Harus berubah bella, kau harus semangat , tidak boleh merepotkan orang lain.”
Gumamnya dan bangkit dari posisi duduknya, lalu pergi membersihkan diri.
Setelah itu dia langsung pergi tidur dan tidak menunggu christin pulang. Dia tidak mau telat menjemput tuan brayen besok pagi. Bisa-bisa tuan itu memecatnya.
Disisi Lain Brayen Tidur terlentang menatap langit-langit Rumahnya.
Dia sangat menggemaskan. Aku ingin mengerjainya dengan kebodohannya itu. Aku ingin tahu seberapa lama ia akan bertahan. Aku ingin melihat wajah cantiknya itu berubah menjadi sangar saat melihatku. Batin Brayen Tersenyum sinis.