Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Suasana makan malam di rumah pak dario terasa sangat canggung, terlebih gatra terlihat datar menyantap makanan yang ada di piringnya.
"Gimana sidang kamu?" tanya pak dario membuka obrolan
"Ya gitu" jawab gatra acuh
"Gitu gimana?" tanya pak dario dengan nada tingginya
"Gatra ke kamar" ucapnya setelah makanan di piringnya habis tanpa menjawab pertanyaan dari pak dario
Bu tania menatap langkah kaki gatra yang semakin menjauh membuat pak dario dan bu prita saling menatap bingung.
"Tania" panggil bu prita setengah berbisik
"Iya mah" jawab tania yang langsung menatap bu prita yang duduk di sampingnya
"Kamu lagi ada masalah sama gatra?" tanya bu prita menyelidik
"Enggak kok mah" jawab bu tania sambil menundukkan kepalanya
"Tania, ingat ya pernikahan kalian sebentar lagi" ucap pak dario dengan suara beratnya
"Iya pah, gatra mungkin cape habis sidang jadi gak banyak ngomong" saut tania seraya memberikan senyuman
Setelah makan malam selesai bu prita dan pak dario pergi ke kamar, bu tania pun sudah pamit pulang dan di suruh minta antar pada gatra.
Bu tania mengelus dadanya sambil sesekali menghamburkan nafas, ia mulai mengetuk pintu
"tok..tok..."
"Apa?" tanya gatra ketika ia membuka pintu sambil menatap malas bu tania
"Tadikan saya kesini dijemput sama mamah, sekarang saya mau pulang"
"Yaudah kalo mau pulang, pulang aja" jawab acuh gatra
"Tapi bunda nyuruh saya minta anter kamu" kata bu tania dengan nada cepatnya karena gatra hendak menutup pintu
Gatra kembali melebarkan pintu dan menatap datar wanita dihadapannya "tunggu di bawah"
Bu tania tersenyum dan mengangguk lalu menunggu gatra didepan pintu rumah sambil sesekali menoleh ke belakang.
Kini mereka sudah berada didalam mobil, bu tania terus menatap kaca mobil sejak awal keberangkatan dan gatra fokus menyetir tanpa ada pergerakan lain.
"Kamu marah sama saya?" tanya bu tania memberanikan diri
"Drama apa lagi sih!!!" gerutu gatra sambil mendengus kesal menoleh ke arah bu tania
"Maksud saya gara-gara saya bilang kaya gitu di kampus" sambung bu tania
"Bilang apa?" tanya gatra sambil tersenyum sinis
"Kalo kamu bukan siapa siapa tanpa nama orangtua kamu" jawab bu tania mengalihkan pandangannya
"Lucu aja, disaat kaya gitu ibu bukannya belain saya malah belain pak rangga" sautnya ketus
"Saya gak bela-in siapa-siapa gatra" tangkis bu tania
"Terus ibu kenapa bilang kaya gitu?" tanya gatra meninggikan suaranya
"Saya gak suka kamu bawa-bawa nama orangtua kamu" jawab bu tania ikut meninggikan suaranya
"Kalo ibu gak suka sama saya kita batalin aja pernikahan kita, toh kita gak saling suka kan?" sungut gatra dengan kesalnya membuat bu tania hanya bisa terdiam tak mampu menjawab apa-apa.
Setelah beberapa menit gatra menghentikan laju mobilnya "saya anter sampe sini aja ya?"
Bu tania menganggukkan kepalanya sambil membuka pintu mobil
"Oh iya bu, jangan terlalu berharap sama saya. saya orang nya gak bisa diharapin" kata gatra sambil tetap menatap depan tanpa sedikitpun menoleh ke arah bu tania yang sudah berlinang air mata
Setelah bu tania berjalan melewati hamparan luasnya halaman gatra baru menatap bu tania sambil tersenyum sinis.
Bu tania masuk dengan keadaan yang hancur, hatinya serasa remuk mendengar gatra menyuruhnya membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari.
Bahkan gatra lah yang dulu benar-benar memaksa untuk menikah secepatnya, tania kira itu alasan karena gatra sudah bisa menerimanya.
Tapi salah, mungkin itu hanya omong kosong dari seorang gatra.
"Siapa?" teriak tania ketika pintu rumahnya diketuk
"Saya non" jawab seorang lelaki dengan suara beratnya dibalik pintu
"Pak rusdi..." gerutu tania sambil mengusap air mata di pipinya
Ia membuka pintu sambil menatap pak rusdi tajam "apa?"
"Tadi saya lihat non diantar oleh seorang lelaki sampai depan, apa itu anak dari pak dario?" tanya pak rusdi yang tau siapa pak dario dan semua tentang perjodohan
"Tumben bapak nanya tentang hidup saya?" tanya bu tania menyelidik
"Sesuai janji saya non, saya akan menjaga non tapi tidak mengusik urusan pribadi. saya disini hanya memastikan bahwa air mata non kenapa terjatuh? apa ada kekerasan fisik?" tanya pak rusdi tajam
"Bapak tau dari mana?" tanya bu tania bingung
"Saya memang sedang berkunjung kesini non, saya memastikan semua dalam keadaan aman. makanya non tolong bolehkan seorang satpam berjaga di rumah ini" jawabnya santai
"Aduh jangan sering-sering kesini pak nanti orang-orang tau saya dipantau, lagian saya gak butuh satpam kok" ketus bu tania sambil duduk di kursi
"Baiklah saya permisi" pak rusdi membukukan badannya dan berjalan pergi, diusianya yang cukup tua dia bahkan masih terlihat sehat dan keren.
Tania memperhatikan pak rusdi yang berdiri di depan halaman nya sambil menatap jalan, tak lama sebuah mobil berhenti di hadapannya. ia masuk dan pergi, entah kemana.
Bu tania memandang sekelilingnya, ia masih memikirkan pernikahannya. "apa aku harus tetap melanjutkannya dikarenakan usia ku sudah kepalang tua, tapi banyak wanita karier yang menikah diusia yang lebih tua dariku. tapi, apa ada yang mau dengan perawan tua seperti ku nantinya? apalagi aku benar-benar sudah menaruh hati pada gatra" gumam nya menatap langit
Gatra melangkahkan kakinya naik ke atas tangga tiba-tiba suara lelaki memanggilnya dengan lantang.
"Gatra ariyo pamungkas" panggil pak dario
"Hem?" gatra menaikan kedua alisnya sambil membalikkan badannya
"Sini" pak dario menggupaikan tangannya sambil berjalan ke arah ruang keluarga
Gatra menghamburkan nafasnya lalu turun menyusul papahnya yang sudah duduk di sofa dengan dua teh hangat dihadapan-nya
Gatra duduk sambil mengalihkan pandangannya, pak dario menyeruput teh itu dengan suara kencang membuat gatra menoleh dan berdecih kesal.
"Minum" suruh pak dario menunjuk gelas teh di hadapan gatra
"Gak haus" jawab gatra sambil meluruskan kakinya ke atas meja
"Kamu sebenarnya serius gak menerima perjodohan ini?" tanya pak dario sambil menatap gatra sayu
"Jawabannya sama, kaya awal papah nanya gatra mau gak dijodohin" jawab gatra sambil memejamkan matanya
"Terus kenapa kemarin-kemarin kamu minta buru-buru menikah dan kamu bilang kamu mau di jodohin?" tanya pak dario lagi berusaha mengajak ngobrol gatra dengan baik
"Emang jawaban gatra ada ngaruhnya?" tanya gatra membuka matanya lalu menatap tajam pak dario "gatra yakin ujung-ujungnya nikah juga kan? kalau emang gak ada ngaruhnya semua ucapan gatra buat apa juga ngomong serius sama kalian"
"Papah hanya mau kamu menikah dengan perempuan baik gatra, banyak perempuan di luar sana. tapi apa mereka mau hidup susah jika sewaktu-waktu keluarga kita bangkrut? belum tentu" kata pak dario sambil mengelus kepala gatra pelan
Gatra menepisnya dengan kasar "perempuan baik? ya iya lah harus baik, setia. masa iya udah gak laku mau seenaknya" ketus gatra sambil tersenyum sinis
"Jaga mulut kamu gatra!!!" bentak pak dario
"Udah lah obrolan gak berfaedah" gerutunya sambil berjalan pergi
"Pokonya kamu harus tetap menikah gatra" teriak pak dario bangun dari duduknya
Gatra hanya memberikan ibu jarinya tanpa menoleh sama sekali sambil memaki di dalam hatinya.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek