Refan tega mecampakkan Maira yang sudah lama bersamanya demi orang baru yang bernama Reya. Akhirnya Maira menikah dengan Hendra yaitu temannya Refan sendiri. Akhirnya Maira bahagia bersama Hendra. Refan yang begitu terpuruk dan menyesali keputusannya akhirnya Refan bersimpuh di kaki mantan istrinya untuk mengajaknya kembali rujuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weta anjelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12 Pov maira
Mas Refan mengatakan dia tidak akan menceraikanku tapi dia juga melarangku agar tidak menghentikan dia nikah sama pelakor sialan itu. Tentu aku tidak setuju dengan perdamaian gila seperti itu, aku lelah kalau harus terus baik sama mereka, namun mereka tidak pernah bersikap jujur padaku.
Mas Refan terus mendesakku agar aku mau menyetujui usulannya itu, atau kalau tidak mas Refan akan menceraikanku.
Akhirnya karna terpaksa aku harus menyetujui pernikahan itu, tidak apalah jika aku harus setuju pada usulan Mas refan, setidakknya suamiku tidak menceraikanku dan aku bisa leluarsa memberi pelajaran pada pelakor itu.
Akhirnya Mas Refan nikah sama perempuan yang tak punya hati itu. Pelakor itu sah menjadi istri kedua suamiku,tentu saja dia menjadi maduku.
Awal pernikahan Mas Refan sudah membagi apa yang penjadi hakku dan juga hak maduku itu, ya tentu saja aku meminta hak lebih di bandingkan maduku itu, mengingat aku sudah memberi Mas Refan keturunan, ya anak ganteng kami yang bernama Raihan.
Aku meminta uang perbulan setengah dari gajinya Mas Refan, dan selebihnya sama maduku itu.
tentu saja dia mendapatkan uang bulanan seperempat dari gajinya Mas Refan, sisanya untuk kebutuhan rumah dan juga kebutuhan Mas Refan.
Tidak hanya itu,aku meminta pada Mas Refan agar maduku itu yang mengerjakan pekerjaan rumah, dan aku yang mengendalikan isi rumah itu, dengan alasan maduku itu terlalu muda untuk bisa mengendalikan rumah sebesar itu.
Tentu Mas Refan tidak keberatan dengan usulanku itu. Aku tersenyum puas, Akan kubuat perempuan sialan itu menderita di rumah ini, sampai dia tidak tahan berada di rumah ini dan segera angkat kaki dari rumah ini.
Seminggu sudah berlalu, ku biarkan semua pekerjaan rumah maduku itu yang mengerjakan aku sengaja tidak mengaji pembantu di rumah ini, dengan alasan biar irit apalagi Mas Refan sudah punya dua istri, kalau tidak di pekerjakan untuk apa gunanya maduku itu berada di rumah ini.
Pagi itu aku bangun agak siang, kulihat maduku itu sedang menyiapkan sarapan di meja kebetulan Mas Refan juga berada di situ.
Kulihat Mas Refan sangat perhatian pada maduku itu.
"Sayang kalo capek istrahat dulu, biar Maira nanti yang ngerjain ini semua"
"Gapapa kok Mas, mungkin mbak Maira capek,kan abis pulang larut semalam"
"Kamu harus sabar ya sayang, Mas janji akan membahagiakanmu dan memberi apa yang menjadi hak mu nanti!" Kulihat Mas Refan nencium kening maduku itu dan mereka saling berdekapan.
Tidak tahan melihat Mas Refan memperlakukan maduku itu dengan belayan kasih sayang, aku berlari kekamar kukunci pintu kamar tanpa aku sadari air mataku mengalir tanpa henti, entah kenapa rasanya begitu sakit sekali, dia yang dulu mencintaiku, mencintai keluarganya sekarang lebih memilih orang lain yang baru saja singgah di hatinya.
"Mas kenapa kamu setega ini Mas."
"Apa salahku, kurang apa aku selama ini, aku telah mengorbankan hidupku demi kamu dan keluarga kamu mas,, hik hik." Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tak kuasa membendung penderitaan ini,rasanya begitu sesak, namun aku dipaksa harus memilih takdir ini.
Tok tok,,,
"Mbak sarapannya udah siap"
Suara pintu di ketok dari luar, kudengar suara maduku yang memangil agar aku segera bangun untuk sarapan pagi.
Sebenarnya aku keberatan untuk makan bersama mereka,apalagi melihat wajah madu sialanku itu tapi mau gimana lagi, aku tak mau nanti Mas Refan curiga kalau aku baru habis nangis.
Ku ambil cermin yang terletak di atas meja segera kusapu air mataku, dan aku keluar dari kamar seperti tidak terjadi apa-apa.