NovelToon NovelToon
Dibeli Sang Mafia

Dibeli Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Dark Romance / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Valéria Bezerra

Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.

Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.

Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terima Kasih!

POV Hendra

"Terima kasih! Kamu bukan yang pertama dan tidak akan jadi yang terakhir," kataku tenang. "Dan jangan khawatir, aku tidak melihat apa pun yang bisa menarik perhatian siapa pun dari badan cicak itu." Aku mencibir.

POV Sekar

Dia bilang begitu? Benar dia bilang begitu? batinku penuh benci. Saat ia hendak keluar, kuucapkan tanpa menatapnya, "Tahu apa yang kuinginkan? Anda mati."

POV Hendra

"Selamat datang di klub. Banyak yang menginginkannya, bocah." Aku keluar.

POV Sekar

Ia pergi, meninggalkanku dengan keinginan besar memamerkan pada dia cicak yang menonjok mukanya seperti saran Bu Ratna. Tapi aku menarik napas dalam-dalam dan kembali ke pekerjaanku.

POV Hendra

Bocah tak tahu terima kasih. Harusnya tadi kubiarkan saja dia mati, pikirku kesal. Dia betul-betul mengira ada banyak yang bisa dilihat dari tubuh kerempeng itu? Kalau dia tahu perempuan-perempuan yang bisa kudapatkan kapan pun aku mau...

TELEPON BERDERING...

POV Anto

"Tuan, kita ada masalah."

POV Hendra

"Ada apa?"

POV Anto

"Kiriman kita minggu ini ditahan."

POV Hendra

"Aku ke sana. Jangan lakukan apa-apa sebelum aku tiba. Bela diri saja kalau terpaksa... lindungi diri kalian."

POV Anto

"Baik, Tuan, kami menunggu."

POV Hendra

Dengan cepat kusiapkan koper kecil berisi beberapa setel pakaian, aku tidak tahu akan pergi berapa lama. Kuambil perlengkapan dan persenjataan yang hanya kupakai dalam misi besar yang amat berisiko. Aku turun tergesa-gesa.

"Darto..."

POV Darto

"Saya di sini, Tuan."

POV Hendra

"Siapkan mobil besar dan panggil dua anak buah terbaik."

POV Darto

"Baik, Tuan..." Aku sudah paham situasinya, dan bergegas pergi menjalankan perintah.

POV Sekar

"Bu Beti, ada apa? Kenapa dia seperti itu?"

POV Beti

"Ya Tuhan... Dia berangkat untuk sebuah misi, Nak. Dia hanya memakai perlengkapan itu kalau misinya besar dan berbahaya. Ini sangat berbahaya baginya." Mataku berkaca-kaca.

POV Sekar

"Lalu kenapa dia sendiri yang pergi? Bukankah dia punya anak buah?"

POV Beti

"Nak... dia tidak mengizinkan nyawa siapa pun dipertaruhkan. Dia sendiri maju di barisan depan melindungi semua anak buahnya. Ibu sudah sering melihatnya pulang dalam keadaan terluka."

POV Hendra

"Beti, aku berangkat. Aku tidak tahu kapan pulang. Urus semuanya dan jaga diri kalian. Kamu tahu apa yang harus dilakukan... bawa anak-anakmu dan jangan keluar rumah. Aku sudah menempatkan orang di rumah sakit tempat kakakmu dirawat."

POV Beti

"Baik, Tuan, terima kasih banyak! Darto akan menjemput mereka. Kami akan tinggal di rumah sebelah."

POV Baskoro

"Berangkat?"

POV Hendra

"Ayah ngapain di sini?"

POV Baskoro

"Ayah ikut denganmu."

POV Hendra

"Ayah tahu itu tidak perlu."

POV Baskoro

"Tapi Ayah ikut."

POV Hendra

"Lalu Ibu?"

POV Baskoro

"Ayah sudah memastikan Ibumu terlindungi. Dia memilih tinggal di rumah."

POV Hendra

"Terserah Ayah." Saat hendak pergi, Sekar memegang tanganku dan memutar tubuhku menghadapnya.

POV Sekar

"Hati-hati." Aku bicara cemas.

POV Hendra

"Tidak usah pura-pura peduli. Baru tadi kamu bilang ingin melihatku mati, dan kemungkinan besar keinginanmu terkabul. Tunggu saja." Setelah itu aku pergi.

POV Beti

"Kamu bilang begitu, Nak?"

POV Sekar

"Aku sedang marah, Bu Beti." Beliau keluar, dan aku berdiri di sana dengan kegelisahan besar dan aneh tentang apa yang mungkin menimpanya. Meski membencinya, aku tidak sungguh-sungguh ingin dia mati. Semoga Tuhan melindunginya, batinku cemas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!