NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khawatir Tanpa Sadar

Ting! Tong!

Suara bel rumah terdengar, Affandy akhirnya melepaskan genggamannya. Dengan cepat, Hulya pergi dari hadapan suaminya untuk membuka pintu.

"Mami."

"Sayang..."

"Masuk, Mi."

Maria masuk ke dalam rumah sambil merangkul menantunya. "Hulya."

"Iya, Mi."

"Muka kamu kenapa?" Maria memperhatikan pipi Hulya. "Andy main tangan sama kamu?"

Hulya menggelengkan kepalanya. "Nggak, Mi. Dia nggak pernah kasar sama Hulya."

"Andy, Andy."

Maria jelas tidak percaya begitu saja dengan perkataan menantunya. Ia kemudian menghampiri Affandy yang sedang duduk di sofa.

"Mami, tumben datang."

"Sejak kapan kamu kurang ajar sama perempuan? Apa Mami pernah mengajarkan kamu kasar kepada perempuan?"

"Maksud Mami apa?" Affandy langsung berdiri.

"Kenapa kamu tampar Hulya?"

"Mami, Affan nggak pernah kasar sama Hulya."

"Terus ini apa, Hulya?"

Hulya tidak bisa menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan kepada mertuanya bahwa suaminya sedang bermain api dengan perempuan lain. Apalagi jika hal itu sampai membuat rumah tangganya semakin kacau.

"Hulya ini istri kamu, Andy. Kamu jangan pernah kasar sama dia."

Affandy menatap Hulya dengan kesal. "Hulya! Aku udah tanya tadi. Kamu bilang sama aku siapa yang memukul kamu. Tapi kamu diam saja. Sekarang Mami marah sama aku. Kamu senang?"

"Nggak..."

Hulya menatap Maria. "Mami, ini bukan perbuatan Mas Affan."

"Jangan lindungi suami kamu, Hulya. Kalau dia salah, bilang sama Mami. Biar Mami yang mengajari dia."

"Tapi dia memang nggak pernah memukul Hulya."

"Terus siapa yang melakukan ini?"

Hulya terdiam, kemudian ia menoleh ke arah Affandy.

"Jawab, Hulya. Jangan sampai Mami mengira aku yang memukul kamu."

"Tiffany."

Affandy langsung membulatkan matanya. Begitu pula dengan Maria.

"Tiffany siapa?" tanya Maria. "Andy?"

Affandy menatap tajam Hulya. Ia takut perempuan itu akan mengatakan hubungan sebenarnya antara dirinya dan Tiffany.

"Tiffany teman lama Hulya, Ma. Tadi kami bertemu di luar, ada sedikit masalah."

"Andy ... Istri kamu sedang ada masalah, kamu malah diam saja."

"Mas Affan sebenarnya sudah mau ikut campur, Mi. Tapi Hulya yang nggak mengizinkan, ini urusan perempuan."

Affandy memutar bola matanya dengan malas. Walaupun Hulya baru saja menyelamatkan dirinya, ia sama sekali tidak merasa berterima kasih kepada perempuan itu.

"Tumben Mami datang?"

"Kalau Mami menunggu kalian datang, nggak akan terjadi."

"Andy kan sibuk, Mi. Nggak sempat."

"Sibuk apa? Abang kamu sering bilang kalau kamu selalu keluar dari kantor."

Maria menatap anaknya dengan penuh curiga. "Mami tau kamu nggak mau jauh-jauh dari istri kamu. Tapi nggak sesering itu juga, nggak baik dilihat sama anak-anak kantor."

"Iya, Mi. Andy nggak akan begitu lagi."

"Mami mau makan? Hulya baru selesai masak."

"Boleh banget. Mami juga ingin merasakan masakan kamu."

Hulya merangkul lengan ibu mertuanya. Ia kemudian membawa Maria ke meja makan. Affandy menyusul di belakang mereka. Ketiganya akhirnya menyantap makanan bersama karena sudah cukup lapar.

Berbagai hal dibicarakan oleh Maria dan Hulya, mulai dari kehidupan pernikahan mereka hingga keinginan Maria untuk segera memiliki seorang cucu.

[] [] []

Siang mulai berganti malam, Hulya sedang mencari keberadaan suaminya. Setelah mengantarkan ibunya, Affandy belum juga pulang. Hal itu membuat Hulya kebingungan.

Ia mulai takut sesuatu terjadi kepada pria itu. Beberapa kali Hulya mencoba menghubungi ponsel Affandy, tetapi tidak ada jawaban.

Tidak ada cara lain, Hulya akhirnya keluar dari rumah. Ia harus mencari Affandy, meskipun dirinya sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.

"Hulya."

Wanita berkerudung itu menoleh.

"Mas," balasnya.

"Kamu mau ke mana?" tanya Vicky, tetangganya sekaligus bosnya di tempat kerja.

"Saya ... Mau keluar, Pak."

"Keluar ke mana?" Vicky memperhatikan wajah Hulya. "Suami kamu mana?"

"Belum pulang, Mas. Saya mau mencarinya ke kantor."

"Ini sudah malam, Hulya. Suami kamu pasti pulang."

"Saya khawatir sama dia, Mas. Saya harus mencari dia."

"Kamu mau mencari ke mana malam-malam begini? Banyak orang jahat di luar sana."

"Saya permisi, Mas."

"Hulya!"

Langkah Hulya kembali terhenti ketika Vicky memanggilnya. "Saya antar kamu."

"Nggak usah, Mas. Saya bisa sendiri kok."

"Nggak apa-apa, kita cari suami kamu."

"Maaf, Mas ... Saya nggak mau orang-orang berpikiran aneh tentang kita."

"Kita? Kita ini tetangga, Hulya. Sesama tetangga harus saling menolong, kan?"

"Maaf, Mas. Saya tetap nggak bisa."

"Ya sudah. Kamu pakai mobil saya untuk mencari suami kamu."

"Saya nggak bisa bawa mobil."

"Kamu mau pakai sepeda saya?" tawarnya.

"Sepeda?" lirih Hulya.

Hulya berpikir sejenak, kalau berjalan kaki, tentu akan membutuhkan waktu lama. Apalagi malam sudah semakin larut dan kendaraan umum mulai sulit ditemukan.

"Boleh, Mas?"

Vicky tidak menjawab. Ia langsung mengambil sepeda yang biasa digunakannya untuk berolahraga pada pagi dan sore hari di sekitar kompleks perumahan.

"Kamu hati-hati, ya."

"Iya, Mas. Terima kasih."

Hulya akhirnya pergi menggunakan sepeda tersebut. Ia sedikit kesulitan mengayuh karena khawatir gamis yang dikenakannya tersangkut pada rantai sepeda.

Vicky tersenyum dari kejauhan ketika melihat Hulya semakin menjauh. "Dia cantik dan baik. Tapi suaminya terlalu kasar."

Vicky sudah mengetahui sedikit tentang rumah tangga Hulya. Keributan yang terjadi di rumah itu sering terdengar hingga ke telinganya.

Apalagi jika Affandy sudah pulang. Rumah tersebut hampir selalu terdengar ramai karena laki-laki itu sering berteriak kepada istrinya.

Hulya terus menyusuri jalanan menggunakan sepeda. Namun, ketika melewati sebuah jalan yang sepi, tiga orang laki-laki yang baru saja meminum minuman keras tiba-tiba menghalangi jalannya.

"Halo, cantik. Sendirian aja?"

Hulya ketakutan. "Jangan sentuh aku."

Salah satu pria itu mencoba menggenggam dagu Hulya. Hulya segera berusaha mendayung sepeda, tetapi langkahnya kembali terhalang karena salah satu dari mereka menahan sepeda tersebut.

"Mau ke mana, sih? Mending senang-senang sama kita."

Tiiit ... Tiiit ... Tiiit...

Suara klakson mobil terdengar. Sebuah mobil mewah melintas di jalan tersebut. Betapa leganya Hulya ketika melihat seorang laki-laki keluar dari mobil, ternyata dia adalah suaminya.

"Affan!"

"WOY!"

Affandy berlari menghampiri ketiga pria tersebut.

"Kenapa, Bro? Mau join juga?"

"Join, lo bilang?" Affandy tersenyum miring. "Berani-beraninya kalian ganggu istri gue."

Bugh!

Affandy melayangkan pukulan keras ke salah satu dari mereka. Di belakangnya, Hulya justru tersenyum kecil ketika mendengar Affandy mengakui dirinya sebagai seorang istri.

"Jangan jadi pahlawan, lo!"

Bugh!

Salah satu pria itu berhasil melayangkan pukulan ke wajah Affandy. Perkelahian pun tak terhindarkan.

"Masuk ke dalam mobil, Hulya!"

Hulya mengikuti perintah suaminya.

Namun, ia mulai panik ketika melihat Affandy kewalahan menghadapi ketiga pria tersebut. Ketika Affandy akhirnya terjatuh dan terkapar di tanah, Hulya tidak sanggup hanya berdiam diri.

Ia kembali keluar dari mobil. Matanya menemukan sebuah batu berukuran cukup besar di pinggir jalan.

Hulya mengambil batu tersebut dan perlahan berjalan dari belakang menuju ketiga pria yang sedang berdiri mengelilingi Affandy.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Satu per satu Hulya menghantamkan batu itu ke arah kepala mereka. Ketiga pria tersebut langsung berbalik. Salah satu dari mereka kemudian melayangkan tamparan keras ke wajah Hulya.

Plak!

"Hulya!" teriak Affandy.

Seketika itu juga amarah Affandy kembali memuncak. Ia bangkit dan menyerang ketiga pria tersebut. Beberapa kali Affandy melayangkan tendangan dan pukulan hingga ketiganya akhirnya tidak berdaya.

Dengan cepat, Affandy menghampiri Hulya yang sudah tidak sadarkan diri. Ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam mobil.

1
azzura faradiva
pantes aja ga ada yg baca,cerita sampah🤮😡
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!