NovelToon NovelToon
Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Tiga tahun menikah, tiga kali pula Rena harus kehilangan buah hatinya akibat kelelahan fisik dan mental. Di rumah besar milik ibu mertuanya di Solo, Rena bukan dianggap sebagai menantu, melainkan pembantu tanpa gaji yang harus melayani seluruh keluarga besar suaminya tanpa kenal lelah. Ketika kesabarannya habis dan nyawanya terancam, sebuah keputusan besar diambil: Keluarga atau rumah petak sederhana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Banjir Pesanan dan Hadirnya Kedua Jiwa yang Lelah

Memasuki bulan ketiga di rumah petak, skala kehidupan Rena dan Gunawan mengalami lonjakan yang luar biasa. Berkat rekomendasi dari Mandor Joko beberapa waktu lalu, kabar mengenai kelezatan nasi uduk dan menu sarapan buatan Rena menyebar dengan cepat hingga ke lingkungan manajemen perkebunan sawit dan pabrik-pabrik di sekitar kawasan tersebut.

Puncaknya terjadi pada suatu pagi di awal minggu. Rena mendapatkan pesanan besar secara mendadak untuk menyediakan makan siang bagi seratus orang karyawan shift siang pabrik pengolahan sawit. Tidak hanya itu, pesanan harian regulernya di depan teras juga tetap harus berjalan seperti biasa.

Sejak pukul dua dini hari, dapur mungil Rena sudah mengepulkan uap panas. Kompor gas menyala ganda, tangan Rena bergerak lincah menumis bumbu, mengaduk panci santan berukuran besar, hingga membungkus ratusan porsi makanan dibantu oleh Gunawan yang sengaja mengambil cuti sehari demi meringankan beban istrinya.

Namun, menjelang pukul sepuluh pagi, kewalahan mulai melanda. Gunawan harus segera bersiap berangkat kerja untuk *shift* siang, sementara tumpukan piring kotor, wadah katering yang harus dicuci, serta bahan-bahan sayuran mentah yang belum dipotong masih menggunung di sudut dapur. Wajah Rena tampak pucat, peluh bercucuran deras membasahi keningnya di tengah hawa dapur yang pengap.

Di tengah kesibukan dan kepanikan kecil itu, terdengar suara ketukan pelan di pintu depan.

Rena yang sedang terburu-buru segera melangkah ke teras. Di hadapannya berdiri seorang paruh baya berwajah lelah mengenakan pakaian sederhana yang sudah tampak kusam, didampingi seorang gadis remaja berambut dikuncir asal-asalan yang menunduk malu-malu. Mereka adalah Bu Siti dan putrinya, Enka.

"Ma... Maaf, Bu. Bolehkah saya dan anak saya meminta sedikit nasi atau sisa makanan kemarin? Kami... kami belum makan sejak kemarin sore, dan uang saya tidak cukup untuk membeli nasi uduk ibu," suara Bu Siti bergetar, menyembunyikan rasa malu yang teramat sangat di hadapan Rena.

Melihat kondisi ibu dan anak itu, hati Rena langsung tersentuh. Seketika ia teringat pada masa-masa sulitnya sendiri saat berada di bawah tekanan keluarga mertua. Tanpa berpikir panjang, Rena masuk ke dalam sebentar, lalu keluar membawa dua bungkus nasi uduk lengkap dengan lauk pauk hangat yang masih tersisa di panci besar.

"Silakan dimakan, Bu. Tidak usah sungkan, gratis kok," ucap Rena tulus sambil menyerahkan bungkusan itu dengan senyuman paling hangat yang ia miliki.

Bu Siti dan Enka menerima bungkusan itu dengan mata berkaca-kaca, mengucapkan terima kasih berulang kali dengan suara parau.

Melihat sekeliling rumah petak yang berantakan dan Rena yang tampak kewalahan seorang diri dikelilingi tumpukan pekerjaan dapur, Bu Siti tiba-tiba teringat sesuatu. Setelah mereka menghabiskan makanan tersebut di emperan luar, Bu Siti kembali mendekati Rena dengan penuh Harap.

"Nak... kalau boleh tahu, melihat Ibu kewalahan begini, apakah Ibu sedang mencari pekerja? Saya... saya bisa apa saja, Bu. Asalkan halal. Saya butuh pekerjaan untuk membiayai sekolah anak bungsu saya, Artur, yang sekarang masih duduk di bangku SMP," ucap Bu Siti memelas.

Enka, sang anak gadis, ikut menimpali dengan suara pelan namun penuh tekad. "Iya, Bu. Saya juga bantu ibu. Saya terpaksa putus sekolah demi membantu meringankan beban keluarga dan membiayai sekolah Artur. Saya bisa cuci piring, bersih-bersih, atau apa saja, asalkan diizinkan kerja di sini."

Rena tertegun sejenak menatap ketulusan dan kepedihan di mata ibu dan anak itu. Di saat ia sedang membutuhkan bantuan untuk menghadapi banjir pesanan pabrik sawit, takdir seolah mempertemukannya dengan dua orang pekerja yang tepat—orang-orang yang juga sedang berjuang mati-matian demi menyambung hidup.

"Alhamdulillah... kebetulan sekali, Bu. Saya memang sedang kewalahan memegang pesanan pabrik sawit," jawab Rena mantap sambil meraih tangan Bu Siti. "Mari, bantu saya di dapur. Kita berjuang sama-sama di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!