NovelToon NovelToon
THE QUEEN'S RETURN

THE QUEEN'S RETURN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Jebakan di Atas Angin

Suara pintu teras yang terbanting keras menghentakkan hawa dingin badai ke dalam ruangan VIP yang megah. Air hujan menetes deras dari jas hitam Dominic, membasahi lantai marmer mengkilap saat ia melangkah lebar menggendong tubuh Helena yang terkulai lemas. Suasana di dalam ruangan seketika berubah tegang dan beruap aura kemurkaan.

"Panggil dokter hotel sekarang! Cepat!" perintah Dominic dengan suara berat yang membentak, menatap para pengawal yang berdiri kaku di dekat pintu.

Ia membaringkan Helena di atas sofa kulit panjang. Wajah Helena pucat pasi, bibirnya kebiruan, dan napasnya memburu halus—sebuah sandiwara yang dipoles sempurna oleh keputusasaan. Jemari Helena yang dingin mencengkeram kemeja Dominic erat-erat, berakting seolah pria itu adalah satu-satunya pelindung di dunia.

Kakek Silas yang melihat pembangkangan cucu utamanya mendadak melangkah lebar dengan wajah yang merah padam oleh murka mutlak. Sebelum Dominic sempat menegakkan punggungnya—

PLAK!

Suara tamparan keras bergaung nyaring memecah keheningan ruangan. Wajah Dominic tersengkelit ke samping, sudut bibirnya memar seketika. Udara di dalam ruangan terasa membeku bagai es.

"Cucu tidak tahu diri!" bentak Kakek Silas dengan suara menggelegar, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar. "Kau lebih memilih membela ular yang hampir menghancurkan nama Pratama daripada mematuhi perintahku?! Kau membiarkan manipulasi murahan ini mempermainkan kepalamu!"

Dominic mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mengusap jejak tamparan di pipinya tanpa mengeluarkan kata. Helena di atas sofa makin mengeratkan cengkeramannya, berpura-pura makin menggigil oleh rasa takut yang menyiksa.

Di tengah atmosfer yang begitu panas, mencekam, dan sarat akan perpecahan klan, sebuah langkah kaki berbalut sepatu hak tinggi melangkah masuk dengan penuh keanggunan.

Clarissa berjalan sangat tenang, memegang cangkir teh porselennya dengan keanggunan mutlak seorang penguasa yang sedang mengawasi arena permainan.

Ia berdiri tepat di antara Kakek Silas yang murka dan Dominic yang membisu.

"Cukup, Kakek," suara Clarissa mengalun lembut, jernih, dan begitu tenang hingga sanggup menundukkan aura intimidasi sang patriark.

"Apa yang dilakukan oleh Dominic sudah tepat. Justru langkahnya malam ini yang baru saja menyelamatkan klan Pratama dari jurang kehancuran."

Kakek Silas tersentak, mengernyitkan dahinya dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu, Clarissa?!"

Clarissa melangkah mendekati sofa tempat Helena terbaring. Dengan keanggunan yang memikat sekaligus intimidatif, ia menundukkan tubuhnya sedikit, menatap wajah Helena dari jarak yang teramat dekat. Suaranya mengalun sangat halus, seolah penuh perhatian, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya memancarkan intrik licik yang mematikan.

"Mampu membayangkan risikonya, Kakek?" ucap Clarissa lembut, jemarinya yang lentik mengusap helai rambut basah di dahi Helena dengan sangat perlahan dan dingin.

"Bagaimana jika besok pagi ada berita utama tentang ditemukannya jenazah seorang perempuan muda yang tewas mengenaskan karena hipotermia tepat di teras depan hotel ini? Bukankah itu bukan hanya akan menghancurkan nilai saham hotel, tetapi juga menyeret nama klan Pratama ke dalam investigasi kepolisian atas tuduhan pembiaran pembunuhan?"

Helena yang mendengarkan di balik mata terpejamnya merasakan tubuhnya kaku seketika. Kata-kata lembut Clarissa terasa bagai belati es yang merobek jantungnya—ia menyadari Clarissa sedang melabelinya sebagai calon mayat tak berharga yang diselamatkan hanya demi menjaga nilai saham, bukan karena belas kasihan.

Hening sejenak melingkupi ruangan, sebelum akhirnya tawa keras pecah membelah hening.

"HA-HA-HA-HA!"

Kakek Silas tertawa menggelegar, ketegangannya mencair berganti dengan rasa bangga yang luar biasa. Matanya berbinar menatap Clarissa. "Kau... memang sangat pantas menjadi cucu menantuku, Clarissa! Pikiranmu begitu tajam, dingin, dan pragmatis!"

Silas mengibaskan tangannya, menatap Dominic dan Helena dengan pandangan menghina. "Baiklah! Aku anggap menyelamatkan Helena hari ini sebagai bentuk penyelamatan saham dan klan Pratama. Tidak lebih dari itu."

Setelah Kakek Silas berlalu bersama pengawalnya, dokter hotel segera memberikan penanganan darurat. Begitu dokter selesai, Helena mulai perlahan membuka matanya dengan raut sangat lemah dan menyedihkan.

"Dominic... kepalaku sangat pusing... jangan tinggalkan aku," cicit Helena dengan nada yang teramat manja, menyandarkan kepalanya di dada tegap Dominic dan mempererat cengkeramannya pada kemeja pria itu.

Dominic yang merasa iba mengusap bahu Helena pelan. "Tenanglah, aku di sini."

Awalnya, Clarissa hanya berdiri di dekat meja, menatap pemandangan itu dengan sudut mata yang dingin. Namun, secara tiba-tiba, sebuah denyutan asing dan rasa panas yang menyengat muncul di dadanya. Ada rasa sesak dan ketidakrelaannya melihat jemari Helena menyentuh pria yang kini menjadi suaminya.

Clarissa memegangi dadanya pelan, alisnya bertaut tajam. Heem... perasaan apa ini? Apakah masih ada sisa-sisa perasaan dangkal milik Clarissa yang tertinggal di dalam tubuh ini? Cih, sangat menyebalkan, batin Victoria memaki reaksional tubuh fana tersebut.

Sadar ia harus memegang kendali penuh atas situasi dan menghabisi musuhnya tanpa sisa, Clarissa menghentakkan tumit sepatu hak tingginya, melangkah mendekati mereka berdua dengan senyuman paling manis dan lembut yang bisa ia bentuk.

"Dominic, kau pasti sangat lelah setelah semua kejadian malam ini," tutur Clarissa dengan suara yang begitu halus, matanya menatap Dominic dengan penuh kehangatan.

"Bagaimana jika kita bawa Helena pulang ke mansion kita saja? Biar aku sendiri yang akan merawatnya hingga pulih total."

Dominic mendongak, matanya menyipit sarat akan kecurigaan atas perubahan drastis istrinya. Namun sebelum ia sempat menjawab, Clarissa menundukkan tubuhnya sangat rendah di samping sofa Helena.

Dengan bisikan yang teramat pelan dan hanya bisa didengar oleh Helena, Clarissa menyunggingkan senyum mematikan.

"Kau tahu, Helena? Pria yang kau tangisi ini bahkan tidak sudi menyentuhmu. Kau hanyalah pengemis murahan yang berpura-pura pingsan agar diperhatikan. Sayang sekali... aktingmu sangat menjijikkan."

Mata Helena membelalak lebar. Amarah dan rasa malu yang menumpuk seketika meledak. Kehilangan seluruh kendali dirinya, Helena bangkit secara mendadak dari sofa dan melempar pukulan penuh dendam.

PLAK!

Suara tamparan keras mendarat di pipi mulus Clarissa. "WANITA IBLIS! KAU YANG HARUSNYA MATI!" teriak Helena histeris.

Tubuh Clarissa terhuyung ke belakang akibat dorongan itu, namun sebelum ia terjatuh, sepasang lengan tegap Dominic dengan sigap menangkap dan menahan tubuhnya dari belakang.

Dominic berdiri kaku, matanya membara oleh amarah yang luar biasa saat menatap Helena. Rasa iba dan simpati yang tersisa di dadanya musnah seutuhnya.

"Bukankah kau bilang kau pusing dan tidak berdaya, Helena?!" gertak Dominic dengan suara menggelegar, matanya menatap Helena bagai belati. "Tapi rupanya kau masih punya tenaga yang begitu besar untuk membangkang dan menampar istriku?!"

Mata Helena membelalak panik saat menyadari kesalahannya. "B-Bukan begitu, Dominic! Aku... aku hanya—"

Belum sempat Helena menyelesaikan kalimatnya, Clarissa dengan gerakan cepat dan dingin menghempaskan cengkeraman tangan Dominic di pinggangnya. Ia berdiri tegak, merapikan gaunnya tanpa ada sedikit pun raut kepanikan atau tangisan lemah di wajah cantiknya. Wajahnya begitu tenang, anggun, dan memancarkan kekecewaan yang sangat berkelas.

"Aku hanya ingin membantumu, Helena," tutur Clarissa dengan nada suara yang teramat jernih namun dingin menusuk. "Tapi ternyata... kau memang tidak pernah sudi menerima bantuanku."

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Clarissa berbalik anggun, menghentakkan tumit sepatu hak tingginya, dan melangkah keluar meninggalkan ruangan VIP tersebut dengan keagungan mutlak seorang Ratu.

"Clarissa!" panggil Dominic.

Dominic berbalik menatap Helena yang kini gemetar di atas sofa. Matanya memancarkan kekecewaan dan kebencian yang amat mendalam.

"Kau sungguh membuatku muak, Helena," bisik Dominic sangat dingin, kalimat yang merobek seluruh harapan Helena.

Tanpa memedulikan Helena yang mulai meraung-raung memanggil namanya, Dominic berbalik dan melangkah lebar mengejar istrinya yang sudah melangkah jauh di koridor. Helena tersungkur sendirian di lantai marmer yang dingin, menangis histeris dalam kehancuran dan kekalahan mutlak.

1
Anonim
Teruskan
atulyaas
semangatt kakk, ditunggu updatenya yaaaa
sangat menarik sekali
Annida Annida
bagus , lanjut tor
nilim
akhirnya up jugaa aku tunggu kamuu kaa 😍, semangat ya kak 🫰
Senja_Puan: Waaah terima kasih kak😍
total 1 replies
nilim
BAGUSS UPP TERUSS😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!