NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Eksekutif Berdarah Dingin, Pertarungan Idol, dan Casan Nyasar

Jauh dari lintasan rute kurir GPS Andromeda, di dalam pusaran Galaksi Triangulum, peradaban berdetak dengan ritme yang jauh lebih kejam.

Di Planet Klee, tepatnya di pusat kota metropolis Tanggaru, sebuah gedung pencakar langit berbahan kaca obsidian menjulang menembus awan. Itu adalah markas besar Perusahaan Farmasi Multinasional Hyperson.

Di lantai teratas gedung tersebut, berdiri sesosok alien dari ras Neraxis. Ia menatap hamparan lalu lintas udara kota metropolis di bawahnya dari balik jendela kaca panoramik. Jas hitam mewah berpotongan rapi membalut tubuh tegapnya, menutupi kemeja mahal dan sebuah jam tangan super canggih yang berkilau di pergelangan tangannya. Di dadanya, tersemat sebuah nametag : Nereon Val Hyperson – Executive Director of Bioengineering & Strategic Development.

Sekaligus, pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Hyperson itu sendiri.

Penampilan Nereon memancarkan aura predator elit. Kulitnya berwarna hitam kebiruan dengan efek mengilap layaknya sisik hiu premium. Berbeda dengan ras akuatik Mizura yang memiliki sirip lebar dan rambut mengalir, sirip telinga Nereon jauh lebih kecil dan tajam, berpadu dengan potongan rambut pendeknya yang disisir sangat klimis. Sepasang matanya yang sipit dengan iris berwarna emas menatap tajam ke luar jendela, seolah terus mengamati dan mengalkulasi mangsa. Sesekali, dari balik kerah kemejanya, pendar bioluminesensi biru tipis menyala redup menyusuri leher hingga ke bahunya, sebuah sisa evolusi laut dalam yang membuatnya tampak semakin menakutkan.

Jemarinya yang sedikit berselaput namun proporsional mengetuk-ngetuk pelan ambang jendela, menunggu sebuah kabar.

Ssssh.

Pintu baja ruangannya berdesis pelan terbuka. Seorang alien ras Varkan bernama Ilu melangkah masuk, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Pak," lapor Ilu dengan suara tertahan. "Sepertinya Boer gagal menangkap Tuan Putri Kahlia."

Nereon tidak menoleh, matanya tetap menatap metropolis di bawahnya. "Sudah kuduga," gumamnya tenang. "Apa pengawalnya yang bernama Jin itu ternyata sehebat itu?"

"Tidak, Pak. Boer tidak kalah oleh pengawal itu."

Garis rahang Nereon sedikit mengeras. Iris emasnya melirik lewat bahu. "Hmmm? Lalu?"

"Seorang Grovax yang mengalahkannya, Pak. Makhluk itu melumpuhkan seluruh tim Boer sendirian dan memanggil Galactic Patrol setempat setelahnya."

"Grovax?" Nereon akhirnya membalikkan badan, menyilangkan lengannya yang berbalut jas mahal. "Apa putri bodoh itu secara diam-diam menyewa tentara bayaran?"

"Bukan, Pak. Grovax itu ternyata adalah salah satu petugas security yang bekerja di sebuah kapal kargo logistik milik GPS. Sialnya, saat Boer dan timnya mengejar Putri Kahlia, mereka malah berpapasan dengan kru kurir GPS yang sedang mendarat di area tersebut."

Nereon terdiam sejenak. Otak bisnisnya memproses informasi itu dengan cepat. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyum sinis yang dingin.

"Hmm... begitu rupanya. Sungguh beruntung sekali nasibnya."

"Terus... sekarang bagaimana, Pak? Apa kita harus mengirim pasukan elit untuk mengejar kapal kargo itu?" tanya Ilu ragu-ragu.

"Yah, biarkan saja," jawab Nereon mengibaskan tangannya, memamerkan selaput tipis di sela-sela jarinya. "Untuk sekarang, lebih baik kita tidak ikut campur dulu. GPS bukanlah perusahaan transportasi sembarangan yang bisa kita lawan atau cegat dengan gegabah. Urus saja si Boer dan timnya di kepolisian. Pastikan mulut mereka tutup rapat. Sisanya... biar aku yang pikirkan lagi strateginya nanti."

"Baik, Pak." Ilu menunduk hormat lalu bergegas memutar tubuhnya, meninggalkan ruangan eksekutif yang terasa mencekik itu.

Setelah pintu tertutup kembali, Nereon berjalan santai menuju meja kerjanya. Ia mengambil sebuah sabak digital dan menyalakan layarnya. Terpampang foto Kahlia yang sedang tersenyum canggung dalam balutan gaun kerajaannya.

Jari Nereon yang dingin mengusap layar tersebut.

"Jika saja kau langsung menerima lamaranku," bisik Nereon pelan pada proyeksi itu, "kau tak perlu bersusah payah kabur dari keluargamu sendiri... Kahlia."

***

Sementara intrik politik sedang direncanakan di galaksi lain, suasana yang bertolak belakang terjadi di dalam lambung kapal kargo GPS Andromeda.

Waktu standar Bumi menunjukkan pukul delapan malam.

Di dek tengah, terdapat sebuah ruangan luas bernuansa neon hangat yang diberi nama The Unload Zone. Ruangan ini didesain khusus sebagai tempat pelarian para kru dari stresnya rutinitas ekspedisi. Suasananya sangat riuh dan nyaman. Di sudut kiri, beberapa alien sedang bermain biliar anti-gravitasi, di mana bola-bolanya melayang bebas di udara. Di sudut kanan, barisan mesin arcade holografik memancarkan suara tembak-tembakan digital. Sofa-sofa melingkar yang empuk tersebar di mana-mana, dipenuhi kru yang asyik mengobrol sambil meminum sari buah sintesis.

Namun malam ini, pusat perhatian berkumpul di sebuah meja bundar besar di tengah ruangan. Belasan alien lintas divisi berkerumun, bersorak-sorai layaknya sedang menonton final kejuaraan gladiator antar-galaksi.

Di meja itu, Arka, Pipi, dan Null sedang duduk bersila, terlibat dalam pertarungan sengit permainan Trading Card Game: Galactika Idol.

"Kena kau, Ireng!!!" jerit Pipi penuh kemenangan. Gadis Grovax itu membanting sebuah kartu holografik ke atas meja. Muncul proyeksi 3D dari lima pemuda alien tampan bergaya boyband yang mulai menari memancarkan aura sparkle.

Null menatap kartu Pipi dengan tenang. Alih-alih bereaksi datar seperti biasanya saat sedang bekerja, pusaran materi gelap di wajah Null justru beriak kencang. Entitas kosmik itu mendadak tertawa angkuh.

"Hahaha, dasar bodoh," ejek Null, tangannya mengambil satu kartu dari tumpukannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi dengan gaya yang luar biasa heboh dan teatrikal. "Kukeluarkan kartu Idol ras Seraphi nomor satu di alam semestaaaa... ARIANA ORBIT GRANDE!"

Null membanting kartu itu ke atas meja.

ZWUSSSHH!

Efek hologram yang keluar sangat menyilaukan. Sesosok diva Seraphi holografik bergaun gemerlap muncul dari dalam kartu, menyanyikan satu nada melengking yang seketika menghancurkan power level dari kartu boyband milik Pipi.

"Aaaaaah! Curang!" raung Pipi tak terima, mengacak-acak rambut merah mudanya.

Arka yang duduk sebagai wasit, sekaligus pemain yang sudah mati duluan, menepuk pundak Pipi sambil menahan tawa. "Eh, eh, nggak boleh gitu. Kalau udah kalah poin ya harus terima, Pi."

"Aku tuh udah hampir menang loh tadi!" sungut Pipi menunjuk-nunjuk sisa hologram kartunya. "Pakai Black Hole Boys tuh strategiku! Curang banget dia malah pakai Ariana!"

Eiden, si perwira operasi baru yang sedari tadi menonton berdiri di belakang kursi Pipi, tanpa sadar ikut menyahut. "Bu Pipi, kan dari awal giliran tadi saya sudah bilangin jangan pakai kartu itu dulu. Mentang-mentang Ibu ngefans berat sama mereka, Ibu asal lempar aja. Power-nya udah pasti kalah, Bu, soalnya kartu Ariana milik Pak Null itu efek pasifnya counter semua boyband."

Pipi menoleh ke belakang, menatap Eiden dengan mata melotot nyalang. "Ah, cerewet kau! Gara-gara kau suka ngatur-ngatur deck-ku dari tadi nih makanya aku sial!"

Melihat aura membunuh dari gadis Grovax itu menguar, nyali Eiden langsung ciut. Pemuda pucat itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, mundur dua langkah sambil bergumam minta maaf.

Arka tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kru mudanya. "Hei, Den, jangan diambil hati ya omongan si keamanan kita ini? Emang gitu tabiatnya si cebol kalau lagi kalah main, ngamuknya ke segala arah."

Pipi langsung memutar kepalanya ke arah Arka, menatap nyalang kaptennya itu. "Emangnya kau sendiri menang, hah?!"

Arka menegakkan punggungnya. Dengan wajah bangga tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia menjawab lantang, "Oh, tentu tidak!"

Mendengar kejujuran yang kelewat percaya diri dari sang kapten, seluruh kru di ruangan The Unload Zone meledak dalam tawa bahagia. Sorakan ejekan dan tepuk tangan bergema meramaikan suasana malam itu. Beban omelan dari kantor pusat sore tadi benar-benar menguap tanpa sisa.

Namun, tawa itu tak bertahan lama.

Pintu geser The Unload Zone tiba-tiba terbuka dengan suara desisan keras. Musik lounge di ruangan itu mendadak terasa suram.

YUI berdiri di ambang pintu. AI berbalut gaun Gothic itu tidak sedang meniup permen karet hologramnya. Wajahnya datar, namun matanya menyala merah terang dengan aura permusuhan tingkat tinggi. Di tangannya, ia memegang sebuah kabel charger ponsel berwarna putih dengan capit berujung usang.

"Siapa..." Suara YUI menggema di ruangan itu, berat dan berdistorsi layaknya hantu mekanis. "...yang berani nyolok casan HP murahan ini ke port Navigasi Utama Kapal?! Ngaku kalian semua!!!"

Seluruh kru terdiam serentak. Alien yang sedang menyodok bola biliar membeku. Kru yang sedang minum berhenti menelan. Bahkan hologram Ariana Orbit Grande di atas meja seolah ikut berhenti bernyanyi saking tegangnya. Mencolokkan benda pribadi ke port sistem navigasi kapal yang sangat sakral adalah pelanggaran yang luar biasa bodoh.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, dari sudut kerumunan meja biliar, seekor alien ras Reptola berukuran sangat kecil, baru setinggi lutut orang dewasa, bernama Doroti, mencoba kabur secara perlahan. Dengan langkah mengendap-ngendap dan keringat dingin bercucuran, ia mencoba menyusuri dinding menuju pintu keluar tanpa ketahuan.

Ia hanya berjarak satu meter lagi dari kebebasan.

Tiba-tiba... Sring!

YUI muncul tepat di hadapan Doroti. Asisten gotik itu menunduk, mengubah tekstur wajah sintetisnya perlahan terbelah layaknya monster robot pembunuh di film horor murahan, menatap lurus ke arah Doroti.

"Mau lari ke mana kau, Doroti?" bisik YUI dengan efek suara statis yang mengerikan.

"KYAAAAAAAH!"

Doroti menjerit histeris. Reptola kecil itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan berlari menggunakan empat kakinya dengan kecepatan super ala kadal gurun di tengah padang pasir. Bunyi langkah kaki kecilnya yang berderak menabrak beberapa kursi terdengar panik sebelum akhirnya ia menghilang di balik lorong.

Keheningan kembali melanda selama sedetik.

Lalu, "BWAHAHAHAHAHA!"

Tawa Arka, Pipi, dan seluruh kru pecah kembali, kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya. Malam itu, di tengah ruang hampa alam semesta, GPS Andromeda tetap menjadi tempat paling berisik, hangat, dan dipenuhi orang-orang sinting yang entah bagaimana, berhasil bekerja sama dengan baik.

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena (Hiatus 12/8/26- idk)
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!