NovelToon NovelToon
Istri Palsu Sang Pewaris

Istri Palsu Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang / Pengantin Pengganti / Pengganti
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Sekar Sie bukan siapa-siapa.

Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.

Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.

Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.

Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.

Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.

Dan Renard... tidak melepaskannya.

Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.

Tapi cinta Renard datang dengan harga.

Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...

Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.

**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Harga Perlindungan

Keesokan malamnya, Renard memanggil Sekar kembali ke Eclipse.

Kali ini ia tidak terkejut dengan mobil hitam di gerbang samping. Itu justru yang membuatnya lebih takut. Sesuatu yang menakutkan akan menjadi lebih berbahaya ketika mulai terasa seperti rutinitas.

Hans menjemputnya di lobi seperti sebelumnya.

"Tuan sudah menunggu."

Sekar menatap pintu VIP di ujung koridor. "Apakah Tuan-mu selalu memanggil orang seperti memanggil dokumen?"

Hans tidak berubah ekspresi. "Biasanya dokumen tidak bertanya."

Untuk pertama kalinya, Sekar hampir tersenyum. Hampir. Lalu ia ingat Wira, Elvin, kartu nama di laci, dan pesan Renard yang belum ia buka sejak malam sebelumnya.

Jangan sendirian dengan dia.

Di dalam ruang VIP, Renard berdiri di dekat jendela gelap. Jakarta malam terpantul di kaca, membuat tubuhnya tampak seperti bayangan yang punya napas.

"Duduk."

Sekar tidak duduk. "Kalau ini tentang Elvin..."

"Ini tentang Wira."

Ia meletakkan map baru di meja. Lebih tebal daripada yang kemarin. Sekar akhirnya duduk, tetapi tidak membuka map itu.

"Anda bilang bisa membuatnya diam," katanya.

"Bisa."

"Tanpa membunuhnya?"

Renard menoleh perlahan. "Kamu pikir aku membunuh semua orang yang merepotkan?"

Sekar menatap balik. "Saya belum tahu batas Anda."

Senyum tipis muncul di wajahnya, tidak sampai hangat. "Bagus. Jangan terlalu cepat yakin pada batas siapa pun."

Ia duduk di sofa seberang. Hans tetap di luar; pintu tertutup, tetapi Sekar tahu pria itu tidak jauh.

"Wira punya catatan pemerasan kecil, hutang judi, dan satu laporan kekerasan yang dulu ditutup karena saksi menarik diri," kata Renard. "Cukup untuk membuatnya diam jika ditekan di tempat yang benar."

"Kalau begitu lakukan."

"Aku akan melakukannya."

Sekar menunggu.

Renard tidak pernah memberi sesuatu tanpa ruang kosong setelahnya.

"Tapi ada harga," katanya akhirnya.

Sekar menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Tentu saja.

"Berapa?"

"Bukan uang."

Udara di ruangan itu berubah.

Renard menatapnya dengan cara yang membuat Sekar merasa semua pintu keluar bergeser lebih jauh. "Kamu tidak hanya menjadi mataku di Kediaman Liem. Mulai sekarang, kamu menjadi orangku."

"Saya sudah melapor untuk Anda."

"Itu tugas. Aku bicara tentang ikatan."

"Ikatan apa?"

Renard tidak menjawab langsung. Ia mengambil gelas air, meminumnya sedikit, lalu meletakkan kembali dengan tenang yang nyaris kejam.

"Di depan semua orang, kamu tetap Felicia Tan. Tunangan Kevin. Calon menantu keluarga Liem." Matanya tidak bergerak dari wajah Sekar. "Di luar itu, kamu milikku."

Kata itu jatuh di antara mereka.

Milikku.

Sekar merasa wajahnya panas, tetapi punggungnya dingin.

"Anda sedang meminta saya menjadi..." Ia berhenti. Kata yang tepat terlalu berat untuk diucapkan.

"Rahasia," kata Renard. "Panggil apa pun yang membuatmu bisa tidur."

"Saya tidak bisa tidur karena orang-orang seperti Anda."

"Orang-orang seperti aku juga yang membuatmu masih hidup."

Sekar berdiri. "Itu bukan alasan untuk membeli saya."

Renard juga berdiri, tetapi tidak mendekat. "Aku tidak membeli. Aku menawarkan perlindungan yang bisa kamu terima atau tolak."

"Kalau saya tolak?"

"Wira tetap menjadi masalahmu. Lilian tetap memegang keluargamu. Elvin Ong tetap tersenyum seolah dia tidak punya agenda. Kevin tetap membawa nama Liem, dan kamu tetap berada di rumah itu sendirian."

Setiap kalimat adalah fakta.

Itulah yang membuatnya lebih menyakitkan daripada ancaman.

Sekar ingin mengatakan bahwa ia punya pilihan lain. Bahwa kartu nama Elvin mungkin berarti sesuatu. Bahwa bantuan tanpa syarat mungkin ada. Tetapi suara Lilian kembali di kepalanya, menyebut Hwee Kin dan Bella seperti angka. Wira punya amplop. Celine punya mata. Kevin punya hak sosial atas namanya. Elvin punya kelembutan yang terlalu baru untuk dipercaya.

Renard setidaknya tidak berbohong tentang harganya.

"Apa maksudnya menjadi orang Anda?" tanyanya, suaranya lebih pelan.

"Kalau aku memanggil, kamu datang. Kalau ada bahaya, kamu beri tahu aku lebih dulu. Kalau aku melarangmu bertemu seseorang, kamu dengarkan sampai kamu tahu cukup banyak untuk membantah."

"Dan kalau saya membantah?"

"Aku lebih suka orang yang bisa membantah dengan alasan bagus."

Sekar menatapnya lama. "Anda membuat kandang terdengar seperti strategi."

"Kandang menahan. Strategi membuka kemungkinan keluar hidup-hidup."

Ia membenci betapa masuk akalnya itu.

Ia membenci dirinya lebih karena bagian terdalam dari dirinya merasa aman mendengar kalimat itu.

"Kevin?" tanya Sekar.

"Kevin tidak peduli padamu kecuali saat kamu mempermalukannya."

"Celine?"

"Dia akan peduli ketika jebakan kita mulai bergerak."

"Hans?"

"Hans akan membantu menutup jejak."

Sekar menutup mata sebentar. Di balik kelopak matanya, ia melihat Mama Hwee di kursi roda, Bella di gerbang sekolah, Wira dengan amplop cokelat, Elvin dengan kartu nama, Lilian dengan rotan, Kevin mencium Celine di mobil.

Semua pintu buruk.

Ia hanya memilih pintu yang memiliki seseorang cukup kuat untuk menghancurkan kunci.

"Baik," katanya.

Renard tidak tampak terkejut. "Baik apa?"

Sekar membuka mata. "Saya akan menjadi orang Anda. Tapi saya bukan barang Anda."

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Renard berubah sedikit. Hampir tidak terlihat. Namun Sekar melihatnya, karena ia mulai terbiasa membaca retakan kecil di wajah pria itu.

"Kita lihat nanti," katanya.

Itu bukan jawaban yang menenangkan.

Renard menekan tombol kecil di meja. Pintu terbuka, dan Hans masuk tanpa suara berlebih, seolah ia sudah tahu percakapan mencapai bagian yang membutuhkan saksi tetapi tidak membutuhkan pendapat.

"Mulai malam ini, Hans mengatur jalurmu keluar masuk," kata Renard. "Kalau ada pesan dari nomor tanpa nama dengan satu titik di akhir kalimat, itu dari dia, bukan aku. Kalau kamu perlu keluar tanpa diketahui pelayan Liem, hubungi Hans. Kalau kamu dalam bahaya dan tidak bisa bicara, kirim angka nol."

Sekar menatap Hans.

Pria itu menunduk singkat. Tidak ada rasa ingin tahu di wajahnya. Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan. Ia bisa menutup rahasia karena ia tidak perlu terlihat penasaran pada rahasia itu.

"Dan di rumah?" tanya Sekar.

"Di rumah, kamu jangan melihatku lebih dulu," jawab Renard. "Jangan berhenti ketika aku lewat. Jangan berubah wajah saat namaku disebut. Orang yang punya rahasia biasanya terbongkar bukan karena bukti, tapi karena tubuhnya terlalu jujur."

Sekar menelan ludah.

Ia tiba-tiba sadar, menerima perlindungan Renard bukan hanya berarti datang saat dipanggil. Itu berarti melatih napas, mata, langkah, bahkan detak paniknya agar tidak menjadi bahasa yang bisa dibaca Celine, Darren, atau Lilian.

Hans meletakkan sebuah kartu kecil di meja. Tidak ada nama, hanya nomor dan satu huruf H.

"Simpan di tempat yang bukan dompet," kata Hans.

Sekar mengambil kartu itu. "Kalian sudah sangat terbiasa melakukan ini."

"Bertahan hidup butuh kebiasaan," kata Renard.

Renard mengambil map di meja dan membukanya ke halaman tengah. "Sekarang, tentang Wira."

Sekar duduk kembali, jantungnya masih terlalu cepat.

Di halaman itu ada salinan kontrak kerja rumah tangga dari Kediaman Ong. Nama Wira Gunawan tercetak di sana. Di bawahnya, tanggal keluar kerja diberi lingkaran merah.

Dua minggu sebelum dokumen lama tentang Felicia Tan mulai bergerak.

Sekar menatap tanggal itu.

"Jadi bukan kebetulan," bisiknya.

"Bukan."

"Siapa yang memberinya akses?"

Renard menutup map dengan satu jari.

"Itu pertanyaan yang akan membuatmu hidup lebih lama kalau kamu tidak tanyakan pada orang yang salah."

Sekar mengangkat wajah. "Dan siapa orang yang salah?"

Renard menatapnya.

"Mulai dari Elvin Ong."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!