NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Upeti setan

##BAB 12 - Upeti Setan

Hari berganti minggu, dan minggu pun perlahan bergeser menjadi bulan. Keajaiban hitam itu tidak pernah surut; pembeli justru semakin hari semakin membeludak, membuat pundi-pundi rupiah mengalir masuk dan bertumpuk-tumpuk di dalam laci mereka.

Dalam waktu singkat, kehidupan ekonomi sepasang suami istri itu berubah total. Semua utang piutang yang dulu melilit leher kini telah lunas tak berbekas. Rumah mereka yang dulunya reot mulai diperbaiki hingga tampak megah, pakaian-pakaian baru yang mahal mulai membalut tubuh, dan pandangan mata para tetangga yang dulunya meremehkan, kini berubah menjadi penuh rasa hormat dan segan.

Rahmat merasa sangat bangga. Di dalam dadanya yang kian membusung, ia merasa bahwa langkah nekat yang ia ambil malam itu adalah keputusan paling benar di sepanjang hidupnya.

Namun, kondisi batin yang dirasakan Ratna justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Wanita itu merasa hari-harinya semakin dipenuhi oleh kegelisahan yang menyiksa, terutama karena melihat kelakuan sang suami yang dirasanya kian hari kian tidak wajar.

Every time malam pasaran Kliwon tiba, tepat pada pukul dua belas malam, Rahmat selalu memaksanya untuk melakukan hubungan intim di dalam kios bakso mereka. Ritual itu dilakukan di tempat yang sama sekali tidak layak; di atas deretan meja dan kursi kayu yang kotor, pengap, serta berbau anyir minyak sisa dagangan.

Walaupun kini segala kebutuhan materi dan kemewahan duniawi selalu dipenuhi oleh suaminya, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ratna merasa sangat malu, hina, dan sakit hati yang teramat sangat. Setiap kali ia mencoba menangis dan menolak, Rahmat selalu menepisnya dengan ucapan yang sama;

"Itu sudah jadi kewajiban kita, Bu... demi menjaga syarat dari Simbah supaya rezeki kita makin lancar!"

Ratna hanya bisa pasrah dalam ketidaktahuannya. Wanita itu sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa setiap tetes cairan yang keluar dari ritual paksaan malam itu, akan diambil kembali oleh suaminya. Cairan itu akan disembunyikan, lalu dicampurkan ke dalam dandang kuah bakso jualan mereka keesokan paginya.

Walaupun raga dan batinnya harus sering menerima perlakuan yang sama sekali tidak mengenakkan dari sang suami, keikhlasan Ratna seolah tidak memiliki batas. Kesetiaan dan kepatuhan yang ia miliki terhadap laki-laki pilihan hidupnya itu tidak pernah luntur, bahkan tidak berkurang sedikit pun.

Bagi Ratna, pernikahan adalah janji suci yang harus ia jaga sampai mati. Ia rela membiarkan harga dirinya sendiri terinjak-injak dan hancur lebur di dalam kegelapan kios, asalkan nama baik suaminya di luar sana tetap tegak berdiri tanpa cacat di mata orang lain.

Akhirnya, hari yang ditentukan itu pun tiba. Waktunya bagi Rahmat untuk memenuhi separuh janji hitamnya; membagi sebagian harta yang telah ia kumpulkan sebanyak sepuluh persen, serta membawa satu ekor ayam cemani hitam legam ke rumah kayu Mbah Cahyo. Ritual upeti ini harus ia tunaikan sebagai bentuk terima kasih dan kepatuhan mutlak karena sang dukun telah berhasil mengangkat derajat hidupnya dari jurang kemiskinan.

Sebelum melangkah pergi, Rahmat menghampiri istrinya yang sedang sibuk merapikan mangkok.

"Bu... Mas mau pergi dulu ke rumah Simbah. Ibu gak perlu ikut, ibu jaga kios kita aja di sini. Mas gak bakal lama kok," ujar Rahmat dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, seolah ingin menutupi kegundahan di dalam hatinya sendiri.

Ratna menarik napas pendek, mencoba mengulas senyum tipis di bibirnya yang pucat.

"Nggih, Mas... Mas hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa di sana, segera hubungi Ibu, ya," sahut Ratna pelan.

Meskipun lidahnya berucap patuh, jauh di dalam lubuk hatinya, Ratna sama sekali tidak ikhlas melepas suaminya untuk kembali menginjakkan kaki di rumah terkutuk itu. Bayangan malam jahanam di tengah hutan fajar itu masih menyisakan trauma mendalam di raganya.

Namun, apalah daya seorang Ratna. Wanita itu hanya bisa pasrah menerima keadaan. Lagipula, ia tahu betul tabiat suaminya sekarang; jika ia berani melarang atau menghalangi jalan Rahmat, pria itu pasti akan langsung mengamuk hebat, bahkan tidak akan segan-segan untuk menyiksa fisik dan batinnya.

Tanpa banyak bicara lagi, Rahmat langsung melompat ke atas sepeda motornya. Pria itu segera menyalakan mesin dan langsung menancap gas sedalam-dalamnya, meninggalkan Ratna sendirian demi menggali menuju rumah kayu milik Mbah Cahyo.

Di tengah perjalanan, seiring deru angin yang menerpa wajahnya, pikiran Rahmat mulai melantur ke mana-mana. Terselip sebuah pertanyaan yang mengusik ingatan; kenapa ia harus menyerahkan sebagian hasil jerih payahnya hanya-cuma kepada dukun tua itu? Di dalam hatinya yang paling dalam, Rahmat sebenarnya merasa sangat tidak ikhlas. Namun, demi memenuhi sumpah janji gelap yang telah mengikatnya, ia terpaksa menahan rasa dongkol itu dan terus melaju.

Setelah sekitar dua jam membelah keramaian kota yang bising, jalur yang dilalui Rahmat perlahan mulai berubah sunyi. Roda motornya bergerak melewati area Pemakaman Umum yang tampak angker, sebelum akhirnya roda-roda itu berhenti berputar tepat di halaman depan rumah kayu Mbah Cahyo yang sunyi dan tertutup rapat di tengah rimbunnya hutan fajar.

Bersambung.

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!