Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Kenapa jadi seperti ini? Kenapa dia melakukan semua itu?" tanya Ainun dengan kepala menunduk.
"Karena dia benar-benar mencintaimu tanpa syarat. Dia rela kehilangan segalanya, bahkan nyawanya sekalipun asalkan kamu ada bersamanya, tapi semuanya ternyata sia-sia. Dulu Malik pernah bilang, andai saja dia tahu rencana kepergianmu, pasti dia memilih ikut bersamamu, jadi pembantumu pun tidak masalah asal bisa berada di dekatmu," ujar Laila.
Ainun merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Malik, tetapi bukan berarti dia menyesali semuanya. Baginya ini adalah jalan hidup yang harus dilalui. Apa yang menjadi keputusan Malik sudah pasti pria itu sudah memikirkannya.
Ainun juga tidak pernah memaksa Malik untuk terus memikirkannya. Bagaimanapun juga baginya restu keluarga sangatlah penting. Dulu dia dan Malik sudah sangat berusaha untuk mendapatkan restu, tapi sampai pada akhirnya rasa menyerah pun datang dan Ainun memutuskan untuk pergi. Dia tidak ingin hubungan Malik dan keluarganya berantakan, tapi pada akhirnya tetap saja tercerai-berai.
"Aku menceritakan semua ini bukan untuk membela Malik atau membuatmu merasa bersalah. Aku hanya ingin kamu tahu apa yang sudah terjadi pada Malik selama ini. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kalian. Mengenai rencanamu selanjutnya, itu semua juga tergantung padamu. Sebelumnya aku dan Mas Harun pernah berbicara mengenai masalah kalian. Kami sepakat tidak akan menceritakan tentang Malik jika kamu sudah memiliki keluarga bahagia dan suami yang baik, tapi jika sebaliknya maka kami akan menceritakannya. Sekarang setelah tahu jika kamu sudah tidak memiliki suami, aku berani menceritakannya."
"Aku memang merasa bersalah pada Malik, tapi bukan berarti aku menyesali jalan hidupku, juga apa saja yang sudah aku lalui. Bagiku semua ini adalah takdir yang harus kita jalani. Kalau Malik memilih jalan itu, berarti itu memang pilihannya, tidak ada hubungannya denganku."
"Tapi, Ainun, dia melakukan semua itu untuk kamu, tidakkah kamu memikirkan perasaannya?"
"Aku tahu itu semua untukku, tapi kita sudah tidak hidup di zaman dulu. Hidup terus berjalan, apalagi sekarang usiaku sudah tidak muda lagi, sudah bukan waktunya lagi untuk membicarakan soal cinta."
"Perasaan Malik bukan hanya tentang masa lalu, tapi seumur hidupnya. Berapa banyak wanita yang ingin mendekatinya, tapi dia selalu menolak. Baginya cuma kamu yang berhak menggandeng tangannya."
"Aku tidak ingin membahasnya lagi, Laila. Sekarang yang aku pikirkan hanyalah keluargaku, bagaimana caranya membuat agar anak dan cucu bahagia, itu saja. Yang lainnya aku tidak mau memikirkannya lagi."
"Jadi kamu sudah tidak ingin bersama dengan Malik meskipun tahu seberapa besar pengorbanannya?"
"Laila, sudah aku katakan kita ini sudah tua, tidak pantas membicarakan hal seperti itu."
"Tapi ...."
"Sudahlah, jangan membalas masalah ini lagi. Kita bicarakan hal lain saja, terutama mengenai cucu-cucu kita. Sebaiknya kita bicara dengan mereka agar kedepannya mereka tidak bertengkar lagi. Aku pusing melihat cucuku setiap hari membuat masalah di sekolah."
Dalam hati Laila masih ingin membahas tentang Malik, tapi sepertinya Ainun merasa enggan. Sama seperti dulu, temannya itu memang sangat keras kepala dan dia juga tidak bisa memaksa, biarlah semuanya berjalan dengan semestinya. Malik juga sepertinya tidak akan menyerah kali ini.
"Aku juga heran sama cucu kita, padahal dari dulu kita ini bersahabat baik, tapi kenapa mereka malah jadi musuh. Andai saja kita berdekatan sejak dulu, pasti mereka juga sudah akrab seperti keluarga," ujar Laila sambil membayangkan masa lalu.
"Tidak usah membahas masa lalu. Sebaiknya kamu kirim pesan ke cucumu agar datang ke sini. Sebentar lagi 'kan waktunya pulang sekolah. Aku juga akan mengirim pesan pada cucuku agar dia ke sini. Kita bicara dengan mereka bersama-sama agar mereka mengerti."
Laila mengangguk dan segera mengirim pesan kepada Fajar, begitu juga dengan Ainun. Keduanya pun menunggu sambil menikmati pesanan. Obrolan ringan pun mengalir begitu saja.
Beberapa menit kemudian Fajar dan Alif datang bersamaan. Keduanya terlihat cemberut karena tahu oma mereka sedang bersama. Tadi tanpa sengaja keduanya bertemu di depan dan sedikit berbicara, barulah menyadari jika mereka sengaja dipertemukan di sini.
"Ada apa, Oma? Kenapa Oma minta aku datang ke sini? Ketemu sama dia lagi," ujar Alif dengan memalingkan wajahnya karena enggan melihat Fajar.
Fajar sendiri tidak banyak bicara. Pemuda itu hanya duduk di samping omanya saja. Sebenarnya dia juga kesal, tapi mau berdebat dengan omanya bagaimanapun dia akan tetap kalah, jadi daripada membuang tenaga lebih baik diam saja. Lagi pula sudah ada Alif yang protes.
"Duduk, Alif!"
"Aku tidak mau duduk satu meja dengan dia," tunjuknya ke arah Fajar.
"Duduk! Atau Oma laporin kamu ke orang tua kamu, biar sekalian kamu nggak dikasih jajan atau mungkin dimasukin pondok pesantren."
Mendengar ancaman itu tentu saja Alif takut. Dia benar-benar tidak mau pergi ke pondok pesantren. Padahal dirinya tidak pernah masuk ke sana, tapi mendengar cerita dari orang-orang membuatnya takut. Lagi pula Alif juga tidak mau hidup sendiri dengan orang lain. Dia lebih memilih bersama dengan omanya saja dan orang-orang yang dia kenal, padahal hidup di pondok tidak seburuk itu.
"Alif, ini omanya Fajar, namanya Oma Laila. Dia adalah teman Oma dari semasa sekolah. Dulu kami teman baik, jadi tidak bisakah kamu berteman dengan Fajar agar hubungan keluarga kita bisa terjalin lebih erat."
"Tidak bisa. Aku tidak mau berteman dengan dia," jawab Alif dengan suara keras membuat Ainun menggelengkan kepala.
Laila pun juga berbicara dengan cucunya. "Fajar, bagaimana dengan kamu? Oma Ainun ini teman baik Oma loh, kamu tentu tahu teman Oma itu tidak banyak. Oma juga tidak suka bersosialisasi dengan orang lain, apalagi ikut arisan semacamnya."
"Aku tidak mau punya teman yang suka memanfaatkan orang lain, apalagi jika yang dimanfaatkan orangnya sudah tua."
"Memanfaatkan bagaimana?"
"Dia itu sudah memanfaatkan Opa Malik dan meminta banyak barang."
"Dia yang minta atau Opa Malik yang belikan?"
Fajar terdiam karena dari yang dia dengar memang Malik yang menawarkan diri. Apalagi saat teringat kemarin Malik begitu kejar mengejar Ainun. Pemuda itu juga yakin ada sesuatu diantara mereka, tapi Malik tidak mau bercerita.
Laila menarik Fajar dan membawanya menjauh dari mereka. Dia ingin berbicara dari hati ke hati dengan cucunya. Wanita itu sangat mengenal Fajar, kalau sudah diberi pengertian pasti anak itu akan menurut. Kali ini pun demikian.
"Fajar, kamu masih ingat cerita tentang mantan kekasih yang paling dia cintai dan tidak bisa dilupakan oleh Opa Malik?"
"Iya, masih."
"Itu dia. Dia adalah Oma Ainun. Opa Malik ingin mendekatinya kembali dengan cara apa pun, termasuk dimanfaatkan oleh cucunya Ainun. Opa Malik rela melakukan apa pun asal bisa dekat lagi dengan Oma Ainun. Itu semua Opa Malik sendiri yang menginginkannya, bukan atas paksaan siapa pun. Kamu juga tidak boleh marah karena semua harta yang dimiliki oleh Opa Malik tentu kamu tahu siapa pemiliknya."
"Kenapa harus Omanya Alif, Oma? Di luar sana masih banyak wanita, bahkan yang lebih muda juga banyak."
"Tapi yang diinginkan Opa Malik hanyalah Oma Ainun. Tanpa Oma jelaskan kamu pasti sudah tahu seberapa besar penderitaan Opa Malik selama ini, jadi Oma mohon jangan marah pada Alif lagi karena anak itu tidak tahu apa-apa. Dia yang dimanfaatkan oleh Malik."
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍