NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. SAH

Rafael membuka matanya perlahan, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Alisnya sedikit berkerut ketika melihat nama yang tertera di layar.

Tanpa menunggu lama, ia menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo?" sapanya singkat dengan suara bariton yang tenang.

Dari seberang terdengar suara berat yang masih terdengar tegas meski usia tak lagi muda, siapa lagi kalau bukan Opa Theo.

"Rafael, pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, kapan kamu akan pulang kerumah, hm ?"

Rafael melirik berkas proyek yang masih tersusun di atas meja sebelum menjawab, "Aku masih banyak berkas proyek yang harus dikerjakan segera Opa. Kalau aku pulang ke rumah, harus bawa banyak berkas. Dan itu tidak mungkin." ucapnya pelan.

Hening sesaat menyelimuti percakapan mereka.

"Opa tenang saja, aku tidak akan kabur." lanjutnya, merasa tahu apa yang ada di pikiran kakeknya itu.

Opa Theo berdehem, "Ck, awas saja kalau sampai kamu berani kabur. Opa akan langsung mencoret kamu dari daftar ahli waris Dirgantara." katanya Tegas.

"Ya sudah, jangan terlalu sering lembur. Jaga kesehatanmu, kalau sudah selesai semuanya pulang ke rumah sebelum hari pernikahanmu itu." lanjut Opa Theo tenang, namun penuh nada penuh penekanan disana.

"Hm.." balas Rafael, sebelum mematikan panggilannya.

* *

Beberapa hari berlalu dengan cepat. Waktu seolah berlari menuju hari yang telah lama dinantikan. Lusa, Kanaya dan Rafael akan mengikat janji suci dalam sebuah pernikahan yang telah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya dengan penuh perhatian.

Sejak pagi, rumah keluarga Kanaya sudah dipenuhi kesibukan. Beberapa orang tampak hilir mudik membawa kotak dekorasi, rangkaian bunga, hingga lembaran daftar tamu. Suara percakapan dan tawa sesekali terdengar, bercampur dengan dering ponsel yang tak henti berbunyi.

Kanaya yang baru selesai bersiap turun perlahan dari lantai atas. Mengenakan blouse putih sederhana dipadukan dengan rok panjang berwarna krem, ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga sambil memandangi suasana rumah yang begitu ramai.

Tatapannya kemudian tertuju pada sang ibu yang sedang duduk di ruang keluarga bersama seorang wedding organizer. Di atas meja terbentang beberapa katalog dekorasi, contoh undangan, dan denah penataan kursi tamu.

"Aku ingin setiap detailnya sesuai dengan yang Kanaya impikan," ucap Kirana lembut namun tegas. "Mulai dari bunga di pelaminan, warna dekorasi, sampai pencahayaan saat resepsi."

Perempuan dari pihak WO mengangguk sambil mencatat semua arahan.

"Tenang, Nyonya. Semua konsep sudah kami sesuaikan. Dominasi warna putih dan dusty pink tetap menjadi tema utama, dengan sentuhan bunga segar di setiap sudut. Kami juga sudah memastikan area akad dan resepsi siap tepat waktu."

Kanaya menghampiri mereka dengan senyum hangat.

"Pagi Mom" sapanya pelan. "Sibuk banget kayaknya."

Kirana menoleh, lalu tersenyum penuh kasih.

"Nah, calon pengantinnya sudah bangun. Sini, coba lihat lagi konsepnya. Kalau masih ada yang ingin diubah, sekarang waktu yang paling tepat."

Kanaya duduk di samping ibunya dan melihat satu per satu rancangan yang disiapkan. Semuanya memang sesuai dengan gaya pernikahan impiannya, namun kali ini dia merasa tidak begitu semangat. Gimana mau semangat, kalau calon pengantin pria nya saja tidak seperti impiannya dulu.

"Bagus Mom," gumamnya pelan. "Terserah Mommy saja, maunya gimana. Kalau Mommy suka, aku juga suka."

Kirana yang tadinya memegang beberapa kartu undangan, berhenti sejenak. Lalu menatap putrinya, "Loh kok gitu ? Kenapa ? Kamu masih belum bisa menerima ini semua ?" tanyanya.

"Nggak tau," jawabnya singkat, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Menutup mukanya dengan bantal sofa yang dipegangnya.

Kirana menghela napas pelan, lalu mengenggam tangan putrinya pelan namun lembut. Membuat Kanaya menurunkan bantalnya dari muka, menoleh dan menatap ibunya yang sedang tersenyum tipis.

"Mommy tau, kamu masih belum bisa menerima kenyataan ini." lirih Kirana lembut, sembari mengusap pelan tangan putrinya.

"Tapi, semua ini kita lakukan demi kebaikan kamu sayang..."

"Mommy yakin kalau Rafael pria yang tepat buat jadi pendamping kamu. Jangan pernah lihat sikapnya yang terkesan dingin dan cuek saja. Tapi cobalah untuk mengenal dia lebih jauh, Mommy tahu dia itu baik dan perhatian."

Kanaya hanya mengangguk saja, tanpa ingin menanggapi lebih. Toh, mau berbicara yang tidak-tidak pun semua orang kembali meyakinkan dia lelaki yang tepat buat dirinya. Jadi, kini Kanaya hanya berpasrah pada takdir yang akan dijalani kedepannya nanti.

"Untuk undangannya gimana ? Apa kamu sudah mengundang teman-temanmu ?" tanya Kirana lagi.

Kanaya menggeleng, "Nggak Mom, temanku cuma Keisya. Dan dia kan adik calon mempelai pria, jadi nggak perlu pakai undangan."

"Loh.. Kok gitu Nay."

"Udah lah Mom, yang penting kan keluarga sama teman-teman Mommy dan Daddy ada." ujar Kanaya, "aku kebelakang dulu, haus." ia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur.

Sedangkan Kirana hanya menggeleng pelan, dan kembali fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan tadi.

* *

Di sisi lain, di kediaman keluarga Dirgantara, suasana tak kalah ramai. Para pelayan hilir mudik membawa berbagai perlengkapan, sementara beberapa anggota keluarga sibuk memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.

Sesuai perintah sang kakek, Rafael akhirnya pulang ke rumah besar Dirgantara setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya di kantor. Begitu mobilnya memasuki halaman, ia mengembuskan napas pelan sambil melepas dasi yang terasa sedikit mengganggu.

Untuk sementara, seluruh urusan perusahaan ia percayakan kepada Andra. Pria itu sudah memahami setiap proyek yang sedang berjalan sehingga Rafael tidak perlu terlalu khawatir.

Baru beberapa langkah memasuki rumah, suara berat sang kakek sudah terdengar dari ruang tengah.

"Syukurlah akhirnya pulang juga. Opa sampai berpikir kalau kamu akan kabur beneran dari pernikahan ini."

Rafael hanya mengusap pelipisnya sambil tersenyum tipis.

"Aku sudah menyelesaikan semuanya, Opa. Sisanya Andra yang menangani."

"Hm, begitu memang seharusnya. Pernikahan tinggal dua hari lagi. Jangan sampai besok atau lusa masih sibuk mengecek proyek."

Rafael mengangguk patuh. Ia tahu membantah hanya akan membuat ceramah sang kakek semakin panjang.

"Eh Kak, udah pulang ?" sapa Keisya dari dalam."

"Hm."

"Pas banget, tadi tukang salon yang di panggil Bunda masih di dalam. Ayo masuk, kakak juga harus perawatan dulu. Biar nanti Kanaya pangling," ujar Keisya, mencoba menarik tangan Rafael.

Rafael membelalakkan matanya, "Perawatan ?"

Keisya mengangguk, "Iya kak, lihat wajah kamu Kak. Kantung mata, lesu. Oh tidak.." katanya menunjuk muka sepupunya itu.

"Betul juga kata Keisya. Kamu juga harus tampil maksimal di pernikahanmu besok." Opa Theo menimpali. "Opa tidak mau nanti Kanaya terlihat cantik, kamu malah biasa-biasa saja."

"Nah.. Kan. Pokoknya kamu harus perawatan sekarang. Tenang saja, salon langganan Bunda itu ter the best di kota ini. Ayo.."

Tanpa menunggu jawaban Rafael. Keisya sudah menarik kakak sepupunya itu masuk ke dalam. Sedangkan Opa Theo hanya terkekeh melihat kedua cucunya itu.

* *

Hari yang telah dinantikan akhirnya tiba.

Sejak fajar menyingsing, kediaman keluarga Wijaya sudah dipenuhi kesibukan. Para kerabat datang silih berganti dengan mengenakan busana terbaik mereka, sementara alunan gamelan yang lembut mengiringi setiap langkah, menciptakan suasana yang hangat sekaligus sakral.

Rangkaian bunga melati menghiasi setiap sudut rumah. Aroma harum bunga bercampur dengan wangi dupa dan kopi hangat yang disuguhkan untuk para tamu, membuat pagi itu terasa begitu istimewa.

Akad nikah akan digelar di kediaman Wijaya. Setelah itu, malam nanti akan di adakan resepsi di sebuah hotel berbintang.

Di lantai atas, tepat di dalam kamarnya, Kanaya duduk tenang di depan cermin besar.

Gaun kebaya pengantin berwarna putih gading dengan sentuhan bordir keemasan membalut tubuhnya dengan anggun. Sanggul khas Jawa yang dihiasi roncean melati menjuntai hingga ke dada, berpadu sempurna dengan riasan paes yang mempertegas kecantikannya.

Untuk beberapa saat, Kanaya hanya memandangi pantulan dirinya sendiri.

Masih sulit dipercaya bahwa hari ini ia akan resmi menjadi seorang istri pria yang bahkan belum dicintai olehnya.

Perlahan, jemarinya meremas ujung kain kebaya di pangkuannya. Rasa gugup mulai memenuhi dada, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan.

"Beb, boleh masuk?" terdengar suara Keisya dari balik pintu.

"Masuk saja."

Pintu terbuka perlahan. Keisya melangkah masuk dan seketika terpaku melihat penampilan sahabatnya.

Matanya membulat kagum.

"Ya ampun, Kanaya... cantik banget."

Kanaya terkekeh pelan.

"Lebay."

"Bukan lebay, ini fakta. Kalau Kak Rafael lihat sekarang, aku yakin dia bersyukur banget karena udah di jodohin sama kamu loh.."

"Ck.. Bisa aja kamu Kei,"

Di saat yang sama, Kirana ikut masuk ke dalam kamar. Begitu melihat putrinya telah siap dengan balutan busana pengantin, langkahnya terhenti.

Tatapannya berubah sendu.

Perempuan yang dulu selalu menggenggam tangannya saat belajar berjalan, kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sebentar lagi akan membangun rumah tangga sendiri.

Kirana menghampiri Kanaya, lalu mengusap lembut pipinya agar riasannya tidak rusak.

"Kamu cantik sekali, Sayang."

Suara Kirana terdengar sedikit bergetar.

Kanaya menggenggam tangan ibunya erat.

"Mom..."

Keduanya saling menatap dalam diam, hingga tanpa sadar mata Kanaya mulai berkaca-kaca.

Kirana tersenyum lembut sambil menggeleng.

"Hari ini tidak ada air mata. Ini hari bahagiamu."

Kanaya mengangguk pelan, meski senyum tipisnya tidak mampu menyembunyikan rasa haru yang memenuhi hati.

Di luar kamar, terdengar suara panitia keluarga yang mulai memanggil dengan sopan.

"Nona Kanaya, akad nikah akan segera dimulai. Semua sudah siap."

Kirana berpamitan untuk turun ke bawah, "Sayang.. Mommy kebawah dulu." ucapnya pelan. Lalu beralih pada Keisya.

"Kei, Tante titip Kanaya. Nanti setelah selesai akad, kamu antar Kanaya kebawah ya."

Keisya mengangguk, "Siap, Tante."

* *

Di bawah tenda akad yang dihiasi rangkaian bunga melati dan mawar putih, suasana berubah menjadi hening. Seluruh tamu menahan napas, menanti momen yang paling sakral.

Rafael duduk tegap di hadapan penghulu. Ia mengenakan beskap putih gading lengkap dengan blangkon, membuat penampilannya tampak gagah dan berwibawa. Di sampingnya duduk para saksi, sementara Harun, ayah Kanaya, telah bersiap menjadi wali nikah.

Penghulu membuka prosesi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan nasihat singkat mengenai makna pernikahan sebagai ibadah serta amanah yang harus dijaga bersama.

Setelah semua rukun dan syarat dipastikan terpenuhi, penghulu mempersilakan Harun memulai ijab kabul.

Harun menghela napas pelan. Dengan tangan yang menjabat erat tangan Rafael, ia mengucapkan kalimat ijab dengan suara yang jelas dan mantap.

"Aku nikahkan dan Aku kawinkan putriku, Kanaya Putri Wijaya, dengan engkau, Rafael Dirgantara, dengan mas kawin logam mulia 500 gram, dibayar tunai."

Tanpa ragu, Rafael menjawab dengan suara lantang, tenang, dan penuh keyakinan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Putri Wijaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."

Sesaat suasana menjadi sunyi.

Kemudian penghulu menoleh kepada para saksi.

"Sah?"

Dengan senyum lebar, kedua saksi menjawab hampir bersamaan,

"Sah."

"Sah!"

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!