NovelToon NovelToon
Darah Dan Rune: Kutukan Kerajaan Gelap

Darah Dan Rune: Kutukan Kerajaan Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengusiran di Balik Selimut Kabut

Langkah kaki Martha terasa begitu berat saat menuntun Naomi melewati lorong-lorong sunyi di sayap pelayan. Kamar kecil yang biasanya terasa hangat oleh bau kayu bakar dan sup kentang, kini terasa asing dan dingin. Naomi merebahkan tubuhnya yang ringkih di atas ranjang kayu beralaskan kasur jerami tipis. Garis-garis rune di lengan kirinya tidak lagi berpendar merah, melainkan berubah menjadi hitam legam, tercetak mati di bawah kulitnya seolah menjadi pengingat abadi akan harga yang harus ia bayar demi sebuah kebenaran.

Ayah angkatnya berdiri kaku di pinggir ranjang. Pria tua itu tidak mengatakan sepatah kata pun sejak mereka meninggalkan pelataran. Matanya yang cekung menatap Naomi dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah, kesedihan, dan ketakutan yang mendalam. Tangannya yang kasar karena puluhan tahun bekerja di dapur istana tampak gemetar saat ia menarik selimut kain kusam untuk menutupi tubuh anak gadisnya.

"Maafkan Ayah, Naomi," suara pria tua itu akhirnya pecah, serak dan nyaris tak terdengar. "Jika saja malam itu Ayah tidak membawamu dari pelukan ibumu... jika saja kami membiarkanmu dibawa pergi dari kerajaan ini sejak awal, kau tidak perlu menanggung penghinaan ini."

Naomi menggelengkan kepalanya perlahan di atas bantal. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar yang mulai berdebu. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ayah. Kau dan Ibu adalah satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai hari ini. Tanpa kalian, aku mungkin sudah menjadi abu di bawah fondasi istana ini."

Martha duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan kanan Naomi yang bebas dari rajah, tangan yang masih terasa seperti tangan anak gadisnya yang biasa membantunya memotong sayur di dapur. Air mata Martha menetes tanpa suara, membasahi kain seprai yang kasar.

BRAK!

Pintu kayu kamar yang rapuh itu terhantam keras ke dinding, mengejutkan ketiga orang di dalamnya. Dua pengawal berbaju zirah perak berdiri di ambang pintu, memberi jalan bagi sosok wanita yang paling ditakuti di istana itu setelah sang Raja.

Ratu Ara melangkah masuk. Gaun sutra ungu tuanya yang megah menyapu lantai tanah yang berdebu dengan begitu kontras. Wajahnya yang cantik kini mengeras bagai batu karang, tak ada lagi ruang untuk belas kasihan. Aroma parfum mawar mahal yang pekat seketika memenuhi kamar pelayan yang sempit itu, mengusir bau tanah dan keringat yang biasa ada di sana.

Martha dan suaminya seketika menjatuhkan diri berlutut di lantai, menundukkan kepala mereka sedalam mungkin hingga menyentuh ujung sepatu sang Ratu.

"Yang Mulia Ratu..." bisik Martha dengan tubuh gemetar hebat.

Ratu Ara bahkan tidak sudi melirik ke arah kedua pelayan itu. Matanya yang tajam dan penuh dendam langsung tertuju pada Naomi yang mencoba bangkit untuk duduk di ranjangnya.

"Jangan pernah berani mendongak di hadapanku, Anak Haram," suara Ratu Ara keluar begitu dingin, setiap kata yang diucapkannya seperti bilah es yang menghujam dada. "Kau pikir karena darah suamiku mengalir di nadimu, kau bisa mengecap kemewahan di tempat ini? Kau pikir kau pantas dipanggil Putri dari Kerajaan Sanjaya?"

Naomi menatap Ratu Ara tanpa rasa takut, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. "Aku tidak pernah meminta darah ini, Yang Mulia. Aku juga tidak pernah menginginkan takhta kalian."

"Tutup mulutmu!" Ratu Ara mengibaskan tangannya dengan gusar. "Sanjaya mungkin terlalu pengecut untuk melenyapkanmu karena ia takut pada bayang-bayang masa lalunya dengan Victoria. Tapi aku tidak memiliki ketakutan itu. Kehadiranmu di sini adalah penghinaan terbesar bagi garis keturunanku dan putraku, Ares!"

Ratu Ara melangkah selangkah lebih dekat ke ranjang, menunjuk wajah Naomi dengan jemarinya yang dihiasi cincin permata. "Dengarkan titahku, Pelayan. Kau, dan kedua orang tua angkatmu yang bodoh ini, harus pergi dari Kerajaan Sanjaya sebelum matahari tenggelam sepenuhnya hari ini. Jika aku masih melihat bayanganmu di dalam batas wilayahku esok pagi, aku sendiri yang akan memastikan kepala kedua orang tuamu ini dipajang di gerbang kota."

Martha terisak, memegangi ujung gaun Ratu Ara dengan putus asa. "Ampun, Yang Mulia... ke mana kami harus pergi dalam keadaan Naomi yang lemah seperti ini?"

Ratu Ara menarik gaunnya dengan jijik, membuat Martha tersungkur. "Bawa dia kembali ke tempat asalnya! Dia bukan putri dari kerajaan ini. Dia adalah anak dari Victoria, penyihir ambisius dari Kerajaan Tang Yang! Jika ia ingin hidup, seret dia melintasi perbatasan timur. Biarkan ibunya yang mengurus monster ber-rune ini. Tempatnya adalah di tanah asing itu, bukan di sini, bukan di tempat di mana putraku akan memerintah bersama Princess Ciara!"

Ratu Ara berbalik, jubah besarnya berkibar merobek udara kamar yang pengap. "Ingat kata-kataku. Pergi sejauh mungkin, atau mati di tangan pasukanku."

Setelah langkah kaki Ratu Ara dan para pengawalnya menjauh dari sayap pelayan, keheningan kembali merayap masuk, terasa lebih mencekam daripada sebelumnya. Kabut tipis musim gugur mulai merembes masuk melalui celah jendela yang retak, menggelapkan Sanjaya yang kini telah membuang salah satu putrinya.

Ayah angkat Naomi bangkit berdiri perlahan, menatap istrinya lalu beralih pada Naomi. "Kita harus berkemas, Naomi. Istana ini bukan lagi rumah kita. Sebenarnya... istana ini memang tidak pernah menjadi rumah bagi kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!