Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana bisa...
Paras rupawan yang dimiliki Diana telah berhasil menarik perhatian banyak laki-laki. Sikapnya yang baik dan perangainya yang lembut membuat siapa pun merasa nyaman berada di sekitarnya. Setiap kali ia berbicara, orang-orang akan mendengarkannya dengan saksama dan selalu memujinya sebagai gadis cantik yang diidolakan banyak laki-laki.
Akan tetapi, untuk pertama kalinya Diana merasa begitu diabaikan dan dihina sedemikian rupa. Abimana mengejeknya sekaligus mengejek laki-laki di sekitarnya dengan menyebut mereka sebagai anjing penjaga. Hal tersebut membuat Diana merasa tidak nyaman, sehingga ia bertekad untuk menanyakan sikap Abimana kepadanya hari ini.
Diana pun akhirnya menenangkan Gio yang sudah sangat marah, lalu perlahan tersenyum begitu lembut untuk membujuk rekan-rekan lainnya agar tidak terpancing.
“Abi orangnya lembut. Dia tidak pernah bersikap sekasar ini sebelumnya, jadi mohon dimaklumi. Sebagai temannya, aku akan mewakilinya untuk meminta maaf.”
Mendengar hal itu, Gio justru semakin marah.
“Dia sangat kasar dan tidak cocok untuk dijadikan teman. Kamu berteman dengannya sejak zaman kuliah. Kalau aku dekat denganmu sejak saat itu, mungkin aku sudah menghajarnya dari dulu.”
Gio memang sudah sangat membenci Abimana sejak lama. Semua itu berawal ketika mereka resmi menjadi dokter di rumah sakit ini secara bersamaan. Perhatian para dokter lebih tertuju pada Abimana karena ia dianggap pure blood—keturunan murni dari keluarga dokter.
Hal tersebut membuat Gio selalu berpikir bahwa kemampuan Abimana sebenarnya tidak begitu baik, dan ia hanya berada di posisinya karena latar belakang keluarganya. Jika saja Abimana berasal dari kalangan biasa seperti dirinya, mungkin ia tidak akan pernah berada di level yang sama, apalagi menjadi saingannya.
Kebencian Gio juga diperparah oleh cerita-cerita yang pernah disampaikan Diana saat mereka masih kuliah—tentang Abimana yang dianggap terlalu sombong dan memperlakukan Diana dengan semena-mena.
“Aku rasa rumor soal dia menyukai laki-laki itu benar adanya. Buktinya dia harus diwakili oleh wanita hanya untuk meminta maaf. Benar-benar banci.”
Mendengar ucapan Gio yang eksplisit, Diana hanya menundukkan kepala dan tidak memberikan tanggapan apa pun. Sikap itu justru membuat suasana terasa semakin ambigu, seolah membenarkan ucapan tersebut.
Setelah berhasil menenangkan Gio, Diana pun pergi menuju ruangan Abimana untuk menemuinya.
Saat ia tiba, Abimana tengah menghabiskan bekal makanannya di atas meja. Makanan itu tampak benar-benar lezat, terlihat dari cara Abimana menghabiskannya tanpa sisa. Hal tersebut membuat Diana cukup percaya diri bahwa suasana hati Abimana sudah membaik.
“Untuk apa kamu kemari?” tanya Abimana datar.
Diana tersenyum, lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
“Aku harap kamu tidak terlalu marah pada Gio. Dia hanya bercanda dan tidak bermaksud apa-apa.”
Abimana langsung tertawa mendengarnya.
“Hanya orang bodoh yang akan menganggap itu bercanda tanpa maksud apa pun. Kalau kamu datang untuk mewakili anjing-anjingmu, sebaiknya kamu pergi. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka.”
“Kamu seharusnya tidak berkata sekasar itu.”
“Lalu aku harus berkata apa? Haruskah aku bilang, ‘oh ya, semua yang kalian katakan benar, aku gay dan menyukai laki-laki’? Itu yang ingin kamu dengar?”
“Abi…”
Abimana langsung menutup kotak makannya dan memasukkannya ke dalam laci. Ia menatap Diana dengan tajam, penuh kemarahan yang selama ini ia tahan.
“Kenapa kamu berpikir aku akan diam selamanya? Diam terhadap semua rumor yang kalian sebarkan?”
Ia menarik napas singkat.
“Dengar. Aku tidak gay, dan aku tidak menyukai laki-laki. Kamu seharusnya tahu itu, karena kamu pernah tidur denganku.”
Setelah itu, Abimana langsung keluar dari ruangannya untuk menghindari Diana. Namun wanita itu tidak tinggal diam, ia mengejar dan menahannya.
“Aku tahu kamu marah atas semua yang terjadi di masa lalu. Tapi ini tidak sepenuhnya salahku. Kamu juga tahu bahwa kamu bukan satu-satunya laki-laki yang menyukaiku saat itu.”
“Oh, jadi kamu bangga?”
Suara Abimana semakin dingin.
“Kamu bangga karena disukai banyak laki-laki? Kamu bangga mempermainkan hati mereka semua? Kamu bangga dikelilingi banyak anjing penjaga yang siap menggigit siapa pun yang menyakitimu?”
Langkahnya berhenti sejenak.
“Sekarang kamu datang padaku bukan karena rasa bersalah, tapi karena kamu kehilangan satu anjing penjaga yang lepas dari kendalimu, kan?”
PLAK.
Tamparan keras langsung mendarat di pipi Abimana.
Suara itu terdengar jelas, membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh dengan wajah terkejut. Tidak ada yang menyangka Diana yang selama ini dikenal lembut bisa melakukan hal itu.
Mereka mulai berspekulasi bahwa Abimana pasti telah mengatakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan hingga membuat Diana kehilangan kendali.
Pipi Abimana terasa panas. Namun yang lebih mengejutkan bukan rasa sakit itu, melainkan ekspresi Diana—matanya memerah, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia tampak seperti seseorang yang benar-benar terluka.
Wajah cantiknya justru membuatnya terlihat semakin rapuh dan tersakiti.
Abimana terdiam sesaat.
Ia masih ingat bagaimana dulu ia selalu tidak tahan melihat Diana menangis. Ia selalu membujuknya, menuruti apa pun yang ia inginkan, bahkan sampai rela menyembunyikan hubungan mereka dari siapa pun.
Abimana tidak pernah membantah rumor yang menyebut dirinya gay, tidak peduli apa pun yang orang katakan. Yang ia pedulikan hanya kenyamanan Diana.
Namun selama ini, ia selalu percaya bahwa pada akhirnya ia akan berakhir di pelaminan bersama Diana—wanita cantik yang disukai banyak laki-laki.
Sayangnya, wanita itu tidak pernah menjadi milik satu laki-laki saja. Ia selalu dikelilingi banyak “anjing penjaga”, seolah para pria yang mengaguminya hanyalah koleksi perhatian yang bisa ia kendalikan dengan kata-kata manis.
Abimana mengusap pipinya sendiri yang masih terasa panas, lalu tersenyum tipis dengan nada mengejek.
“Diana… hal yang paling aku sesali dalam hidupku adalah pernah memberikan hatiku padamu.”
Ia menatapnya tajam.
“Kamu benar-benar tidak pantas mendapatkan cinta dari laki-laki mana pun. Jika kamu masih punya sedikit hati nurani, seharusnya kamu sadar diri dan menjauh dariku. Karena bagiku, hubungan kita di masa lalu hanyalah noda yang seharusnya tidak pernah ada dalam hidupku.”
Tanpa menunggu jawaban, Abimana berbalik dan pergi dengan langkah tegas.
Namun di balik sikap sombong dan dinginnya itu, jelas ia sedang menyembunyikan sesuatu—perasaan sakit yang selama ini ia pendam sendiri.
Cinta yang dulu ia anggap tulus, berakhir dengan cara yang paling menyakitkan: menyadari bahwa ia bukan satu-satunya.