NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 12 Senin Pertama dan Skandal Korporat

Senin pagi pukul tujuh lewat tiga belas menit, apartemen Gavin Mahendra sudah berada dalam tingkat kekacauan yang belum pernah tercatat dalam sejarah.

Dan penyebabnya bukan kebakaran.

Bukan mati listrik.

Bukan pula serangan mendadak dari kedua ibu mereka.

Melainkan satu fakta sederhana:

Rania Azarina terlambat bangun.

“GAVIN!”

Teriakan itu menggema dari lorong apartemen.

Di dapur, Gavin yang sedang menuang kopi hampir menjatuhkan cangkirnya.

“Apa?”

Rania muncul dengan rambut masih setengah basah, blazer belum terpasang sempurna, dan ekspresi panik yang sangat kontras dengan citra dingin profesionalnya di kantor.

“Kenapa kamu nggak bangunin saya?!”

Gavin mengangkat alis.

“Kamu bilang kemarin, ‘kalau berani masuk kamar saya pagi-pagi, saya laporkan ke komnas perlindungan privasi.’”

“Itu hiperbola!”

“Saya menghargai batas personal.”

Rania melotot.

“Sekarang saya telat gara-gara kamu terlalu menghargai batas personal!”

Gavin menyesap kopinya dengan tenang.

“Logika yang menarik.”

Kalau bukan karena waktu, Rania pasti sudah melempar toaster ke wajahnya.

Ia berlari kembali ke kamar.

Lima menit kemudian keluar dengan tas kerja di satu tangan dan heels di tangan lain.

“Berangkat. Sekarang.”

Lift apartemen dipenuhi keheningan tegang.

Rania sibuk mengenakan heels sambil menahan napas.

Gavin berdiri di sampingnya, rapi sempurna seperti biasa, seolah pagi tadi tidak terjadi kekacauan apa pun.

Ia melirik sekilas.

“Kancing blazer kamu salah.”

Rania menunduk.

Benar.

Sial.

Sebelum sempat memperbaiki, tangan Gavin bergerak lebih dulu.

Dengan gerakan cepat dan natural, ia membetulkan kancing blazer Rania.

Jari-jarinya sempat menyentuh pinggangnya.

Ringan.

Tapi cukup membuat tubuh Rania menegang.

“Sudah,” katanya santai.

Rania berkedip.

“...Makasih.”

Gavin menatapnya sebentar.

Lalu tersenyum tipis.

“Jangan biasakan.”

___

Begitu mobil mereka memasuki area parkir kantor, Rania langsung tahu situasi hari ini tidak akan normal.

Lobby utama PT Jaya Media.

Dan untuk pertama kalinya—

Gavin Mahendra dan Rania Azarina masuk kantor bersama.

Kesalahan besar.

Karena tiga detik setelah pintu lift terbuka—

Semua orang berhenti bergerak.

Benar-benar berhenti.

Seorang staf HR hampir menjatuhkan kopi.

Dua anak magang membeku di depan mesin absensi.

Bahkan satpam lobby terlihat seperti baru menyaksikan gerhana matahari.

Karena—

Rania dan Gavin datang bersamaan.

Dan lebih buruk lagi—

Rania mengenakan cincin nikah.

“Kenapa rasanya seperti kita masuk lokasi syuting reality show?” gumam Rania.

“Karena tim marketing kamu punya kemampuan menyebarkan informasi lebih cepat dari internet fiber.”

Dan benar saja.

Begitu mereka melangkah ke lobby utama—

“SELAMAT PAGI, BU PAK!”

Suara itu menggema terlalu keras.

Nisa.

Berdiri di dekat resepsionis dengan senyum lebar yang mencurigakan.

Di belakangnya, Tika, Seno, dan hampir seluruh divisi marketing berjejer seperti panitia penyambutan pejabat negara.

Di tangan mereka terbentang banner baru.

WELCOME BACK, MR & MRS CORPORATE MERGER

Rania berhenti berjalan.

Ekspresinya kosong.

Sangat kosong.

“Nisa.”

“Iya, Bu?”

“Turunkan itu.”

“Tapi desainnya dikerjakan semalaman.”

“Turunkan. Sekarang.”

Nisa cemberut.

“Baik, Bu.”

Namun sebelum banner sempat diturunkan, tepuk tangan sudah lebih dulu pecah dari seluruh lobby.

Gavin justru terlihat menahan tawa.

Lalu, di luar dugaan, ia meraih tangan Rania.

Menggenggamnya.

Hangat.

Mantap.

Refleks.

Rania menoleh kaget.

Pria itu membungkuk sedikit dan berbisik,

“Kalau kita mau meyakinkan semua orang, sekarang bukan waktu panik.”

Benar.

Sialnya, benar.

Maka dengan seluruh profesionalitas yang tersisa, Rania membalas genggaman itu.

Lobby langsung meledak lebih heboh.

“YA AMPUN PEGANG TANGAN!”

“NIKAHAN MEREKA REAL!”

"MEREKA PAKAI CINCIN!"

“GUA KALAH TARUHAN!” Kata Nisa.

Rania membeku.

Menoleh pelan.

“Kalah taruhan?”

Nisa refleks menutup mulut.

Terlambat.

Tatapan maut Rania langsung terkunci padanya.

“Kalian bikin taruhan?”

Nisa tersenyum kaku.

“Sedikit?”

“Berapa orang?”

“...dua puluh tiga.”

Rania memejamkan mata.

Ia membutuhkan cuti. Panjang.

Jika lobby terasa seperti sirkus, lantai direksi jauh lebih mengerikan.

Karena di sanalah Theo Santoso berdiri saat pintu lift terbuka.

CEO mereka.

Masih setampan biasa.

Masih setegas biasa.

Dan masih memiliki aura yang bisa membuat orang merasa bersalah bahkan ketika tidak melakukan apa-apa.

Tatapan Theo turun ke jemari yang saling menggenggam.

Terlalu natural.

Atau terlalu dilatih.

Sulit dibedakan.

Lalu naik ke wajah keduanya.

Rania menelan ludah.

Theo mendekat.

Langkahnya tenang.

Berhenti tepat di depan mereka.

Theo menyipit tipis.

“Menarik.”

Tatapannya berhenti sedikit terlalu lama pada Gavin.

“Minggu lalu kalian hampir saling lempar presentasi saat rapat.”

Jeda.

“Sekarang menikah.”

Sunyi.

“Saya penasaran bagian mana yang saya lewatkan.”

Gavin mengernyit.

“...Maaf?”

“Saya hanya memastikan kalian belum bercerai dalam empat puluh delapan jam.”

Rania hampir tersedak.

Theo benar-benar tidak punya kemampuan basa-basi.

Lalu ia menyerahkan sebuah map hitam pada Rania.

“Malam ini ada dinner bersama investor regional dari Singapura.”

Rania menerima map itu.

“Malam ini?”

“Iya.”

Theo menatap mereka bergantian.

“Kalian harus datang sebagai pasangan.”

Karena ia sudah lebih dulu menggambarkan mereka sebagai contoh stabilitas kepemimpinan perusahaan.

Jantung Rania drop.

Belum selesai.

Theo menambahkan:

“Investor utama sangat menyukai stabilitas personal dalam kepemimpinan.”

Rania sudah tahu ke mana arah kalimat ini.

Dan ia membencinya.

“Artinya?” tanyanya hati-hati.

Theo menatapnya datar.

“Artinya, untuk malam ini kalian harus terlihat seperti pasangan yang sangat jatuh cinta.”

Lalu, tanpa menunggu respons, ia berjalan pergi.

Meninggalkan keheningan yang menyesakkan.

Rania menoleh ke Gavin.

Ekspresinya sama kagetnya.

“Dia serius?”

“Dengan Theo, pertanyaan itu hampir selalu punya jawaban yang mengerikan.”

___

Sore harinya, menjelang pulang kerja, masalah baru muncul.

Dan kali ini berbentuk manusia.

Seorang perempuan tinggi berambut panjang melangkah mendekati meja Gavin.

Cantik.

Elegan.

Percaya diri.

Rania mengenalnya.

Clarissa Wijaya.

Direktur muda dari cabang Surabaya.

Salah satu perempuan yang dulu cukup sering digosipkan dekat dengan Gavin.

“Gavin.”

Suaranya halus.

Profesional.

Namun terlalu akrab.

“Selamat atas pernikahannya.”

“Terima kasih,” jawab Gavin sopan.

Clarissa tersenyum.

Tatapannya lalu bergeser pada Rania.

“Jujur saja, saya cukup kaget.”

Rania membalas senyum tipis.

“Kenapa?”

Clarissa mengangkat bahu.

“Saya cuma tidak menyangka Gavin akhirnya menikah secepat ini.”

Ia menatap mata Rania.

“Biasanya dia paling anti keterikatan.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Tapi ada sesuatu di baliknya.

Sesuatu yang membuat perut Rania mengencang.

Dan ia tidak suka perasaan itu.

Sama sekali tidak suka.

Sebelum sempat membalas, Gavin berdiri.

Lalu melangkah mendekat ke sisi Rania.

Terlalu dekat.

Sengaja.

Tangannya bertengger ringan di punggung bawah Rania.

Protektif.

Seolah tanpa kata, Gavin sedang menyampaikan sesuatu yang bahkan Rania sendiri belum siap mengartikannya.

Jantung Rania nyaris berhenti.

Dan anehnya— bagian paling mengganggu bukan sentuhan itu.

Tapi fakta bahwa Rania tidak langsung menyingkirkannya.

Yang jelas-jelas absurd.

Ia tidak cemburu.

Sama sekali tidak.

Ini murni ketidaknyamanan profesional.

Sangat profesional.

Seprofesional rasa ingin menatap CV Clarissa lalu mencari kelemahannya.

“Orang juga sering salah menilai saya,” kata Gavin santai.

Tatapan Clarissa berubah sepersekian detik.

Cukup untuk menunjukkan ia mengerti pesan itu.

Ia tersenyum tipis.

“Baiklah. Sampai jumpa di dinner nanti.”

Begitu perempuan itu pergi, Rania menoleh cepat.

“Kamu ngapain?”

Gavin mengangkat alis.

“Menyelamatkan citra pernikahan kita.”

“Dengan naruh tangan di situ?”

“Efektif.”

Rania ingin protes.

Benar-benar ingin.

Masalahnya, sentuhan itu masih terasa membekas di kulitnya.

Dan itu sangat mengganggu konsentrasinya.

__

Malamnya, saat mereka berdiri di depan cermin apartemen, bersiap menghadiri dinner direksi, suasana terasa berbeda.

Rania mengenakan gaun hitam sederhana.

Gavin memakai setelan gelap.

Dan untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap lewat pantulan cermin.

Seperti baru benar-benar melihat satu sama lain.

“Aturan baru,” kata Gavin.

“Apa lagi?”

“Kalau investor mulai curiga, kamu harus pegang tangan saya.”

“Kenapa saya?”

“Karena kamu paling buruk dalam berpura-pura.”

“Saya sangat profesional.”

Gavin menatapnya lama.

Lalu terkekeh kecil.

“Justru itu masalahnya.”

Sunyi.

Lalu Gavin mengulurkan tangan.

Formal.

Seperti mengundangnya.

“Siap?”

Rania menatap tangan itu.

Lalu menautkan jemarinya di sana.

Jemari Gavin terasa hangat.

Mantap.

Stabil dengan cara yang anehnya membuat Rania sedikit lebih tenang.

“Tidak,” jawabnya jujur.

Gavin tersenyum kecil.

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Karena saya juga.”

Dan untuk pertama kalinya, saat mereka melangkah keluar apartemen bersama menuju malam yang pasti penuh sandiwara...

Karena satu hal mulai terasa berbahaya:

Berpura-pura jatuh cinta ternyata jauh lebih sulit…

Saat sebagian kecil dari dirinya mulai lupa mana yang akting.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!