Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Kepikiran terus
Malam kembali menyelimuti rumah besar keluarga Argas. Lampu-lampu utama sudah dimatikan. Hanya beberapa lampu dinding yang masih menyala redup, menciptakan suasana tenang dan sedikit dingin.
Angin malam bertiup pelan dari luar jendela. Rumah itu sunyi. Feni sudah tidur. Satrio berada di pos depan. Indah dan Bagaskara juga sudah masuk ke kamar sejak tadi. Namun di salah satu kamar lantai atas, Arvano masih belum bisa tidur.
Arvano berbaring telentang di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamar. Lampu kamar dimatikan, hanya cahaya bulan yang masuk samar melalui celah tirai.
Matanya belum terpejam sedikit pun. Padahal tubuhnya lelah. Pekerjaan kantor hari ini cukup menguras tenaga. Namun anehnya, Semakin Arvano mencoba tidur, semakin wajah Aurel terus muncul di pikirannya.
Arvano menghela napas panjang, kemudian memejamkan matanya sebentar. Namun justru itu membuat semuanya kembali teringat lebih jelas.
Pertama kali. Saat di gudang. Aurel berdiri berjinjit mencoba menaruh barang di atas lemari. Dengan cerobohnya, hampir jatuh. Kalau saja waktu itu Arvano tidak lewat, mungkin Aurel sudah benar-benar jatuh ke lantai.
Arvano masih ingat jelas ekspresi paniknya. Dengan wajah yang memerahnya, dan tatapan gugupnya. “I-iya… maaf.”
Arvano membuka mata lagi cepat-cepat. “Kenapa malah keingat.” Gumamnya pelan.
Namun belum selesai, Ingatan lain kembali muncul.
Hari saat teman-temannya datang ke rumah. Aurel membawa minuman dengan wajah gugup. Kemudian, menabraknya dan lagi-lagi jatuh ke pelukannya.
Bahkan Alga, Devon, dan Fero sampai menatapnya aneh waktu itu. Karena Arvano yang biasanya dingin dan tidak peduli siapa pun, justru refleks menangkap Aurel tanpa berpikir.
Setelah itu kejadian pagi tadi. Saat Aurel mengepel sambil bernyanyi kecil.dengan suara falesnya. Cara Aurel terpeleset dan tubuh kecil itu kembali jatuh tepat ke pelukannya.
Tiga kali Arvano menangkap gadis yang sama. Arvano menutup wajahnya dengan satu tangan. “Gila…”
Namun kenangan itu tidak berhenti, malah semakin banyak.
Saat Aurel merawatnya di rumah sakit. Memaksa Arvano makan, mengomel karena tidak mau minum obat, membersihkan lukanya dengan wajah serius. Tidur di sofa semalaman hanya untuk menjaganya.
Dan malam kemarin, saat mereka duduk berdua di taman. Mengobrol santai di bawah langit malam, tentang ibunya, tentang hidupnya dan tentang Tara.
Semuanya terasa biasa. Sederhana, tapi justru itu yang membuat Arvano tidak bisa melupakan.
Karena selama ini, hidupnya selalu dipenuhi orang-orang yang mendekatinya karena status dan hartanya, namun Aurel berbeda.
Arvano memejamkan mata lagi. Dadanya terasa aneh, tapi juga kacau.
“Jangan bilang…” Arvano langsung membuka mata cepat, lalu menggeleng kuat-kuat. “Enggak mungkin.” Tangannya meremas selimut. “Ayo sadar.” Tertawa kecil hambar. “Dia pembantu.”Ucapan itu keluar pelan.
Namun justru terasa menekan dirinya sendiri. Aurel hanyalah gadis desa. Pembantu di rumahnya. Sementara dirinya, Anak pemilik PT Argas. Dunia mereka terlalu berbeda, terlalu jauh.
Arvano menarik napas panjang. “Mungkin cuma kasihan.” Mencoba mencari alasan. “Mungkin cuma karena dia perhatian waktu aku sakit.”
Namun semakin Arvano menyangkal, semakin jelas jawabannya. Karena tidak mungkin seseorang terus memikirkan orang lain seperti ini kalau hanya sekadar kasihan.
Arvano kembali memejamkan mata dan tanpa sadar, di tengah pikirannya yang kacau akhirnya tertidur. Dengan nama Aurel masih memenuhi kepalanya.
Sementara itu…
Di kamar kecil, Aurel juga belum tidur. Lampu kamarnya masih menyala kecil. Ia duduk di atas kasur tipis sambil memeluk lututnya sendiri.
Tatapannya kosong ke arah jendela. Malam terasa panjang dan sama seperti Arvano, Pikirannya juga dipenuhi seseorang yaitu Arvano.
Aurel menghela napas pelan, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Kenapa sih…” Ia menutup wajah dengan bantal. Namun bayangan itu tetap muncul.
Wajah Arvano saat sakit, tatapannya saat mengucapkan terima kasih, cara pria itu menyelimuti dirinya diam-diam di rumah sakit dan cara Arvano selalu menangkapnya setiap hampir jatuh. Tiga kali.
Dan semuanya masih sangat jelas di kepala Aurel. Wajahnya mulai memanas sendiri. “Ya ampun.” Ia berguling kecil di kasur. “Kenapa aku jadi mikirin, dia terus.”
Namun beberapa detik kemudian, Ekspresinya perlahan berubah, senyumnya memudar dan kenyataan mulai masuk kembali ke pikirannya.
Aurel menatap langit-langit kamar kecil itu lama, lalu tertawa kecil hambar. “Sadar, Aurel.” Suara itu pelan. Hampir seperti bisikan. “Dia itu siapa.” Matanya mulai terasa panas sedikit. “Kamu siapa.” Aurel menggigit bibirnya sendiri.
Arvano adalah anak orang kaya, CEO muda, yang tampan dan punya segalanya.
Sementara dirinya, hanya pembantu pengganti ibunya, tidak punya apa-apa. Bahkan kuliah pun tidak bisa.
Perbedaan mereka terlalu jauh. Dan itu membuat hati Aurel perlahan terasa sesak. “Enggak cocok.” gumamnya pelan.
Aurel memeluk bantal lebih erat. “Mimpi apa sih aku.” Namun semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas satu hal di hatinya.
Aurel mulai menyukai Arvano dan itu membuatnya takut.
Malam itu, Di dua kamar berbeda. Dua orang sedang memikirkan hal yang sama. Memikirkan satu sama lain.
Namun keduanya juga melakukan hal yang sama, menyuruh hati mereka berhenti, karena merasa hubungan itu mustahil.
Arvano berpikir status mereka terlalu berbeda. Aurel berpikir dirinya tidak pantas. Padahal tanpa mereka sadarin, perasaan itu sudah tumbuh terlalu dalam. Dan semakin hari, akan semakin sulit disembunyikan.
Larut malam. Rumah semakin sunyi. Angin bertiup pelan melewati jendela kamar Arvano. Pria itu tertidur dengan wajah lebih tenang dari biasanya.
Sementara di kamar kecil, Aurel akhirnya juga tertidur karena lelah menangis diam-diam.