"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Sidang Calon Menantu Ugal Ugalan
Nick memarkirkan mobil mewahnya tepat di depan teras kediaman Megantara. Mesin mati, namun keheningan di dalam kabin justru terasa lebih mencekik daripada deru knalpot di lintasan balap. Elea sengaja tidak bergerak. Ia melipat tangan di dada, menatap Nick dengan senyum menantang.
"Kenapa diem? Pintunya nggak bisa dibuka dari dalem ya?" goda Elea nakal.
Nick mendengus, meski jantungnya sedang melakukan lap pemanasan dengan sangat kencang. Ia keluar, memutar mobil, lalu membukakan pintu untuk Elea. Ceklek.
“Terima kasih, Pangeranku,” ucap Elea dengan nada centil yang dibuat buat. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil mengerling.
"Turun. Nggak usah banyak gaya," ketus Nick sambil menahan napas
Di Teras, Ardan sudah berdiri menyambut mereka dengan sebuah paper bag. "Nih Ele, pakai baju lo. Yang cantik ya, mau ketemu calon mertua tuh. Beliau sudah nungguin di ruang kerjanya," celetuk Ardan sambil menyeringai lebar.
"Calon mertua? Wah, Kak Ardan gercep banget ya," tawa Elea pecah.
Nick merebut tas itu dari tangan Ardan. "Berisik lo, Dan"
"Gue rebahan di mobil ya, Nick. Kabari kalau lo butuh ambulans buat jantung lo!" ledek Ardan sebelum kabur.
Nick menunjuk sebuah kamar di lantai bawah. "Ganti di situ. Jangan lama-lama."
Sepuluh menit kemudian, Nick turun dengan kaos hitam longgar. Langkahnya terhenti di tengah tangga saat siluet Elea muncul dari kamar tamu memakai atasan blouse dan celana jeans cutbray highwaist. Dunia seolah mendadak berubah menjadi slow motion. Elea terlihat sangat cantik, namun gengsi Nick segera mengambil alih.
"Apaan sih lo? Jelek banget. Bukan tipe gue banget baju kayak gitu," ejek Nick ketus sambil membuang muka.
Elea justru mendekat dan menyenggol bahu Nick. "Halah, matanya tadi bilang lain tuh. Ngomong ngomong, Kak, kenapa sih tiba tiba gue dikenalin ke ortu lo? Padahal kita baru aja kenal kemarin kan?"
Nick menghela napas, memutuskan untuk jujur. "Bokap gue denger gosip kalau gue gay. Dia ngancem bakal bakar semua koleksi motor gue kalau gue nggak bawa pacar dalam seminggu. Jadi, gausah geer, lo cuma alat buat nyelamatin garasi gue. Paham?"
Elea manggut manggut dengan wajah licik. "Oh... jadi gue berharga banget ya buat motor lo? Oke, deal."
Baru saja Nick ingin membalas, pintu ruang kerja terbuka. Azeus Megantara keluar dengan gaya maskulinnya. Ia berhenti tepat di depan mereka, menatap Elea dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Halo Om, kenalin... Elea," ucap Elea ceria. Tanpa rasa takut, ia menarik tangan Azeus dan mencium punggung tangannya dengan sopan.
Azeus sedikit terkejut, namun matanya berkilat puas. "Elea ya? Berani juga lo nyium tangan gue. Biasanya cewek-cewek depan gue langsung gemeteran."
"Ngapain gemeteran, Om? Om kan manusia, bukan hantu sirkuit," sahut Elea santai yang langsung membuat Azeus tertawa.
"Hahaha! Bener! Ayo duduk di sana," Azeus menunjuk sofa ruang tengah.
Interogasi pun dimulai. Azeus duduk dengan gaya bos besar, bertumpang kaki sambil menatap Elea intens.
"Jadi, lo beneran gebetan anak gue yang kaku kayak manekin ini?" tanya Azeus langsung, tanpa basa-basi.
"Ya... anggap aja begitu, Om. Habis kasihan motornya Nick kalau jadi abu, mending saya yang selamatin," jawab Elea nyengir.
Azeus menaikkan alisnya. "Oh, jadi lo tau soal ancaman motor itu? Terus, lo nggak ngerasa dimanfaatin sama dia?"
"Manfaatin baliklah, Om. Kan saya bisa dapet tumpangan mobil mewah tiap hari," balas Elea ceplas ceplos.
Azeus kembali terbahak. "Gila! Gue suka gaya lo. Nick, lo dapet di mana cewek model begini? Biasanya lo bawa pulang piala, sekarang bawa spek macan begini."
"Di kafe, Pa. Dia yang nyiram kopi ke muka gue," jawab Nick ketus dari pojok sofa
Azeus melotot ke arah Elea, lalu tertawa makin keras. "Lo nyiram muka? Hahaha! Berani juga lo! Gue aja yang bapaknya kadang males liat mukanya yang lempeng gitu. Rasanya gimana pas nyiram? Puas?"
"Puas banget, Om! Habis dia masuk kafe gayanya selangit, kaku banget lagi. Eh, pas kena kopi malah merem doang kayak patung," Elea menimpali dengan semangat.
"Bener! Dia emang dari kecil udah kaku. Dulu gue kasih mainan mobil mobilan, malah dibongkar mesinnya, nggak diajak main," cerita Azeus. "Eh Lea, lo hobi apa?"
"Saya suka motor sport, Om. Suka balapan juga, ya... balapan liar dikit dikit lah kalau malem," aku Elea.
Mata Azeus berbinar. "Wah! Sefrekuensi kita! Nick mah balapannya resmi terus, bosen gue liatnya. Kapan kapan kita balapan bareng, gue kasih liat cara bawa motor yang bener."
"Boleh banget, Om! Tapi kalau saya menang, motor Nick satu buat saya ya?" goda Elea.
"Deal! Gue yang tanda tangan suratnya!" Azeus menjabat tangan Elea dengan antusias.
Mereka berdua asyik mengobrol, saling melempar candaan sompral seolah-olah Nick tidak ada di sana. Nick hanya bisa duduk di pojok sofa, menatap mereka bergantian dengan wajah ditekuk.
"Pa, ini interogasi atau reuni geng motor? Kok gue dikacangin?" ketus Nick akhirnya.
Azeus melambaikan tangan tanpa menoleh ke anaknya. "Diem lo, Nick. Lo nggak asik diajak ngobrol. Pantesan orang mikir lo gay, lah lo diajak ngomong aja jawabnya cuma hm, iya, nggak. Mending gue ngobrol sama Lea."
"Bener tuh, Om. Nick di mobil tadi juga kaku banget, kayak lagi bawa tumpukan telur pecah," tambah Elea memprovokasi.
"Hahaha! Emang! Dia itu glitch berjalan kalau depan cewek. Lo sabar sabar aja ya. Kalau dia macem macem atau kaku lagi, lapor ke gue. Biar gue siram bensin sekalian orangnya," Azeus mengedipkan mata ke Elea.
Nick tidak tahan lagi melihat keakraban gila antara ayah dan gebetan nya itu. Ia merasa harga dirinya diinjak injak di rumah sendiri. Nick berdiri tiba-tiba.
"Kalo gitu kalian aja yang ngobrol sampe besok. Gue mau keluar," ketus Nick sambil berjalan cepat menuju teras.
"NICKTAN!! JANGAN CEMBURU LO! BARU GITU AJA UDAH NGAMBEK!" teriak Azeus dari dalam rumah, suaranya menggelegar diikuti tawa puas bersama Elea.
Nick berdiri di teras, menendang angin dengan kesal. "Siapa yang cemburu, sialan!" gumamnya pelan. Namun, dalam hatinya ia bingung. Kenapa ia harus merasa panas saat Elea justru berhasil mengambil hati ayahnya dengan begitu mudah