Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Segelas Teh Hangat
Malam ini diruangan kerja milik keluarga Almeera, sang Ayah Rendra tengah duduk santai dengan dokumen dihadapannya yang menanti untuk di cek satu persatu dengan sabar.
Secangkir teh hangat yang kini uapnya mulai berkurang seolah menjadi pertanda jika kehangatannya mulai dingin, seketika ponsel milik Rendra bergetar memberikan notifikasi adanya panggilan masuk.
Dddrrrtttt... Dddrrrtttt...
Arkana Mahendra
Nama yang muncul dilayar membuat senyuman Rendra tercipta, sahabat sekaligus rekan kerjanya yang menghubungi setelah beberapa waktu terakhir mereka baru saja berkomunikasi.
" Selamat Malam, Pak Arkana..." tanpa menunggu lama Rendra langsung mengangkat ponselnya yang terhubung dengan sang sahabat.
" Ren, gak usah ngawur. Gue belum setua itu ya" Jawab Arkana diseberang sana bahkan rasa kesalnya seolah menular.
" Hahahhaha... Gak usah ngambek Arkana malu sama umur" ejek Rendra.
Malam ini suasana terasa lebih hangat dari biasanya, dimana dua orang sahabat yang masih menjaga hubungan baik kini masih seperti seorang anak kecil yang sedang mengejek satu sama lain.
" Gimana kabar, Lo Ren?" tanya Arkana membuka obrolan lebih santai.
" Baik, Lo sendiri gimana? Udah minum obat belum? Tumben jam segini bisa telpon gue" Rendra kembali menjahili sang sahabat.
" Mulut Lo ya Rendra, gak ada bagusnya kalau ngobrol heran gue" Arkana yang sumbu pendek tentu saja mudah terpancing.
Obrolan ringan kini mengalir begitu saja seolah menemukan arah pembicaraan tanpa rules yang perlu direncanakan, tanpa ada jarak dan kecanggungan satu sama lain.
" Rendra, gue mau ngomongin soal perjodohan Nayara dan Adrian" ucap Arkana seketika membuat suasana hening.
" Maksudnya gimana? Ada apa? Bukannya waktu perkenalan mereka belum sampai satu bulan?" Jawab Rendra yang seketika berbeda nada bicaranya.
" Adrian tadi sore ngomong sama gue, dia mau ngelamar Nayara secepatnya. Gue rasa dia udah ngebet banget deh, gimana?" tanya Arkana yang suaranya terdengar tenang namun jelas disana ada rasa khawatirnya.
" Apa secepat itu perkembangan hubungan mereka?" tanya Rendra.
" Lebih baik dari yang kita bayangkan, Ren. Bahkan si Adrian bilang udah ketemu yang tepat dalam waktu tepat, gokil gak anak gue? " jawab Arkana dengan nada bercanda.
" Tapi, Ar... Nayara belum ada ngomong apa-sana gue sampai sekarang " ada rasa khawatir dalam hati Rendra saat ini.
" Adrian bilang bahwa dia dan Nayara sudah sama-sama sepakat untuk berjalan bersama dan menerima perjodohan ini" tambah Arkana dengan nada riang.
Menerima? Bukan dipaksa? Apa ini hanya harapan atau aku terlalu khawatir dengan anak bungsuku? Sebenarnya ini yang paling aku khawatirkan selama ini.
" Syukurlah kalau begitu, tapi Ar... Gue harus memastikan dulu sama Nayara" jawab Rendra yang terdengar helaan nafas perlahan.
" Silahkan... Tapi Adrian susah mengambil keputusan untuk melamar Nayara dalam waktu dekat".
Hening... Suasana tidak berat apalagi canggung dibalut emosi, melainkan suasana sunyi yang membawa kabar besar.
Diseberang sana Rendra menatap kearah depan dengan isi kepala yang telah melanglang buana pada Putri bungsunya.
Apakah ini benar-benar nyata? Bukan mimpi? Ternyata anak itu.... Hahhhh akhirnya sampai juga dititik ini.
" Apakah Adrian sudah memikirkan secara matang? Karena ini benar-benar lebih cepat dari rencana awal bukan?" tanya Rendra.
Sebagai seorang Ayah yang menjaga sang anak sejak diketahui kehadirannya didalam .perut sang istri, dibahagiakan sampai saat ini dan menjadi cinta pertama sang anak Rendra tentu saja harus memastikan kebahagiaan sang anak.
" Adrian sepertinya sudah tidak sabar, dia benar-benar sudah jatuh cinta terlalu dalam kepada Nayara, Ren" Arkana terkekeh diseberang sana.
" Tapi Ar, ada yang berubah semenjak dia kenal Adrian. Lo tahu? Dia yang dingin mulai lembi, bahkan jadi lebih ceria dan sering tersenyum seolah-olah lagi jatuh cinta" Rendra memang sempat memperhatikan perubahan dari sang anak bungsunya akhir-akhir ini.
" Yaaa emang lagi jatuh cinta Rendra.... Lo aja bapaknya kurang peka sama perasaan anak" ejek Arkana seolah kini tengah membalikkan keadaan.
" Mulut Lo ya Arkana Mahendra, Lo gak punya anak perempuan jadi gak usah sok ngajarin gue" Rendra tidak ingin kalah.
" Bentar lagi gue punya anak cewek ya Rendra, gak usah songong" seolah menantang kini Arkana menjawab dengan tengil.
" Gak akan ada beresnya ngomong sama Lo, udah buruan jadi kapan kita ketemu langsung atau Lo langsung datang lamar aja gak usah meeting segala?" tanya Rendra yang mulai kesal.
Rendra sebenarnya ingin segera menanyakan perihal kebenaran jika Nayara memang benar menerima perjodohan ini, tapi Arkana justru berbelit-belit sejak tadi membuat obrolan mereka menjadi panjang.
" Gue datang malam Minggu langsung lamar aja, biar gak ribet oke gak?" tanya Arkana yang langsung disetujui oleh Rendra.
" Ar, terimakasih karena Adrian sudah membuat Nayara kembali tersenyum... Gue berharap anak Lo bisa menjaga Nayara dengan baik dan terimakasih karena anak Lo telah memilih Nayara dengan hatinya" ucap Rendra tulus.
Hening sejenak, seketika suasana terasa lebih serius dan dalam.
" Seperti perjodohan ini berjalan bukan karena kita, Ren. tapi karena hati mereka sendiri yang sudah terpaut satu sama lain dengan cara yang berbeda" jawab Arkana.
Dan untuk pertama kalinya kata perjodohan tidak lagi terdengar kaku apalagi dingin melainkan sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya tanpa paksaan.