Kisah anak sulung Casey (Transmigrasi Belvia) yang jiwa nya mengalami perpindahan ke tubuh orang lain… bagaimana Ganethaa akan menghadapi kehidupan barunya setelah dia tahu kalau sekarang dia berada di tubuh orang lain…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Nebula menatap Elara tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Tiba-tiba, sudut bibirnya terangkat.
“Hahaha…”
Tawanya pelan, tetapi cukup membuat suasana gudang terasa semakin mencekam.
“Elara…”
“Sebelum lo datang…”
“…hidup Nebula dulu jauh lebih tenang.”
Nada suaranya datar.
Namun setiap katanya terdengar begitu tajam.
Rania mengernyit.
“Maksud lo apa?”
Nebula mengalihkan pandangannya ke arah Rania sambil menyeringai.
“Coba aja lo tanya sama Elara.”
“Yang sebenarnya numpang hidup di rumah keluarga itu… gue atau dia?”
Ucapan itu membuat Rania, Weni, dan Ghina spontan menoleh ke arah Elara.
Elara membeku.
Wajahnya mulai panik.
“El?”
Rania menatapnya penuh tanda tanya.
“Dia ngomong apa?”
“Diem!”
Elara tiba-tiba berteriak.
“Pokoknya diem!”
Semua terkejut melihat reaksinya.
Elara menggenggam erat sebuah batu bata yang tergeletak di sudut gudang.
Tatapannya berubah penuh emosi.
“Lo yang anak pungut, Nebula!”
Karena dikuasai amarah, Elara mengayunkan batu bata itu ke arah Nebula.
Brak!
Benturan keras terdengar memenuhi gudang.
Beberapa detik…
Tak seorang pun berani bergerak.
“W-woi…”
Weni langsung mundur.
“Weni…” bisik Ghina dengan wajah pucat.
Mereka melihat Nebula tetap berdiri.
Perlahan, Nebula mengangkat tangannya dan menyentuh bagian kepalanya.
Saat menarik kembali tangannya…
Terlihat noda merah membasahi ujung jarinya.
Nebula memandang telapak tangannya beberapa saat.
Lalu…
Ia tersenyum.
Namun senyum itu terasa asing.
“Hihihi …”
Suara yang keluar terdengar berbeda. Itu suara Red.
Lebih berat.
Lebih pelan.
“Darah…”
“Gue suka.”
Elara sontak mundur beberapa langkah sambil menjatuhkan batu bata dari tangannya.
“T-tidak…”
Rania menatap Elara dengan mata membelalak.
“Lo udah gila, El!”
“Apa yang barusan lo lakuin?!”
Elara menggeleng panik.
“Dia pantas nerima itu!”
Nebula menutup matanya perlahan.
Gudang kembali sunyi.
Angin yang masuk dari celah jendela membuat suasana terasa semakin dingin.
Beberapa detik kemudian…
Nebula membuka matanya kembali. Bola mata Nebula sudah berganti menjadi warna amber.
Rania, Ghina, Weni, bahkan Elara membeku di tempat.
Sorot mata Nebula kini terasa berbeda.
Tatapannya jauh lebih dingin.
Senyumnya perlahan melebar.
“Hihihi…”
“Udah lama…”
“…gue nggak keluar.”
Ia memiringkan kepalanya sedikit sambil menatap mereka satu per satu.
“Halo…”
“Perkenalkan.”
“Panggil gue…”
“…Winter.”
Keempat gadis itu saling berpandangan.
“Winter…?”
Entah kenapa…
Mereka merasa seolah sosok yang berdiri di hadapan mereka bukan lagi Nebula yang mereka kenal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Winter melangkah perlahan mendekati Elara.
Wajahnya tetap dihiasi senyum tipis yang sulit ditebak artinya.
“Oh ya…”
“Tadi…”
“Lo yang lempar batu ke kepala Nebula, hm?”
Nada suaranya datar.
Justru karena terlalu tenang, bulu kuduk mereka semua meremang.
Elara tanpa sadar melangkah mundur.
Sret…
Sret…
Namun setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat.
“A-apa…”
“Kenapa kaki gue…”
Ia mencoba mundur lagi.
Tetap saja tubuhnya terasa kaku.
“Sial…”
“Kenapa berat begini…?”
Winter terkekeh pelan.
“Hihihihi…”
“Lo nggak akan ke mana-mana, Elara.”
Elara menggeleng panik.
“Nggak…”
“Nggak!”
“Lo nggak akan bisa nyakitin gue, Nebula!”
Teriaknya sambil menunjuk Winter dengan tangan gemetar.
Winter memiringkan kepalanya.
Senyumnya semakin lebar.
“Nebula?”
“Hihihi…”
“Bukan.”
“Gue…”
“…Winter.”
Keheningan memenuhi gudang.
Di sudut ruangan, Weni menelan ludah.
Ia mendekat ke arah Rania dan Ghina lalu berbisik pelan.
“Ran…”
“Kita kabur aja.”
“Biarkan Elara sendiri.”
Rania mengangguk gugup.
“Iya… gue juga ngerasa nggak beres.”
Mereka bertiga perlahan bergerak menuju pintu gudang.
Namun…
Belum sempat menyentuh gagang pintu—
Winter menoleh ke arah mereka.
Gerakannya lambat.
Matanya menatap lurus tanpa berkedip.
“Kalian…”
“Mau kabur?”
Suara itu membuat ketiganya membeku.
Brak!
Terdengar suara keras dari arah pintu.
Mereka spontan menoleh.
Pintu gudang tertutup rapat akibat embusan angin yang menghantamnya.
“W-woi!”
Weni buru-buru mencoba memutar gagang pintu.
“Kok… nggak kebuka?!”
Rania ikut menarik gagangnya berkali-kali.
“Macet?!”
“Ghina, bantu!”
Ghina ikut mendorong pintu dengan bahunya.
Tetap tidak bergerak.
Suasana di dalam gudang berubah sunyi.
Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah napas mereka yang mulai tidak beraturan.
Winter masih berdiri di tempat semula.
Tatapannya bergantian mengarah kepada Elara, Rania, Weni, dan Ghina.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Tenang.”
“Gue nggak suka orang kabur…”
“…sebelum obrolannya selesai.”
Entah mengapa…
Kalimat sederhana itu justru terdengar jauh lebih menakutkan daripada bentakan apa pun.
Keempat gadis itu hanya bisa saling berpandangan.
Untuk pertama kalinya…
Mereka merasakan ketakutan yang benar-benar nyata di hadapan sosok yang kini memanggil dirinya Winter.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Winter melangkah hingga berdiri tepat di depan Elara.
Senyumnya tidak berubah sedikit pun.
“Kita lanjut ngobrol, Elara.”
Elara berusaha mundur, tetapi punggungnya sudah membentur dinding gudang.
“N-nebula…”
Winter menggeleng pelan.
“Salah.”
“Nama gue Winter.”
Sebelum Elara sempat bereaksi, Winter mencengkeram leher Elara dengan kuat hingga Elara kesulitan bergerak.
Tatapan amber Winter menatap lurus ke mata Elara.
“Takut?”
Elara menelan ludah.
Tangannya gemetar saat mencoba melepaskan cengkeraman itu.
“L-lepas… mohon…”
Di sudut ruangan, Weni dan Ghina saling berpegangan erat.
“Weni…”
“Gue takut…”
Rania memberanikan diri melangkah setapak ke depan.
“Woi, Nebula! Lepasin Elara!”
“Kalau lo terusin, guru pasti tahu!”
Winter perlahan menoleh.
Kepalanya dimiringkan sedikit.
Tatapan amber itu kini beralih kepada Rania.
“Hm…”
“Berani juga.”
Senyumnya melebar.
“Tenang.”
“Gue belum selesai sama Elara.”
Rania sontak membeku.
Entah kenapa, tubuhnya tidak sanggup bergerak.
Winter kembali menatap Elara.
“Lo tahu kesalahan terbesar lo apa?”
“Bukan karena lo bohong.”
“Bukan karena lo memfitnah Nebula.”
“Tapi…”
Elara mulai menangis.
“G-gue…”
Winter memotong ucapannya.
“Lo membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.”
Suasana gudang mendadak terasa begitu sunyi.
“Lihat gue baik-baik.”
“Kalau hari ini gue masih bisa menahan diri…”
“…anggap itu keberuntungan terbesar dalam hidup lo.”
Winter lalu melemparkan tubuh Elara ke tembok dengan keras .
Brak!!!!!!
Elara langsung terjatuh terduduk di lantai sambil terbatuk-batuk dan bernapas memburu lalu pingsan.
Weni, Ghina dan Rania langsung melotot dan berteriak.
Ia memandang Winter dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya…
Ia benar-benar merasa takut kepada sosok yang berdiri di hadapannya.
Dan Winter hanya tersenyum tipis.
“Ingat rasa takut itu.”
“Karena lain kali…”
“…gue belum tentu sebaik hari ini.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tap…
Tap…
Tap…
Tap…
Langkah Winter menggema di dalam gudang yang sunyi.
Senyumnya belum juga menghilang.
Tatapan mata ambernya beralih kepada Rania, Ghina, dan Weni.
Ketiganya refleks mundur.
Namun entah kenapa, kaki mereka terasa begitu berat.
“A-apa ini…”
Weni berusaha melangkah lagi.
Tetap saja tubuhnya seperti membeku.
“Kenapa… susah buat jalan?” bisiknya dengan suara bergetar.
Winter terkekeh pelan.
“Hihihi…”
“Baru sekarang ngerasain takut?”
Rania menggertakkan gigi, berusaha terlihat berani.
“Jangan… jangan deket!”
Winter berhenti tepat beberapa langkah di depan mereka.
Ia menatap ketiganya bergantian.
Tanpa basa basi Winter langsung mematahkan beberapa jari mereka .
Krak!
Krak!!
Krak!!!
Arrrghhh!!
Arrghhh!!!
Senyumnya perlahan menghilang.
“Tapi kalau kalian masih terus cari gara-gara…”
“…dan masih menjadikan Nebula sasaran kalian…”
“…kalian akan bertemu langsung dengan pemilik neraka ,Red.”
Suasana gudang kembali sunyi.
Tak seorang pun berani menjawab.
Bahkan napas mereka terdengar tidak beraturan.
Winter memalingkan wajahnya ke arah pintu gudang.
Klik.
Pintu yang sejak tadi tertutup perlahan terbuka.
Winter melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak.
“Oh ya…”
Ia menoleh setengah badan.
“Sampaikan satu pesan.”
“Jangan pernah lagi mencari masalah dengan Nebula.”
“Kalau tidak…”
“…kalian akan di kirim langsung ke neraka sama Red.. dia tidak akan seramah gue.”
Setelah mengucapkan itu, Winter berjalan meninggalkan gudang.
Tap…
Tap…
Tap…
Suara langkahnya semakin menjauh.
Meninggalkan Rania, Ghina, Weni, dan Elara yang masih terdiam dengan wajah pucat, belum mampu menghilangkan rasa takut yang membekas di benak mereka.
author jgn lama2 lah uploadnya soalnya nggak sabar sama kelanjutannya niii
ditunggu ya kelanjutannya author
makini seru nii
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
enak banget yaa pindah jiwa orang yaa, dasar pengkhianat
ditunggu ya kelanjutannya author
wah nebula keren bantai mereka yang suka cari masalah
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author 🥰