NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:162.6k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 12

"Bagaimana keadaan kamu, kuat tidak kalau kita rawat di rumah seperti ini? Kemarin pihak rumah sakit teh bilang kalau kamu teh nggak ada luka dalam jadi selina memutuskan untuk obat jalan aja." Raut sungkan menghiasi lelaki wajah Harun, lalu perlahan ia pun mendudukkan diri di tepian ranjang.

"Saya nggak apa-apa." Singkat Aabid menjawab.

Tak jauh berbeda dengan Harun, Aabid pun tak kalah merasa sungkan, terlebih ketika ia melihat pertengkaran antara ibu dan anak di hadapan yang terjadi karena dirinya.

Mamanya yang bahkan tak pernah bernada tinggi ketika bicara dengannya membuat Aabid sedikit shock oleh pemandangan barusan.

"Tadi ...." Aabid menggantung ucapan, bingung harus memulai percakapan dari mana.

"Tadi istri saya Asri dan anak saya Dito. Dito memang anaknya agak keras dan tempramen. Jadi saya teh mohon maaf sekali kalau kelakuannya menyinggung kamu."

Wajah dan cara bicara Harun yang begitu polos sekaligus lugu membuat Aabid semakin merasa bersalah.

"Enggak. Seharusnya saya yang minta maaf. Karena sudah salah paham."

"Maaf." Dengan perasaan yang penuh rasa bersalah Aabid berujar sembari menundukkan kepala, hanya kata itu yang bisa diucapkannya sekarang.

"Tidak apa-apa. Wajar, mungkin keadaan kami yang begini membuat kamu berpikir seperti itu."

"Oh, tentu tidak. Jangan salah paham. Saya hanya mengira kalau yang menolong saya adalah polisi. Jadi tidak seharusnya saya di sini. Itu saja."

Meskipun sebelumnya ia sempat berpikir demikian, namun ia tahu dirinya salah maka ia harus berusaha menjelaskan agar tidak menyakiti hati orang baik seperti mereka.

"Iya, kan, kamu denger suara sirine, ya makanya mengira gitu."

"Kurang lebih seperti itu."

"Anak kecil itu ...." Lagi, Aabid bertanya untuk mencairkan suasana setelah beberapa saat mereka saling diam, tapi tak juga ia lanjutkan karena entah mengapa rasa sungkannya pada Harun sangat besar meski ia orang tak punya.

"Anak bungsu saya. Kebobolan," ujar Harun kemudian tersenyum malu-malu, usianya sudah tak lagi muda namun anaknya masih ada yang berusia tujuh tahu.

Banyak tetangga yang menyalahkan dan menggunjing perkara orang tak punya tapi malah memiliki banyak anak, namun Harun tak mempedulikan baginya anak adalah pemberian dari Tuhan yang tak bisa diminta atau ditolak.

"Banyak di luar sana yang tidak dikaruniai anak, berusaha menghabiskan banyak dana demi mendapat anak. Rezeki paling tinggi adalah sehat, rezeki paling rendah adalah harta. Insyaallah saya punya yang paling tinggi makanya saya bisa kerja dan menghidupi banyak anak," lanjut Pak Harun kemudian tertawa, seolah sedang menghibur diri.

Tapi Aabid menyukainya.

"Betul, itu sangat betul." Aabid menyahut, lalu tersenyum kecut.

Apa yang Harun katakan mengingatkan betapa menyedihkannya dirinya meski harta dan kedudukan ia punya.

Tenyata Harun telah menjawabnya bahwa harta adalah hal terendah karena nyatanya kebahagiaan tak bisa ia miliki meski bergelimang harta.

"Ngomong-ngomong nama kamu teh siapa? Alamatnya mana? Biar kita hubungi keluarganya."

"Saya Aabid. Dari Jakarta."

"Jakarta?!" Dahi Harun berkerut.

"Iya. Ngomong-ngomong masalah begal itu ...." Lagi, Aabid menggantung ucapannya, terlalu frontal jika harus bertanya bak penyidik mencari keterangan.

"Maksudnya, apa tempat itu rawan begal?"

"Begal itu memang kadang beraksi. Tapi biasanya setelah ada aksi berhenti dan jarak beberapa waktu akan beraksi lagi."

"Maksudnya, memang biasa ada?"

"Iya."

"Apa tidak ada polisi yang menangkap mereka? Apa tidak ada yang melapor?" tanya Aabid menyelidik, semakin tertarik dengan topik.

"Ada, cuma belum ada tindakan."

"Bukannya sudah lama aksi mereka?"

"Mereka suka pindah tempat. Cuma jarak antar waktu pembegalan lama juga. Mungkin emang menghindari polisi. Cuma sekali begal korbannya selalu orang ka ...."

Harun menghentikan ucapan, rasanya tak pantas membicarakan kasta di depan orang yang tentu banyak uang karena menjadi korban begal.

Aabid tersenyum tahu akan maksud dari Pak Harun.

"Bapak yakin tidak ada oknum polisi yang membantu mereka?" lanjut Aabid.

"Kalau itu sih katanya memang ada, cuma orang kecil seperti kita mah mana tahu." Dahi Aabid berkerut, rasa curiga menyeruak masuk.

"Oh, ya, apa ada keluarga nak Aabid yang bisa kami hubungi?" tanya Harun pada akhirnya, seperti apa yang diperintahkan sang istri ia pun langsung melaksanakannya.

"Maaf, nggak ada," jawab Aabid.

Sebisa mungkin ia harus tetap tinggal di tempat ini sampai komplotan bisa diringkus. Luka dan apa yang ia rasakan begitu menyiksa, sebagai orang yang memiliki wewenang dan tanggung jawab sudah barang tentu ia tak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi pada orang lain, masyarakat yang sudah seharusnya ia lindungi.

"Lah, kok?" Harun tampak kebingungan.

"Lagi pula, kalau saya keluar dari sini dengan kondisi seperti ini nggak mungkin bisa, terlalu mencolok. Tadi saya sempat dengar kalau Dito bisa saja dalam bahaya karena menolong saya. Kalau saya keluar tentu bukan pilihan tepat. Setidaknya biarkan saya sembuh dulu."

Aabid berusaha menjelaskan agar Harun tidak menaruh curiga.

Dalam kepalanya telah tersusun rencana dan di sinilah tempat paling tepat ia berada. Tanpa harus susah-susah menyamar sebagai tukang bakso atau cilok.

"Bukan gitu atuh, kalau kayak gitu kesannya teh saya keberatan nak Aabid ada di sini. Enggak, saya teh nggak keberatan asal nak Aabid nggak keberatan tinggal di gubuk seperti ini. Seadanya."

"Sama saja, Pak. Jangan begitu. Saya juga orang seperti Bapak."

"Lah, tapi biasanya begal itu yang jadi incaran orang kaya, loh."

"Oh, mungkin karena lihat dari motor dan tas saya kali, Pak. Padahal itu milik temen saya. Saya gimana bisa pulang kalau belum bisa menggantinya." Kata-kata dengan nada menyedihkan keluar dari mulut Aabid begitu saja.

Dalam hatinya ia terus menyerukan kata maaf pada pria di hadapannya karena telah tega membohonginya sedemikian rupa.

Dalam hati pula ia berjanji jika semua selesai maka ia akan mengganti seluruh pengorbanan Harun. Namun, yang pasti tidak sekarang karena ia harus tetap waspada pada siapa saja yang ada di sekitar.

Pak Harun pun tersenyum pada akhirnya.

"Kenapa, Pak?"

"Syukur lah kalau begitu, jadi saya teh nggak sungkan sama kamu. Makan tempe sama tahu nggak perlu daging, kan?" canda Harun.

Aabid pun tersenyum.

"Iya."

Salah satu tujuan Aabid mengatakan hal itu adalah memang demikian, ia tak mau Harun terganggu dengan perbedaan status di antara mereka.

Dia akan berusaha untuk sebisa mungkin membiasakan diri dengan keadaan sementara ini.

"Ya sudah, nak Aabid, baju kamu basah dan kotor, banyak darah juga, semalam belum diganti sama anak-anak kayaknya. Sini bapak bantu ganti."

"Tapi ...."

"Sudah jangan sungkan, kita kan sama katanya."

Tanpa basa-basi Harun membantu Aabid melepas kemeja abu-abu yang berubah warna menjadi merah oleh darah dan coklat oleh tanah.

"Bapak ambil air hangat sama kemejanya dulu di kamar Bapak, kalau pakai kemeja Dito sepertinya dia nggak punya banyak kemeja, dia adanya kaos, sempit. Susah makenya teh."

"Apa nggak apa-apa."

"Ya enggak atuh."

"Maaf, sudah merepotkan."

"Biasa aja. Ini juga demi Dito, kan."

Aabid mengangguk seraya tersenyum samar.

Sembari menatap nanar Harun yang keluar kamar dan mulai menghilang, ia menghela napas. Ia tak menyangka bahwa dirinya bisa dengan mudah menjatuhkan tuduhan pada anak yang sudah menolong dan berkorban untuknya.

Ya, nyatanya trauma yang diciptakan oleh radina membuat hatinya rusak dan hanya bisa berpikir keburukan saja.

"Pak, Dito keluar lagi, tuh. Udah dikasih tahu nggak bisa. Pasti mau menemui pak ...." Seorang wanita muda datang memasuki kamar sembari terus mengoceh bersamaan dengan suara motor yang terdengar keluar, namun seketika ocehannya terhenti dan langkahnya pun juga kala melihat lelaki bertelanjang dada di hadapannya.

Aabid pun tak kalah tercengang. Ia kaget bukan kepalang.

"Apa yang kau lakukan, masuk nggak permisi. Di mana kesopananmu, Nona!" Dengan nada marah Aabid berujar pada wanita yang sigap membalikkan badan dengan mata terpejam.

"Ma-maaf, Om."

"Keluar!"

"selina, Aabid?!" Harun dan sang istri datang tergopoh.

Suara Aabid yang menggelegar nyatanya membuat seluruh penghuni rumah berhamburan menghampirinya.

"Bapak, selin kira bapak ada di dalam." selina menatap bapaknya, sorot matanya penuh tanya dan sedikit kebingungan.

"Bapak teh keluar ambil baju untuk Aabid. Aabid ini teh anak sulung saya, neng selina."

Seketika itu juga Aabid menelan ludahnya kuat-kuat.

"Bukannya, tadi rambutnya?" Aabid bergumam, gadis sebelumnya jelas tak memakai kerudung seperti yang ia lihat sekarang.

"selina, dia sudah sadar." Suara Harun kembali menyadarkan Aabid yang lidahnya masih terasa kelu.

Bagaimana tidak, setelah Dito sekarang selina yang ia bentak.

Serusak itukah hatinya? Hingga semua orang terlihat buruk di matanya termasuk selina, gadis yang banyak berperan semalaman.

1
Fazira Fazira
di kirain g'di lanjutin lagi Thor,💪semangat yaaa,..sehat selalu
Yanti Octavia
Masya Allah luar biasanya karyamu Thor, tetap semangat berkarya semoga sukses selalu,,di tunggu up gandanya selalu ya Thor😘😍🥰
bude gemoy
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪💪
Danny Muliawati
sebel ya klo ga jelas gini
Reni Anggraeni
kangen Ama serina
Ai Oncom
kapan up lg kak..?
Reni Anggraeni
kk kmana TDK up torr
Sami asih
og gk lanjut lanjut sich...😭
Andri Yukarthi
kak knp ga lanjut...ceritanya aq suka banget /Cry/
ysl
kapan Up lagi
Neneng Sunengsih
lama ga up bolak balik tp blum ada 🤭
Nurhayati Lubis
di tunggu kelanjutan nya thor
Fera
lanjut thor
mimma
Luar biasa
mimma
Lumayan
Putri Sri Berganti
kenapa gak Update lagi ??
bude gemoy
double up Thor
Tak tunggu ya.....
aliyya
akhirnya up lg thor,,,
pasti selina hamil,,,
mama
kmn aj kak,kirain udah berhenti tak tunggu2 gk nongol2😍
Reni Anggraeni
makasih udah up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!