Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WAKTU YANG DICURI
Jam menunjukkan pukul sembilan.
Waktunya Noya bersiap berangkat terapi.
Dari kamar mandi terdengar suara Mbok Sri memanggil.
“Den Noya... ayo, Le. Habis ini mau terapi, to?”
Noya menurut saja. Mbok Sri membantu memandikannya, mengelap rambutnya dengan handuk kecil, lalu memakaikan baju yang sudah disiapkan.
Di ruang tengah, Purbaya juga sudah bersiap. Ia memakai pakaiannya dengan kemeja dan celana panjang. Sesekali matanya melirik ponsel yang ia letakkan di meja.
Layar itu masih menampilkan pesan terakhir dari Alya.
Jam dua belas.
Purbaya menarik napas panjang, lalu meraih kunci mobil di atas meja.
Tak lama kemudian Noya keluar dari kamar, digandeng Mbok Sri. Rambutnya tersisir rapi masih sedikit basah, dan tas kecil berisi perlengkapan bekalnya tergantung di bahu.
“Niki sampun siap, Pak,” kata Mbok Sri sambil tersenyum. “Den Noya wis ganteng.”
Purbaya menatap anaknya sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Ayo, Noya. Kita berangkat.”
“Pak, njenengan mboten sarapan dulu?"
Purbaya menggeleng ringan.
“Nanti saja, Mbok. Saya makan di luar.”
Mbok Sri mengangguk mengerti.
Purbaya menatap anaknya sejenak, lalu meraih tangan kecil itu.
Purbaya baru menyadari sesuatu ketika Noya berdiri di dekat pintu.
Di tangan kecil anak itu, boneka kelinci putihnya dibawa seperti biasa.
Alis Purbaya sedikit berkerut.
“Noya,” katanya pelan, menunjuk boneka itu. “Kok dibawa?”
Noya memeluk boneka itu lebih erat tanpa menjawab.
Purbaya menoleh pada Mbok Sri.
“Mbok, itu... bonekanya disimpan saja dulu.”
Mbok Sri tampak ragu. “Lho, niki biasane dipun gendong terus, Pak. Den Noya seneng.”
Purbaya menghela napas pendek.
“Iya, tapi Noya kan anak laki-laki. Masa ke mana-mana bawa boneka kelinci begitu.”
Ia menoleh lagi pada anaknya.
“Diganti saja ya. Mbok Sri, tolong ambilkan mainan yang lain... mobil-mobilan atau bus.”
Mbok Sri berjalan mendekat, mencoba mengambil boneka itu dengan hati-hati.
“Noya, sini kelincine disimpen sek, Le. Nanti pulang ketemu lagi.”
Noya sempat menahan sebentar, lalu melepaskannya perlahan.
Boneka kelinci itu berpindah ke tangan Mbok Sri.
Purbaya sudah membuka pintu.
“Ayo, kita berangkat.”
Noya menoleh sebentar ke arah boneka kelincinya yang kini sudah berada di tangan Mbok Sri.
Ia tidak benar-benar mengerti kenapa tidak boleh dibawa.
Ia hanya tahu suara Papanya tadi sedikit berbeda--lebih tegas dari biasanya.
Noya lalu menatap Papanya lagi.
Ketika Purbaya sudah membuka pintu dan memanggilnya berangkat, ia pun melangkah mengikuti.
Bagi Noya, yang penting Papanya masih mengajaknya pergi bersama.
Mbok Sri segera masuk ke dalam rumah mengambil mainan lain. Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah mainan bus kecil di tangannya.
“Niki, Le... bise,” katanya sambil berjalan tergesa ke arah mobil.
Noya yang sudah duduk di kursi penumpang menoleh. Mbok Sri menyerahkan mainan itu melalui jendela yang terbuka.
“Niki sing digawa, ya. Kelincine disimpen ndisik.”
Noya menerima mainan bus itu dengan kedua tangannya. Ia memandangnya sebentar, lalu memegangnya di pangkuan.
Purbaya sudah menyalakan mesin mobil.
“Sudah, Mbok. Kami berangkat dulu.”
“Inggih, Pak. Ati-ati nggih.”
Mobil itu perlahan keluar dari halaman rumah, meninggalkan Mbok Sri yang masih berdiri di dekat gerbang.
Sesampainya di tempat terapi, Purbaya mengantar Noya sampai ke pintu ruang terapi. Terapis yang sudah mengenal mereka menyambut dengan senyum, lalu menggandeng tangan kecil itu masuk ke dalam.
“Noya terapi dulu ya,” ujar Purbaya singkat.
Noya mengangguk, masih memegang mainan bus kecilnya, sebelum akhirnya pintu ruangan itu tertutup.
Purbaya kembali ke kursi ruang tunggu. Ia duduk sambil membuka ponselnya, tetapi pandangannya tidak benar-benar tertuju pada layar. Pesan-pesan yang muncul hanya ia geser begitu saja.
Pikirannya justru melayang ke tempat lain.
Ke kamar hotel itu.
Hasrat untuk kembali ke sana muncul lagi, tiba-tiba dan kuat. Tapi bersamaan dengan itu, ia juga teringat ucapan Alya kemarin--cara perempuan itu menyebut Noya dengan nada merendahkan. Rasa kesal masih tertinggal di dalam dirinya.
Ia menghela napas panjang.
Seharusnya ia tidak datang.
Namun pikirannya segera mencari alasan lain.
Noya masih terapi cukup lama. Waktu itu sebenarnya cukup untuk pergi sebentar. Hotel itu juga masih bisa dijangkau oleh waktu.
Ia hanya ingin menyelesaikan ketegangan kemarin.
Hanya sebentar.
Purbaya bangkit dari kursinya. Sebelum keluar, ia sempat memberi tahu petugas di meja depan bahwa ia akan keluar sebentar dan akan kembali diusahakan sebelum sesi terapi Noya selesai. Kalaupun terlambat, Purbaya berpesan meminta Noya menunggunya sebentar.”
Beberapa menit kemudian, mobilnya sudah melaju meninggalkan halaman tempat terapi.
Di perjalanan, Purbaya akhirnya menekan nomor Alya.
Nada sambung itu bahkan belum lama berbunyi ketika panggilan sudah diangkat.
“Haaii...” suara Alya terdengar lembut di seberang, manja seperti biasa. “Akhirnya telepon juga.”
Purbaya tetap fokus pada jalan di depannya.
“Kamu di mana sekarang?”
Alya terkekeh kecil.
“Di mana lagi... di kamar. Menunggu seseorang yang katanya awalnya mau kesini.” Nada suaranya berubah sedikit menggoda. “Jangan bilang kamu berubah pikiran lagi, Mas.”
Purbaya menarik napas pendek.
“Aku perjalanan kesana tapi tidak lama. Noya lagi terapi.”
“Hmm... jadi kamu kabur sebentar?” Alya tertawa pelan. “Kasihan juga ya, anakmu ditinggal papanya.”
Purbaya tidak menanggapi kalimat itu. Tangannya sedikit mengencangkan pegangan pada setir.
“Aku cuma sebentar,” katanya datar.
“Yaa... okelah aku tunggu,” balas Alya dengan nada yang semakin ringan. “Yang penting kamu datang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah,
“Aku kangen kamu.”
Purbaya masih menatap jalan ketika suara Alya kembali terdengar di ujung telepon.
“Mas...”
“Apa lagi?” jawabnya singkat.
Suara Alya berubah semakin manja, seolah sengaja menarik perhatiannya.
“Siapkan energimu ya,” katanya pelan disertai tawa kecil. “Hari ini kita mau main nakal sedikit sebelum aku pulang ke Jakarta.”
Purbaya tidak langsung menjawab.
Tangannya tetap pada kemudi, wajahnya berubah jadi tegang mendengar nada menggoda itu.
Alya melanjutkan dengan nada setengah berbisik,
“Anggap saja... perpisahan yang manis.”
Beberapa detik mobil itu hanya diisi suara mesin dan napas Purbaya yang terdengar lebih berat.
“Aku cuma sebentar, Al,” katanya akhirnya, berusaha tetap datar.
“Sebentar juga cukup,” balas Alya ringan. “Yang penting berkesan.”
Purbaya memarkir mobilnya dengan cepat. Ia turun hampir tanpa menunggu mesin benar-benar dingin. Langkahnya panjang, jelas terlihat ia sedang mengejar waktu.
Lift terasa berjalan terlalu lambat.
Begitu pintu lift terbuka di lantai tujuan, Purbaya langsung menuju kamar yang sudah ia hafal nomor pintunya.
Belum sempat ia mengetuk, pintu itu sudah terbuka dari dalam.
Alya berdiri di sana.
Perempuan itu sudah bersiap. Lingerie tipis yang dikenakannya jatuh ringan di tubuhnya, sengaja dipilih untuk menggoda. Rambutnya dibiarkan terurai, bibirnya tersenyum penuh arti.
“Kamu benar-benar datang,” ucap Alya pelan.
Tatapannya menelusuri wajah Purbaya yang masih terlihat tergesa.
Purbaya masuk tanpa banyak bicara. Tangannya langsung menarik pintu hingga tertutup kembali.
Waktu mereka memang tidak banyak.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄