Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA PENGUSIRAN ILMU HITAM
Sejak Prapto melihat sosok itu, jiwanya menjadi terguncang. Setiap malam dia tak bisa terlelap. Perasaannya tidak tenang, selalu saja memikirkan sosok itu.
Sore itu, Karim beserta Istri sengaja mengunjungi kediaman Prapto, dia yang masih tidak percaya kalau temannya juga mendapat gangguang.
"Asalamualaikum." Ucap Karim sambil mengetuk pintu rumah Prapto.
"Walaikumsalam." Terdengar jawaban dari dalam.
Dan pintu pun terdengar di buka.
"Eh, Mang Karim, mbak Desi. Mari masuk." Karti mempersilahkan tamunya masuk.
Karim terdengar menghela napas dalam. Di lihatnya Prapto yang sedang tidur di dipan ruang tengah. Dia merasa sangat prihatin dengan apa yang menimpa sahabatnya itu.
"Kabarnya, suamimu sedang sakit, Kar?" Tanya Karim.
"Iya, Kang. Nggak tau kenapa, suami saya jadi seperti itu setelah meninggalnya si, Jaka. Saya jadi sedih." Karti terisak.
Karim dan Desi, merasa ikut prihatin. "Kalau begitu,
Mintakan saja, obat tidur atau obat penenang ke Bidan Asih, Karti. Kalau terus-terusan Prapto nggak tidur, itu akan membuatnya sakit nanti." Saran Karim.
"Iya, Karti, benar apa yang di katakan suamiku. Nggak perlu bawa suamimu kesana, Bidan Asih sudah paham. Kan akhir-akhir ini banyak warga juga yang kena terror mengerikan. Dan semuanya bilang, kalau setan itu hampir sama dengan yang di lihat suamimu."
Desi dan Karti segera pergi menemui Bidan Asih.
Sementara, Karim yang berjaga akan Prapto yang masih terlelap.
"JANGAN! JANGAN GANGGU SAYA! SA-SAYA MOHON. ITU SEMUA BUKAN KEMAUAN SAYA. SAYA HANYA DI SURUH...! PERGI! PERGIII!!!
HAARRRGGGTTT!!!" Teriak Prapto di dalam mimpinya. Dia ingin bangun dan memanggil karim. Namun tubuhnya serasa tak sanggup ia gerakkan. Sudut matanya sedikit membuka, samar ia melihat penampakan yang ia lihat di pemakaman jaka kemarin. Dia semakin ketakutan, sedangkan makhluk aneh yang berada di kobaran api yang datang dari atap, semakin mendekati tubuhnya. Prapto ingin segera kabur, namun jangan kan kabur, membuka matanya lebar saja ia tak sanggup.
Prapto terus berusaha untuk berteriak seperti di mimpinya tadi, namun tidak sanggup, bibirnya terasa keluh.
"Prapto, Pra! Bangun! Kamu kenapa? Prapto!" Karim
yang duduk tak jauh dari temannya heran, karena Prapto, tidur sambil mengerang, seperti orang kesakitan.
Prapto seketika terbangun, lalu memeluk Karim. "Ih! Kamu apaan sih!? Peluk-peluk. Malu-maluin aja, nanti di lihat orang malah jadi salah paham." Gerutu Karim.
"Karim. Kita harus segera tobat, Rim. A-arwah Yusuf kembali, Rim. Kali ini, sepertinya dia benar-benar akan membunuh kita. Tidak lagi hanya terror di mimpi kita. Karim, aku takut sekali, Rim." Prapto yang bercucuran keringat, menelan ludahnya kasar.
Karim tersenyum mencemo'oh. "Halah..., kamu itu. Pengecut sekali jadi laki-laki! Cuma sama setan saja takut! Sama setannya Yusuf saja nggak perlu di takuti. Toh sejak dulu kita di terror di mimpi-mimpi kita, dan sampai sekarang kan. itu hanya sekedar mimpi, satai saja."
"Tapi, kali ini beda, Rim. Sepertinya dia benar-benar ingin menuntut balas. Aku lihat sendiri kemarahannya. Dan tadi, andai kamu tak membangunkanku, aku pasti, aku sudah mati di bakar hidup-hidup bersama tubuhnya yang penuh kobaran api itu. Aku sungguh sangat takut, Rim."
"Hehehe...! Prapto-Prapto. Sudah! Kamu tenang saja, biar aku yang urus semua setan-setan yang mengganggu kamu dan semua warga di sini. Aku semakin resah, nih! Karena kamu juga akhirnya ikut merasa ketakutan."
lesu. "Ta-tapi, bagaimana caranya, Rim?" Prapto terlihat lesuh
"Ya kita panggil dukun lah, Prap! Aku punya kenalan dukun yang sangat hebat. Besok aku akan jemput dia kemari. Dan soal biaya, tenang, kamu kan masih punya emas-emasan istrimu, jual saja dulu." Ujar Karim santai.
"Eh..Eh..! Enak saja. Saya nggak mau ya? Emas-emas saya di jual. Enak saja, semua itu tabungan saya. Enak saja bilang mau jual." Gerutu Karti kesal, yang baru saja sampai di rumahnya melempar plastik obat sembarangan, karena marah.
"Ya, tapi kan kita lagi nggak punya uang, bu." Ucap Prapto lemah.
"Iya, Kar. Emang kamu mau? Suami kamu jadi tumbal ilmu hitam yang akhir-akhir ini sudah membunuh beberapa warga? Kamu mau? Jadi janda, di umurmu yang sudah tidak muda lagi ini?" Imbuh Karim.
Karti terlihat ragu. "Udah, Karti. Jual saja dulu. Kalau suamimu sehat kan, kamu bisa nabung lagi buat beli emas." Desi angkat bicara.
Karti pun akhirnya mengalah. Dengan helaan napas berat, dia masuk kedalam kamarnya, mencari dompet yang berisi emas. "Iya deh. Nih, semoga Mas Prapto cepet sembuh. Lalu bisa mengembalikan lagi emas saya. Jujur ini emas dari hasil keringat saya sendiri." Karti menyerahkan perhiasannya kepada suaminya.
Prapto dan Karim saling tatap senang. "Ya sudah, kita jual besok, sekalian kita menuju rumah si dukun."
Karti pun hanya bisa pasrah walau hati tak rela.
Keesokan harinya, Prapto dan Karim, telah bersiap menuju pasar. Setelah berpamitan, keduanya pun segera menuju pasar dengan mengendarai motor tua milik Prapto.
Mata Prapto berbinar. "Rim, ternyata emas lagi mahal. Aku dapat banyak uang. Sepertinya ini kelebihan banyak dari nominal yang dukun itu minta." Ujar Prapto penuh semangat.
"Wah! Jangan di kasih balik uangnya sama istrimu, Prap. Sebaiknya kita gunakan buat kesenangan kita. Sudah lama kita tidak lagi bersenang-senang kan?"
"Maksud kamu, ke warung kopi yang ada plus-plus nya itu, Rim?"
"Ya elah, Prap. Di mana lagi? Ayolah, mumpung banyak duit. Udah lama kan kita nggak nyentuh yang mont*k-mont*k. Ayolah, jangan berpikir kelamaan. Keburu sore, nanti istri kita nyariin."
Prapto yang awalnya ingin tidak setuju karena masih teringat terror itu. Akhirnya tergoda juga dengan iming-iming dari sahabatnya itu.
"Ya sudah, ayolah." Keduanya pun pergi bersenang-senang.
Setelah puas, menyalurkan hasrat kelelakiannya. Kedua lelaki yang sudah tidak muda itu, bertujuan menemui dukun tersebut.
"Om, Om! Jangan lupa mampir lagi ya?" Ucap pemilik warung kopi tersebut.
"Pasti, Yu. Mantap sekali pelayanannya. Kami pasti kembali." Ujar Karim sambil membenarkan sabuk celananya yang masih belum benar.
"Matur suwun Om, Om!" Pemilik warung kopi tersebut mengedipkan sebelah matanya.
Karim dan Prapto seketika berbunga-bunga sambil mengelus dada ingin mengulangi kejadian tadi, namun uang di dompet sudah tidak mendukung lagi.
Keduanya segera menyusuri jalan setapak mengarah ke dalam hutan.
"Rim! Emang benar ini jalannya?" Tanya Prapto yang merasa aneh.
"Iya benar, ini jalannya. Dulu saya pernah ke sini dengan, Pak RT."
"Tapi, kok! Jalannya seperti... tidak pernah di lewati orang, Rim?" Prapto menelisik setiap pelosok yang mereka lalui. Suasana mencekam, banyak pohon-pohon bambu yang sangat rindang menjuntai ke setiap sisi jalan. Bahkan ada pula yang membentuk seperti terowongan.
Saat melewati itu, tiba-tiba bulu kuduk Prapto meremang sempurna.
"Rim, di depan kabutnya sangat tebal. Lebih baik kita pulang saja, Rim." Pinta Prapto yang mulai menggigil karena ketakutan.
"Kamu mau sembuh tidak sih, Prap?! Kamu mau?
Terus-terusan di terror sama setan sialan itu? Kamu itu jadi laki-laki yang pemberani sedikit kenapa sih, Rim! Cuma setan begitu saja takut. Di bawa menemui orang pintar juga takut, sudahlah! Jangan banyak menggerutu. Kita lanjutkan saja, aku yakin ini jalannya, dan kita pasti akan aman." Papar Karim pasti.
Prapto hanya bisa diam. Saat masuk terowongan bambu yang di selimuti kabut tebal itu. Tiba-tiba laju motor memelan setelah masuk ke terowongan tersebut.
Mata kedua lelaki menyapu setiap sudut jalan yang di lalui. Seolah keadaan semakin sunyi saja.
"Kok sepertinya semakin sunyi dan mencekam, ya, Rim?" Tanya Prapto gugup. Karim hanya diam, dia pun mengehentikan laju motornya.
Di tuju nya sebuah rumah yang tidak asing di matanya. Perlahan dia mendekati, Prapto yang bingung, akhirnya mau tak mau mengikuti Karim.
"Rim, eh Rim. Kok berhenti? Rim? Mau kemana, Rim?" Cecar Prapto sambil memegangi ujung baju Karim. Yang di tanya hanya diam sambil focus dengan penglihatannya.
Prapto yang tersadar kalau temannya itu menuju rumah kecil yang berdindingkan papan, dia pun menelan air liurnya kasar.
"Ri-Rim? I-itu kan..., i-itu... rumahnya si, Yusuf." Karim masih diam. Lalu dia terpaku di tempatnya, karena
terdengar suara tawa riang dari dalam rumah tersebut.
"Haha... Ayah...! Ayo kezar Azka, Yah, ayo kejar.
Haha...!" Suara tawa azka menggema.
"Azka... jangan lari-lari nak? Nanti jatuh." Terdengar suara seruni juga.
"Hehe..., biarkan Bund. Azka bisa kok, jaga diri. Ayah kejar Azka! Kena...! Hahah...!" Suara dan tawa yusuf pun terdengar menggema.
"Ayah...! Kejar Azka di luar..."
Azka berlari keluar. Namun saat pintu di buka, Azka mematung menatap ke dua lelaki tersebut.
"Lihat Ayah. Mereka yang telah merenggut kebahagiaan kita. Mereka pula lah yang telah merenggut nyawa kita. Mari kita hukum mereka, Ayah." Ucap Azka tiba-tiba suaranya menjadi menyeramkan.
Seruni, dan juga, Yusuf, mengangguk dengan menyungginhkan senyum menyeramkan.
Ketiganya menatap kearah Prapto dan Karim nyalang.
"Ayah! Itu mereka. Mari kita bun*h keduanya." Ucap
Azka.
Tiba-tiba wajah ketiganya berubah putih pucah. Wata mereka berubah warna menjadi merah.
Karim dan Prapto melangkah mundur. "Ka-kalian sudah mati. Jangan ganggu kami. Pergi kalian setan."
Teriak Karim yang kini ia pun ketakutan.
"Me-mereka sudah mati. Me-mereka setan, Rim. Ayo kita lari, Rim." Gumam Prapto ketakutan.
"Ini pasti tidak nyata, Prap. Jangan takut. Ayo kita lawan." Karim masih saja menganggap remeh dengan apa yang di lihatnya.
Pasangan suami istri beserta anaknya itu kian maju tanpa sedikit pun melangkahkan kaki mereka.
Kalian yang menghancurkan kami. Karena kalian, kami mati. Kalian tidak akan kami lepaskan lagi. Hihihi...
Tiba-tiba suara melengking terdengar begitu nyaring di telinga Prapto dan karim.
Ketiga makhluk itu berubah menyeramkan. Gigi mereka tiba-tiba menjadi runcing, bola mata mereka keluar dan hanya tergantung tidak jauh dari tempatnya, cairan merah terlihat di sana sini dengan luka-luka yang menganga dari tubuh Azka. Sedangkan Seruni dan Yusuf, mulai di selimuti api membesar di seluruh tubuh mereka, sedangkan Azka menjadi tubuh yang lengan dak kaki nya patah. Mereka terus mendekat, membuat nyali Karim semakin menciut.
Kaliannn harus ikut kami...! Hihi....! Mari ikut kami...
! Hihi...! Haha....!
Suara mereka membuat Prapto dan Karim berlarian kalang kabut.
"Rim! Lari, Rim!" Prapto terus menarik lengan
sahabatnya tanpa menoleh.
Dengan napas tersengal ia berhenti di sebuah rumah. Dan saat menoleh, matanya terbelalak lebar. Lengan yang ia pegang ternyata lengan putus milik Azka.
"HUAAA!!!' Teriaknya segera melempar lengan itu. Dan saat lengan itu menyentuh tanah, lengan itu berlari menjauh. Jantung Prapto berdegup kencang. Dia pun berpikir hendak masuk rumah saja karena sangking lelahnya. Tapi, alangkah terkejutnya dia karena ternyata rumah itu pun masih tetap rumah Yusuf yang barusan ia lihat.
"TIDAAAKKKK!!!" Prapto kembali berlari.
"Karim...! Karim...! Di mana kamu, Rim!" Teriaknya yang berjalan di jalan setapak.
Seperti tidak ada kehidupan, Prapto pun melihat rumah. Dan saat di dekati, rumah itu ternyata rumah yang sama. Dengan terpaksa, Prapto memutuskan masuk, karena hujan tiba-tiba turun sangat deras.
Sedangkan Karim, ia menangis karena kehilangan Prapto, sahabatnya.
"Dasar bangs*t! Sialan! Kenapa Lagi-lagi aku berada di rumah ini. Prapto! Prap! Kamu di mana? Huhu..." Karim yang kesal karena berputar-putar saja di area itu terus mengumpat dan mengutuk. Dengan terpaksa ia masuk ke dalam karena lebatnya hujan turun.
"Dasar setan sialan! Aku pastikan kalian akan mati
untuk yang kedua kali." Maki Karim lagi kesal bercampur aduk.
Saat beringsut mundur, tubuhnya bertabrakan dengan tubuh lain.
"Karim!" Teriak Prapto senang.
"Prapto! Akh! Aku cari kamu kemana-mana. Kamu kok malah ninggalin aku sih?!" Keluh Karim, senang bercampur kesal.
"Maaf, Rim. Aku pikir yang aku pegang itu lengan kamu. Ternyata itu...itu... tangan yang terputus milik..."
Belum sempat Prapto melanjutkan bicaranya, tiba-tiba api mengepung di seluruh rumah itu.
"Tidak! Karim, ayo kita lari. Api, Rim, api!" Prapto kebingungan mencari jalan keluar. Namun seperti tidak ada celah, api telah benar-benar mengepung mereka.
Sampai akhirnya... "Akkkhhh!!! Panas... panas...! Tolong...! Tolong...! Panas sekali." Keduanya berguling-guling di dalam kobaran api. Segala dosa yang telah mereka lakukan pun teringat kembali. Menyesal pun tak berguna. Keduanya hanya bisa menangis dalam kobaran api yang kini membakar kedua tubuh mereka berdua.
Yusuf, Seruni, dan Azka yang berada di luar tersenyum mengerikan lalu ketiganya tertawa dengan suara yang sangat menyeramkan.
"Hahaha....! Mati mereka!" Ucap Azka.