NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Pagi itu, suasana rumah besar keluarga Nirmala terasa berbeda dari biasanya. Hanya beberapa jam setelah pembicaraan tegang di ruang kerja ayahnya, sebuah mobil hitam berhenti di halaman.

Dari dalamnya keluar enam orang dengan penampilan rapi namun tidak mencolok—tepat seperti yang Daren janjikan.

Lima laki-laki dan satu perempuan.

Nirmala berdiri di serambi rumah dengan tangan terlipat, napasnya sedikit berat. Ia masih belum terbiasa dengan ide memiliki penjaga pribadi. Hidupnya selalu mandiri, bahkan sejak masih kecil.

Tapi sekarang ia harus menyesuaikan diri demi keselamatannya.

Daren turun dari mobil lain yang mengikutinya, lalu berjalan menuju Mala. “Ini mereka,” ujarnya perlahan.

Satu per satu bodyguard itu maju memperkenalkan diri.

“Nama saya Ardi, Bu. Ahli bela diri dan pengawalan jarak dekat.”

“Saya Dimas. Spesialis senyap dan analisis situasi.”

“Gilang, ahli taktik lapangan.”

“Rama, mantan pengawal VIP.”

“Anton, senjata dan pertahanan.”

Lalu perempuan itu melangkah maju.

Namanya Nina. Berambut pendek, wajah tegas tapi ramah. “Saya akan menjadi sopir pribadi Ibu Nirmala. Saya terbiasa menyamar, jadi saya akan tampak seperti pekerja biasa kalau dilihat orang luar.”

Nirmala menatap keenamnya satu per satu. Mereka tidak tampak seperti bodyguard kaku yang sering ia lihat di TV.

Justru sebaliknya—mereka terlihat seperti pekerja kebun, buruh pabrik, atau warga desa biasa. Tidak mencolok. Tepat seperti keinginannya.

“Aku harap kalian bisa bekerja tanpa menarik perhatian,” Nirmala akhirnya berkata.

“Tenang saja, Bu,” Nina menjawab. “Tugas kami melindungi Anda tanpa membuat orang sadar.”

Daren menoleh ke Mala. “Sudah? Kamu yakin cukup nyaman dengan ini?”

Tidak nyaman sama sekali, pikir Mala. Tapi ia mengangguk. “Aku harus terbiasa.”

---

Setelah semua persiapan selesai, Daren memberi pengarahan kepada tim pengawal itu. Mereka mengelilingi area kebun teh, memetakan rute aman dan titik rawan.

Rumah Nirmala berada di desa yang asri, tak jauh dari perbukitan, dan dipagari kebun teh yang luas. Tempat yang indah… tapi juga luas dan mudah dimasuki tanpa terdeteksi.

Setelah dua jam, semuanya sudah siap. Daren kembali menghampiri Mala di teras.

“Aku harus pulang ke ibu kota,” katanya.

Nirmala menatapnya. “Hari ini juga?”

“Ya. Kalau aku hilang terlalu lama, ibuku bisa curiga. Dan aku belum ceritakan apa pun soal kita.”

Nirmala hanya mengangguk. “Baiklah. Hati-hati di jalan.”

Daren mulai melangkah, tapi berhenti setelah beberapa langkah. Ia menoleh kembali. “Mala…”

“Hm?”

“Kalau ada apa-apa, telepon aku. Apa pun itu. Jangan tunggu sampai kamu takut.”

Entah kenapa, kata-kata itu membuat Mala sedikit tenang.

Setelah Daren pergi, para bodyguard mulai menempati posisi masing-masing. Dua berada di area kebun teh, seperti pekerja yang mengecek tanaman.

Dua lagi bertugas di dalam rumah, menyamar sebagai petugas teknis. Satu lagi bersiaga dekat gudang peralatan.

Nina—bodyguard perempuan—menetap di dekat garasi sebagai sopir pribadi.

Melisa, tentu saja, tidak tahu apa-apa tentang semua ini.

---

Di rumah Melisa, suasana berbeda total. Ruangan itu dipenuhi aroma parfum mahal dan kepulan asap dari dupa yang selalu ia nyalakan. Melisa duduk di meja rias, wajahnya terlihat gelisah.

“Dia tidak curiga sama sekali,” lapor salah satu orang kepercayaannya. “Nirmala masih pergi sendirian ke kebun teh pagi-pagi. Tidak ada penjaga.”

Melisa tersenyum puas. “Bagus. Sangat bagus.”

Aurelia yang duduk di sofa menatap ibunya. “Mama yakin rencana ini berhasil?”

“Sangat,” jawab Melisa sambil memulas lipstik. “Mala pergi ke kota hampir setiap akhir pekan. Itu kebiasaan lamanya. Dan wanita seperti dia… tidak akan bisa mengubah kebiasaan begitu saja.”

“Lalu kita lakukan di perjalanan?” tanya Aurelia, wajahnya agak pucat meski berusaha tampak tegas.

Melisa menoleh dan menggenggam tangan putrinya. “Tenang, Sayang. Semua sudah kuatur.”

Kemudian ia memanggil seseorang dari balik pintu.

Seorang pria bertubuh kekar masuk. Wajahnya keras, penuh tato samar di lengan kanan. Auranya gelap dan berbahaya.

“Gio Arman sebagai sekutu kita,” kata Melisa dengan bangga. “Dia bukan tipe orang yang gagal dalam misi.”

Gio menatap keduanya dingin. “Apa targetnya?”

“Gadis itu,” jawab Melisa sambil menunjuk foto Nirmala yang diletakkan di meja. “Buat dia hilang. Dalam perjalanan menuju kota.”

Gio mengangguk tanpa bicara.

“Tapi ingat,” sambung Melisa cepat, “harus terlihat seperti kecelakaan.”

“Bisa diatur.”

Aurelia menelan ludah.

Melisa semakin yakin rencananya sempurna. Ia bahkan menertawakan dalam hati—tanpa tahu bahwa Nirmala kini memiliki perlindungan yang bahkan tidak pernah ia duga.

---

Beberapa hari berlalu.

Nirmala mulai terbiasa dengan keberadaan bodyguard, meskipun kadang ia masih risih. Ardi dan Dimas menyamar sebagai pekerja kebun teh.

Gilang dan Rama mengawasi jalur masuk desa. Anton sering terlihat seperti buruh gudang. Nina mengikuti Mala kemanapun, berpura-pura sebagai sopir pribadi yang baru direkrut.

Melisa belum curiga sedikit pun.

Tapi ada beberapa hal yang Mala perhatikan.

Saat berjalan di area kebun, ia melihat bayangan seseorang di kejauhan. Berulang kali. Selalu pria yang sama. Tatapannya menusuk, seperti sedang menunggu momen tertentu.

Nirmala merinding.

Malas membohongi diri sendiri, ia kembali ke rumah dan langsung mencari Nina.

“Aku merasa… ada yang mengawasi aku.”

Nina langsung menegang. “Seperti orang yang kamu ceritakan waktu itu?”

“Aku nggak yakin. Tapi rasanya beda. Lebih berbahaya.”

Nina tidak membuang waktu. “Saya lapor ke yang lain. Kita tingkatkan penjagaan.”

Mala menggigit bibir. “Mungkin… aku harus kasih tau Dar—”

Belum sempat menyelesaikan kalimat, teleponnya berdering. Nama di layar membuatnya terkejut.

Daren.

Ia langsung mengangkat. “Halo?”

“Mala… aku punya firasat buruk,” suara Daren terdengar tergesa. “Kamu baik-baik saja?”

Nirmala menatap ke jendela, tepat ke arah bayangan gelap yang kini menghilang.

Tidak. Tidak baik-baik saja.

Tapi ia hanya berkata, “Daren… aku rasa kamu harus datang.”

Daren terdiam sepersekian detik. “Sabar. Aku berangkat sekarang.”

---

Sementara itu…

Di rumah Melisa, rencana sudah ditegakkan. Jadwal gerak Nirmala sudah dipelajari. Lokasi serangannya sudah ditentukan.

Dan Melisa menatap foto Nirmala seraya tersenyum dingin.

“Akhir pekan nanti, semuanya berakhir.”

Tanpa ia tahu…

Gio bukanlah satu-satunya bayangan yang mengikuti Nirmala.

Ada lima pria dan satu wanita yang jauh lebih siap daripada dugaan siapa pun.

Dan mereka tidak akan membiarkan satu rambut pun jatuh dari kepala Nirmala.

Assalamualaikum selamat siang

Tinggalkan jejak kalian ya like komen nya di tunggu... Biar othor semangat lagi menulis nya ya

Selamat membaca🥰🥰🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!