NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Kesepakatan Rahasia

Keesokan harinya...

Seorang pria bertopeng memukul meja dengan keras.

Brakkk!

"Mereka benar-benar tidak berguna!" teriaknya marah.

Sepuluh assassin elit yang dikirim ke kediaman keluarga Swan tidak ada yang kembali sejak kemarin. Bukan cuma mereka, tapi pria bertopeng itu juga mengutus dua orang pendeta untuk mengecek kondisi dan keadaan targetnya.

Namun mereka berdua juga tidak ada kabar sama sekali.

"Apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu?!"

Pria bertopeng itu pun duduk dengan suasana hati yang buruk. Dua kali rencananya digagalkan, dan dua kali dia dipermalukan seperti orang yang mudah dipermainkan.

Semakin dipikirkan membuatnya semakin geram.

"Siapa b*jingan yang berani merusak rencana yang aku buat dengan rapi?!" kata pria bertopeng hitam itu sambil melepaskan topengnya. "Kalau aku tahu siapa orang itu, aku sungguh akan membuatnya berpikir mati lebih baik!"

Wajah di balik topeng adalah seorang pria dewasa yang usianya sekitar 25 tahun. Meski rupanya cukup tampan, namun ada bekas luka sayatan di bawah mata kanannya.

Dia adalah seorang pengguna Aura tingkat 5 yang cukup kuat. Karena kekuatannya itu, dia diangkat menjadi salah satu petinggi saat pertama kali bergabung ke organisasi.

Dari berbagai macam pekerjaan yang dia lakukan, tingkat penyelesaiannya adalah 100 persen. Dan kesempurnaan itu hancur saat rencananya membunuh seseorang gagal.

Dan orang yang ingin dia bunuh adalah Alexia Iris Swan.

Pria itu pun bersandar di kursinya dan berpikir,

'Apakah gadis itu menyembunyikan sesuatu?'

Itu adalah salah satu kemungkinan yang pria itu pikirkan, tapi dia ragu karena dalam laporan dia tidak punya bakat apapun selain bermain-main menjadi penyihir yang kuat.

Setelah menghilangkan kemungkinan itu, hanya tersisa satu jawaban, yaitu ada seseorang yang bersembunyi di balik bayangan dan menjaganya tanpa diketahui orang.

Hanya itu satu-satunya yang dapat dipikirkan pria itu.

"Siapapun dia, aku akan menemukannya dan langsung menyiksanya sampai dia mati!" tegasnya sangat marah.

Saat masih emosi, dia mendengar keributan di luar pintu.

'Kenapa di luar ribut sekali?' pikirnya, penasaran.

Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu.

"Kenapa kau tiba-tiba memanggilku ke sini?" tanya orang yang baru saja datang tanpa mengetuk pintu dan duduk di kursi depan meja. "Padahal aku ingin pulang dan tidur."

Pria itu cukup kesal melihat sikapnya dan berkata, "Ketuk pintunya sebelum masuk! Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun dasar tentang itu?! Dasar orang buangan!"

Orang yang duduk itu pun tertegun dan menunduk.

"Jaga mulutmu itu, Feyn!" orang itu tersinggung dengan ucapannya dan menarik pedangnya beberapa inci. "Jika kau memanggilku ke sini hanya ingin menghinaku, aku benar-benar tidak keberatan untuk memotong mulutmu!"

"Perkataan yang bagus, Dio." balas pria itu, yang bernama Feyn, dengan senyuman lebar di mulutnya. "Tapi apa kau yakin bisa menang melawanku dengan kekuatan tingkat 4 mu yang lemah itu? Apa aku perlu membantumu untuk mengingat kembali agar kau bisa menyadari posisimu?!"

Orang yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu, yang ternyata adalah Dio, mengertakkan giginya dengan kesal.

Dua tahun yang lalu, waktu itu mereka pernah bertarung untuk memperebutkan posisi petinggi. Mereka memiliki kekuatan di tingkat yang sama, tapi kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungan pertarungan yang berbeda.

Feyn unggul karena memiliki teknik pedang yang sangat tajam, sedangkan Dio hanya memakai instingnya untuk mengikuti pergerakan si Feyn. Itulah perbedaan mereka.

Dari awal, bakat mereka berdua benar-benar berbeda.

Dio menyarungkan pedangnya dan memalingkan wajah.

"Sial!" umpatnya sambil mendecakkan lidahnya.

"Cepat katakan, kenapa kau memanggilku ke sini?!"

Feyn juga menekan hasrat membunuhnya dan berkata,

"Ini soal putri kedua, Alexia." Dio mengerutkan keningnya saat nama itu tiba-tiba disebut. "Apa kau bisa menyelidiki apa yang terjadi? Kau pasti mendengar kalau dia sedang terbaring di kasurnya, aku ingin kau memastikannya lagi."

"Kenapa harus aku?" dengan nada malas.

Dio terlihat enggan untuk menerima perintahnya.

"Bukankah itu sudah menjadi tugasmu untuk berurusan dengan putri kedua yang aneh itu?" lanjut Dio, dan berdiri dari kursi. "Kalau hanya itu yang ingin kau bicarakan, aku akan pergi. Nanti ada yang curiga jika aku menghilang—"

"Teknik pedang tingkat menengah." kata Feyn tiba-tiba.

Dio yang berbalik pergi pun berhenti dan terdiam.

"Apa yang tadi kau katakan?" tanya Dio, memastikan.

"Kalau kau mau menerima misi ini, bulan depan aku akan memberimu teknik pedang tingkat menengah yang tidak aku pakai." jelas Feyn dengan tatapan yang begitu serius.

Dio menjadi pengguna Aura berkat teknik pedang tingkat menengah yang dia dapatkan secara tidak sengaja. Dan sekarang, dia bisa mendapatkan teknik pedang lain yang mungkin lebih baik, jadi mana mungkin dia menolaknya.

'Itu memang kesepakatan yang menarik, tapi ...'

Dio berpikir seperti itu, tapi ada yang aneh dengan tugas yang Feyn berikan. Apalagi, ia mendengar kabar jika putri kedua sedang sakit dan terbaring di kasur tidak berdaya.

Lantas, kenapa dari tadi hatinya terus merasa gelisah?

'Ah, ini mungkin karena aku terlalu kecapekan.'

Dio menepis rasa gelisah dengan keadaan tubuhnya.

Pikirannya menuju ke arah sana karena ia dari pagi terus melatih para prajurit muda. Pada siang hari, Dio berlatih pedang sendirian di lapangan, jadi dia jarang beristirahat.

"Serahkan hal itu padaku." jawab Dio dan berbalik pergi.

"Tunggu," ucap Feyn hingga Dio pun berhenti melangkah.

"Sebelum kau pergi, aku hanya ingin mengingatkan." kata Feyn dengan tatapan tajam dan wajah serius. "Aku hanya menyuruhmu untuk memastikan kondisi putri kedua, jadi jangan melakukan hal lain dan bergegas kembali ke sini!"

Dio mengabaikan dan menganggap remeh ucapannya.

"Aku tahu itu tanpa kau memberitahuku."

Itulah balasan Dio sebelum dia meninggalkan ruangan.

****

Sementara itu, di sisi lain...

Di lorong yang panjang, Aurora tampak menghela napas.

"Kenapa urusan politik benar-benar merepotkan?"

Dia baru saja kembali dari perpustakaan setelah disuruh mempelajari politik dan taktik militer oleh gurunya. Tidak hanya itu, tapi Aurora juga disuruh melatih teknik pedang keluarga Swan agar ia bisa segera membangkitkan Aura.

Meski begitu, pelajaran dasar sehari-hari tidak akan bisa mengalahkan pengalaman yang ditempa dengan usaha.

Aurora sangat mengetahui hal itu.

'Fisik dan mentalku benar-benar kelelahan.' batin Aurora, dan tiba-tiba berhenti setelah mengingat senyum Alexia saat itu. 'Tapi mau tidak mau, aku harus melakukannya.'

Aurora sadar bahwa mereka berdua tidak dapat menjadi kepala keluarga, jadi dia pikir perlu mendapatkan banyak kekuatan dan pengetahuan agar bisa melindungi Alexia.

Kejam dan sangat tidak berperasaan.

Itulah dunia politik yang Aurora dengar dari ibunya.

"Aku harus melindungi Alexia!" tegasnya penuh tekad.

Setelah menyatakan tekadnya, Aurora kembali berjalan.

Dan setelah berjalan beberapa langkah, dia tidak sengaja menoleh ke luar dan melihat seorang wanita cantik tidak dikenal sedang bersandar di bawah pohon yang rindang.

Aurora berhenti dan bertanya-tanya dalam kepalanya.

'Siapa wanita itu? Dan kenapa dia tidur di sana?'

Saat memikirkan hal itu, wanita yang ditatap oleh Aurora membuka matanya. Aurora sontak melebarkan matanya, terpesona setelah melihat kedua matanya yang berbeda.

Mata kiri berwarna biru, dan yang lain berwarna merah.

Rambut emasnya juga indah dengan hiasan bunga.

Entah dia sadar atau tidak, tapi wanita itu menatap balik ke arah Aurora. Tak lama setelah itu, dia tersenyum tipis.

"Kenapa dia tiba-tiba tersenyum padaku?"

Aurora berpikir seperti itu karena kacanya sangat gelap, jadi tidak mungkin orang dari luar bisa melihat ke dalam.

"Lupakan saja, mungkin dia mengingat hal yang lucu."

Aurora berbalik dan memutuskan untuk pergi.

Whooshh

Angin berembus sekali lagi, dan kali ini lebih kencang.

Wanita itu berdiri dan menatap ke arah Aurora.

"Aku akan terus mengawasimu, penerusku."

Setelah mengatakan itu, wanita tersebut tiba-tiba lenyap.

Siapa wanita tidak dikenal yang dilihat oleh Aurora?

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!