Seorang siswa yang terlambat ke sekolah berpindah ke dunia lain bersama dengan dua orang yang tak dikenalnya, setelah mereka ditabrak truk secara tidak sengaja.
Menurut suara misterius yang mereka dengar saat baru sampai di dunia itu, mereka harus menyelamatkan dunia itu dari kekacauan.
Kehidupan mereka berubah sejak mereka bertemu dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai orang terkuat di dunia itu dan mereka belajar tentang keabadian dari orang itu.
Ikuti perjalanan mereka di dunia yang tak terduga, penuh darah, pertarungan, dan pengkhianatan itu.
[1 chapter untuk satu hari, dimohon bersabar...
Ada beberapa adegan garing, kalo gk lucu dimohon jangan ketawa...
Apabila terdapat kesamaan nama orang, lokasi, ataupun jurus, mohon maaf karena itu adalah ketidaksengajaan, beberapa disengaja ;)
Original story by Slitherio/Rio Andriana]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slitherio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Pulau Giok Putih
Setengah tahun kemudian...
Ray, Agus, dan Mira akhirnya mengikuti Zon dan Tianyun menuju Pulau Giok Putih setelah Zon dan Tianyun berdebat tentang asal usul tujuh pedang yang mereka temukan meskipun Ray sudah menceritakan tentang Antonios pada mereka
Menurut Tianyun, tempat itu dikenal sebagai tempat tinggal pertama sang Scarlet Cloak Warrior sekaligus tempat berlatihnya beberapa tokoh terkenal lainnya.
Sebut saja Ketua dari Blue Ice Castle, seseorang yang dijuluki Ice Emperor, sang Scarlet Cloak Warrior, Ketua dari Flame Phoenix Mount yang dijuluki Flame Emperor, dan sebagainya.
Tentu saja alasan utama Pulau Giok Putih dijadikan tempat berlatih oleh mereka adalah karena tingkat kepekatan Mana disini amatlah tinggi.
Ray berniat untuk menembus langsung ke alam selanjutnya, tetapi Zon mengingatkan untuk memantapkan praktiknya barulah menembus ke alam selanjutnya.
Agus juga akhirnya berhasil mencapai puncak Self Forging dan Mira menyusul saat sudah setengah tahun berlatih.
Selain berlatih meningkatkan praktik, Ray juga berlatih Element Magic bersama Zon. Karena elemen mereka sama, Zon memutuskan untuk melatihnya. Seperti saat ini.
“Apa kau mau elemen yang lain?” tanya Zon.
Ray menatap Zon, “Memangnya bisa?”
“Bisa, hanya saja akan ada sebuah resiko kalau gagal membentuk Divine Root di dalam tubuh kita...” jawab Zon.
“Apa itu?”
“Nyawa menjadi taruhannya kalau kita sampai gagal membuat Divine Root baru kita...” jawab Zon, “Tetapi aku sudah melakukan hal itu sebanyak dua kali dan berhasil...”
“Memangnya apa saja Divine Root yang pernah guru buat?”
“Awalnya guru terlahir dengan Divine Root dua elemen, yaitu Petir dan Logam. Lalu guru berlatih dan guru dari guru kalian mengajari caranya untuk mengubah Divine Root...”
“Caranya?”
“Guru mengganti Divine Root Logam menjadi Api dan guru memiliki dua elemen yang sedikit berlawanan. Lalu, guru selanjutnya menghancurkan Divine Root Petir dan akhirnya guru memilii Divine Root elemen Api...”
“Kalau begitu, jadikan diriku memiliki satu elemen saja...” Ray menatap Zon, “Kumohon...”
“Tidak mudah untuk melakukannya...” Zon memalingkan wajahnya, “Memerlukan pemahaman yang kuat tentang elemen yang akan dibuat...”
“Contohnya?”
“Kalian harus berpetualang dulu untuk melihat berbagai jurus elemen, kalau bisa miliki beberapa untuk dijadikan pemahaman dan gunakan untuk membuat Divine Root baru...”
“Begitu ya...”
Ray mengelus dagunya, jujur saja ia tak terlalu suka dengan Divine Root yang dimilikinya saat ini. Ia menginginkan elemen yang dimiliki oleh gurunya sebelumnya, yaitu Petir.
“Kalau kau, kuberi sebuah rekomendasi Divine Root yang mungkin cocok untuk kemampuan berpedangmu...” Zon berpikir sebentar.
“Kau bisa memiliki elemen Logam untuk memperkuat pedang serta tubuhmu, elemen Angin untuk membuat pedangmu ringan, dan juga elemen Petir untuk memberi kemampuan menghancurkan...”
“Sebenarnya, dulu ada satu orang yang memiliki sembilan Divine Root dalam tubuhnya. Kekuatan orang itu amatlah mengerikan, ia mampu menggunakan banyak sekali elemen dalam pertarungan. Dan orang itu adalah praktisi pertama yang berhasil mencapai Deva Realm sekaligus pemilik pertama Nine Spirit Immortal Manual ini...”
***
Latihan pedang Ray bertambah berat setiap harinya. Ia berlatih dengan Tianyun yang menguasai ilmu pedang.
Sedangkan Zon, ia bisa memakai berbagai senjata dan ia mengajari Agus untuk bermain tongkat emasnya.
Mira sendiri memilih berlatih seorang diri dengan kemampuan sendiri, terkadang dia meminta petunjuk pada Zon.
Hari-hari mereka berlalu damai sampai pada akhirnya pulau mereka didatangi oleh sekelompok praktisi.
Kemampuan Heaven Eye milik Zon bisa mendeteksi seluruh Pulau Giok Putih dan ia merasakan kalau niat sekelompok praktisi ini tidaklah baik.
“Tempat ini tak ada di peta, bagaimana kalau kita laporkan pada ketua...”
“Tetapi tugas kita hanya menaklukan daerah Blue Sky Empire, tidak lebih...”
Ray yang kebetulan sedang berada di hutan mendengarkan seluruh pembicaraan itu. Ia melihat kalau tingkat praktik mereka kebanyakan di Self Forging tingkat ke-10. Ada satu yang mencapai Spirit Forging Mid Stage. Praktisi Spirit Forging Mid Stage ini dilihat oleh Zon.
Ray saat ini sedang bersama Zon, “Mereka pasti sedang sial karena bertemu dengan Scarlet Cloak Warrior dan Blue Thunder King disini...”
“Tapi aku akan mengirim kalian bertiga menghadapi mereka...” ujar Zon lalu melesat pergi.
Tak lama, Agus dan Mira sampai di lokasi Ray. Mereka saling tatap lalu berkata, “Apa kita akan melawan mereka?”
“Mau bagaimana lagi, ini adalah salah satu pelajaran dari senior Tianyun dan guru Zon...” jawab Agus sambil menaikkan bahunya.
“Mungkin ini saatnya bagiku untuk mengeluarkan Wyrmslayer...” Mira mengeluarkan sabit besarnya.
Mereka bersiap di posisi. Karena yang ditunggu tak kunjung datang, Mira memutuskan untuk memotong pohon di hutan itu dan akhirnya bertemu dengan sekelompok praktisi itu.
“Hah! Kukira orang kuat, aku malah panik...” praktisi Spirit Forging itu menunjuk Ray, Mira, dan Agus, “Serang mereka...”
Sekelompok praktisi itu yang berjumlah sekitar dua puluh orang itu langsung maju dan menyerang ketiganya.
“Mereka tak punya malu ya, mengeroyok tiga orang yang terlihat lemah ini...” Mira memasang wajah imut lalu menyeringai.
Mira lalu maju dan mengayunkan sabitnya dengan ganas. Meski ayunannya terlihat asal-asalan, tetapi lawan yang bisa dihabisinya lebih dari satu setiap menyerang.
Yah, itu wajar saja karena sabit termasuk senjata yang cukup ditakuti di dunia praktik. Selain karena besar, kekuatan dari mata sabit cukup mengerikan karena tak bisa ditahan oleh senjata manapun, termasuk pedang.
Tak bisa ditahan karena ujungnya yang melengkung membuat siapapun yang melawan pengguna sabit jadi ragu untuk menahan serangan. Kalaupun ditahan, masih ada ujungnya yang bisa menyasar dada ataupun kepala kalau yang ditahan di atas kepala.
Mira menghabisi separuhnya saja sudah terlihat ketidak seimbangan, ditambah senjata yang dipakainya bertingkat Heaven, membuat pertarungan itu berat sebelah.
Ray memilih duduk dan menyaksikan seluruh pertarungan itu, sampai akhirnya ia merasa kalau ia seharusnya menghadapi praktisi Spirit Forging yang memimpin mereka.
“Ke-kenapa bisa?!”
Praktisi Spirit Forging itu berniat kabur, tetapi sudah dihalangi oleh Ray, “Sekali kau menginjakkan kaki disini dengan niat buruk, kau takkan bisa kembali...”
Ray berkata begitu sambil tersenyum kecut, ia tak yakin bisa mengimbangi praktisi itu, apalagi mengalahkannya.
“Heh, kata-katamu boleh juga, baiklah kalau begitu...” praktisi itu mengepalkan tangannya lalu memasang kuda-kuda, “Cobalah untuk tetap hidup setelah menerima serangan pertamaku...”
Praktisi itu lalu melesat dan memberikan pukulan ke perut Ray, hasilnya Ray hanya terpukul mundur sedikit.
“Bukankah kau hanyalah praktisi Self Forging? Kenapa kau bisa menahan pukulanku yang mengandung 50% kekuatanku? Seharusnya kau sudah terpental jauh...” praktisi itu terlihat tak percaya. Ia lalu melompat mundur
“Apa kau memiliki mata yang kurang baik? Baca lagi praktikku dengan seksama...” ujar Ray sambil menyeringai lebar.
Karena ia mengalirkan Mana elemen Logam ke seluruh tubuhnya ditambah ia sudah memiliki praktik Self Forging tingkat ke-15, seharusnya ia hanya bisa menahan 30% kekuatan lawan. Tetapi ada dua faktor yang membuat tubuh Ray menjadi lebih kuat.
Yaitu tekad untuk menang. Ia awalnya tak begitu yakin dengan tekadnya itu, tetapi ia mempercayai kemampuannya sendiri. Faktor kedua adalah keberuntungan. Kalau saja praktisi itu melepaskan 100% kekuatannya, Ray bisa mati karena pukulan itu.
Ray melebarkan senyumannya, “Aku sudah menerima pukulanmu, jadi aku harus memberimu satu tebasan, bukan?”
Ray takkan memakai pukulannya karena ia tak yakin kalau pukulannya bisa sekuat tebasannya. Ia lalu menarik pedangnya lalu melesat dengan cepat menuju lawannya.
Lawannya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Ray, yaitu melakukan tebasan dari kanannya untuk menebas lehernya. Ia membuat lehernya menjadi lebih kuat dan bersiap menerima serangan Ray.
Tetapi itu ternyata hanya tipuan semata karena lawannya tak menguatkan bagian lengannya. Ray mengubah arah tebasannya dan memotong lengan kanan lawannya.
Lawannya memegangi lengannya yang dipotong Ray dan melepas pertahanannya. Saat itulah Ray langsung memanfaatkan situasi itu untuk menebas leher lawannya.
Tetapi karena yang dihadapinya adalah praktisi Spirit Forging, tentu saja lawan bisa mengantisipasi serangan Ray selanjutnya.
Ray tak ingin kalah lalu ia mengalirkan Mananya ke tangan kirinya dan memukul perut lawannya. Ray dan lawannya langsung bertukar puluhan serangan, tetapi terlihatlah kalau lawan Ray lebih unggul.
“Baik, bagaimana kalau kau menerima ini?!”
Ray mengangkat pedangnya lalu menebas lawannya berkali-kali. Ini adalah salah satu teknik yang diajarkan oleh Tianyun. Yaitu Thunder Cuts.
Lebih dari lima tebasan dikeluarkan Ray dan ini seharusnya menjadi jurus terkuat yang dimiliki oleh Ray. Kalau ia melakukannya lagi, tubuhnya akan terbebani oleh kekuatan yang amat besar itu.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar di telinga Ray, “Kau akan kupinjamkan sedikit kekuatan...”
Setelah suara itu terdengar, kekuatan Ray langsung meningkat dan Ray merasa kalau tubuhnya dibebani oleh kekuatan yang dahsyat.
Ray berusaha menyesuaikan diri, tetapi lawan tak memberi kesempatan itu. Lawannya melesat menuju Ray lagi dan berniat memberikan serangan tapak pada Ray. Tetapi gagal karena Ray menahannya dengan pedangnya
“Bagaimana kau bisa menahannya?!”
“Diam kau...” Ray menghempaskan lawannya lalu menusuk dada lawannya, “Black Dragon Energy!”
Ray tak tahu tentang jurus ini, apa lagi mempelajarinya. Ia menebak kalau tubuhnya diberi sedikit ingatan Antonios.
Energi berwarna hitam langsung menembus dada lawannya lalu dari cahaya itu, terlihatlah percikan darah lawannya. Ray berhasil mengenai jantung lawan.
Serangan terakhir itu menghancurkan jantung lawan sampai tak berbentuk lagi sekaligus menghancurkan tubuh lawannya.
Setelah Ray membunuh praktisi itu, ia langsung kehilangan kesadarannya.