NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Ku

Pemilik Hati Ku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Tamat
Popularitas:174.1k
Nilai: 5
Nama Author: shalsyalala

Follow Ige author : Shalsyala


"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.

"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama

Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.

Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?



Yuuuk merapat langsung baca yaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Setelah dapat lepas dari kemacetan jalan yang benar benar menguji kesabarannya, Angga berjalan cepat saat keluar dari lift yang terbuka di lantai apartemen nya berada. Ia tak melihat adanya pengawal yang selalu menemani wanita yang telah menjadi mertuanya.

Tak ambil pusing, Angga segera masuk. Dan benar saja, keadaan ruang tamu nampak sepi tak terlihat adanya tamu. Angga hendak melangkah menuju tangga, namun tertahan saat melihat Bi Sarah di dapurnya.

"Dimana Livi Bi?"

Wanita tua itu menatap cemas lalu menundukkan kepala. "Non Livi sudah tidur di kamarnya tuan." Ucapnya berbohong.

Setelah perseteruan Livi dan Maya, Bi Sarah membantu Livi menuju kamarnya. Mengompres pipi Livi yang langsung terlihat memar. Dan pada saat itulah Livi memohon dengan sangat agar Bi Sarah tidak menceritakan tentang apapun yang terjadi pada dirinya dan ibunya. Dan hal itu membuat Bi Sarah dengan terpaksa berbohong pada Angga, meski dengan rasa takut. Karena sebelumnya laki laki itu memerintahkan agar Bi Sarah menjaga juga melaporkan apapun yang terjadi pada Livi saat Angga tak di apartemen.

Angga memindai reaksi wajah Bi Sarah yang jelas terlihat sedang menyembunyikan sesuatu, lalu tak urung ia mengangguk kan kepala.

"Baiklah. Bibi boleh pulang." Ucapnya dan langsung menapaki anak tangga menuju kamar Livia.

...*****...

Angga mengetuk pelan pintu kamar istrinya. Setelah beberapa kali tak ada jawaban, perlahan ia meraih gagang pintu dan tertahan.

Livi mengunci pintu?

Angga segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor istrinya. Ia merasa ada yang tidak beres. Bukan kebiasaan Livi mengunci pintu kamarnya seperti ini.

Saat panggilannya tak mendapat jawaban. Angga mematung sesaat di depan kamar istrinya.

Benar sudah tidur kah Livi?

Angga segera masuk kedalam kamarnya sendiri kala teringat suatu hal. Ia segera membuka laptop miliknya dan segera memutar CCTV yang terpasang di sudut sudut ruangan apartemennya. Matanya awas dalam melihat dimana awal mertuanya memasuki ruang tamu dengan sikap yang begitu terlihat angkuh, dengan memindai keseluruhan ruangan.

Mata Angga semakin menajam saat melihat pergerakan Livi yang datang. Dan tak lama ibu dan anak itu sepertinya tengah bersih tegang. Hingga sebuah adegan tamparan yang dilayangkan Maya ke arah Livi membuat mata Angga berkilat penuh amarah. Punggungnya menegang seketika. Tangannya terkepal menahan amarah.

Hingga tak lama jantungnya yang berdetak tak berirama kini mulai merasakan sakit tak terperi saat melihat tubuh istrinya duduk meringkuk di lantai. Entah apa yang telah diucapkan Maya hingga membuat tangis Livi pecah sedemikian rupa, sesaat sebelum kepergian Maya. Sedangkan saat mendapat tamparan Livi terlihat tak menangis.

Sebongkah rasa bersalah dan penyesalan mulai merambati hatinya. Akibat terlalu gila kerja, membuat dirinya terlupa dengan istrinya yang sedang menunggunya dirumah dan tak bisa melindungi sang istri saat kejadian penamparan terjadi.

Angga merutuki kebodohannya sendiri. Laki laki itu meremas rambutnya penuh ftustasi.

Maafkan aku Livi, maafkan aku.

...*****...

Alarm yang berdering dari ponselnya membuat tubuh Livi yang bergelung di dalam selimut tebal menggeliat. Matanya mengerjab perlahan menyesuaikan cahaya matahari yang menyusup dari celah gorden kamarnya. Ia lantas mendudukkan diri, saat hendak menguap ia menyentuh pipinya yang masih terasa sedikit ngilu. Air matanya kembali merembes saat teringat kejadian semalam dimana mendapat tamparan keras dari sang Mami.

Ia segera menyeka air matanya saat teringat Angga, yang sejak semalam ia abaikan. Segera ia meloncat menuju pintu dan mengintip ke arah sebrang kamarnya. Ia bernafas lega ketika melihat pintu kamar suaminya masih tertutup. Segera dirinya menuju kamar mandi lalu bergegas menyiapkan keperluan suaminya untuk pergi ke kantor.

Setelah membersihkan diri dan bersiap ia mengetuk pelan kamar Angga dan membukanya perlahan saat tak mendapat jawaban. Livi mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar saat tak menemukan suaminya disana. Ia lantas segera menuju lantai bawah.

Livi mendekat saat melihat suaminya sudah duduk di meja makan dengan segelas kopi ditangannya. Laki laki itu tengah serius menatap layar digital di depannya.

"Selamat pagi!" Sapa Livi lalu mendudukkan diri di kursi sebelah Angga.

Angga mengalihkan pandangannya dari layar digital itu beralih ke wajah cantik istrinya yang yang sedikit terganggu oleh mata sembab. Ia menajamkan tatapannya saat menemukan memar disudut bibir Livi yang sepertinya telah ditutupi sapuan bedak oleh Livi.

"Selamat pagi. Tidurmu nyenyak?" tanyanya basa basi.

Livi mengangguk. "Maaf tadi malam tidak menunggumu pulang."

"Tidak apa apa, aku memang pulang larut malam." Balas Angga kemudian meletakkan layar digital di sebelahnya dan mengambil piring berisikan nasi goreng yang disodorkan oleh Livi kearahnya.

Hening. Suasana pagi ini terasa begitu canggung saat keduanya terdiam. Tapi lebih melegakan Livi saat suaminya tak menanyakan perihal kejadian semalam yang artinya Angga tidak tahu menahu tentang hal itu.

"Aku dengar kemarin Mami datang?" Angga yang semula terdiam kini melempar pertanyaan yang membuat Livi secepat kilat memfokuskan pandangannya ke arahnya.

"I-iya kak, kemarin Mami mampir kesini sebentar." Ucapnya gugup lalu beralih menatap Bi Sarah yang sedang menuang air ke gelas tuannya dengan tatapan mencari tahu. Mungkinkah Bi Sarah mengatakan semuanya. Wanita tua itu menundukkan pandangannya. Ia hanya takut dan tak ingin terlibat dengan masalah yang menimpa majikannya.

"Bagaimana kabar Mami dan Papi? Sejak kita menikah belum pernah kita berkunjung kesana."

"Me-mereka baik baik saja kak, Papi masih di luar negeri. Masih ada urusan disana jadi hanya Mami yang pulang." Ucap Livi yang masih tak bisa menyembunyikan kegugupannya.

"Selesai sarapan, ayo ikut dengan ku ke kantor. Temani aku bertemu dengan client." Pinta Angga.

Livi tak membantah, wanita itu hanya mengangguk dan segera menyelesaikan sarapannya lalu segera bersiap mengikuti suaminya.

...*****...

Angga dan Livi sudah berada di dalam mobil yang mulai melaju memecah padatnya jalanan. Tak ada percakapan sejak memulai perjalanan. Keduanya terdiam dengan pikiran masing masing. Angga yang sejak semalam menahan segala emosi yang mendera hatinya atas apa yang terjadi dengan Livi dan bertambah jengkel lagi ketika Livi sama sekali tak ingin menceritakan apapun tentang apa yang dialami.

Entah kenapa Angga tiba tiba tidak suka ketika Livi menutup nutupi apapun dari dirinya. Mengingat dulu, Livi selalu cerewet menceritakan segala ini itu, menangis dan tertawa kepadanya. Tapi kenapa setelah menikah dan setelah kesepakatan beberapa waktu lalu untuk keduanya mencoba saling memberi kesempatan dalam membina rumah tangga mereka, sekarang Livi malah tak bisa terbuka seperti dulu.

Kediaman Livi sejak tadi akhirnya terusik dengan berbeloknya mobil Angga menuju jalan utama perumahan elit yang begitu ia kenali. Ia menatap penuh tanya pada Angga.

"Kita mampir ke rumah orang tua kamu dulu." Ujar Angga sebelum istrinya bertanya.

"Ngapain kak? Gak usah lah. Lagian Mami dama Papi gak mungkin ada dirumah." Tolak Livi.

Angga hanya menatap sekilas istrinya dengan senyum dibibirnya dan tetap melajukan mobilnya. Hingga tak lama ia menghentikan mobilnya tepat dihalaman rumah yang begitu megah dan sangat mewah. Berarsitektur bangunan Eropa dengan sentuhan modern. Dengan pilar pilar tinggi dan besar menjulang tinggi menyangga atap bangunan. Jendela jendela besar yang hampir memenuhi bagian depan bangunan terlihat sungguh indah.

"Ayo, kita turun." Ajak Angga saat Livi hanya bergeming ditempatnya.

Livi tak membantah, ia pun segera turun dan mengikuti langkah Angga memasuki rumahnya sendiri.

...*****...

"Papi!"

Livi berseru riang sesaat memasuki rumahnya, ia mendapati pria paruh baya bertubuh sedikit gemuk itu tengah duduk di sofa tunggal ruang tamunya. Pria itu adalah Gunawan Baskoro, ayah dari seorang Livia.

Gunawan meletakkan layar digital yang tengah ia baca ke atas meja, kemudian berdiri menyambut putrinya yang langsung merangsek kedalam pelukannya.

"Anak Papi. Bagaimana kabar mu nak?" Gunawan membalas pelukan Livi lalu mengecup pucuk kepala Livi dengan sayang. Ia mengeratkan pelukannya sebelum menghela tubuh putrinya. Menatap wajah yang sangat ia rindukan. Hampir lima bulan yang lalu ia tak bisa melihat wajah anak semata wayangnya karena kesibukannya di dunia bisnis.

Anak dan ayah itu larut dalam obrolan ringan untuk saling melepas rindu, dan mengabaikan sosok Angga yang hanya berdiri di tempatnya sambil memperhatikan sang istri yang kali ini terlihat amat bahagia.

"Angga, kenapa diam disitu. Kemarilah!" Gunawan yang telah menyadari keberadaan menantunya segera menggiring ke arah sofa. Sedang Livi yang sudah teramat sangat bahagia bisa bertemu sang Papi, ia seolah melupakan suaminya. Wanita itu terus menempel pada Ayahnya. Bergelayut manja di lengan Gunawan.

"Kenapa sepagi ini berkunjung? Papi bisa melonggarkankan jadwal untuk kita bisa makan malam bersama." Ujar Gunawan.

Angga hanya mengangguk sopan karena tujuannya datang ke rumah ini bukan hanya sekedar berkumpul. "Tidak apa apa Pi. Kebetulan jadwalku sedang longgar dan kebetulan juga Papi sedang ada di rumah, jadi aku memutuskan untuk datang."

"Makasih ya kak, sudah bawa aku kesini. Aku kira Papi masih diluar negeri. Aku senang sekali bisa bertemu Papi." Ujar Livi dengan riang.

"Sesenang itu kamu bertemu dengan Papi tapi dengan Mami kamu seolah ingin segera pergi, Livi." Maya yang terlihat berjalan menuruni tangga, segera membuyarkan aura bahagia di ruang tamu itu.

Wanita itu lekas ikut bergabung dengan keangkuhan yang selalu menghiasi wajahnya. Ia menduduki Sofa tunggal yang berhadap hadapan dengan Angga yang hanya terhalang meja.

Angga menatap datar ke arah Maya, namun sorot matanya menyimpan rasa tidak suka pada wanita itu. Ingatannya kembali memutar sekelebat bayangan tamparan keras yang Maya layangkan pada istrinya.

"Ahh.. Angga! Bagaimana pekerjaan mu di kantor?" Gunawan memecah ketegangan yang sesaat menguar. Memilih mengabaikan kalimat sindiran Maya yang merusak suasana.

"Pekerjaan saya baik baik saja Pi, dan untuk saat ini saya juga tengah bekerja sama dengan kak Akbar untuk membangun perusahaan baru." Balas Angga.

Maya berdecih, tersenyum remeh dengan sorot mata menghina pada Angga, dan hal itu membuat Gunawan memusatkan pandangannya pada sang istri. Matanya menyiratkan makna agar istrinya lebih baik untuk diam. Dan semua itu tak luput dari pengamatan Angga dan Livi.

Angga masih tenang ditempatnya menanggapi semuanya. Lain halnya dengan Livi yang menatap cemas kearah Sang Mami bergantian menatap Angga dan Papinya.

"Syukurlah jika semua baik baik saja. Jika memang ada kendala. Jangan sungkan untuk meminta bantuan Papi. Papi akan membantu sebisa Papi." Gunawan mencoba sebijaksana mungkin dalam ucapannya.

Angga hanya mengangguk. "Terima kasih Pi, tapi sejauh ini pekerjaan saya baik baik saja." Lalu memandang wajah istrinya yang berubah pucat sejak kedatangan Maya.

"Bagaimana sayang? Pernikahan kamu? Kamu bahagia bukan? Papi ingin selalu kamu bahagia nak?" Ujar Gunawan menatap sayang ke arah Livi.

Tatapan sayang yang didominasi rasa bersalah yang selalu pria itu berikan. Karena jauh dalam hatinya ia teramat merasa bersalah dengan selalu meninggalkan Livi dengan segala urusan bisnisnya. Tak bisa merawat anak semata wayangnya. Tak selalu ada untuk Livi. Sebenarnya dirinya sama saja dengan Maya, namun ia tak sekeras Maya dalam memperlakukan Livi. Pria itu tak banyak menuntut dan malah selalu memberikan kasih sayang diwaktunya yang sedikit sekali untuk berkumpul seperti saat ini.

"Aku baik baik saja Pi. A-aku bahagia dengan pernikahan ku." Jawab Livi dengan suara bergetar. Dalam hatinya ia masih tidak bisa menyimpulkan kebahagiaan seperti apa yang tengah ia rasakan sebenarnya.

Gunawan mengangguk anggukkan kepala sambil tersenyum. Dalam hatinya bersyukur Livi dapat menikah dengan Angga, yang ia tahu laki laki itu sejak dulu selalu menjaga dan melindungi Livi.

"Angga, Papi minta dengan sangat. Tolong jaga putri Papi dengan segenap jiwa raga kamu. Papi hanya ingin dia tersenyum bahagia dalam hidupnya." Ucap Gunawan penuh rasa haru.

Angga mengangguk lalu menatap ke arah Gunawan. "Saya akan selalu melindungi dan menjaga Livi dengan baik. Dan saya tidak akan tinggal diam jika seorang berani beraninya menyakiti istri saya." Ucapnya yang diselimuti geraman.

Pandangan mata Angga seketika beralih menatap tajam kearah Maya. "Apalagi sampai ada yang berani menyentuhkan tangannya untuk menyakiti istri saya." Ucapan itu Angga lontarkan pada Maya yang pada saat itu langsung di dera kecemasan saat pandangan Angga lebih lebih Gunawan tajam menusuk kearahnya.

Sedangkan Livi, wanita itu didera keterkejutan saat kalimat penuh peringatan itu terlontar dari bibir suaminya. Livi menatap Angga penuh tanya dan kecemasan.

Apa mungkin kak Angga tahu jika Mami telah menamparku?

Angga menatap lembut ke arah Livi sebelum meneruskan kalimatnya kembali. "Saya tidak akan tinggal diam pada siapapun itu. Siapa pun!" Sambungnya penuh penekanan.

...****...

1
senja indah
torrr...apa g ada pgn bikin cerita ank kembar mereka hhh
senja indah: penasaran kisah mereka...LunaYumi
total 3 replies
Kaira Caem
aku yg gc nyambung apa cerita nya yaaa,,,kok tiba2 uda nikah aja gimana sih
AZura Hasan
👍👍👍👍👍
AZura Hasan
makin seru aj
AZura Hasan
perasaan gk bisa di paksakan
Regita Regita
kita tidak bisa menghujat atau menyalahkan Angga,karena kita ridak bisa memaksa atau mengatur perasaan oranglain.Angga yang sudah sangat lama berada dalam zona persahabatan dan menganggap Livi sebagai adiknya yang selalu ingin Angga lindungi,mesti merubah perasaannya menjadi cinta kepada Livi sementara Angga sangat mencintai Alya walaupun Angga juga sadar kalau sudah tidak mungkin untuk memiliki Alya.Angga ada pada titik bingung memastikan perasaannya pada Livi. seperti apa yang Akbar bilang pada Alya,seandainya Akbar jadi menikah dengan Livi,mungkin keaadaannya akan sama seperti Angga,Angga akan tetap mencintai Alya walaupun sudah menikah dengan Livi. ya...akhirnya kembali bahwa kita tidak bisa mengatur atau memaksa perasaan orang lain untuk memilih.kita kembalikan kepada Allah yang Maha membolak balikan hati manusia. karena ini dunia halu,kita kembalikan pada AUTHOR yang mengatur segalanya.semangat Author...ceritamu The Best.tetap semangat,semoga makin banyak yang baca.bunga dan kopi meluncur....💖💖💖
Shalsyalala: Huuu terharuuu kalau ada pembaca kayak kakak giniiii❤️❤️
total 1 replies
Regita Regita
sepertinya Vero,Nisya dan Dipta berkomplot untuk mengahancurkan rumahtangga Angga dan Livi...
Regita Regita
ceritanya bagus,tapi yang baca masih sedikit padahal udah lama ya? apa belum banyak yang menemukan judulnya,sama kaya aku yang baru menemukan dan langsung mampir.semangat kak...semoga makin banyak yang baca.
senja indah
ini cerita super keren tpi kok like y g ada ratusan....oh no...tetap semangat berkarya otor soleha
senja indah: aku.baca udah 2 kli torr...superrr keren...tpi sedih bgt...knpa readers y dikit bgt yaaa
total 2 replies
ani suchaeni
bagussss, alur ceritanya
Shalsyalala: makasih kak udah mau baca😍😍
total 1 replies
Fransiska Siba
makan itu kebodohan mu Livia, coba kau tidak memberi cela Vero dlu maka tidak akan sepeti itu
Fransiska Siba
itulah Alya ga peka perasaan org lain, pengen dia yg dimengerti terus
Shalsyalala: Jangan lupa baca kisah Alya juga ya kak 😘
total 1 replies
Fransiska Siba
untung Livia tidak salah dalam pergaulan di luar negeri ya krn tidak mendapat sandaran hidup. ini yg aku suka dari Livia dia bisa membatasi diri dalam bergaul dan dia mempunyai cita2 sederhana yaitu menjadi ibu yg baik dan istri yg baik, dia tidak mau mengulangi kesalahan org tuanya dikemudian hari, dia tidak mau menjadi seperti org tuanya, dia tidak mau anak2 nya merasakan apa yg dirasakan olehnya dlu.
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
Fransiska Siba
tp jujur aku lebih suka Livia dibandingkan dengan Alya, Alya banyak teman tp kesan murahan dan kurang peka perasaan org sekitarnya.
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
Mega Chai
ortua yg keras n memaksa anak untuk jadi no 1 seperti ortua livia adalah ortua yg akan membuat anak nya frustasi, didunia nyata utk org2 yg sudah jadi ortua,semoga kita semua tidak menjadi ortua seperti ortua livia,mw prestasi anak seperti apa pun kita harus ttp memberikan anak semangat utk menjadi lbh baik lagi bukan malah memaksa anak,krn sebagai anak pun mereka sudah berusaha utk mendapatkan prestasi yg terbaik,kita pun pernah diposisi anak kita dulu sebagai pelajar,
Shalsyalala: hai kakak salam kenal. Makasih ya sudah mau baca karyaku🤗
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Shalsyalala: makasih dukungannya kak
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!