Pernikahan yang terjadi karena kesepakatan membuat hubungan itu harus di rahasiakan.
Namun seiring berjalannya waktu kabar pernikahan itu akhirnya pun banyak yang mengetahui.
Hidup bersama tanpa cinta hanya akan menyakiti hati satu sama lainnya.
Bagaimanakah kelanjutan rumah tangga mereka?
Akankah cinta bisa tumbuh diantara keduanya?
Atau malah harus berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfin Maghfiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bagaikan tersambar petir di siang hari, hati Abi koyak bagai tersayat pisau tajam.
Badannya yang kekar dan berotot kini menjadi lemah dan tak berdaya.
Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya hingga ia terjatuh ke lantai.
Matanya memang tidak mengeluarkan air mata namun raut kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
Kabar kematian adiknya dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kota.
Semua rekan bisnis dan para petinggi kota datang ke rumah Abi untuk menyampaikan rasa bela sungkawa mereka, termasuk semua karyawan kantornya tak terkecuali Wulan.
Setelah semua proses di lakukan kini tiba saatnya untuk memakamkan jenazah Olivia.
Raut wajah Abi terlihat kosong, bagaimana tidak ini adalah kali ketiganya pergi ke pemakaman umum mengantarkan anggota keluarganya ke peristirahatan terakhir.
Semua orang bertanya-tanya bagaimana bisa adik Abi meninggal di usia muda.
Selama ini yang publik tau adik Abi sedang berada di luar negri untuk menempuh pendidikan.
"Aneh, kenapa sebab kematian adiknya tuan Abi tidak ada yang tau ya?" Tanya salah seorang pelayat
"Katanya dia meninggal di rumah sakit" jawab pelayat yang lainnya
"Ya, aku juga denger gitu. Emang adiknya tuan Abi sakit apa ya?"
"Entah lah, banyak yang penasaran tapi yang seperti kita tau tuan Abi memang sangat tertutup soal adiknya"
"Hm... iya juga ya"
Wulan sedari tadi mendengar banyak pertanyaan dari orang orang di sekitarnya.
"Olivia meninggal, bagaimana dengan bayinya? Apa bayinya juga meninggal?" Batin Wulan
"Hei Lan, kamu kenapa bengong gitu?" tanya Revi
"Ah tidak" elak Wulan
"Lagi mikirin apa?"
"Ga ada, aku ga mikirin apa apa kok. Cuma aku kasihan aja sama tuan Abi"
"Ya benar. Tuan Abi pasti sangat terluka, dia kan sayang banget sama adiknya. Eh siapa nama adiknya, aku lupa"
"Olivia" kata Wulan
"Ya bener. Eh kok kamu tau, aku kan belum pernah cerita soal adiknya tuan Abi sama kamu" tanya Revi curiga
"E... Ya aku tau dari yang lain lah. Emang siapa coba yang ga tau nama adiknya tuan Abi"
"Em iya juga ya"
"Sudah jangan ngomong terus, dengerin pak ustad tuh lagi baca doa"
Wulan menyikut lengan Revi agar tak lagi bertanya padanya, Wulan takut dirinya akan keceplosan tentang Olivia.
Abi memang sangat tertutup perihal kehidupan adiknya itu semata demi selamatan nya.
Dokter Rahman adalah dokter yang sudah menangani semua keluarga Abi.
Abi dengan tegas meminta dokter Rahman dan semua pihak rumah sakit untuk merahasiakan penyebab kematian adiknya, termasuk bayi yang sudah di lahir kan.
Rumah sakit pun bersedia menyembunyikan itu, karena Abi mempunyai pengaruh besar di rumah sakit itu.
Selama proses pemakaman banyak wartawan yang meliput, mereka ingin mewawancarai Abi secara langsung.
Abi yang saat ini sedang tidak baik baik saja meminta para pengawalnya untuk mengusir semua wartawan dari sana.
Abi juga meminta pengawalan penuh di rumahnya untuk beberapa hari kedepannya.
Hari pertama sejak kepergian sang adik Abi hanya berdiam diri di rumah.
Ia tinggalkan kantornya dan memilih menyendiri.
Kematian adiknya yang sama seperti kedua orang tuanya membuat Abi trauma akan rumah sakit.
Abi benar-benar sendiri sekarang, seakan dunianya kini sudah berakhir.
Abimana pergi ke bar milik temannya dan menginap di sana selama 3 hari.
Di sana Abi hanya minum minuman hingga mabuk berat.
Ini adalah kali pertamanya pergi minum hingga tidak pulang ke rumah.
Banyak wanita penghibur mencoba mencari kesempatan untuk bisa mendekati Abi.
Namun sayang, meski dalam keadaan mabuk berat Abi tetap tidak bisa termakan rayuan para kupu-kupu malam itu.
"Udah lah bro, gue tau lo emang lagi down. Tapi percuma lo mabuk sampe berhari-hari kek gini, ini ga akan bisa ngembaliin adik lo" ujar Ardi
Abi hanya diam dengan botol minuman di tangan kanannya dan sebatang rokok di tangan kirinya.
Perkataan Ardi hanya masuk dari telinga kanan dan keluar lagi dari telinga kirinya.
"Gue ga tau harus apa, bahkan minuman ini pun ga bisa buat aku lebih tenang" sahutnya
"Eh mau gue kasih tau sesuatu, gue jamin lo pasti akan merasa lebih santai"
Abi melirik Ardi dan melihat sesuatu di tangannya, sebuah plastik kecil yang berisi bubuk putih.
Ardi menawari Abi untuk mencoba narkoba, bukannya tergiur Abi langsung merampas dan membuangnya ke lantai.
"Goblok!! Lo goblok kalo lo minum itu!" bentak Abi
"Trus lo maunya apa, hah? Gue kasih cewe lo tolak, gue kasih narkoba juga lo buang. Mau minum sampe berapa ratus botol lo di sini?"
Abi membuang botol minumnya ke lantai lalu beranjak dari kursinya.
"Abi, lo mau kemana?" tanya Ardi
"Ke neraka" jawab Abi sambil terus berjalan keluar
_____
Hari hari Abi kini terasa sangat hampa.
Ia hanya berdiam diri di rumah dan duduk melamun saja.
Toktoktok....
Terdengar suara dari balik pintu, dia ternyata Rendy.
Rendy datang dengan membawa beberapa berkas untuk Abi tanda tangani.
Rendy juga menyampaikan beberapa poin hasil meeting dan meminta pendapat Abi, namun Abi mempercayakan semuanya pada Rendy.
Rendy sungguh tak tega melihat tuannya yang semakin larut dalam keterpurukan.
Apa lagi di rumah besar ini Abi hanya tinggal sendirian.
"Maaf tuan jika saya lancang berbicara, tapi kalau boleh saya katakan sebaiknya tuan harus mencari kesibukan agar tuan tidak terlalu merasa kesepian" ujar Rendy
Abi menoleh pada Rendy lalu kembali melihat ke luar jendela.
"Apa tuan sudah mengunjungi keponakan tuan?" tanya Rendy
Abi terdiam, saking terlukanya ia sampai lupa kalau adiknya pergi meninggalkan bayi di dunia ini.
"Saya mengerti tuan sangat sedih dan terluka, tapi tuan harus segera bangkit. Nona Olivia menitipkan putrinya pada tuan" sambung Rendy
Abi bangun dari duduknya dan langsung mengambil jaketnya.
"Siapkan mobil" pinta Abi
"Siap tuan"
_____
Malam itu perlahan pikiran Abi mulai kembali bersih dan ia kini sudah bisa berpikir dengan jernih.
Setelah satu minggu kini Abi baru sempat menemui keponakan nya.
Bersama dokter Rahman Abi di antar ke ruangan khusus untuk menemui bayi Olivia.
"Perkembangannya cukup pesat, dalam satu minggu ini berat badannya sudah naik 8 ons. Dia sudah bisa pulang sekarang jika kamu mau" ucap dokter
"Tidak dok, jangan sekarang. Aku masih belum menyiapkan semua keperluan nya di rumah"
"Baiklah"
Setelah keluar dari rumah sakit Abi langsung meminta Rendy untuk membeli semua keperluan bayi newborn.
Abi mulai menyiapkan kamar khusus untuk menyambut kepulangan keponakannya.
Melihat foto-foto Olivia di sana Abi memandangnya dengan cukup lama, seakan dia bisa berbicara dengan almarhumah adiknya.
BERSAMBUNG
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Kak author selalu di nanti UP karyanya 👍