NovelToon NovelToon
Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan

Status: tamat
Genre:Pengganti / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:803.5k
Nilai: 5
Nama Author: picisan imut

Aku menatap dirinya dalam kedukaan yang tak berangsur mereda. Sebuah kebahagiaan yang hilang dalam sekejap mata membawanya pada hari-hari penuh awan hitam.

Dimana pendar mentari yang selama ini menghiasi paras manisnya, berganti hujan yang tak pernah selesai.

Ayudia... gadis itu meraung-raung di atas pusaran suaminya yang pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan benih dalam kandungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pengakuan yang masih terpendam

Ilyas menekan bagian tengah Frame yang membingkai dua kaca minusnya. Pemuda itu kontan membisu, berusaha mengusir perasaan takut yang mulai berkecamuk. Tidak mudah memang menjadi seorang saksi sekaligus korban juga di dalam sebuah tragedi yang bahkan sampai menewaskan temannya sendiri. Lebih-lebih, selama ini ia menganggap perginya Harun akibat menolong dirinya.

Tangan Pria itu bergerak cepat mengemasi barang-barang yang berserakan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Tentu, hal itu pula membuat Ulum mengerutkan kening.

"Nak Ilyas?" Panggil Ulum, kontan menghentikan gerak tangan Ilyas. "Maaf, ya? Mungkin saya salah saat menanyakan hal ini."

Ilyas bergeming, dalam hatinya sedang bertarung. Ingin rasanya ia mengatakan semua hal yang membuatnya terkurung dalam jeruji rasa bersalahnya, dan meminta maaf kepada orang-orang yang menyayangi Harun. Terutama terhadap Qonni, ia sangat ingin bersimpuh dan minta maaf sambil berderai air mata. Namun, bagaimana caranya membuka itu, sementara bibirnya terkunci karena ketakutannya.

Tangan Ulum menyentuh bahu pemuda tersebut. "Maaf, ya. Seharusnya saya nggak bertanya sesuatu yang masih membuatmu trauma."

Kalimat penyesalan Ulum membuat Ilyas menggeleng cepat.

"Nggak, Pak. Bapak nggak perlu minta maaf." Ia berusaha tersenyum, walau hatinya masih di sesaki rasa takut. "Saya emang belum bisa cerita tentang bagaimana situasi saat itu. Karena, setiap kali cerita seolah pikiran saya seperti menarik kembali ke waktu-waktu yang mengerikan itu."

Ulum mengangguk paham. Memang benar, Dia sendiri bahkan tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya ada di posisi saat tangan-tangan bringas itu menghantam tubuhnya seperti samsak tak bernyawa.

"Pak, saya udah selesai," tutur Ilyas yang langsung menggendong tas di salah satu punggungnya.

"Loh, mau buru-buru pulang?" Tanyanya yang mendadak tidak enak hati setelah menanyakan hal tersebut.

"Iya, Pak. Emmmm, inshaAllah semua udah bener kok. Layarnya juga udah nggak mati-matian. Sama Fan cooler-nya udah saya bersihkan, inshaAllah nggak akan gampang panas lagi."

"Begitu ya, sekali lagi terima kasih. Kira-kira berapa ini?"

"Untuk Pak Ulum saya nggak minta bayaran. Alias gratis."

"Eh, jangan gitu." Ulum menahan lengan pemuda tersebut. "Saya yang manggil kamu loh."

"Wallahi, Pak. Saya ikhlas. Niat saya tadi memang mau silaturahim aja, bukan untuk kerja."

"Nggak-nggak, saya tetep bakal bayar. Kamu itu kan jual jasa, jadi tetap saya harus menghargai keahlianmu itu. Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana!" Ulum gegas beranjak dari sana. Meninggalkan pemuda yang nampak lesu sambil memegangi salah satu selempang tas ranselnya di bahu.

Andai aku bisa bercerita. Apa aku akan tenang, tapi bagaimana kalau mereka nggak mau menerimanya. Dan, apa benar semua memang kesalahanku?

Kedua netranya sedikit berkabut. Ilyas merasa kecewa pada sikap pengecutnya ini. Seperti bukan laki-laki beriman saja yang bisanya kabur dari masalah dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Langkahnya terayun pelan, keluar dari ruangan tersebut, menyusuri dapur dan terhenti saat di depan pintu keluar.

Perempuan pemilik wajah sendu itu kini ada di depan mata, sama-sama tertegun karena terkejut. Ia pikir Ilyas sudah di luar karena tadi mendengar suara Ayah masuk ke dalam kamar, rupanya belum.

Pemuda itu mengangguk sekali sebelum melewati Qonni sambil memejamkan matanya dan berhenti beberapa langkah dalam posisi saling memunggungi. Bahkan sampai pikirannya berkelana, ia justru melamun di depan pintu setelah perempuan itu tetap memutuskan masuk ke dapur.

Dalam diamnya, ia sedang merancang kata yang pas sambil menunggu Qonni keluar.

"Ayu, aku mau minta maaf kepadamu."

Qonni sendiri bingung, kenapa Ilyas tiba-tiba meminta maaf padanya? Apa karena dia yang membeli tiket pertandingan bola? Sehingga Harun jadi bersemangat sekali untuk menonton pertandingan tersebut secara langsung.

"Aku minta maaf, Ya. Aku benar-benar merasa bersalah padamu, Ayu." Suara Ilyas mendadak gemetar hingga membuat perempuan itu meremas gelas berisi air hangat dengan kedua tangannya.

Adapun Ilyas sendiri bingung harus memulai pembicaraan ini dari mana. Sementara hidupnya sudah benar-benar berantakan karena ketakutan itu.

"Seharusnya yang di bantai itu Saya, bukan Harun." Ilyas menitikkan air matanya. "Kalau Harun nggak nolongin Saya, mungkin Saya yang mati bukan Dia."

Deg! Tubuh Qonni membeku dengan hati bertanya, apa maksudnya?

"Kalau saya nggak sok jadi penolong. Dan nurutin kata-kata Harun. Mungkin kami tidak akan sama-sama menjadi korban, dan Harun tidak akan terkena pukulan botol di kepalanya. Saya salah, Yu. Saya yang nggak pikir panjang pada saat itu. Padahal, kami sudah mau pulang tapi aku tetap bersikukuh untuk melerai kerusuhan... Hingga akhir Harun harus bertemu ajalnya."

Pyaaaaaaaas . . . Air dalam gelas yang di bawa Qonni tiba-tiba saja menyiram wajahnya dengan gerakan cepat hingga laki-laki itu kontan terdiam, dengan wajah dan kacamata yang basah. Di barengi tetesan air yang berjatuhan dari bagian-bagian yang basah tadi. Pemuda itu siap menerima sumpah serapah dari isteri Harun tersebut.

Sebuah tangan yang menempel di bahunya, tiba-tiba menyadarkan Ilyas jika semua hanya khayalan respon Qonni yang berkemungkinan besar akan ia terima.

Ilyas menghela nafas dan beristighfar. Pemuda itu mengelus dadanya. Dan baru menyadari jika ia sedang melamun sambil merancang kata-kata untuk berbicara pada Qonni.

"Ngelamun apa? Saya sampai takut kamu tiba-tiba diam di sini." Ulum tersenyum sambil mengulurkan satu amplop berisi uang kepadanya. "Saya nggak tau harus kasih berapa. Tapi mudah-mudahan ini nggak mengecewakanmu."

"Pak, Saya beneran nggak meminta bayaran." Lagi-lagi Ilyas menolaknya dengan sopan.

"Kamu emang nggak minta, tapi ini rezeki karena saya menghargai keahlian mu. Jadi ambil aja–" kembali menyodorkan kearahnya walaupun pemuda itu tak sama sekali mengangkat tangan untuk menerimanya selain membalas tatapan Ulum dengan ekspresi sedikit mengiba.

"Pak, kalau boleh jujur saya itu kesini bukan untuk bekerja. Melainkan, ingin melihat kondisi Ayudia."

Ulum bergeming, tangannya yang terulur kembali ia turunkan pelan.

"Saya simpatik padanya. Dan amat mengkhawatirkan Dia. Itulah kenapa saya sangat antusias untuk datang kemari saat bapak meminta saya untuk main dan melihat kondisi komputer milik Bapak."

Pria paruh baya itu berdeham sebelum melangkah. "Ayo sambung bicaranya di luar," bisiknya sambil menepuk pundak pemuda tersebut.

Ilyas yang kembali terdiam hanya mengangguk sebelum membalik badan menyusul Fatkhul Qulum keluar. Adapun Qonni nampak tertegun, duduk di kursi makan sambil meremas gelas di atas meja dengan kedua tangannya.

1
Anjellita
aku sudah otw thor
moga bisa up teratur
Wisang Geni
Alhamdulillah, setelah beberapa purnama akhirnya bisa melepas rindu pada othor ustadz Irsyad 😍😍😍
Ai yuli
jazakillah,,neng imut,
g kerasa dah abis aja,
semangat bikin cerita baru lagi ya
Ai yuli
bajagiaanyaa kaka beradik ini,
Ai yuli
alhamdulilah dapat ilmu lagi dengar kajiannya ustadz irsyad.makasih thor
Ai yuli
hmm ademnyaa,,banyak banget pelajaran yg bisa di ambil buat pasangan dalam RT,sehat selalu neng imut.
Ai yuli
alhamdulilaah,,sabar yg membuahkn hasil yg manis
Ai yuli
sakit banget rasanya,,tapi ilyas se iklhas itu meski yg disebut selalu nama masa lalu nya Qonni,
Ai yuli
cinta oh cinta,g ada yg bisa nebak seperti apa kedepannya,
yg tadinya kekeh nolak malah sekarang mulai merasakan cinta yg menguat,
Ai yuli
hmm kangen sama rahma&irsyad,
Ai yuli
berkat ke iklhasan&ketulusan ilyas membuahkan hasil yg amat luar biasa
Ai yuli
alhamdulilah, makasih neng udah bikin cerita yg selalu diselipin kisah2 dari lara rosul kita,walau belum bisa memcontoh minimal tau&bisa jadi pengingat diri,🙏👍
Ai yuli
jangan sampe atuuh Qonni kehilangan suami yg kedua x nya mana udah mulai ada rasa lagi,
Ai yuli
masya allah,beekah selalu neng imut,
Ai yuli
😭😭
Ai yuli
dah mulai normal,alhamduliah.
Ai yuli
nah kan sekarang mulai g rela ada cewek lain yg cinta banget sama suami kamu
Ai yuli
ya allah se iklhas itu ilyas mencintai Qonni,sampe bilang walau cukup jadi suami di dunia jika kelak Qonni leboh milih harun,,aku nangis bagian itu nya,😭😭
Ai yuli
si ilyas ada2 aja masa harun persi sushet,😂😂
Ai yuli
ya allah paak ko gitu amat ya,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!