Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awan pergi tanpa pamit
Awan masih enggan keluar kamar ia benar-benar malu dengan sifat orang tuanya yang suka pamer bahkan mau keluar rumah saja ia merasa malu pada tetangga karna ulah orang tuanya itu. Semua tetangga sudah mengetahui kalau Pak Alam dan Mama Andin akan berbesan dengan orang kaya bahkan mereka bilang kalau mobil yang dipakai Awan adalah mobil pemberian calon besannya.
Di saat Awan tengah sibuk dengan pikirannya
Senja menelponnya meminta Awan untuk segera menjemputnya. Tanpa pikir panjang lagi Awan bangun dan pergi. Ayah dan Mamanya memanggil Awan tetapi Awan terus berjalan tidak mau mendengar Ayah dan Mamanya. Awan pergi tanpa pamit pada mereka.
Pak Awan dan Mama Andin meneriaki Awan tapi Awan sudah menjauh dan tidak mau menoleh ke arah mereka. Hati Awan sedang panas semakin hari sikap orang tuanya semakin menjengkelkan saja.
"Yah, sepertinya Awan sangat marah pada kita. Bagaimana caranya agar ia tidak marah lagi Yah?" tanya Mama Andin kuatir dengan kondisi Awan seperti itu.
"Ayah sih masa bodoh saja, biarin saja. Nanti dia juga baik sendiri kok. Anak begitu jangan di manjain nanti dia ngelunjak," ujar Pak Alam.
"Tapi Yah, Awan anak kita satu-satunya. Mama gak mau Awan pergi Yah," lirih Mama Andin mulai mewek.l
"Dia tidak akan lama kok perginya Ma, paling ntar sore balik," ucap Pak Alam menghibur istrinya.
"Mudah-mudahan saja, tapi kalau tidak? Ayah harus tanggung jawab! cari Awan sampai ketemu dan bawa pulang dia," pinta Mama Andin.
"Mama gak usah kuatir, kemana lagi Awan akan pergi dia tidak akan pergi lama kok Ma. Gak usah pikir macam-macam deh," ucap Pak Alam mengingatkan.
Mama Andin terdiam ia merasa sedih karena Awan sudah pergi dari rumah tanpa pamit lagi ia takut kalau Awan akan kabur dari rumah.
"Awan maafin kita, kita tau kamu malu karena sikap kita. Tapi kita gak mau terus-terus dihina oleh warga Wan, Mama pamer ini, itu karna biar tetangga gak merendahkan lagi bilang kita miskin terus," lirih Mama Andin.
Ternyata Awan pergi ke rumah Senja untuk menjemput Senja, mereka akan pergi ke toko buku hari itu. Senja merasa senang bisa selalu bersama Awan. Tapi Awan saat itu tampak sedih karna selalu teringat dengan sikap orang tuanya.
"Mas, kamu kenapa diam terus dari tadi wajah kamu juga tampak sedih ada apa Mas?" tanya Senja yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Awan.
"Tidak apa-apa Sayang, aku cuma ada masalah sedikit dengan orang tuaku," jawabnya.
"Kalau boleh tau masalah apa sih?"
"Hem, biasalah masalah keluarga. Kita mau turun dimana?" ucap Awan mengalihkan pembicaraan.
Senja menarik napas panjang, "Ya sudah, kalau gak mau cerita gak apa-apa tapi wajah itu jangan murung terus dong ... gak enak lihat nya," ujar Senja meledek.
"Hem iya. Maaf membuatmu gak nyaman," Awan mencoba untuk terseyum ke arah Senja.
"Nah, gitu dong ... kan cakap kalau gitu. Aku gak mau lihat kamu sedih Mas, apapun masalah kamu ceritakan saja sama aku. Barangkali aku bisa bantu kamu," ucap Senja menoleh ke arah Awan.
"Gak perlu Sayang, aku gak mau bikin kamu terbawa ke masalahku."
"Gak apa-apa kali, kita harus bisa saling berbagi. Sebentar lagi kita akan tunangan itu artinya aku akan jadi milikmu dan sebaliknya. Kamu jangan sungkan lagi berbagi dengan ku Mas," ucap Senja.
"Makasih atas perhatiannya Sayang, aku beruntung dapat pacar sebaik kamu perhatian dan baik hati," puji Awan pada Senja.
Senja pun tersipu malu mendengar pujian Awan padanya.
"Ngmong-ngomong kita udah sampai nih, ayo kita turun aku temani kamu ya?" ujar Awan sambil menoleh ke arah Senja. Ia membuka pintu untuk Senja.
"Makasih Mas," ucap Senja.
Sebenarnya Mas Awan ada masalah apa ya? kok dia gak mau cerita sih, batin Senja masih penasaran.
"Sayang, kamu mau cari buku apa?" tanya Awan mengalihkan perhatian Senja yang masih mematung memandangi Awan.
Awan sudah memulai memilih buku tapi Senja masih terdiam. Ia tersentak saat Awan memanggilnya. "Kok bengong?" tanya Awan.
"Hem, iya nih aku masih bingung mau cari buku apa lagi," Senja pun mulai mengambil beberapa buku dan ia juga menawarkan pada Awan beberapa buku novel romantis.
"Ini bagus untukmu kamu baca nya!" pinta Senja.
"Gak usah deh, aku gak suka baca."
"Harus baca! asyik tau baca novel apalagi tentang cinta, aku yang bayar udah ambil aja ya," pinta Senja memasang senyumnya.
"Ya sudah aku ambil dua aja gak usah banyak-banyak," ucap Awan menerima buku itu.
"Iya deh," Senja terseyum.
"Aku udah selesai bacanya itu novel bangus banget lho kamu juga harus baca!" pinta Senja.
"Iya ntar aku baca," sahut Awan datar.
Awan melirik buku-buku yang dibeli Senja begitu banyak dan tebal-tebal semua.
"Itu buku apa sih?" tanya Awan heran melihat buku yang di ambil Senja begitu banyaknya.
"Ada buku pelajaran sains, ilmu kedokteran, ada juga buku novel dan komik lengkap deh, aku itu suka koleksi buku-buku Mas, gak cuma sekedar koleksi sih, di baca juga."
"Banyak amat, tebal-tebal lagi mampu bacanya segitu?" tanya Awan kagum.
"Mampu dong. Aku kan orangnya suka baca."
"Oh begitu," sahut Awan salut.
Mereka sudah selesai memilih buku dan pulang.
Awan menyetir dengan pelan karena di jalan lagi macet. Saat itu di kejauhan ia melihat mobil angkot Ayahnya. Ia berpura-pura mengambil jalan lain. Untung saja Senja tidak sadar karena asyik baca buku yang baru saja di belinya tadi. Saking tidak sabarnya ingin mengetahui isinya ia membaca buku Novel yang berjudul Pernikahan Tanpa Restu, hingga ia tidak melihat kalau barusan angkot Ayah Awan melewati mereka dan untungnya juga Pak Alam tidak menyadari kalau yang barusan ia lewati itu mobil Awan.
"Hiks, ceritanya sedih banget tapi seru deh, aku gak sabar ingin bacanya sampai habis," ujar Senja semangat.
Awan cuma mendengarkan saja. Ia melihat mobil ayah masih di depan sedang berhenti di sebuah bengkel ia pun memutar balik mobilnya dan pergi kearah taman yang kebetulan sudah mereka lewati.
"Lho kok balik Mas?" tanya Senja baru sadar.
"Hem, aku lupa beli sesuatu. Awan segera turun di sebuah supermarket membeli dua minuman segar untuknya dan Senja. Setelah itu Awan berniat akan mengajak Senja istirahat di sebuah taman yang kebetulan tidak jauh dari supermarket itu untuk menunggu mobil ayahnya menjauh.
Ayah ngapain ya? batin Awan bertanya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar dan ada pesan masuk dari Mamanya, Awan membaca pesan singkat itu.
📩 Awan kamu kemana? pulang Nak, kasian Ayah mencari mu keluar.
Ayah mencari aku, Awan sedikit terseyum ia pun mengabaikan pesan dari mamanya itu dan sengaja tidak mau membalasnya.
Sementara Awan mengajak Senja istirahat di taman dengan senangnya Senja ikut turun dan langsung menuju kursi yang ada di taman itu, ia duduk sambil membawa buku yang barusan di belinya tadi. Awan ikut duduk sambil menatap Senja.
.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir