Update setiap hari
Ketika pacarnya mengkhianatinya, cahaya kehidupan seolah musnah dalam kehidupan Anna. Untuk membalas dendam mantannya, gadis yang masih SMA itu rela mengorbankan diri menggantikan posisi Kakaknya yang menolak perjodohan ayahnya. Beberapa hari sebelum hari pengumuman kelulusan sekolah, Anna bahkan sudah menyandang status istri Allan, keturunan pengusaha sukses. Anna berpikir bahwa dia akan menemukan kebahagiaan dan dendamnya terbalaskan, namun ia tidak tahu rahasia yang suaminya simpan rapi. Anna butuh bukti akurat untuk memastikan bahwa kecurigaannya tentang suaminya adalah benar. Sayangnya tidak akan mungkin ada kata perceraian antara Anna dan Allan karena adanya kesepakatan hitam diatas putih sebelum pernikahan berlangsung, yang salah satunya menyatakan kalau Anna dilarang meminta cerai dari Allan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersedu
Sebenarnya sekarang siapa sih yang mau menikah? Alan atau William? Alan masuk ke kamar dan langsung meraih kimono. Kemudian menuju kamar kecil untuk mandi.
Ia benamkan tubuhnya di bathtub dengan mata terpejam. Sejenak memanjakan diri setelah membiarkan tubuhnya lelah seharian. Aroma sabun membuatnya rileks. Ia abaikan ponselnya di kamar yang terus berdering, tak henti urusan kerja menerornya.
Pikirannya entah kenapa tiba-tiba menerawang ke urusan pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung. Artinya ia akan melepas masa lajang. Sanggupkah ia menjadi seorang imam dalam rumah tangga?
***
“Huhuuuu...” Anna membenamkan wajah di kedua lutut yang dipeluk tangannya sendiri.
“Udah dong, An. Udah hampir sejam loh Anna nangis. Entar mata Anna bengkak. Kalau ketahuan Ayah, gimana? Bingung kan mesti jawab apa. Nggak lucu kalau Kakak bilang Anna nangis gara-gara mergokin pacar Anna mesum sama selingkuhannya. Nanti Anna bisa diiket di pohon duren belakang rumah gara-gara ketahuan pacaran.” Angel mengelus punggung Anna. “Buat apa juga cowok resek kayak Rafa ditangisin. Sayang kan air mata Anna dibuang-buang buat cowok nggak penting itu. Mendingan disimpen pas hari pernikahan Kakak.”
Anna spontan berhenti menangis, mengangkat wajah dan menatap Kakaknya. “Kenapa Anna mesti nangis di pernikahan Kakak? Emangnya Kakak bakalan nikah dipaksa, gitu?”
Angel malah tergelak. “Maksud Kakak nangis bahagia. Emangnya Anna nggak bakalan terharu kalau ngeliat Kakakmu yang cantik ini nikah sama Colin?” Angel menyebut nama lelaki yang sudah tiga tahun menjadi kekasihnya. Cinta jarak jauh. Colin bekerja di Kalimantan, terpaksa mereka hanya berhubungan lewat ponsel saja. Dan yang dibicarakan tidak jauh dari rencana pernikahan, bukan hal-hal maksiat yang memancing nafsu.
“Kak Angel tega mamerin kebahagiaan di atas tangisan Anna.” Anna manyun.
“Bukannya mamerin kebahagiaan. Kakak cuma ngasih tau Anna kalau cowok kayak Rafa nggak pantes ditangisin. Lagian, Ayah kan ngelarang keras untuk kita supaya jangan pacaran. Pacaran itu ujung-ujung cuma dosa. Nah, trus kenapa kamu malah pacaran sama Rafa? Ganteng enggak, keren pun enggak. Playboynya doang yang menonjol.” Angel mengusap air mata yang membanjir di pipi adiknya.
“Apa bedanya Anna sama Kakak? Kakak juga pacaran kan sama Kak Colin?”
Angel trsenyum sipu. “Bedalah, Anna. Kakak sama Colin kan nggak pernah jalan bareng kayak Anna sama Rafa. Kami jauh-jauhan.”
“Trus, kalau pas Kak Colin pulang ke Jakarta dan Kak Angel ketemuan sama Kak Colin, kalian itu nggak pacaran namanya?”
“Yee... Kami ketemuan doang, kok. Nggak ngapa-ngapain. Paling makan di restoran ngebahas masa depan. Itupun nggak pernah berduaan, selalu rame-rame demi menjaga kehormatan. Udah itu, pulangnya sendiri-sendiri. Kan dateng ke restorannya juga sendiri-sendiri.” Angel mengenang masa indah pertemuannya dengan sang kekasih. Ia senyam-senyum sendiri jadinya. Sesekali mengibas-ngibaskan ujung jilbab yang ia kenakan.
Melihat Angel senyam-senyum bahagia, ingatan Anna kembali melayang pada kejadian antara Rafa dan Joli beberapa jam yang lalu. Siang-siang bolong adegan itu terlihat sangat panas. Anna meremas sprei ranjang yang ia duduki dan membenamkan wajah di kedua telapak tangannya. Tangisnya kembali pecah.
Angel yang terkejut mendengar suara jerit tangis adiknya langsung berkata, “Anna, suara tangis lo jelek banget! Kucing kawin aja kalah ramenya. Diem, dong!”
“Anna kenapa kok nangis?”
Sontak Angel menoleh ke sumber suara. Herlambang mendekati kedua putrinya dengan raut cemas.
TBC