Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana perjanjian dagang
" Ada, teman mungkin atau sahabat", Jawabku sekenanya.
" Atau pacar ya?", Mas Yoga menebak.
" Ya, benar begitu kah, panggilan kesayangan?", Imbuh mas Yoga lagi.
" Hemm.... jelas, kan tang panggil aku Nur keluarga, tentulah itu panggilan kesayangan", Jawabku.
" Pacar mu dulu siapa ? Orang mana? Atau teman SMA, kuliah?", Tanya mas Yoga beruntun.
" Apa sih, ga usah bahas masa lalu mas, ga penting", Jawabku kesal.
" Kok marah sih, ga apa apa lagi bahas mantan, kan kamu manis Nur, pasti banyak yang suka", Goda mas Yoga yang membuatku sedikit merona.
" Tidak mas, aku ini tau diri kok, jelek cuma anak TU sekolah dasar merangkap petani pula", Cebik ku.
" Kan orang suka terkadang tidak harus lihat latar belakang orang tua Nur, bahkan tidak melihat pekerjaan apa pun, asal cinta ya sudah cinta saja, tidak bersyarat Nur", Jawab Mas Yoga sok deplomatis.
" Yeee..... itu mah cinta buta". jawab ku agak merasa aneh dengan jawaban mas Yoga.
" Lha kalau kita cinta apa Nur?", tanya mas Yoga.
" Hah? Apa? Cinta kilat kali, ga tau ah.... ga usah di bahas juga mas, toh kita sudah nikah ini", Jawab ku bingung juga mau jawab apa, kalau di bilang cinta aku juga tidak tahu, mas Yoga ganteng sih, gagah pula, tapi 2 minggu menjadi istrinya kok ga ser gimana ya, sedih sih kalau di tanya hatiku yang terdalam tapi mau apa? dia sudah menjadi suamiku, ya suami bukan imam, seperti harapanku.
" Kok sedih gitu Nur wajahnya?", Goda mas Yoga.
" Menurut mas pernikahan kita itu apa?", Tanya ku balik.
" Ya seperti kata mu Nur, cinta kilat tapi bukan sih lebih tepatnya keputusan kilat, tidak ada yang salah kamu single aku juga, berharap saja akan langgeng terus pernikahan kita Nur", mas Yoga mengusap rambut kepalaku.
" Iya mas", Jawabku lirih, bagi perempuan seperti ku bohong jika sku ga cinta sama mas Yoga, dari kecil juga aku menilai dia itu genteng, bahkan bisa di bilang cinta pertama ku itu ya dia, cinta dalam diam dan tidak berharap sama sekali, sadar aku ini siapa, tapi itu dulu waktu aku masih jelas dua SD.
Sementara mas Yoga waktu itu sudah kelas satu SMA, mungkin usianya sekitar 15 tahun.
" Tidur mas sudah malam".
" Ritual malam dulu yuk, bentar saja... ya ya yaaa", Rengeknya membelai pipiku.
" Ck, huh... harus ya?", Keluh ku sebal.
" Iya lah, harus kita harus sering lembur Nur biar cepat dapat anak", Rayu nya.
" Idih, itu mah mau nya mas, pinter ya buat alasan", godaku.
" Eh, di bilangin juga ga percaya amat", Mas Yoga sudah makin nakal tangannya bergerilya ke leher, punggung, dada.
" Mas...", Rengek ku kegelian.
" Stttt..... ", Mas Yoga langsung membungkam bibirku.
Selanjutnya apa yang terjadi terjadilah💞💞💞
🐝🐝🐝🐝
Pagi ini seperti biasa ibu mertuaku sudah menyapu seluruh halaman rumah, mengumpulkan sampah daun di masukkan ke lobang besar yang sengaja di gali untuk mengumpulkan sampah daun, dan tiap satu minggu sekali akan di bakar.
Nah pagi ini jadwal membakar sampah daun, sebetulnya lumayan jauh sih posisinya dari rumah, hanya saja setiap acara bakar bakaran itu pasti asapnya sampai ke rumah.
Pagi ini juga begitu, bau sangit memenuhi rumah.
" Nur, ibu bakar sampah ya?", Mas Yoga bangun dari tidurnya, dan aku yang sudah rapi masuk kamar hanya ingin mengumpulkan baju kotor pun langsung di sambut keluhannya pagi ini.
" iya mas, bangun ini sudah siang banget lho, hampir jam tujuh lihat jam tuh!", Seru ku.
Mas Yoga melirik jam dinding dan bergegas masuk kamar mandi, sementara aku turun membawa pakaian kotor untuk ku giling seraya membantu bibik di dapur menyiapkan sarapan.
" Pagi pagi ibu sudah membuat parfum alami mbak", Kekeh mbak Nah pada ku.
" Iya, makanya aku nyucinya agak siangan biar nanti jemurinnya kalau asapnya sudah habis", jawabku memberi alasan.
" Wah iya, jika asap masih banyak terus pakaian masih di jemuran, kasihan pengharumnya kalah mbak", Jawab mbak Nah.
" Iya itu... harum alami... bau asap, sangit", Merekapun terkekeh berdua.
" Pagi pagi sudah ramai nih, ada apa?", Tanya Yoga yang baru datang ke dapur.
" Ada asap mas, ini baunya penuh serumah", Jawab mbak Nah, sementara Menur menyeduh kopi untuk Yoga.
" Ini kopi yang mana Nur, wangi banget?", Tanya Yoga sambil menghirup kopi di cangkir yang mengepulkan aroma khas nya.
" Ini kopi yang di mix sama habatusaudah mas, wangi ya! Kopinya yang jenis lokal kecil kecil itu, bukan robusta, apa sih ya nama jenisnya Menur lupa", Terang Menur.
" Arabika? Kalau Arabika itu rasanya asam sedang robusta dia cenderung pahit Nur, kamu suka yang mana?", Tanya Yoga sambil menerangkan dua jenis kopi yang terkenal di indonesia itu.
" Sepertinya Menur suka yang Pahit deh mas, kalau yang asam itu kurang, ke mulut itu rasanya aneh", Jawab Menur jujur.
" Wah kamu bisa membedakannya juga?", Yoga penasaran, selama di rumah itu Menur belum pernah Yoga lihat minum kopi tapi ternyata Menur bisa tahu rasa kopi.
" Sedikit, pernah nyoba beberapa kali dengan jenis yang berbeda , tapi menurut Menur kopi paling enak itu buatan nenekku almarhum mas", terang Menur mengenang saat dulu neneknya masih ada dan sering membuat kopi bubuk sendiri.
" Oya? Boleh tahu resepnya?", Tanya Yoga antusias.
" Nanti aku tanya nenek dulu, boleh ga resep kopinya di curi suami ku", Kekeh Menur yang membuat Yoga melotot karena di bilang mencuri.
" Mas tidak mencurinya, jangan nuduh sembarangan, belum juga tahu resepnya.... Memang mau tanya dulu ke makam?", Tanya Yoga merasa aneh dengan ucapan Menur istrinya.
" Ya melalui mimpi lah, itupun kalau Menur bisa mimpiin nenek", Celetuk Menur terkekeh.
Yoga pun ikut terkekeh termasuk mbak Nah yang sedari tadi mendengarkan obrolan sepasang suami istri itu.
" Yah, kalau begini mah alamat ga dapat resep kopi nenek dong", Gerutu Yoga.
" Tenang.... tapi harus ada perjanjian hitam di atas putih mas sama Menur, kan Menur berarti yang memberi resep", Ucap Menur serius.
" Lha berarti Menur yang mencuri kalau begini", Yoga terkekeh lebar.
" Yeee..... disini yang tahu resep itu hanya Menur, jika Menur diam dan tidak bicara maka resep itu akan menjadi rahasia selamanya", Menur ganti terkekeh lebar.
" Oke, mas mau coba dulu resep nenek, jika itu oke di lidah mas, pasti banyak konsumen yang oke juga", ucap Yoga percaya diri.
" Setuju, tapi jika cocok dan kemudian menjadi brand di kedai mas, kemasannya atau nama kopinya harus mencantumkan nama nenek, sudah begitu profit nya untuk Menur", Kali ini menur langsung terbahak.
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat