NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — Pengakuan Bu Ratih

Pintu rumah itu terbuka perlahan. Engselnya yang berkarat berderit pelan.

Bu Ratih berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab, kedua tangannya saling menggenggam dengan gelisah. Di belakangnya, Sekar berdiri dengan kepala tertunduk, tatapannya sulit dibaca.

Namun perhatian semua orang di dalam justru terkunci pada sosok ketiga.

Bagaskara Wiratama.

Lelaki tua itu berdiri dengan sangat tenang. Rapi dengan kemeja batik lengan panjang dan tongkat kayu di tangannya. Tidak ada rombongan, tidak ada pengawal. Seolah kedatangannya bukan untuk membawa masalah, melainkan untuk menyelesaikan urusan yang tertunda puluhan tahun.

Jatmiko adalah yang pertama melangkah maju. Napasnya berat.

"Bagaskara."

"Jatmiko."

Dua nama. Dua saudara. Dua puluh delapan tahun terpisah oleh kebohongan dan darah.

Tidak ada pelukan. Tidak ada kehangatan. Hanya tatapan yang penuh luka lama yang belum pernah sembuh.

Dila secara refleks mundur setengah langkah dan menggenggam lengan Fadil dengan erat.

"Mas..."

Fadil langsung membalikkan genggaman itu, menguncinya dengan kuat. "Aku di sini, Dila. Di sampingmu."

Azam berdiri beberapa langkah di depan mereka, menjadi pembatas tak terlihat.

"Paman tidak seharusnya datang ke sini," ucap Azam datar, tapi rahangnya mengeras.

Bagaskara tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Justru karena inilah aku harus datang, Zam. Sudah terlalu lama kebohongan ini kita pelihara."

"Mengakhiri apa?" Dila akhirnya bersuara. Suaranya bergetar, tapi jelas.

Bagaskara memandang Dila lama. Tatapan seorang paman yang melihat keponakannya untuk pertama kali setelah puluhan tahun.

"Kebohongan tentang ibumu. Tentang ayahmu. Dan tentang siapa sebenarnya yang menghancurkan keluarga kita."

---

Jatmiko langsung berdiri di depan Dila, menutupi putrinya dari pandangan Bagaskara.

"Jangan percaya sepatah kata pun dari dia, Dila."

Bagaskara terkekeh pelan.

"Masih sama seperti dulu, Mas. Selalu berpikir semua orang ingin menghancurkan keluargamu."

"Karena memang begitu kenyataannya!" bentak Jatmiko, emosinya akhirnya pecah. "Kau, ayah, kalian semua lebih memilih nama besar Wiratama daripada nyawa Larasati!"

Suasana di ruang tamu kecil itu langsung menegang.

Bagaskara menghela napas, tetap tenang. "Kalau niatku malam ini ingin membunuh Dila, menurutmu aku akan datang hanya bertiga dan mengetuk pintu seperti tamu?"

"Siapa bilang kau datang sendirian?" Jatmiko menunjuk ke arah Sekar dengan dagunya. "Dia? Anakmu itu yang selama ini membuntuti kami?"

Bagaskara melirik Sekar.

"Sekar datang atas kemauannya sendiri. Bukan atas perintahku."

Semua mata kini tertuju pada Sekar.

Dila menatap perempuan yang selama ini ia anggap musuh.

"Kenapa?" tanya Dila pelan.

Sekar tidak menjawab. Bahunya naik turun menahan napas.

"Sekar, bicara," desak Fadil dengan nada curiga. "Jangan coba-coba memainkan istri saya lagi."

Sekar akhirnya mengangkat wajah. Matanya merah.

"Aku... aku tidak datang untuk menyakitinya," ucapnya dengan suara serak. "Aku datang untuk meminta maaf."

Kata itu menggantung di udara.

---

Mereka akhirnya masuk ke ruang tamu. Bagaskara duduk di satu-satunya kursi kayu yang agak kokoh. Sekar berdiri di sampingnya, seperti terdakwa yang menunggu vonis. Bu Ratih tetap berdiri dekat pintu, tidak berani masuk lebih jauh, seolah lantai di dalam rumah itu akan menolaknya.

Dila duduk bersama Fadil di sofa pendek. Tangannya tidak pernah lepas dari tangan suaminya. Jatmiko dan Azam berdiri berhadapan dengan Bagaskara, dua generasi yang terjebak dalam satu lingkaran dendam.

"Mulai dari awal," kata Dila. Suaranya kini lebih tegas, meski matanya berkaca-kaca. "Aku sudah terlalu lama hidup dalam cerita orang lain. Aku ingin tahu kebenarannya. Semua."

Jatmiko menatap putrinya dengan cemas. "Kamu yakin, Nak? Setelah ini tidak ada jalan untuk kembali tidak tahu."

Dila mengangguk mantap. Ia menggenggam tangan Fadil lebih erat.

"Aku sudah hidup dua puluh delapan tahun dalam kebohongan, Yah. Sekarang aku ingin tahu, apa pun akibatnya."

Fadil mengangguk di sampingnya. "Apa pun itu, aku akan tetap di sampingmu."

Dila tersenyum kecil pada suaminya, lalu menatap Bagaskara lurus-lurus. "Ceritakan, Paman."

Bagaskara menarik napas panjang, tatapannya menerawang.

"Dua puluh delapan tahun lalu, kakakmu, Jatmiko, dan Larasati memiliki seorang anak perempuan. Kamu. Kelahiranmu seharusnya menjadi berita paling bahagia di keluarga Wiratama. Tapi justru menjadi awal dari kehancuran."

"Lalu?" desak Dila.

"Masalah dimulai ketika Larasati, yang saat itu bekerja sebagai staf keuangan kepercayaan, menemukan sebuah dokumen rahasia perusahaan. Laporan transaksi ganda."

Azam menyela, suaranya dingin. "Dokumen pencucian uang itu?"

"Ya," jawab Bagaskara. "Dana perusahaan dipakai untuk membiayai proyek fiktif. Nilainya miliaran."

"Siapa yang terlibat?" tanya Azam.

Bagaskara diam. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya... kepada perempuan yang berdiri di dekat pintu.

Kepada Bu Ratih.

Semua orang ikut menoleh.

Bu Ratih langsung menundukkan kepala dalam-dalam, bahunya bergetar.

Dila berdiri perlahan. "Bu Ratih?"

Perempuan itu akhirnya pecah dalam tangisan. "Maafkan saya... maafkan saya, Dila..."

Dila terdiam, bingung. "Kenapa Anda yang menangis?"

Bu Ratih mengusap air matanya dengan kasar, suaranya terisak-isak.

"Karena saya sudah menyimpan dosa ini terlalu lama. Terlalu lama saya diam melihat kalian semua menderita."

Jatmiko melangkah mendekat, suaranya bergetar menahan amarah. "Katakan, Ratih. Katakan apa yang kau lakukan!"

Bu Ratih gemetar hebat.

"Saya... saya adalah orang yang memberi tahu keluarga bahwa Larasati memiliki bukti itu. Saya yang membocorkan semuanya."

Ruangan itu mendadak sunyi senyap, hingga suara jangkrik dari luar terdengar jelas.

Dila menatap Bu Ratih dengan mata membelalak. "Jadi... Ibu yang mengkhianati ibu saya? Sahabat Ibu sendiri?"

"Tidak seperti yang kamu pikirkan, Dila!" Bu Ratih terisak semakin keras, lututnya hampir lemas. "Saya tidak pernah ingin Larasati mati. Demi Tuhan, dia sahabat terbaik saya!"

"Lalu kenapa?" bentak Jatmiko.

"Karena saya takut!" Bu Ratih akhirnya berteriak, suaranya pecah. "Saya diancam!"

"Siapa yang mengancam Anda?" Dila mendekat, suaranya kini bukan marah, melainkan perih.

Bu Ratih akhirnya mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata dan menunjuk dengan jari gemetar ke arah Bagaskara.

"Dia. Bagaskara."

Semua orang terkejut. Jatmiko menatap adiknya dengan tidak percaya.

"Kau, Kara?" Suara Jatmiko pelan tapi penuh kebencian.

Bagaskara tidak membantah. Ia tetap tenang, seolah sudah mengharapkan momen ini.

"Benar," jawabnya. "Aku yang mengancamnya."

Azam menggeleng, tidak percaya. "Paman... Ibu saya? Kenapa?"

Bagaskara menatap Azam, lalu Bu Ratih.

"Karena saat itu Azam masih delapan tahun. Aku bilang pada Ratih, jika Larasati sampai menyerahkan bukti itu kepada Jatmiko dan ayah kita, maka bukan hanya Larasati yang akan celaka, tapi juga anak-anak kecil yang tidak berdosa. Termasuk Azam."

Bu Ratih jatuh terduduk di lantai. "Dia bilang Azam akan dihabisi kalau saya tidak bicara... Saya... saya hanya seorang ibu yang ketakutan... Maafkan saya, Dila..."

Dila membeku. Ia menatap Bu Ratih yang hancur di lantai, lalu menatap Bagaskara yang begitu dingin.

"Jadi Anda mengancam seorang ibu dengan anaknya sendiri... untuk mendapatkan dokumen itu?" tanya Dila, suaranya bergetar hebat. "Untuk apa?"

"Untuk menyelamatkan keluarga Wiratama dari kehancuran!" jawab Bagaskara, untuk pertama kalinya suaranya meninggi. "Jika bukti itu sampai ke tangan ayah kita saat itu, perusahaan akan hancur, nama kita akan jadi sampah! Aku melakukannya untuk keluarga!"

Jatmiko tertawa getir, air matanya jatuh. "Dengan menghancurkan keluargaku? Dengan membunuh Larasati? Itu caramu menyelamatkan keluarga?"

"Aku tidak pernah menyuruh siapa pun membunuh Larasati!" bentak Bagaskara balik. "Aku hanya ingin dokumennya! Aku tidak tahu siapa yang menabrak mobilnya!"

"Bohong!" Jatmiko membentaknya.

Dila menatap Bagaskara lekat-lekat. "Siapa yang membunuh ibu saya? Siapa, Paman?"

Bagaskara terdiam lama. Napasnya memburu.

"Aku tidak tahu siapa eksekutornya," katanya pelan. "Tapi aku tahu siapa yang merencanakannya. Siapa yang memerintahkan agar Larasati dihabisi agar bukti itu hilang selamanya."

Semua orang di ruangan itu membeku.

"Siapa?" bisik Dila, dadanya sesak.

Bagaskara tidak menjawab. Ia justru menatap ke arah Sekar.

Sekar langsung memejamkan mata, air matanya jatuh. "Jangan, Yah... jangan katakan..."

Dila menatap Sekar. "Kenapa? Kenapa tidak boleh aku tahu?"

Sekar berkata pelan, dengan suara yang penuh ketakutan, "Karena kalau kamu tahu siapa dia... semuanya akan berubah. Kamu tidak akan pernah bisa melihat keluarga ini dengan cara yang sama lagi."

Dila tersenyum pahit, air matanya mengalir.

"Hidupku sudah berubah sejak lama, Sekar. Katakan saja."

---

Tiba-tiba ponsel Azam berdering nyaring, memecah ketegangan.

Azam mengangkatnya. "Ya? Bicara."

Wajahnya yang biasanya tenang langsung berubah tegang.

"Apa? Ulangi."

Semua orang menatapnya cemas.

"Bagaimana bisa lolos? Bukankah ada dua penjaga di depan kamarnya?"

Azam menutup telepon. Tangannya mengepal.

Jatmiko bertanya cepat, "Ada apa, Zam?"

"Arif menghilang," jawab Azam dengan suara berat.

Dila langsung berdiri, wajahnya pucat. "Arif? Anak saya? Bagaimana bisa? Dia kan di rumah sakit?"

"Tidak ada yang tahu siapa yang membawanya. Semua kamera keamanan rumah sakit mati selama sebelas menit. Penjaga kami dipukul dari belakang."

Fadil langsung berdiri, emosinya meledak. "Bukankah kamu bilang rumah sakit itu aman, Azam?!"

Azam tidak menjawab, rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya.

Dila mulai panik, napasnya tersengal. "Jangan-jangan... jangan-jangan dia..."

Bagaskara berdiri dari kursinya. Wajahnya yang tadi tenang kini berubah serius.

"Bukan jangan-jangan," potongnya. "Dia sudah diambil."

"Siapa?" tanya Fadil dengan suara tertahan.

Bagaskara menjawab dengan tatapan dingin ke arah pintu,

"Orang yang sama yang membunuh Larasati. Dia tahu kita sudah berkumpul. Dia ingin menukar Arif dengan buku itu."

---

Beberapa jam kemudian, di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi satu lampu gantung redup.

Arif membuka matanya pelan. Kedua tangannya terikat di belakang kursi.

Ia mencoba bergerak. Tidak bisa.

Langkah kaki terdengar mendekat. Sepatu kulit yang mengkilap.

Arif mengenali suara langkah itu.

"Kamu lagi..." bisik Arif.

Seorang pria duduk di depannya, wajahnya tidak terlihat jelas karena bayangan.

"Kau terlalu banyak bicara, Arif. Seharusnya kau diam saja seperti ibumu."

Arif tersenyum tipis meski ketakutan. "Cepat atau lambat mereka akan tahu siapa kamu."

"Siapa? Dila? Perempuan manja itu?"

"Dia sudah tahu tentang Larasati. Dan dia sudah bertemu Jatmiko."

Pria itu terdiam, lalu ekspresinya berubah kaget.

"Jatmiko? Mustahil. Jatmiko sudah mati dua puluh delapan tahun lalu."

Arif tertawa kecil. "Kau pikir dia mati? Kau salah besar. Dia masih hidup. Dan dia akan datang untukmu."

Pria itu berdiri dengan kasar, kursinya terjatuh.

"Di mana mereka sekarang?"

Arif tidak menjawab. Ia hanya menatap pria itu dengan berani.

Pria itu kemudian tersenyum dingin. "Kalau begitu kita ubah rencananya. Kita tidak perlu buku itu lagi. Kita pancing mereka dengan anak ini."

---

Malam semakin larut di rumah persinggahan.

Dila duduk sendirian di teras kayu, menatap sawah yang gelap. Dingin menusuk tulang, tapi tidak sedingin hatinya yang cemas memikirkan Arif.

Fadil datang membawa dua cangkir teh hangat. Ia menyodorkan satu pada Dila dan duduk di sampingnya. Beberapa menit mereka hanya diam, mendengarkan suara jangkrik.

"Mas," panggil Dila pelan.

"Ya?"

"Kalau ternyata keluargaku ini... keluargaku yang baru ini membawa banyak masalah dan bahaya untuk Mas dan Arif..."

Fadil langsung menoleh. "Aku tetap akan bersamamu, Dila."

"Mas tidak menyesal menikah denganku? Menikah dengan perempuan yang ternyata membawa kutukan keluarga begini?"

Fadil tersenyum, senyum tulus yang selalu membuat Dila tenang.

"Tidak. Bahkan setelah semua ini, tidak."

"Bahkan setelah Arif diculik karena aku?"

"Justru setelah semua ini," jawab Fadil mantap. "Karena sekarang aku semakin tahu, kamu tidak pernah memilih kehidupan seperti ini. Kamu hanya korban yang dipaksa memikul dosa orang-orang serakah. Dan tugasku sebagai suamimu adalah memastikan kamu tidak memikulnya sendirian."

Dila tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Fadil yang kokoh.

"Aku takut kehilangan Mas dan Arif."

Fadil menggenggam tangannya erat, mengusap punggung tangannya yang dingin.

"Kamu tidak akan kehilangan aku semudah itu. Dan kita akan temukan Arif. Aku janji."

Dila tertawa kecil di sela isaknya. "Semudah itu?"

"Iya. Kalau sulit pun, akan lebih sulit lagi mereka mengambilku darimu."

Untuk beberapa saat, di tengah teror dan kebingungan, ada kehangatan kecil yang terasa begitu berharga.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar.

Azam keluar dari dalam rumah dengan sebuah amplop cokelat di tangannya. Wajahnya tegang.

"Dila."

Dila segera menghapus air matanya dan menoleh. "Ada apa, Zam?"

Azam menyerahkan amplop itu. "Ini ditemukan Laras di kamar Arif, terselip di bawah bantalnya sebelum dia menghilang. Sepertinya Arif sengaja menyembunyikannya."

Dila membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada sebuah foto lama yang sudah menguning.

Foto Larasati. Tapi kali ini ia tidak sendirian.

Di sampingnya berdiri seorang pria berwajah teduh dengan seragam sopir keluarga Wiratama zaman dulu.

Dila memperhatikan wajah pria itu. Fadil ikut melihat dari samping.

"Siapa pria ini?" tanya Fadil.

Dila menggeleng. "Aku tidak tahu..."

Azam berkata pelan, "Jatmiko mengenalinya. Namanya Suryanto. Dia sopir pribadi ayah kami selama tiga puluh tahun. Orang yang paling dipercaya keluarga."

Dila membalik foto itu. Di belakangnya tertulis sebuah tanggal dengan spidol hitam: tiga hari sebelum Larasati meninggal.

Dan di bawah tanggal itu, ada tulisan tangan yang sangat ia kenali. Tulisan halus milik ibunya.

Jangan percaya Jatmiko.

Darah Dila seolah berhenti mengalir. Foto itu hampir terjatuh dari tangannya.

"Ini... tulisan Ibu..." bisiknya.

Fadil menatap tulisan itu, lalu menatap Dila dengan cemas.

Azam membaca tulisan itu dan wajahnya langsung berubah pucat.

"Tidak mungkin..." gumam Azam. "Kenapa Larasati menulis ini?"

"Kenapa Ibu menulis jangan percaya Ayah?" Dila menatap foto itu dengan pandangan kosong. Tubuhnya lemas.

Tidak ada seorang pun di teras itu yang mampu menjawab.

Tiba-tiba dari dalam rumah, terdengar suara Jatmiko berteriak panik, seperti orang yang melihat hantu.

"JANGAN BUKA FOTO ITU! JANGAN!"

Semua orang menoleh.

Jatmiko berlari keluar dari dalam rumah dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh kepanikan yang belum pernah Dila lihat sebelumnya.

Dila berdiri dengan foto masih di tangannya. "Ayah tahu sesuatu tentang foto ini?"

Jatmiko terdiam, matanya terpaku pada foto di tangan Dila. Air matanya perlahan jatuh.

"Ayah tidak pernah menyakiti ibumu, Dila... Demi Tuhan, Ayah tidak pernah..."

"Aku tidak bilang Ayah membunuh Ibu," jawab Dila dengan suara bergetar. "Tapi kenapa Ibu menulis ini?"

Jatmiko menelan ludah dengan susah payah.

"Ada satu hal yang selama ini tidak pernah Ayah ceritakan pada siapa pun. Bahkan pada Azam."

"Apa, Yah?"

"Pada malam sebelum ibumu meninggal..." Jatmiko berhenti, suaranya tercekat. "Ayah bertemu Larasati di gudang arsip. Dia menangis. Dia ketakutan."

"Lalu?"

Jatmiko menatap seluruh orang di teras itu — Dila, Fadil, Azam, Bu Ratih, Bagaskara, Sekar — lalu berkata dengan suara bergetar,

"Malam itu... Larasati mengatakan bahwa dia akhirnya tahu siapa pengkhianat sebenarnya. Siapa yang menjualnya kepada Bagaskara."

"Siapa?" Dila mendesak.

Jatmiko menatap lurus ke arah Bu Ratih yang berdiri mematung di ambang pintu.

"Bu Ratih."

Dila membeku. Dunia seolah berhenti.

Bu Ratih yang sejak tadi diam, kini menangis sejadi-jadinya, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Bagaskara menundukkan kepala dalam-dalam.

Dan Azam hanya bisa berkata pelan dengan suara yang hancur,

"Jadi selama ini... Ibu...?"

Dila menatap Bu Ratih, perempuan yang ia anggap seperti ibu kedua, yang selama ini melindunginya.

Perempuan itu tidak membantah. Ia hanya menangis dan akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat seluruh teras itu terdiam membeku.

"Larasati benar... Akulah pengkhianat itu..."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!