tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Hooo... jadi cerita sebenarnya seperti itu," ucap Brian manggut-manggut setelah mendengarkan cerita masa lalu Elvian.
"Ya begitulah. Sejak kejadian kelam itu, gue gak pernah sudi lagi menginjakkan kaki ke mansion itu. Muak gue melihat dua nenek lampir di sana. Gara-gara kelakuan mereka berdua, gue selalu diabaikan dan selalu disalahkan di rumah itu. Padahal gue gak pernah melakukan kesalahan apa pun," tutur Elvian dengan nada masam.
"Jahat banget ternyata dua wanita itu ya. Yang satu tukang fitnah dan yang satu lagi sudah tua tapi bersikap manja kayak bocah," timpal Revangga menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Elvian mengembuskan napas berat. "Wanita tua itu kan anak perempuan satu-satunya di keluarganya, makanya sejak kecil dia selalu dimanja sampai kebablasan begitu."
Di sebelah mereka, Brian tampak asyik mengunyah keripik dengan kedua pipi yang mengembung penuh.
"Ya... hmm... kriuk... gak kriuk gitu juga lah... kriuk, kriuk..." sahut Brian dengan suara kunyahan yang terdengar sangat berisik.
"Bisa gak sih kalau mau berbicara itu berhenti dulu makannya?!" kesal Elvian menatap Brian dengan pandangan menusuk.
"Elo kalau berbicara sambil mengunyah begitu jadinya terputus-putus tahu, Bri," tambah Revangga ikutan gemas.
Brian langsung menghentikan kunyahannya sejenak lalu menyengir tanpa dosa. "Hehehe, sorry, Bro."
Revangga dan Elvian kompak mendengus pasrah melihat kelakuan sahabatnya itu. "Kebiasaan banget deh elo, kalau berbicara selalu sambil makan," cibir Elvian.
"Sorry, sorry. Maksud yang mau gue omongin tadi itu, si Nyokap elo kan sudah punya anak banyak, umurnya juga sudah tua, kok bisa-bisanya masih bersikap manja? Aneh saja menurut gue. Kalau yang manja itu masih bocah sih wajar, nah ini sudah jadi nenek-nenek tapi kelakuannya masih begitu," cerocos Brian setelah menelan keripiknya.
"Gue juga kagak tahu. Tapi yang paling bikin gue gak habis pikir itu Kakek gue. Dia protektif dan memanjakan banget si Maria itu," sahut Elvian memutar bola matanya malas.
Brak!
Tiba-tiba Brian menggebrak meja dengan sangat heboh, membuat Elvian yang sedang melamun langsung terlompat kaget.
"Bapakmu maling sempak!" latah Elvian spontan dengan mata melotot.
Tanpa memedulikan latahan aneh Elvian, Brian menunjuk ke depan dengan wajah dramatis. "Apa jangan-jangan... Nyokap elo itu sebenarnya adalah..."
"Adalah apa?!" tanya Elvian dan Revangga penasaran, langsung memajukan tubuh mereka mendekat ke arah Brian.
"Adalah..." Brian mendadak menghentikan kalimatnya. Dia memegangi perutnya dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. "Duh, perut gue tiba-tiba mules banget! Gue berak dulu ya, Bro!"
Tanpa menunggu aba-aba, Brian langsung melesat lari sekencang kilat menuju ke arah kamar mandi di sudut ruangan.
"Woi, Bri! Adalah apa, woi?! Jangan kabur dulu!" teriak Elvian frustrasi.
Revangga ikut menghela napas pasrah, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Haaaa... tuh orang malah kabur ke kamar mandi bukannya meneruskan dulu perkataannya. Bikin orang penasaran setengah mati saja!"
"Sudahlah, mungkin dia beneran sakit perut gara-gara kebanyakan makan keripik pedas tadi," ucap Elvian menggeleng-gelengkan kepalanya geli.
Sementara itu, di ruang tengah mansion Grayson...
Atmosfer di dalam ruangan mewah itu terasa begitu hening dan mencekam. Kavian berdiri dengan tegap sembari melemparkan tatapan mata yang teramat dingin ke arah sang Mommy, Maria.
"Saya sudah tahu kalau Mommy-lah yang melakukan hal keji itu empat tahun lalu. Selama ini saya memilih diam bukan karena saya takut, Mom. Saya diam hanya karena ingin melindungi nama baik Mommy di depan Bastian dan Kak Luna. Saya tidak mau mereka ikut membenci Mommy, sama halnya seperti Elvian yang begitu membenci Mommy saat tahu kalau dirinya telah dijebak," ucap Kavian dengan suara bergetar menahan amarah.
Namun, tanpa Kavian dan Maria sadari, langkah kaki Martin, Luna, dan Bastian terhenti di ambang pintu ruangan. Mereka yang baru saja berniat masuk langsung terpaku mendengar penuturan mengejutkan dari Kavian.
"Apa... apa benar yang dibilang Kavian itu, Mom?!" tanya Luna dengan suara bergetar, melangkah masuk ke tengah ruangan dengan perasaan yang teramat terluka.
Mendengar suara Luna, Maria, Kavian, dan Elvia yang sedang duduk di sofa langsung tersentak kaget. Mereka tidak menyangka sisa anggota keluarga lainnya telah berada di sana dan mendengar semuanya.
"Luna..." gumam Maria dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Jawab aku, Mom! Apa yang dibilang Kavian tadi itu beneran?!" teriak Luna menuntut penjelasan, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
Maria menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mencari alasan. "Itu... itu tidak benar, Lu! Kavian pasti salah l—"
"Itu semua benar, Kak!" potong Kavian cepat, tidak membiarkan ibunya memanipulasi keadaan lagi.
Luna menoleh ke arah Kavian dengan pandangan kecewa yang mendalam. "Kenapa kamu tidak bilang dari dulu, Vian?! Kenapa kamu menyembunyikan hal menjijikkan ini dari Kakak?!"
"Bukannya saya tidak mau bilang, Kak. Tapi saya hanya tidak ingin Kakak membenci Mommy sendiri," sahut Kavian menundukkan kepalanya bersalah.
"Aku tahu kamu menutupi ini semua demi nama baik Mommy! Tapi gara-gara kamu memilih diam, Elvian jadi membenci aku, Vian! Dia mengira aku yang dengan tega merebut tunangannya!" isak Luna histeris.
"Maaf, Kak..." lirih Kavian pasrah.
Luna mengalihkan pandangannya kembali kepada Maria. Dia mendekati ibunya dengan tatapan penuh rasa sakit. "Mommy kenapa tega melakukan ini semua kepada kami? Kenapa Mommy menjebak aku dan Bastian di hotel?! JAWAB AKU, MOM!" teriak Luna meluapkan seluruh rasa frustrasinya yang dipendam selama empat tahun.
Maria yang tersudut akhirnya ikut terpancing emosi. Dia berdiri dan balas berteriak, "MOMMY MELAKUKAN INI SEMUA DEMI KEBAIKAN KAMU, LUNA! KARENA KAMU!"
"Apa maksud Mommy demi aku?! Ini jelas-jelas kesalahan besar Mommy! Gara-gara kelakuan kotor Mommy, Elvian jadi membenciku setengah mati, Mom!" sanggah Luna tidak terima.
"Mommy tahu kalau kamu itu sangat mencintai Bastian! Makanya Mommy merencanakan hal itu supaya kamu bisa menikah dengan Bastian dan hidup bahagia!" teriak Maria membela tindakannya.
Mendengar alasan ibunya, Luna tertawa sumbang di sela tangisnya. "APA MOMMY SUDAH GILA, HAH?! AKU TIDAK PERNAH SEKALIPUN MENCINTAI BASTIAN YANG INI, MOM!" marah Luna menunjuk ke arah suaminya yang berdiri kaku di dekat pintu.
Maria mengernyitkan dahi, bingung. "Apa maksud kamu tidak mencintainya? Jelas-jelas setiap malam Mommy sering mendengar kamu menangis di kamar sembari menyebut-nyebut nama Bastian! Makanya Mommy menjebak kalian di hotel agar kalian terpaksa menikah!"
"Aku memang mencintai pria bernama Bastian, tapi bukan Bastian kekasihnya Elvian ini, Mom! Bastian yang aku cintai itu adalah teman satu kampusku dulu!" bongkar Luna, membuat seisi ruangan langsung terbelalak syok bukan main.
"Jadi... bukan Bastian yang ini?" tanya Maria dengan suara bergetar, menyadari ada kekeliruan besar.
Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan air mata yang mengalir deras. "Seharusnya Mommy bertanya langsung kepadaku dulu, Mom! Bukannya malah melakukan tindakan sekotor dan semenjijikkan ini di belakang kami! Gara-gara kesalahpahaman bodoh Mommy, Elvian pergi dari rumah. Dan gara-gara pernikahan paksa ini, Bastian yang aku cintai di kampus mengira aku mengkhianatinya! Dia membenciku dan memilih pergi menjauh dari hidupku! Hiks... hiks... hiks... Gara-gara ego Mommy, pria yang beneran aku cintai pergi meninggalkan aku selamanya!" tangis Luna pecah seketika, dadanya terasa begitu sesak.
Martin Grayson yang sejak tadi diam menyimak dengan wajah mengeras, melangkah maju ke depan istrinya. "Saya benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Maria. Bisa-bisanya kamu melakukan hal sekeji itu kepada anak-anakmu sendiri! KAMU BENAR-BENAR KETERLALUAN, MARIA!" bentak Martin dengan suara menggelegar penuh amarah.
Bastian yang berada di sana juga mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap Maria dengan pandangan penuh kekecewaan. "Gara-gara keegoisan Mommy, saya terpaksa harus putus hubungan dari Elvian dan merusak hidup Luna. Saya tidak akan pernah bisa memaafkan kelakuan Mommy! Ayo, Luna, kita pergi dari rumah ini sekarang juga! Saya tidak akan pernah sudi lagi tinggal satu atap bersama wanita yang berhati busuk dan tega menghancurkan masa depan anaknya sendiri!" tegas Bastian sembari merangkul pundak istrinya yang masih menangis sesenggukan, lalu membawa Luna melangkah lebar keluar dari mansion tanpa menoleh lagi.
Martin menatap kepergian putri dan menantunya, lalu beralih menatap tajam ke arah Maria. "Apa sekarang kamu sudah puas, Maria? Dua anakku sudah pergi dari rumah ini karena ulahmu! APA KAMU BELUM PUAS?! Saya benar-benar sangat menyesal telah menikahi wanita licik, egois, dan manja seperti kamu!"
Maria yang melihat kemarahan besar suaminya langsung didera rasa takut. Dia mendekati Martin dengan air mata yang mulai menetes penyesalan. "Aku minta maaf, Mas... Aku bener-bener tidak tahu kalau pria bernama Bastian yang sering disebut Luna itu adalah orang yang berbeda dari kekasihnya Elvian..."
"Jangan meminta maaf kepada saya! Mintalah maaf kepada Luna, Bastian, dan Elvian! Mereka bertigalah yang paling menderita dan terluka parah akibat kelakuan busukmu itu, Maria!" sembur Martin dingin.
"I-iya, aku berjanji akan segera meminta maaf kepada Luna dan Bastian..." ucap Maria terbata-bata.
"Bukan cuma kepada Bastian dan Luna, tapi kamu juga harus memohon maaf kepada Elvian! Karena Elvian-lah anak yang paling menderita dan paling banyak menerima ketidakadilan gara-gara kelakuan kamu selama ini!" tegas Martin lagi.
Mendengar nama Elvian disebut, ego Maria kembali naik. Dia mendecih pelan. "Aku tidak akan sudi meminta maaf kepada anak pembawa sial itu!" ucap Maria ketus.
"Elvian bukan anak pembawa sial, tapi KAMU-lah pembawa sial yang sebenarnya di dalam keluarga ini!" bentak Martin yang sudah benar-benar habis kesabaran. "Saya yang sial karena telah menikahi wanita berhati iblis seperti kamu! Mulai besok, saya akan segera mengurus surat perceraian kita ke pengadilan! Saya tidak mau lagi memiliki istri yang hatinya busuk! Dan kamu, Elvia, kemasi barang-barangmu sekarang juga dan ikut Mommy kamu keluar dari mansion ini!"
Elvia yang sejak tadi hanya diam menonton langsung membelalakkan matanya kaget saat namanya ikut diseret. "Dad...?"
"Kalian berdua sama-sama memiliki hati yang busuk! Yang satu tua, manja, dan jahat, sedangkan yang satunya lagi selalu memelihara rasa iri dan dengki kepada saudara kandungnya sendiri! Rumah ini tidak butuh orang-orang seperti kalian!" perintah Martin mutlak tanpa bisa diganggu gugat.
Maria langsung berlutut di lantai, memegangi ujung celana Martin dengan histeris. "Mas! Aku tidak mau berpisah dari kamu, Mas! Aku mohon! Aku... aku berjanji akan meminta maaf kepada Elvian besok! Jadi tolong, jangan ceraikan aku, Mas!" mohon Maria menangis tersedu-sedu.
"Semuanya sudah terlambat! Sekarang kalian berdua keluar sendiri dari mansion ini secara baik-baik, atau saya yang akan menyuruh orang untuk menyeret kalian berdua keluar dengan kasar!" ancam Martin dingin, melepaskan cengkeraman tangan Maria pada celananya tanpa belas kasihan.
"Daddy... jangan usir aku dan Mommy, Dad! Aku salah, aku minta maaf... hiks... hiks... hiks..." tangis Elvia ikut pecah, meratapi nasibnya yang mendadak terusir dari kenyamanan hidup mewah.
"GIO!" teriak Martin memanggil kepala pengawal mansion.
"Ada apa, Tuan?" ucap Gio yang langsung masuk ke dalam ruangan dengan sigap.
"Usir dua wanita ini dari mansion saya sekarang juga! Dan pastikan mereka berdua tidak akan pernah bisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam lingkungan rumah ini lagi!" perintah Martin dengan tegas.
"Baik, Tuan," sahut Gio patuh. Dia beralih menatap Maria dan Elvia dengan pandangan datar. "Nyonya, Non Elvia, silakan melangkah keluar sendiri atau saya terpaksa harus menggunakan kekerasan."
Dengan perasaan yang dipenuhi rasa malu, marah, hancur, dan penyesalan yang mendalam, Maria dan Elvia akhirnya terpaksa melangkah keluar meninggalkan kemegahan mansion Grayson, terusir oleh kejahatan yang mereka tabur sendiri selama ini.