Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Satu Kasur
Gue berdiri mematung di ambang pintu kamar utama selama hampir dua menit. Pikiran gue langsung merangkai skenario-skenario liar, dari adegan film horor tempat pembunuhan berantai, sampai adegan sinetron sore di mana pasangan terjebak dalam satu ruangan terus mendadak salah paham gara-gara kilat menyambar.
Di sebelah gue, Kian cuma bisa memijat pangkal hidungnya.
"Nyokap gue..." gumam Kian, suaranya serak dan pasrah banget. "Bener-bener perlu disekolahin lagi soal batasan."
"Kian," panggil gue dengan nada datar. "Bisa gak lu panggil tukang kunci sekarang juga?"
Kian menoleh, menatap gue seolah gue baru aja nyuruh dia memanggil dinosaurus. "Di tengah kebun teh Puncak begini jam tiga sore, Ra? Lu kira tukang kunci standby pakai helikopter?"
Gue mendengus kasar, lalu menyelonong masuk ke kamar itu dan melempar tas pakaian gue ke atas kasur king size berseprai putih bersih. Kamarnya luas, baunya wangi kayu pinus, ada jendela besar menghadap kebun teh, dan... fasilitas utamanya adalah satu tempat tidur yang lebarnya cukup buat menampung satu keluarga kecil beserta dua ekor domba.
"Pokoknya gue tidur di kasur," tegas gue sambil menyilangkan tangan di dada. "Lu tidur di sofa."
Kian melirik sofa panjang berkerangka kayu di pojok ruangan. Sofanya kelihatan estetik, tapi bantalan duduknya setipis kerupuk kaleng. Kian mengukur panjang sofa itu pakai matanya, lalu menatap kakinya sendiri yang tingginya seratus delapan puluh sentimeter.
"Ra, kaki gue melengkung kayak udang rebus kalau tidur di situ," protes Kian. "Kasurnya kan segede lapangan futsal. Kita kasih pembatas bantal aja di tengah. Kayak di sinetron-sinetron."
"Gak bisa!" tolak gue cepat. "Nanti kalau lu ngigo terus meluk gue gimana?!"
Kian menatap gue datar, lalu mendesis pelan. "Elora, dengar ya. Waktu kita SD, kita pernah tidur se-kasur bertiga sama Bima gara-gara mati lampu, dan lu yang nendang muka gue sampai bibir gue jorok ke depan. Yang harusnya takut diutak-atik tuh GUE, bukan LU."
Muka gue langsung memerah. "Itu waktu kita umur tujuh tahun, Kian!"
"Sama aja. Lu gak berubah, tetap nakal kalau tidur," sahut Kian enteng. Dia lalu menyambar handuk dari tasnya. "Gue mau mandi air anget dulu. Dingin. Lu mikir-mikir aja dulu mau ngalah atau biarkan calon suami lu ini mati kaku di sofa."
Kian melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan gue yang sibuk mengacak-acak rambut sendiri gara-gara Frustrasi.
Malam harinya, Puncak benar-benar membuktikan julukannya. Hujan deras turun mengguyur kebun teh, membawa udara dingin yang sanggup menembus tiga lapis pakaian. Suara angin berhembus kencang di luar, membentur jendela kayu kamar.
Gue udah meringkuk di atas kasur memakai sweater rajut tebal dan celana panjang, dibungkus selimut sampai leher.
Sementara itu, Kian... beneran tidur di sofa.
Dia berusaha meringkuk di sofa narrow itu dengan selimut tipis. Kakinya yang panjang terpaksa menggantung di udara dari batas siku sofa. Dia bolak-balik mengubah posisi tidur tiap lima menit sekali sambil merapatkan selimutnya.
Gue memperhatikan pemandangan itu dari atas kasur dengan perasaan yang makin lama makin gak tega.
"Ki," panggil gue pelan di balik kegelapan kamar. Cuma ada lampu tidur remang-remang di sudut meja.
Kian gak menjawab, cuma berdehem pelan sambil menggigil.
"Kian."
"Apa?" sahutnya, suaranya agak serak.
Gue menghela napas panjang, merutuki sifat gak tegaan gue sendiri. Gue memindahkan dua bantal guling tebal tepat di tengah-tengah kasur, membentuk garis batas yang sangat jelas antara sisi kiri dan kanan.
"Sini pindah ke kasur," kata gue. "Tapi jangan melewati batas guling ini. Kalau jempol lu melewati garis ini sesenti aja, gue tendang lu keluar jendela."
Hening sejenak. Lalu gue mendengar suara grusak-grusuk Kian yang buru-buru bangun dari sofa. Tanpa bacot lagi, Kian langsung memindahkan bantal dan selimutnya ke sisi kanan kasur.
Dia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar. Jarak kami terpisah oleh tembok guling di tengah.
"Makasih ya, Ra," bisik Kian pelan. Suaranya terdengar dekat banget, lembut, dan gak ada nada tengilnya sama sekali.
Dada gue mendadak berdesir aneh. Gue memiringkan tubuh membelakangi Kian, menatap jendela yang dibasahi air hujan. "Iya. Lagian gue kasihan ngeliat lu kayak udang kena pegal linu di sofa."
Kian terkekeh pelan. "Ra?"
"Apa lagi?"
"Lu beneran takut ya sama gue?" tanya Kian, nadanya berubah serius.
Gue menelan ludah. Dalam kegelapan, rasa jujur itu mendadak merayap keluar tanpa sanggup gue tahan.
"Gue gak takut sama lu, Ki," bisik gue pelan. "Gue cuma takut sama diri gue sendiri."
"Maksudnya?"
"Gue takut... kalau gue makin nyaman sama perlakuan lu selama masa enam bulan ini, terus di akhir cerita lu cuma menganggap ini semua ya cuma sekedar iseng aja."
Suasana kamar mendadak hening total. Cuma ada suara gemercik air hujan di luar.
Gue menahan napas, menyesali kejujuran impulsif gue barusan. Kenapa juga gue harus ngomong gitu?!
Tiba-tiba, gue merasakan pergerakan di belakang gue. Guling pembatas di tengah kasur digeser pelan.
Detik berikutnya, sebuah tangan yang hangat menyusup dari belakang, melingkari pinggang gue lembut, dan menarik tubuh gue mendekat. Kian merapatkan tubuhnya di punggung gue, menyandarkan dagunya pelan di atas kepala gue. Tangannya menggenggam tangan gue di atas selimut.
Tubuh gue membeku seketika. Jantung gue berdetak gila-gilaan.
"Elora," bisik Kian tepat di belakang telinga gue, nafas hangatnya terhembus lembut. "Lu tahu gak, kenapa dari ribuan cewek yang pernah dekat sama gue, gak ada satu pun yang pernah gue bawa ke rumah atau gue kenalin ke Orang Tua gue?"
Gue gak bisa bersuara, cuma bisa menggeleng pelan dalam pelukannya.
"Karena dari dulu," sambung Kian dengan suara paling tulus yang pernah gue dengar dalam hidup gue, "ruang di samping gue ini emang sengaja gue kosongkan... cuma buat menunggu lu siap."