NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum yang Mulai Retak

Semester baru dimulai dengan riuh rendah suasana kelas 7C yang kini semakin akrab satu sama lain. Namun bagi Raka dan Naya, ada satu hal yang berbeda sejak hari pertama masuk sekolah: Adit tidak lagi seceria biasanya.

Ia masih melempar candaan di kantin, masih tertawa saat Bu Retno menjelaskan pelajaran dengan gaya kaku yang sering jadi bahan tertawaan diam-diam, namun ada sesuatu yang hilang dari tawa itu—semacam kehampaan yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang sudah cukup lama mengenalnya.

"Dit, kamu yakin oke?" tanya Naya suatu siang, saat mereka bertiga duduk di kantin seperti biasa. "Dari kemarin kamu keliatan... beda."

Adit tersenyum, senyum yang sudah terlatih untuk terlihat meyakinkan. "Oke banget, kok. Cuma kurang tidur aja, semalem begadang main gim."

Raka menatapnya lama, tidak sepenuhnya percaya, namun memilih untuk tidak memaksa—mengetahui betul bahwa Adit adalah tipe orang yang akan bicara ketika ia sudah siap, bukan ketika dipaksa.

Sepulang sekolah hari itu, alih-alih langsung pulang seperti biasa, Adit meminta izin untuk pulang duluan sendirian. "Aku... ada urusan di rumah. Kalian duluan aja."

Raka dan Naya saling pandang, namun mengangguk mengerti, membiarkan sahabatnya pergi meski hati mereka berdua sama-sama diliputi kekhawatiran yang tak terucap.

Di rumah, suasana yang menyambut Adit jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Ayahnya—yang sudah tiga bulan lebih jarang pulang—kini duduk kaku di ruang tamu, berhadapan dengan ibunya yang wajahnya sudah sembap karena menangis semalaman.

"Dit, duduk," kata ayahnya, suaranya berat, seolah menahan sesuatu yang sudah lama ingin diucapkan namun terus ia tunda.

Adit duduk perlahan di sofa, menatap bergantian kedua orang tuanya yang sama-sama menghindari kontak mata dengannya. Firasat buruk yang sudah ia rasakan sejak telepon semalam di bawah pohon beringin kini terasa semakin nyata.

"Ayah mau jujur sama kamu," lanjut ayahnya, menarik napas dalam. "Selama ini, Ayah sering ke kota sebelah bukan cuma karena kerjaan. Ayah... Ayah punya keluarga lain di sana. Udah lima tahun."

Waktu seolah berhenti bagi Adit. Kata-kata yang selama ini hanya menjadi kecurigaan samar, kini terucap jelas dari mulut ayahnya sendiri, mematahkan sesuatu di dalam dadanya yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

"Lima... lima tahun?" ulang Adit, suaranya bergetar antara tidak percaya dan marah yang mulai menjalar. "Berarti dari aku kelas tiga SD, Ayah udah...?"

Ibunya menangis semakin keras di sudut ruangan, tidak sanggup lagi menahan emosi yang selama ini ia pendam demi menjaga keluarga tetap terlihat baik-baik saja di depan anak semata wayangnya.

"Ayah minta maaf," kata ayahnya, suaranya mulai bergetar juga. "Tapi Ayah nggak bisa terus-terusan bohong. Ayah dan Ibumu... kami mau pisah, Dit. Baik-baik, tanpa ribut-ribut kayak keluarga lain."

Adit berdiri mendadak, wajahnya memerah menahan amarah yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, bahkan kepada kedua sahabat terdekatnya sekalipun.

"Baik-baik?!" suaranya meninggi, sesuatu yang jarang terjadi dari mulut anak yang selalu dikenal ceria dan humoris itu. "Ayah bohong lima tahun, terus sekarang bilang mau pisah baik-baik? Ayah pikir aku anak kecil yang bisa dibohongin gitu aja?!"

Ia berlari ke kamarnya, membanting pintu keras-keras, mengabaikan panggilan ibunya yang mencoba mengejarnya dari belakang. Di dalam kamar, Adit duduk di lantai, punggungnya bersandar ke pintu, air mata yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya jatuh tanpa bisa ia bendung lagi.

Ia meraih buku hariannya, tangannya gemetar menuliskan sesuatu di antara isak yang tak tertahankan:

"Aku benci ini semua. Aku benci pura-pura kuat di depan Raka sama Naya. Aku benci Ayah yang bohong lima tahun. Aku benci diriku sendiri yang nggak bisa marah ke orang yang seharusnya paling aku percaya."

Keesokan harinya di sekolah, Adit tidak masuk tanpa kabar apa pun—sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang mereka bersekolah bersama.

Raka dan Naya saling melempar pandang cemas sepanjang pelajaran, terus mengirim pesan yang tidak kunjung dibalas. Sepulang sekolah, tanpa berkata banyak, keduanya langsung bergegas menuju rumah Adit, hati mereka dipenuhi kekhawatiran yang semakin membesar seiring setiap langkah yang mereka ambil.

Namun ketika mereka sampai di depan rumah Adit, pintu gerbang tampak terkunci rapat, dan tidak ada satu pun tanda kehidupan di dalamnya—hanya sebuah mobil yang sudah dikemasi barang-barang di halaman, seolah seseorang baru saja bersiap untuk pergi jauh.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!