Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Upacara Sakral
Para Dekekuoi tetap tidak bisa memejamkan mata dengan tenang karena mereka tahu sewaktu-waktu pintu sel dapat dibuka dan salah satu dari mereka akan dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.
Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan para penjaga kepada mereka di luar sel, sebab setiap kali seseorang dibawa pergi, mata dan mulutnya selalu ditutup, tangannya diikat, dan tongkat sihir hitam yang menjadi bagian dari tubuh mereka tidak mungkin dikeluarkan. Mereka hanya bisa menunggu sampai suara langkah kaki kembali terdengar dan berharap orang yang dibawa pergi masih bisa berjalan ketika kembali.
Semakin lama mereka berada di tempat itu, tubuh mereka semakin kurus. Makanan yang diberikan memang cukup untuk membuat mereka tetap hidup, tetapi tidak cukup untuk membuat tubuh mereka kembali kuat setelah berbagai pemeriksaan dan penyiksaan yang dilakukan.
Air juga diberikan secukupnya, tidak lebih. Kadang mereka sengaja dibuat menunggu berjam-jam sebelum mendapatkan makanan, sementara beberapa dari mereka harus menjalani pemeriksaan dalam keadaan lapar.
Para Dekekuoi tidak pernah tahu apakah itu memang aturan penjara atau sengaja dilakukan untuk melemahkan mereka, tetapi mereka tidak memiliki pilihan selain menerimanya. Mereka sudah mencoba menghemat makanan, membagi bagian mereka kepada yang lebih lemah, bahkan menyimpan sedikit makanan untuk anak-anak yang berada di sel sebelah ketika kesempatan itu datang, tetapi penjaga akhirnya mengetahui kebiasaan tersebut dan mulai memberikan makanan dalam jumlah yang berbeda setiap hari agar mereka tidak bisa memperkirakan kapan makanan berikutnya akan datang.
Meski begitu, tidak ada satu pun Dekekuoi yang mengeluh kepada sesamanya. Mereka justru saling menjaga dengan cara yang sangat sederhana. Jika seseorang mendapatkan bagian makanan lebih banyak, ia akan membaginya.
Jika seseorang sakit, orang lain akan tidur di dekatnya agar tubuhnya tidak terlalu dingin. Jika seseorang dipanggil untuk diperiksa, yang lain akan mengucapkan doa sebelum pintu ditutup. Tidak ada yang tahu apakah doa mereka akan didengar, tetapi bagi mereka doa bukan sekadar permintaan agar mereka dibebaskan. Mereka berdoa agar siapa pun yang sedang dibawa keluar tetap mengingat bahwa dirinya bukan sendirian.
Tidak ada yang tahu kalau Dekekuoi tidak hanya tahu mantra saja, tapi dia juga tahu bagaimana caranya berdoa, mereka bahkan sangat mempercayai Tuhan.
Suatu hari, seorang Dekekuoi bernama Sava jatuh sakit. Ia masih terlihat seperti anak kecil, tubuhnya kurus dan rambutnya panjang sampai menutupi sebagian wajah. Tidak ada yang tahu berapa sebenarnya usia Sava karena seperti semua Dekekuoi, umur mereka tidak pernah bisa dilihat dari wajah. Ia mungkin baru berusia dua belas tahun, mungkin tiga puluh tahun, atau bahkan lebih tua daripada manusia yang sudah memiliki cucu. Namun satu hal yang jelas, tubuhnya semakin lemah sejak mereka ditangkap.
“Kalau dia tidak makan, dia akan semakin lemah.”
Perempuan tua itu menatap Sava yang sedang tidur dengan napas tidak teratur.
“Aku masih bisa bertahan, berikan ini." Lira memberikan roti yang dia sembunyikan, hanya untuk keadaan darurat.
“Kita semua bilang begitu.”
Perempuan tua itu tersenyum tipis. “Karena memang begitu seharusnya.”
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, membuat semua orang langsung diam, lalu langkah itu berhenti tepat di depan sel mereka sebelum akhirnya pintu terbuka dan dua penjaga berdiri di sana.
“Sava.”
Anak itu membuka mata, dan wajahnya langsung pucat.
“Aku?”
“Keluar.”
Tidak ada yang bergerak.
Seorang Dekekuoi yang lebih tua berdiri. “Dia sakit.”
“Keluar.” Para Kasipin dengan kelas rendah berkata dengan tegas, tak ada alasan, mereka tidak sedang berlibur, mereka tahanan, jadi bagaimana bisa panggilan diabaikan.
“Dia tidak kuat.” Dekekuoi yang lain berkata, hanya untuk meyakinkan.
Penjaga itu mengangkat senjata. Suasana langsung berubah. Sava perlahan berdiri.
Sava tersenyum kecil. “Aku akan kembali.” Dia terpaksa keluar meski keadaannya begitu lemah.
Tidak ada yang berani menjawab, karena mereka tahu, mungkin ini kali terakhir mereka meliha Sava.
Sava berjalan keluar dengan tangan terikat. Begitu pintu ditutup, para Dekekuoi langsung mendekat ke jeruji. Mereka mencoba melihat dari celah kecil, tetapi yang terlihat hanya lorong panjang yang kosong.
Kemudian langkah kaki itu menghilang.
Mereka menunggu.
Sava belum kembali juga setelah berjam-jam, mungkin hari ini sudah sangat larut menuju dini hari.
“Kenapa lama sekali?” Lira bertanya, meski dia tahu kalau tidak ada yang pernah tahu. karena apapun yang dilakukan Kasipin semua dilakukan dengan menutup semua panca indra milik Dekekuoi, sehingga Dekekuoi tidak tahu apa yang terjadi.
Mereka terus duduk dan menunggu hingga akhirnya suara langkah kaki terdengar kembali, tetapi kali ini langkahnya berbeda, tidak ada dua penjaga, hanya satu, dan di belakangnya ada seseorang yang hampir diseret.
“Sava!”
Tubuh Sava terlihat lemas. Ada bekas luka di wajah dan lengannya. Bibirnya pecah dan darah mengering di bagian dagu. Ia bahkan tidak mampu mengangkat kepala.
Pintu dibuka, tubuh Sava didorong masuk.
Bruk!
Ia jatuh di lantai, pintu kembali ditutup, tidak ada satu pun penjaga yang membantu, dan para Dekekuoi langsung berlari menghampirinya.
“Sava! Bangun. Tarik napas. Pelan-pelan.”
Sava membuka mata.
“Aku kembali.”
Kalimat itu begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.
Perempuan tua yang tadi menunggunya langsung memeluk tubuhnya.
“Ya, kau kembali.”
Sava tersenyum.
“Aku bilang juga apa.”
Mereka kemudian membersihkan lukanya dengan kain yang mereka miliki. Tidak ada obat yang cukup, sehingga mereka hanya menggunakan air yang disimpan untuk minum. Beberapa Dekekuoi rela tidak minum malam itu agar air yang tersisa bisa digunakan untuk membersihkan luka Sava.
Lira melihat semuanya dari sudut sel. Ia tahu mereka sedang semakin lemah, namun anehnya, semakin mereka dilemahkan, semakin kuat hubungan mereka, dan tidak ada satu pun yang meninggalkan yang lain.
Tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa mereka harus menyelamatkan diri sendiri.
Bahkan mereka yang paling kuat tetap membantu yang paling lemah.
Beberapa hari kemudian, sesuatu yang lebih aneh terjadi ketika pintu salah satu sel dibuka pada tengah malam dan para penjaga datang memanggil empat Dekekuoi sekaligus tanpa memberi penjelasan ke mana mereka akan dibawa, hanya mengikat tangan mereka dan menutup mata mereka, sementara salah satu perempuan muda sempat mencoba bertanya.
“Kami mau dibawa ke mana?”
Tidak ada jawaban.
“Kapan kami kembali?”
Tetap tidak ada jawaban, pintu ditutup, empat orang itu pergi, dan keesokan harinya mereka tidak kembali, begitu pula pada hari berikutnya, hingga hari ketiga pun tidak ada kabar, membuat para Dekekuoi mulai bertanya-tanya.
“Ke mana mereka dibawa?”
“Tidak tahu.”
“Mungkin dipindahkan ke sel lain.”
“Mungkin.”
Namun tidak ada yang benar-benar percaya.
Pada hari keempat, pintu sel dibuka dan seorang penjaga meletakkan makanan seperti biasa. Lira memperhatikan wajah penjaga itu.
“Ke mana empat orang kemarin?”
Penjaga tersebut hanya menatapnya.
“Tidak tahu.”
“Kau yang membawa mereka.” Lira hampir berteriak karena geram.
“Aku hanya menjalankan perintah.”
Pintu ditutup. Lira kembali duduk.
“Kalau mereka mati, gimana?” seorang pemuda bertanya, dia terlihat sangat ketakutan.
Lira memandangnya. “Jangan bicara begitu.”
“Tapi kita harus tahu.”
“Kita tidak tahu.”
“Lalu kita harus bagaimana?”
Lira menarik napas.
“Kita tunggu.”
Mereka menunggu lagi tanpa kabar, tanpa suara, dan tanpa penjelasan, dan justru ketidakjelasan itulah yang membuat para Dekekuoi semakin takut.
Mereka lebih takut pada sesuatu yang tidak mereka ketahui daripada pada penyiksaan yang sudah mereka kenal.
Namun kehidupan di penjara terus berjalan, dengan pemeriksaan yang tetap dilakukan, makanan yang tetap diberikan, para penjaga yang tetap datang, dan para Dekekuoi yang tetap saling menjaga.
Suatu malam, nenek tua yang selama ini selalu diam akhirnya berkata kepada mereka, “Kalian jangan pernah kehilangan nama.”
“Kenapa?” Lira bertanya.
“Karena orang bisa mengambil kebebasanmu, bisa mengambil makananmu, bisa mengambil rumahmu, bahkan bisa membuatmu lupa seperti apa langit di luar sana.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi jangan biarkan mereka mengambil nama kalian.”
Lira menatapnya.
“Nenek takut kita lupa?”
“Bukan.”
Nenek itu tersenyum.
“Aku takut suatu hari nanti kalian tidak lagi menganggap diri kalian sebagai Dekekuoi.”
Semua terdiam.
“Kalau kita lupa siapa kita,” lanjutnya, “maka kita tidak akan tahu apa yang harus kita pertahankan.”
Sava yang masih lemah ikut mendengarkan, nenek itu kemudian memandang mereka satu per satu. “Kita tidak harus membenci orang yang menyakiti kita.”
Seseorang bertanya, “Lalu kita harus bagaimana?”
“Bertahan.”
“Untuk apa?”
“Untuk orang yang masih hidup.”
Kalimat itu membuat seluruh sel kembali sunyi. Malam itu mereka membuat sebuah kebiasaan baru, di mana setiap sebelum tidur mereka akan menyebut nama masing-masing, bukan nama samaran, bukan nama yang mereka gunakan di hadapan manusia, melainkan nama asli mereka.
Nama yang hanya diketahui keluarga Dekekuoi.
Satu orang menyebut namanya, yang lain menjawab, kemudian orang berikutnya, begitu terus sampai semua selesai.
Itu menjadi cara mereka memastikan tidak ada seorang pun yang hilang dari ingatan mereka.
Sampai suatu malam, ketika giliran Lira menyebut namanya, ia mendengar suara dari sel sebelah.
“Lira.”
Ia langsung terdiam.
Itu suara seorang perempuan yang sudah empat hari tidak ia lihat.
Perempuan yang dibawa pergi bersama tiga Dekekuoi lainnya.
“Lira, kau masih di sana?”
Lira langsung berdiri.
“Aku di sini!”
Beberapa orang ikut berdiri.
“Kau di mana?”
Tidak ada jawaban. Lira mendekati dinding.
“Jawab aku!” Suara itu kembali terdengar.
“Aku masih hidup.”
Lira menutup mulutnya sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalian di mana?”
“Jangan tanya.”
“Kenapa?”
“Karena kami tidak tahu.”
Lira menempelkan telapak tangannya pada dinding, dan perempuan itu melakukan hal yang sama dari sisi lain, mereka tidak bisa melihat satu sama lain, tidak bisa menyentuh, dan tidak bisa menggunakan Sila, namun setidaknya mereka tahu satu hal, mereka masih hidup.
Dan bagi para Dekekuoi yang berada di dalam penjara itu, kabar sekecil itu sudah cukup untuk membuat mereka bertahan satu hari lagi.
Beberapa hari kemudian, Lira mulai menyadari bahwa penjara itu memiliki pola.
Setiap kali seseorang menggunakan Sila, penjaga akan datang.
Setiap kali seseorang terlalu sering berbicara mengenai desa, pemeriksaan akan dilakukan.
Setiap kali ada Dekekuoi yang mencoba mengingat jalan keluar, lampu di lorong akan berubah.
Seolah tempat itu bukan hanya mengurung tubuh mereka, tempat itu juga membaca mereka. Lira tidak tahu bagaimana, namun ia mulai memperhatikan simbol di dinding, ada beberapa yang sama, ada yang berbeda, dan ada yang seolah baru dibuat.
“Menurutmu apa itu?” Lira bertanya pada teman se-selnya, dia ingin memastikan kalau yang dilihatnya benar.
“Segel?”
“Mungkin.”
“Kalau begitu kenapa ada yang berbeda?”
Lira tidak menjawab. Ia hanya terus memperhatikan.
Semakin lama ia melihatnya, semakin ia merasa bahwa penjara itu memiliki sesuatu yang belum mereka pahami.
Bukan hanya sistem untuk menekan Sila.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang membuat mereka tetap hidup.
Sesuatu yang membuat para penjaga tidak pernah benar-benar membunuh mereka.
Tetapi Lira tidak mengatakannya kepada siapa pun.
Belum.
Ia hanya menyimpan dugaan itu dalam pikirannya karena di tempat seperti ini bahkan pikiran sendiri harus dijaga, dan sementara itu di atas mereka kehidupan di vila berjalan seperti biasa.
Orang-orang datang, mobil keluar masuk, lampu taman menyala, dan pelayan bekerja.
Tidak ada seorang pun yang akan menduga bahwa beberapa meter di bawah lantai vila, hampir dua puluh Dekekuoi sedang bertahan hidup di dalam penjara yang dibuat khusus untuk menahan mereka.
Lalu apa yang terjadi pada orang-orang yang dipanggil itu? meski Lira penasaran, tapi dia tak bertanya pada Sava, karena Sava menjadi berbeda sejak dia kemabali, lebih diam dan lebih ketakutan, dia bahkan sering terkejut untuk hal-hal sepele.
Sebelum pergi, Lira akan cari tahu, ya ... baginya pergi akan mudah, tapi dia tak ingin sendirian, dia ingin membawa semua Dekekuoi agar selamat.
Tapi apakah Lira akan berhasil?