Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Keraguan yang Menyelinap
Sam bergegas melangkah lebar keluar dari kamar, mencoba mengejar Vanya yang berjalan cepat dengan amarah yang meluap. Namun, langkah kaki Sam mendadak terhenti tepat di ambang pintu menuju ruang tamu. Vanya sudah telanjur keluar dari rumah, membanting pintu depan dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema.
Di ruang tamu itu, Mita berdiri mematung. Gadis itu menatap Sam lekat-lekat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pandangan mata Mita seolah melayangkan seribu pertanyaan tentang apa yang baru saja terjadi di dalam kamar.
Suasana menjadi sangat canggung. Sam berdehem, mencoba mengusir rasa tidak nyaman di dadanya. Merasa kaku karena harus membahas hal sensitif ini kepada gadis yang usianya lebih muda darinya, Sam akhirnya membuka suara dengan nada frustrasi.
"Aku... aku hanya ingin kita melakukannya saat pertama kali menikah nanti. Apa aku salah?" tanya Sam, seolah mencari pembenaran atas prinsip yang baru saja dipertahankannya.
Mita tidak langsung merespons dengan kalimat yang panjang. Ia hanya menatap Sam dengan sorot mata yang tenang, lalu menggumamkan satu kata pendek.
"Kita?"
Sam mengerutkan kening, belum menangkap maksud adiknya. "Iya, kita. Aku dan Vanya."
"Kita... itu maksudnya kalian berdua, kan, Mas?" tanya Mita pelan, memperjelas ucapan Sam. "Kalau Mas Sam bilang 'kita melakukannya saat pertama kali menikah', artinya hal itu harus menjadi yang pertama kali bagi Mas Sam, dan juga yang pertama kali untuk Mbak Vanya. Dua-duanya harus sama-sama pertama, kan?"
Mendengar inti dari pertanyaan Mita, Sam seketika tertegun. Lidahnya mendadak kelu, kaget dengan arah pemikiran Mita yang begitu logis namun menghunjam tepat ke ulu hatinya. Benar. Kata "kita" berarti melibatkan kedua belah pihak. Jika Sam menjaga dirinya demi sebuah kesucian di malam pertama pernikahan mereka kelak, apakah Vanya juga melakukan hal yang sama?
Sam mencoba menepis keraguan yang tiba-tiba menyergapnya. Ia kembali membela wanita yang dicintainya. "Aku sudah bertanya padanya, apakah dia perawan dan dia bilang iya. Aku memercayainya."
Mita menghela napas pendek. Ia menatap Sam dengan tatapan yang begitu dewasa. "Mmm... tapi Mas, orang yang benar-benar baru pertama kali dan masih awam, biasanya tidak akan sepenasaran dan seagresif itu, kan?" Jelas Mita yang mendengar pertengkaran antara Sam dan kekasihnya barusan.
Bagai disengat listrik, Sam terkejut untuk kedua kalinya sore itu. Kalimat Mita bagai godam yang meruntuhkan tembok kepercayaan yang selama ini ia bangun untuk Vanya. Logikanya yang sempat buta karena cinta mendadak dipaksa berpikir jernih. Sikap Vanya yang teramat menuntut dan tampak terbiasa dengan hal-hal intim tadi sama sekali tidak menunjukkan gelagat seseorang yang baru pertama kali.
Wajah Sam seketika berubah pucat. Jantungnya berdegup kencang berbaur dengan rasa penolakan yang besar di dalam hatinya.
"Tidak mungkin..." bisik Sam, suaranya bergetar egois. "Aku sudah memastikannya kalau dia perawan, tidak mungkin."
Sam mengepalkan tangannya kuat-kuat, membalikkan badan membelakangi Mita sambil mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi.
"Ah, sial!" umpat Sam parau, sementara benih-benih keraguan kini mulai tumbuh subur dan mencabik-cabik isi kepalanya.
Mita yang melihat kerapuhan pria di hadapannya hanya bisa menghela napas prihatin, menyadari betapa hancurnya ekspresi Sam saat dunia ilusi yang dibangunnya perlahan mulai retak. Ia berniat memberikan waktu bagi Sam untuk menenangkan diri.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)