Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Rapat Direksi
Dan terutama, rahasia tanggal lima belas.
Dua hari setelah malam di Kolam Teratai, Keira menemukan bahwa rahasia orang kaya tidak selalu disimpan di brankas. Kadang disimpan di jadwal yang kosong.
Ia duduk di ruang kecil Sayap Giok dengan kertas catatan yang ia ambil dari meja tulis. Di depannya, Ningsih berdiri sambil memegang nampan buah, wajahnya cemas karena sejak pagi Keira bertanya terlalu banyak.
"Mbak kenapa tiba-tiba tanya jadwal Pak Darren?"
"Aku sedang belajar jadi penghuni rumah yang berguna."
"Dengan menanyai jadwal?"
"Kalau orang penting tidak dijadwalkan, nanti negara bisa runtuh."
Ningsih tidak tahu harus menjawab apa.
Dari obrolan dapur, dari staf yang lewat, dari sopir yang tidak sengaja mengeluh, Keira mengumpulkan potongan-potongan kecil. Pak Darren jarang turun sarapan. Pak Darren beberapa kali membatalkan rapat. Pak Darren sudah hampir dua minggu tidak hadir di Rapat Direksi.
Dua minggu.
Nama Yuwono muncul di kepalanya bersama layar berita merah dalam mimpi.
Keira akhirnya memanggil Pak Ji.
Pria tua itu datang tidak sampai lima menit kemudian. Seolah ia memang selalu berada di jarak yang bisa dipanggil.
"Nona Keira membutuhkan sesuatu?"
"Pak Darren sudah dua minggu tidak rapat direksi?"
Pak Ji terdiam sebentar.
Keira langsung tahu jawabannya iya.
"Nona mendengar dari siapa?"
"Dari udara," kata Keira. "Udara compound cerewet."
Pak Ji menghela napas sangat halus. "Pak Darren sedang tidak terlalu sehat."
Obat di Kolam Teratai. Wajah pucat. Tanggal lima belas. Mata merah dalam mimpi.
Keira menahan desakan untuk bertanya lebih banyak.
"Kalau dia tidak sehat, bukannya harus lebih diawasi? Kalau dia tidak datang rapat, orang seperti Om Yuwono bisa bicara seenaknya."
Mata Pak Ji berubah sedikit. "Nona tahu Om Yuwono?"
"Semua orang tahu orang yang suka membuat masalah."
Itu bohong setengah matang. Keira hanya tahu nama itu membuat suara Darren berubah. Tapi kadang setengah kebenaran lebih berguna daripada diam.
Pagi itu juga, Keira berjalan ke Penthouse Utama.
Ia tidak pernah diundang ke sana. Lift pribadi menuju lantai atas dijaga dua staf rumah tangga dan satu pengawal. Begitu Keira muncul, mereka bertukar pandang seperti melihat kucing kampung masuk ke museum.
"Saya mau ketemu Pak Darren."
Pengawal itu tampak ragu. "Pak Darren belum menerima tamu."
"Bagus. Aku bukan tamu. Aku penghuni Sayap Giok yang sangat bosan."
Sebelum pengawal itu menemukan jawaban, pintu lift terbuka. Pak Ji muncul dari dalam. Matanya menyapu Keira, lalu ia menahan desahan.
"Nona."
"Pak Ji, saya cuma mau pinjam Pak Darren sebentar."
"Pak Darren sedang beristirahat."
"Kalau begitu saya bicara dari luar pintu."
Dan Keira benar-benar berjalan ke depan pintu Penthouse.
"Pak Darren," panggilnya dengan suara semanis yang bisa ia buat. "Saya bosan. Hari ini bawa saya ke Tower lagi, ya?"
Tidak ada jawaban.
"Pak Darren?"
Tetap sunyi.
Keira melirik Pak Ji. Pak Ji tampak seperti sedang mempertimbangkan apakah ia harus menghentikan Keira atau pura-pura tidak tahu.
Keira mengetuk lagi.
"Kalau Pak Darren tidak mau, tidak apa-apa. Saya cuma dengar di Tower banyak Om-om yang galak. Mungkin Pak Darren memang malas ketemu mereka."
Di balik pintu, akhirnya ada suara langkah.
Keira menahan senyum.
Pintu terbuka.
Darren berdiri di sana dengan kemeja gelap yang belum dikancingkan penuh, rambut sedikit basah, wajah lebih pucat dari biasanya. Matanya dingin.
"Apa maksudmu?"
Keira berkedip polos. "Maksud apa?"
"Om-om galak."
"Oh." Keira memiringkan kepala. "Saya dengar Om Yuwono bilang Pak Darren jarang rapat karena tidak sanggup mengurus perusahaan. Benar?"
Suhu koridor turun.
Pak Ji menutup mata sebentar.
Darren menatap Keira. "Siapa yang bilang?"
"Compound besar, Pak. Dindingnya punya mulut."
"Keira."
"Saya cuma berpikir, kalau orang bilang begitu tentang saya, saya pasti datang ke rapat pakai baju paling bagus, duduk paling depan, lalu membuat mereka menyesal punya mulut."
Darren diam.
Keira menambahkan pelan, "Tapi mungkin Pak Darren tidak suka cara itu."
Sudut bibir Darren bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih seperti amarah yang tersandung hiburan.
"Pak Ji."
"Ya, Pak Darren."
"Siapkan mobil."
Pak Ji membuka mata. "Sekarang?"
"Sekarang."
Keira menunduk agar tidak terlihat terlalu puas.
Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di Hendrawan Tower.
Keira tidak ikut masuk ke ruang rapat. Darren meninggalkannya di Ruang Kerja dengan Ningsih yang dipanggil menyusul, beberapa camilan, dan pesan pendek, "Jangan menyentuh dokumen."
Keira mengangguk patuh.
Sebelum Darren keluar, ia berkata seolah baru ingat, "Pak Darren."
Darren berhenti.
"Kalau di rapat ada orang bernama Hadi, mungkin Pak Darren bisa perhatikan dia."
Tatapan Darren berubah tipis. "Hadi?"
"Saya dengar dia suka main golf dengan anak Om Yuwono."
"Kamu dengar dari udara lagi?"
Keira tersenyum. "Angin Jakarta banyak gosip."
Darren tidak menjawab. Ia hanya menatapnya satu detik lebih lama, lalu pergi.
Begitu pintu tertutup, Ningsih berbisik, "Mbak tahu Hadi dari mana?"
Keira mengambil satu biskuit cokelat. "Dari sinetron."
Ningsih tampak makin bingung.
Di ruang rapat, Darren duduk di kursi utama untuk pertama kalinya setelah dua minggu.
Kehadirannya membuat ruangan yang tadinya penuh suara langsung sunyi. Om Yuwono, pria berusia akhir lima puluhan dengan senyum halus dan mata licin, menyambutnya terlalu hangat.
"Darren, akhirnya kamu bergabung. Kami mulai khawatir."
"Tidak perlu," jawab Darren.
Rapat berjalan satu jam. Proposal investasi. Penundaan pembayaran. Revisi kontrak. Darren mendengar semuanya dengan wajah dingin.
Lalu nama Hadi muncul.
Manajer divisi itu tidak duduk di meja utama, hanya memberi laporan dari sisi ruangan. Tetapi setiap kali Om Yuwono mengajukan keberatan, data Hadi bergerak ke arah yang sama. Setiap angka yang ia pilih melemahkan posisi Darren sedikit demi sedikit, seolah kebetulan yang terlalu rapi.
Darren tidak langsung bicara.
Ia hanya membuat catatan kecil.
Setelah rapat selesai, Darren berjalan kembali ke Ruang Kerja dengan Pak Ji di belakangnya.
"Hadi," kata Darren pendek.
Pak Ji mengangguk. "Saya akan minta Rio memeriksa."
"Semua aksesnya. Riwayat transfer. Pertemuan luar kantor. Hubungan dengan keluarga Yuwono."
"Baik, Pak."
Ketika Darren masuk ke Ruang Kerja, Keira sedang duduk di sofa dengan piring kecil di pangkuannya. Ada remah cokelat di dekat sudut bibirnya. Ia tampak terlalu polos untuk seseorang yang baru saja melempar batu tepat ke kaca rapat direksi.
Darren berhenti di depannya.
Keira mengangkat wajah. "Rapatnya menyenangkan?"
"Bagaimana kamu tahu tentang Hadi?"
Keira sudah menyiapkan wajah bodoh terbaiknya.
"Tebakan."
"Tebakan."
"Saya banyak nonton drama. Di drama, orang yang diam di pojok biasanya mata-mata. Kalau namanya tidak terlalu penting tapi sering muncul, berarti dia penting."
Darren menatapnya.
Ningsih menunduk sangat dalam di belakang sofa.
Keira mengambil biskuit lagi, menggigitnya, lalu berkata dengan mulut hampir penuh, "Ternyata benar?"
"Kamu pikir ini permainan?"
"Tidak." Keira menelan. "Saya pikir Pak Darren perlu menang."
Kalimat itu membuat ruangan diam sebentar.
Darren tidak bertanya lagi. Tetapi cara ia melihat Keira berubah. Bukan lagi seperti melihat anak kecil yang suka mencuri cake atau gadis aneh yang takut mimpi. Tatapan itu lebih tajam, lebih hati-hati.
Seperti ia baru sadar ada pintu lain di dalam dirinya yang belum ia lihat.
Sore itu, setelah Keira kembali ke Sayap Giok, Darren berdiri di depan jendela Ruang Kerja.
Pak Ji menunggu di belakangnya.
"Pak," kata Pak Ji pelan. "Tentang Nona Keira..."
Darren tidak berbalik.
"Cari tahu."
Pak Ji terdiam. "Sejauh apa?"
"Semua." Suara Darren rendah. "Mulai dari Panti Harapan."