Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Tamu Tak Diundang
Beberapa hari setelah malam di Eclipse, Keluarga Ong datang ke Kediaman Liem.
Sejak pagi, rumah besar itu berubah menjadi panggung. Bunga segar diganti. Peralatan makan perak dikeluarkan. Pelayan bergerak lebih cepat daripada biasanya, tetapi langkah mereka tetap senyap. Di rumah ini, bahkan kesibukan harus terlihat berkelas.
Sekar berdiri di depan cermin Paviliun Mei, memasang anting mutiara kecil di telinganya.
Tangannya tidak sepenuhnya stabil.
Keluarga Ong.
Nama itu terus berdengung sejak Renard mengucapkannya di Eclipse. Mereka pernah mengenal ayahmu. Kalimat itu membuka terlalu banyak pintu sekaligus. Sekar ingin bertanya lebih jauh malam itu, tetapi Renard menutup percakapan dengan cara khasnya: dingin, final, dan membuat orang merasa semakin tidak tahu apa-apa.
Malam ini mungkin jawabannya datang sendiri.
Atau bahayanya.
Di aula utama, Engkong menerima tamu dengan senyum yang tidak mencapai mata. Kevin berdiri di dekat Sekar, mengenakan jas biru tua, tampak seperti calon pewaris muda yang rapi selama ponselnya tidak menyala. Darren berada di kursi roda di sisi kiri, Jesslyn berdiri di belakangnya dengan senyum lembut. Renard berdiri agak jauh dari semua orang, seolah ia hadir bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai orang yang mengawasi pintu keluar.
Sekar mencoba berdiri setenang mungkin.
Ketika tamu Ong masuk, ruangan berubah.
Elvin Ong tidak datang dengan rombongan besar. Hanya dua orang pendamping dan satu asisten yang membawa map kulit. Ia mengenakan setelan abu-abu muda, wajahnya bersih, sikapnya halus. Jika Renard adalah pisau yang tidak disembunyikan, Elvin tampak seperti sarung sutra yang mungkin menyimpan pisau lebih tipis.
"Pak Liem," ucap Elvin kepada Engkong, suaranya hangat dan sopan. "Terima kasih sudah menerima kami."
"Keluarga lama tidak perlu terlalu banyak basa-basi," jawab Engkong.
Keluarga lama.
Sekar menangkap dua kata itu seperti menangkap pecahan kaca.
Mata Elvin bergerak melewati ruangan. Ia menyapa Darren, lalu Kevin, lalu berhenti pada Renard. Dua pria itu saling menatap dalam diam yang terlalu rapi untuk disebut biasa.
"Renard," kata Elvin.
"Elvin."
Tidak ada sapaan kehormatan. Tidak ada senyum. Hanya dua nama yang saling berhadapan seperti dua garis tajam.
Lalu Elvin menoleh kepada Sekar.
Dan untuk sesaat, seluruh kehalusan di wajahnya retak.
Tidak banyak. Hanya napas yang tertahan sedikit, mata yang melebar sekejap, lalu kelembutan aneh yang muncul sebelum ia sempat menyembunyikannya.
Sekar merasa seolah orang asing itu mengenal wajahnya dari tempat yang jauh.
"Ini Felicia Tan," kata Kevin, seperti memperkenalkan furnitur baru. "Calon istri saya."
Elvin menatap Sekar. "Nona Felicia."
Sekar menunduk sopan. "Pak Elvin."
"Elvin saja," katanya lembut. "Kalau tidak keberatan."
Renard akhirnya mengangkat mata.
Udara di antara mereka menegang tanpa suara.
Sekar segera menunduk lagi. "Baik, Pak Elvin."
Ada kilat samar di mata Elvin, mungkin geli, mungkin pengertian. Ia tidak memaksa.
Makan malam berlangsung dengan percakapan yang halus di permukaan. Mereka membahas kerja sama properti, jalur distribusi, kemungkinan investasi bersama. Kata-kata seperti sinergi, stabilitas, dan kepercayaan melayang di atas meja, tetapi Sekar mulai paham bahwa di dunia seperti ini, kata kepercayaan sering muncul justru ketika tidak ada yang percaya siapa pun.
Elvin beberapa kali berbicara dengan Engkong tentang "hubungan lama" antara keluarga mereka.
"Ada hutang budi yang tidak hilang hanya karena generasi berganti," kata Elvin.
Engkong tersenyum tipis. "Ada juga hutang yang berubah menjadi pisau kalau terlalu lama disimpan."
"Karena itu lebih baik dibicarakan di meja, bukan di belakang pintu."
Sekar menahan napas.
Renard tidak menyentuh makanannya. Darren tersenyum kecil. Jesslyn diam, tetapi matanya bergerak dari Engkong ke Elvin, lalu ke Sekar, seolah menyimpan semua pergeseran kecil itu di kepalanya.
Di bawah meja, ponsel Sekar bergetar sekali.
Ia tidak bisa membukanya.
Tetapi ia tahu itu pasti R.
Jangan sendirian dengan dia.
Sekar bahkan belum membaca pesan itu, tetapi tubuhnya seperti sudah tahu perintahnya.
Setelah makan malam selesai, para pria pindah ke ruang samping untuk berbicara lebih jauh. Kevin menghilang begitu ada kesempatan. Jesslyn menemani Darren. Sekar berpura-pura ingin mengambil udara di koridor samping, padahal ia hanya membutuhkan tempat untuk bernapas.
Ia baru saja melewati vas besar di ujung lorong ketika suara Elvin memanggilnya.
"Nona Felicia."
Sekar berhenti.
Elvin berdiri beberapa langkah di belakangnya, tidak terlalu dekat. Justru jarak sopannya membuatnya sulit menganggap pria itu mengancam.
"Maaf kalau saya mengejutkanmu," katanya.
"Tidak apa-apa."
"Kamu terlihat tidak nyaman sejak nama Ong disebut."
Sekar merasakan punggungnya menegang. "Saya hanya belum terbiasa dengan acara keluarga besar."
"Kamu menjawab seperti seseorang yang sering dilatih."
Kalimat itu lembut, tetapi mengenai tempat yang tepat.
Sekar menatapnya. "Pak Elvin juga bicara seperti seseorang yang tahu terlalu banyak."
Untuk pertama kalinya, Elvin tersenyum sungguh-sungguh. Bukan senyum menang seperti Celine, bukan senyum tajam seperti Renard. Ada sesuatu yang hampir sedih di sana.
"Mungkin karena aku pernah melihat orang baik dihancurkan oleh keluarga-keluarga besar."
Jantung Sekar memukul keras.
"Siapa yang Pak Elvin maksud?"
Elvin tidak menjawab. Ia mengeluarkan kartu nama dari saku jas dan mengulurkannya dengan dua jari.
"Kalau kamu pernah butuh bantuan," katanya pelan, "bantuan yang tidak ada syaratnya, hubungi aku."
Sekar menatap kartu itu tanpa mengambilnya.
Bantuan tanpa syarat.
Di hidupnya, kalimat itu terdengar seperti dongeng yang terlalu indah untuk dipercaya. Lilian membantu dengan rantai. Renard membantu dengan harga. Kevin bahkan tidak membantu dirinya sendiri. Dan sekarang seorang pria dari keluarga yang terkait dengan masa lalu ayahnya menawarkan sesuatu yang tidak meminta apa pun?
"Kenapa?" tanya Sekar.
Elvin menatapnya lama.
"Karena ayahmu pernah melakukan hal yang sama untuk seseorang."
Darah Sekar terasa berhenti.
Sebelum ia sempat bertanya, suara langkah terdengar dari ujung lorong. Elvin meletakkan kartu itu di atas meja kecil dekat vas, lalu mundur setengah langkah.
"Simpan, atau buang," katanya. "Keputusanmu."
Ia berbalik dan pergi sebelum Sekar bisa mengejarnya.
Sekar mengambil kartu itu dengan tangan dingin.
Elvin Ong.
Nama itu tercetak rapi dalam huruf perak. Di bawahnya ada nomor pribadi dan alamat kantor yang tidak berarti apa-apa bagi orang lain. Tetapi bagi Sekar, satu nama belakang di kartu itu membuat kenangan lama bergerak dari tempatnya dikubur.
Ong.
Nama yang pernah ia lihat di catatan Papa Ardy.
Ponsel di tas kecilnya bergetar sekali. Sekar tidak perlu membukanya untuk tahu siapa yang mungkin mengirim pesan. Dari ujung lorong, ia juga merasa ada tatapan lain yang mengikuti gerak tangannya, tajam dan diam, seperti peringatan bahwa kartu kecil itu bukan sekadar bantuan, melainkan pintu baru yang mungkin membuatnya semakin jauh dari jalan pulang.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Sekar bertanya-tanya apakah kebenaran tentang ayahnya bukan hanya terkubur oleh waktu, tetapi sengaja dikunci oleh orang-orang yang masih duduk tenang di meja makan.