Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shen yukin tak lagi lemah
Pusat perbelanjaan terbesar di Beijing tampak ramai oleh pengunjung. Shen Yuxin dan Lin Xiaoran baru saja keluar dari sebuah butik dengan beberapa kantong belanja di tangan.
"Aku tidak menyangka belanja itu bisa seseru ini," ujar Yuxin sambil tersenyum lebar.
Xiaoran terkekeh pelan. "Dulu katanya kau orang yang paling malas keluar rumah?"
Yuxin langsung salah tingkah. "Hehe... manusia bisa berubah Xioran ."
Belum sempat mereka melanjutkan langkah, sebuah suara tajam menggema di sepanjang lorong mal. "SHEN YUXIN!"
Semua orang spontan menoleh. Yuxin menghentikan langkahnya.
Di kejauhan tampak Shen Melin berjalan dengan dagu terangkat tinggi. Di belakangnya berdiri seorang wanita tua berwajah dingin dengan aura penuh wibawa, Nyonya Besar Shen terlihat tegas dan galak.
Mereka mengira Yuxin akan kembali menundukkan kepala seperti biasanya. Karena Shen Yuxin asli sangat takut dan tunduk pada sang nenek. Namun...Shen Yuxin kali ini hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel sambil menatap santai.
Shen Yuxin terlihat sangat tenang, tak ada tanda-tanda Rasa takut, ataupun panik seperti biasanya. Sikapnya yang tenang justru membuat Shen Melin mengernyit.
Kenapa wanita itu tidak panik seperti biasanya?
"Shen Yuxin!" Shen Melin menunjuk wajah Yuxin tanpa sopan. "Berani sekali kau mengusirku dari Mansion Keluarga Lu!"
Yuxin menguap kecil. "Kau sendiri yang salah?"
Jawaban singkat itu membuat Shen Melin nyaris tersedak. "Itu... Itu bukan salah ku, suami mu sendiri yang menggoda ku."
Yuxin mengangguk santai. "Oh iya, tapi Zhichen berkata tidak?"
"Itulah masalahnya. Kenapa kau lebih mempercayai suami mu ketimbang keluarga mu Sendiri!" Shen Melin segera memeluk lengan sang nenek. "Nenek! Lihat sendiri! Yuxin sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun pada ku." Adu Shen Melin pada sang nenek.
Nyonya Besar Shen memandang Yuxin dengan sorot mata tajam. "Yuxin!" Suara wanita tua itu penuh tekanan. "Sejak kapan kau berani mempermalukan keluarga Shen?"
Yuxin tersenyum tipis. "Aku tidak pernah merasa mempermalukan keluarga Shen.Malah sebaliknya. Shen Melin yang tidak tahu malu, dia merangkak naik ke tempat tidur suami ku. Karena itu suamiku yang marah akhirnya, dia di usir. Aaah. Harus nya dia bersyukur. Hanya di usir. Bukan di cekik hingga mati."
Jawab Shen Yuxin santai sambil menunjuk ke pada Shen Melin.
Xiaoran yang semula hendak maju membantu perlahan mengurungkan niatnya. Ia melirik Yuxin. Shen Yuxin... Sama sekali tidak membutuhkan bantuannya.
"Kurang ajar! Tidak sopan! Begini kah cara mu berbicara pada orang tua?" Tongkat Nyonya Besar Shen menghantam lantai marmer. Raut kemarahan terlihat jelas di wajahnya yang mulai terlihat keriput.
Tapi Shen Yuxin terlihat tidak takut sama sekali. "Nah, itu nenek sudah sadar. Jika nenek itu sudah tua. Jangan sering marah-marah nek. Nanti darah tinggi naik, terus serangan jantung mendadak dan koit deh." Kata Shen Yuxin dengan Santai.
Semua yang menonton hanya mampu menggelengkan kepalanya. Shen Yuxin terlalu berani. Bahkan dia mendoakan neneknya cepat mati.
Mata Shen Melin membelalak. "Nenek! Lihat! Dia benar-benar sudah gila! Dia mendoakan supaya nenek cepat mati!" Kata Shen Melin penuh provokator.
Yuxin langsung menoleh. Senyuman tipis tersungging di bibir tipisnya. "Ya ampun Melin. Aku tidak berkata seperti itu. Bukan kah kamu yang baru saja berkata nenek cepat mati."
Beberapa orang langsung menutup mulut menahan tawa.
Wajah Shen Melin memerah. "Kau..!!"
Wajah Nyonya Besar Shen sudah menghitam karena amarah. "Diam!! Sepertinya aku kurang memberikan mu pelajaran! Bentak Nyonya Besar Shen. Sambil menunjuk Shen Yuxin dengan tongkat nya.
Nyonya Besar Shen mengangkat tongkat nya untuk memukul Shen Yuxin. Tapi sebelum Tongkat itu menyentuh kulit nya, dengan gesit Yuxin sudah menangkap tongkat kayu itu dengan kuat. "Nenek pikir, nenek mampu menyakiti ku?
"Harus nya nenek menghajar cucu kesayangan nenek itu. Agar tidak kembali masuk ke kamar suami orang." Shen Yuxin langsung mendorong pelan tongkat itu. Hingga tubuh Nyonya Besar Shen terhuyung kebelakang. Tetapi tidak sampai membuat Nyonya Besar Shen jatuh.
Bisik-bisik mulai terdengar dari segala arah.
"Apa?"
"Masuk ke kamar suami orang?"
Orang-orang di sana menggeleng, menatap Shen Melin dengan raut wajah jijik.
Wajah Shen Melin seketika memucat. "Kau... kau fitnah!"
Yuxin mendengus."Fitnah? Lalu kenapa kau diusir dari Mansion Keluarga Lu sebelum matahari terbit? Mau olahraga pagi? Tidak mungkin, kan?"
Terdengar tawa kecil dari beberapa pengunjung.
Shen Melin hampir meledak karena malu. Sedangkan Nyonya Besar Shen sudah tidak mampu untuk berkata-kata. Shen Yuxin berubah terlalu besar. Dia bahkan kini berani melawannya tanpa rasa takut. Tenaga Shen Yuxin bahkan terasa sangat kuat saat menangkis pukulan nya.
"Sudah Melin. Lebih baik kita pulang saja. Biarkan wanita tak tau etika dan balas budi ini." Kata Nyonya Besar Shen dengan menahan kesal.
"Ta... Tapi Nek." Kata Shen Melin yang belum rela melepaskan Yuxin.
"Sudah ayo pulang!" Perintah Nyonya Besar Shen dengan tegas.
Dengan mulut manyun dan wajah masam dengan terpaksa Shen Melin, mengikuti perintah sang nenek.
Yuxin melambaikan tangan ke arah Shen Melin dengan senyuman penuh ejekan. "Bay... Bay Ular rawa yang suka cari mangsa."
Shen Melin langsung menoleh memandang Yuxin dengan tajam dan penuh permusuhan. "Ini belum berakhir!" Seru Shen Melin yang langsung bergegas pergi meninggalkan mal tersebut bersama sang nenek.
Setelah kepergian mereka, dua wanita itu kembali melanjutkan sesi belanja nya. Dari baju, sepatu, tas hingga aksesoris dari brand-brand terkenal. semua mereka borong
Mereka berdua tertawa bersama. Menghabiskan hari dengan penuh kebahagiaan. Tanpa tau di tempat lain.
Ada orang yang sedang uring-ringan karena gagal memberikan pelajaran pada Shen Yuxin. Di samping nya, sang nenek juga tak kalah kesal nya dengan Shen Melin. Hingga wajahnya menghitam karena marah.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁