Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kebenaran yang Terungkap
Malam itu terasa panjang dan penuh ketegangan. Setelah mengetahui bahwa dokumen palsu dan gosip negatif itu siap disebarkan ke media, Arga dan Anya tidak bisa tidur dengan tenang. Mereka duduk di ruang kerja, memeriksa satu per satu bukti dan dokumen asli yang bisa membuktikan kebenaran. Di samping mereka, Tuan Wijaya juga ikut serta, kini sudah mulai membuka pikirannya dan siap membela menantunya.
“Kalau mereka berani menyebarkan kebohongan itu secara luas, kita juga harus bertindak tegas,” ucap Tuan Wijaya dengan nada tegas. “Kita tidak bisa membiarkan nama baik keluarga dan nama Anya tercoreng begitu saja tanpa perlawanan.”
Arga mengangguk setuju sambil menyusun berkas-berkas di meja. “Saya sudah memerintahkan tim hukum dan tim humas untuk bersiap. Kita akan mengumpulkan semua keterangan dari orang-orang yang mengenal Anya, surat keterangan dari rumah sakit tempat ibunya dirawat, serta bukti pembayaran utang yang sudah diselesaikan. Semua ini cukup untuk membuktikan bahwa apa yang disebarkan itu hanyalah rekayasa belaka.”
Anya duduk di samping mereka, merasa sangat bersyukur mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga Wijaya. Ia tidak menyangka keraguan yang sempat muncul tadi bisa berubah menjadi kepercayaan yang lebih kuat lagi. “Terima kasih, Bapak, Arga. Saya siap menghadapi apa pun, asalkan kebenaran bisa terlihat oleh semua orang.”
Keesokan harinya, seperti yang dikhawatirkan, berita itu mulai bermunculan di beberapa media daring dan majalah kecil. Judulnya dibuat sensasional untuk menarik perhatian pembaca, seolah-olah Anya adalah penipu ulung yang berhasil masuk ke lingkungan keluarga kaya. Tak lama kemudian, pertanyaan dan komentar miring mulai bermunculan di lingkungan pergaulan dan rekan bisnis keluarga Wijaya.
Namun, sebelum gosip itu semakin meluas dan mengakar, Arga dan timnya sudah bergerak cepat. Mereka mengundang sejumlah wartawan dan tokoh penting dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di kantor pusat perusahaan Wijaya. Suasana di ruangan itu terasa tegang, banyak orang yang datang dengan rasa ingin tahu sekaligus keraguan.
Begitu Arga berdiri di hadapan mereka, ia langsung membuka pembicaraan dengan nada tenang namun tegas. “Hari ini kami mengundang Anda semua bukan untuk membela diri dengan kata-kata kosong, tapi untuk menyajikan bukti nyata yang akan menjawab semua tuduhan yang beredar akhir-akhir ini.”
Kemudian ia mempersilakan Anya maju ke depan. Dengan kepala terangkat tinggi dan tatapan yang tenang, Anya berdiri di hadapan kamera dan wartawan. “Saya Anya, istri dari Arga Wijaya. Saya tidak datang ke sini untuk memohon belas kasihan, tapi untuk menceritakan kenyataan hidup saya apa adanya.”
Ia mulai bercerita dengan jujur, dari masa kecilnya yang sederhana, perjuangan membantu ibunya berjualan, hingga terjebak utang karena biaya pengobatan yang mahal. Sambil bercerita, ia juga memperlihatkan dokumen asli, surat keterangan rumah sakit, bukti pembayaran, serta keterangan dari tetangga dan mantan majikannya yang menyaksikan perjuangannya selama ini.
“Memang benar saya pernah mengalami kesulitan, tapi saya tidak pernah berniat menipu atau memanfaatkan siapa pun. Perjanjian pernikahan saya dengan Arga awalnya memang untuk saling membantu, tapi seiring berjalannya waktu, hubungan itu berubah menjadi ikatan yang didasari rasa saling percaya dan cinta. Semua tuduhan bahwa saya datang dengan niat buruk adalah kebohongan yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan keluarga Wijaya.”
Setelah Anya selesai berbicara, Arga melanjutkan dengan memperlihatkan bukti lain yang lebih mengejutkan. “Selain itu, kami juga memiliki bukti bahwa dokumen yang beredar itu adalah rekayasa. Tim penyelidik kami berhasil melacak asal-usul penyebaran berita ini, dan menemukan bahwa semuanya diatur oleh pihak yang memiliki kepentingan untuk menjatuhkan posisi perusahaan kami.”
Di layar proyektor, terlihat rekaman percakapan dan bukti transaksi yang menunjukkan bahwa dana untuk menyebarkan gosip itu berasal dari perusahaan milik keluarga Baskara. Semua orang yang hadir tertegun, baru menyadari bahwa ini bukan sekadar masalah pribadi, tapi bagian dari persaingan bisnis yang kotor.
Berita dari konferensi pers itu menyebar lebih cepat daripada gosip sebelumnya. Masyarakat dan kalangan bisnis mulai melihat kenyataan yang sesungguhnya. Mereka mengagumi keberanian Anya yang berani membuka masa lalunya secara terbuka, serta menghargai kejujuran dan keteguhan hatinya. Komentar negatif perlahan berubah menjadi dukungan dan rasa hormat.
Di rumah keluarga Baskara, suasana terasa sangat kacau. Pak Baskara duduk dengan wajah pucat pasi, menatap layar televisi yang menayangkan hasil konferensi pers tadi. Rina berdiri di sampingnya dengan wajah penuh amarah dan kekecewaan.
“Kenapa mereka bisa menemukan buktinya secepat ini? Semua rencana kita hancur!” teriak Rina sambil membanting barang di meja.
Pak Baskara menghela napas panjang, merasa kalah telak. “Kita salah menilai gadis itu. Ia bukan orang lemah yang mudah dijatuhkan, dan Arga juga tidak akan membiarkan istrinya difitnah begitu saja. Sekarang nama kita justru tercoreng, dan kita bisa menghadapi tuntutan hukum atas tuduhan pencemaran nama baik dan rekayasa dokumen.”
Beberapa hari kemudian, surat peringatan resmi dari pengacara keluarga Wijaya tiba di kantor dan rumah keluarga Baskara. Mereka diberi pilihan: meminta maaf secara terbuka dan menghentikan segala tindakan jahatnya, atau menghadapi proses hukum yang bisa berujung pada kerugian besar bahkan pembekuan usaha mereka.
Tidak punya jalan lain, Pak Baskara akhirnya mengalah. Ia mengeluarkan pernyataan resmi di media untuk meminta maaf, mengakui bahwa semua tuduhan yang disebarkan adalah kebohongan, dan berjanji tidak akan mengganggu lagi. Rina yang merasa sangat malu dan kecewa akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk sementara waktu, menjauh dari lingkungan yang mengingatkannya pada kegagalan dan rasa sakit hatinya.
Setelah badai itu berlalu, suasana di rumah Wijaya kembali tenang dan jauh lebih harmonis dari sebelumnya. Ujian yang berat itu justru membuat ikatan antara Anya, Arga, dan seluruh anggota keluarga menjadi semakin kuat dan erat.
Suatu sore, saat mereka kembali duduk di taman di bawah langit senja yang indah, Arga menggenggam tangan Anya dengan lembut. “Lihatlah, Sayang. Kita berhasil melewatinya. Semua kebohongan runtuh, dan kebenaran menang pada akhirnya.”
Anya tersenyum lembut, matanya bersinar penuh kebahagiaan. “Saya juga tidak menyangka kita bisa melewatinya sekuat ini. Tanpa dukunganmu dan keluarga, saya mungkin tidak akan sanggup menghadapinya sendirian.”
Nyonya Wijaya yang duduk di samping mereka ikut tersenyum bahagia. “Ibu sudah katakan, kebaikan dan kejujuran tidak akan pernah kalah. Anya, kamu telah membuktikan bahwa kamu memang pantas menjadi bagian dari keluarga ini, bahkan lebih dari itu — kamu adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan untuk kita semua.”
Tuan Wijaya mengangguk setuju. “Mulai hari ini, tidak ada lagi keraguan. Kamu adalah putri kami, dan rumah ini adalah rumahmu selamanya.”
Namun, di tengah kebahagiaan yang terasa sempurna itu, Anya masih menyimpan satu hal kecil yang belum sempat ia sampaikan. Saat ia memeriksa berkas-berkas lama beberapa hari lalu, ia menemukan sebuah dokumen yang membuatnya tertegun — sebuah keterangan yang mengaitkan antara masa lalu keluarganya dengan sebuah peristiwa lama yang melibatkan keluarga Wijaya. Ia belum tahu apakah ini hanya kebetulan atau sebuah rahasia besar yang selama ini tersembunyi, yang mungkin akan membawa kejutan baru dalam perjalanan hidup mereka.
Ia memutuskan untuk menyimpannya dulu, sampai ia menemukan kejelasan yang pasti. Yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan yang baru saja ia raih, dan ia berjanji pada dirinya sendiri akan menghadapi segala hal yang datang nanti bersama Arga, dengan hati yang terbuka dan penuh kepercayaan.
Cinta mereka telah melewati ujian kebohongan, fitnah, dan rintangan yang berat. Namun, takdir seolah memiliki jalan yang lebih panjang dan penuh rahasia untuk mereka, menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
Bersambung...