Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Pertunangan dan Pengkhianatan
Kabar Arya membeli unit di atas apartemennya membuat Keira tidur hanya tiga jam.
Pagi berikutnya, ia masuk kantor dengan mata sedikit bengkak dan daftar pekerjaan yang tidak memberi ruang untuk panik. Hari itu Rayhan Kie bertunangan dengan Sanya Yong.
Pertunangan keluarga konglomerat tidak pernah benar-benar hanya tentang dua orang. Ballroom hotel dipenuhi bunga putih, kamera media bisnis, rekanan proyek, dan senyum yang sudah dilatih di depan cermin. Pak Herman Yong tertawa besar di samping Hendrik Kie. Ibu Yong menggandeng Sanya seperti memegang porselen mahal. Ibu Meilan duduk tenang dengan kalung giok, wajahnya sulit dibaca.
Keira berdiri di sisi meja registrasi, memastikan daftar tamu VIP tidak berantakan.
Sanya tampak cantik dengan kebaya modern warna champagne. Senyumnya lembut, tangannya menggenggam lengan Rayhan dengan ukuran tekanan yang pas, tidak terlalu manja, tidak terlalu jauh. Dari luar, mereka serasi sekali. Seperti dua perusahaan besar yang akhirnya menandatangani nota kesepahaman dengan wajah manusia.
Sebelum acara dimulai, Rayhan memanggil Keira ke koridor samping.
"Jadwal besok kosongkan pagi."
"Untuk rapat keluarga Yong, Pak?"
"Untukku."
Keira menatap tablet. "Bapak ada pemeriksaan kesehatan?"
Rayhan tidak menjawab. Ia justru memperhatikannya terlalu lama. Di dalam ballroom, pembawa acara mulai latihan suara.
"Keira," katanya, "setelah aku menikah, kamu ikut aku saja."
Jari Keira berhenti di layar. "Maksud Bapak pindah ke tim rumah tangga?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti."
Keira mendongak. Rayhan berdiri dengan jas pertunangan, beberapa menit lagi akan memasangkan cincin pada Sanya Yong, dan masih sempat mengucapkan kalimat seperti itu kepada sekretarisnya.
Keira tertawa.
Tidak keras, tapi cukup tulus untuk membuat wajah Rayhan berubah.
"Maaf, Pak," katanya setelah berhasil menahan tawa. "Saya kira hari ini acara pertunangan Bapak, bukan audisi perempuan simpanan."
"Aku tidak menyebut simpanan."
"Tapi maksudnya lebih buruk kalau tidak diberi nama."
Rayhan menatapnya tajam. "Kamu berani sekali."
"Saya hanya sedang membantu Bapak menghindari dosa logika. Kalau Bapak mau menikah, menikahlah baik-baik. Kalau tidak mau, batalkan. Jangan menyeret orang lain ke tempat yang bahkan Bapak sendiri tidak hormati."
Di wajah Rayhan, sesuatu bergerak antara marah dan tertarik.
"Kamu tidak pernah tergoda?"
"Oleh apa? Jadi rahasia pria yang baru bertunangan?" Keira merapikan tablet di dadanya. "Tidak, Pak Direktur. Selera saya tidak semahal itu."
Ia membungkuk sopan, lalu kembali ke ballroom.
Acara berlangsung sempurna. Cincin berkilau, tepuk tangan panjang, kamera menyala. Sanya tersenyum ketika Rayhan memasangkan cincin di jarinya. Keira melihat dari jauh dan bertanya-tanya apakah perempuan itu tahu calon suaminya baru saja menawarkan ruang gelap pada sekretarisnya.
Seminggu setelah pertunangan, Selene masuk ke Gemilang sebagai staf administrasi khusus. Secara struktur, ia berada jauh di bawah Rayhan. Secara darah, semua orang tahu tidak ada kepala divisi yang berani menegurnya terlalu keras.
Selene datang terlambat di hari pertama, membawa kopi dingin dan tas desainer.
"Morning," katanya pada Keira. "Ko Rayhan ada?"
"Rapat."
"Good. Aku tidak suka pidato pagi."
Keira menyerahkan kartu akses. "Ini akses area administrasi. Untuk ruang direksi, tetap harus izin."
Selene mengangkat alis. "Aku keluarga."
"Gedung ini punya sistem keamanan, bukan album keluarga."
Selene tertawa. "Kamu lucu kalau berani."
Keira tidak tertawa. Ia melihat terlalu banyak rasa lapar di mata Selene. Bukan lapar makanan, melainkan lapar membuktikan bahwa rumah Kie berutang sesuatu padanya.
Dalam dua minggu, tanda-tanda masalah muncul.
Bella mulai sering datang ke lantai administrasi dengan alasan mengurus vendor event. Ia membawakan kopi untuk Selene, memuji sepatu Selene, dan terlalu cepat menjadi "Bel" yang bisa diajak merokok di balkon belakang.
Keira tidak suka kombinasi itu.
Suatu sore, saat mencari dokumen anggaran proyek hotel, Keira membuka laci arsip kecil di ruang sekretariat. Urutan map berubah.
Ia punya ingatan yang menyebalkan soal benda. Map vendor biru selalu ia taruh di bawah map legal abu-abu, bukan di atasnya. Klip kertas yang ia pasang menghadap kiri kini menghadap kanan. Bagi orang lain itu tidak berarti apa-apa. Bagi Keira, itu tanda seseorang menyentuh laci.
Ia tidak langsung berteriak.
Keira memotret posisi map, mencatat waktu, lalu mengecek log akses. Malam sebelumnya, kartu akses Bella tercatat masuk area administrasi sebagai vendor pendukung. Lima menit kemudian, kartu sementara milik Selene masuk ruang dokumen.
Keira membawa semua itu ke Rayhan.
Rayhan membaca tanpa ekspresi. "Siapa lagi yang tahu?"
"Belum ada."
"Bagus."
Pagi berikutnya, seluruh staf administrasi dan sekretariat dikumpulkan di ruang rapat kecil. Rayhan berdiri di depan, wajahnya lebih dingin daripada layar presentasi.
"Mulai hari ini, akses dokumen anggaran dibatasi. Siapa pun yang memindahkan, memotret, atau membuka file tanpa izin akan saya proses hukum. Keluarga, vendor, staf lama, semua sama."
Kata "keluarga" membuat Selene tersenyum tipis. Bella menunduk terlalu cepat.
"Nona Bella," Rayhan melanjutkan, "kontrak vendor Anda dihentikan sampai audit selesai."
Bella mengangkat wajah, pucat. "Pak Rayhan, saya..."
"Keluar."
Tidak ada yang berani membela.
Keira berdiri di belakang ruangan, memegang map, dan merasakan tatapan Selene menempel di sisinya. Tajam. Dingin. Seperti pisau kecil yang belum menemukan tempat menusuk.
Masalah kantor belum selesai ketika masalah rumah datang mengetuk dari lantai atas.
Malam itu, Keira pulang ke apartemennya dan menemukan Arya berdiri di depan lift dengan dua kardus buku.
"Kamu benar-benar pindah," kata Keira.
"Aku bilang ingin dekat."
"Aku tidak pernah bilang ingin didekati."
Arya tersenyum letih. "Keira, aku salah dulu. Aku tidak tahu kamu terluka sejauh itu."
"Kamu tahu. Kamu hanya tidak mau melihat."
Kalimat itu membuat senyum Arya menghilang.
Di koridor apartemen yang sepi, suara AC berdengung pelan. Arya melangkah satu langkah lebih dekat.
"Aku putus dengan Nadia."
"Itu urusanmu."
"Aku mencarimu karena aku sadar. Selama ini, orang yang paling mengerti aku adalah kamu."
Keira menekan tombol lift berkali-kali meski pintunya belum tertutup.
"Aku bukan tempat pulang cadangan, Mas Arya."
"Aku sungguh mencintaimu."
Kalimat yang dulu ia tunggu bertahun-tahun akhirnya datang. Aneh sekali, saat mendengarnya, Keira tidak merasa bahagia. Ia hanya merasa lelah, seperti menerima paket yang dikirim ke alamat lama.
Arya mengulurkan tangan, mungkin ingin menahan pintu, mungkin ingin menyentuh lengannya.
Tubuh Keira bereaksi sebelum hatinya sempat memilih.
Ia menangkap pergelangan Arya, memutar dengan gerakan taekwondo yang bersih, dan menekannya ke dinding koridor.
Arya mengerang tertahan.
Keira baru sadar setelah melihat wajahnya memucat.
"Mas Arya..."
Di antara kardus buku yang jatuh dan pintu lift yang terbuka, tangan Arya tergantung kaku di genggaman Keira.