Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 PERJANJIAN
Meta nampak sangat kesal sudah seharian kemarin telpon dan Pesannya tidak dijawab oleh Pak Rudiansyah dan pagi ini dia berniat untuk datang kerumah Rudiansyah sendiri.
Sementara Rudiansyah sudah berangkat sebelum subuh ke kantor karena ada tugas monitoring pagi ini untuk kekantor cabang bersama perusahaan cabang lainnya.
Saat Meta sampai kerumah itu, Meta tidak melihat mobil Rudiansyah yang biasa terletak di depan bagasi rumahnya. Meta mengetuk pintu yang saat itu dibuka oleh Bik Ani.
"Assalamu'alaikum Bik Ani, Dinar Ada? "
"Waalaikum Salam Non Meta, Nanar mengantar Dut"
"lho kok Dinar ngantar Dut, biasanya bareng Om Rudiansyah"
"Iya hari ini Pak Rudi ada monitoring ke cabang bersama kepala kantor yang lain tadi subuh sudah berangkat"
"Ooh gitu"
"Iya Non"
"Baiklah bik Kalau gitu nanti aja Meta kesini lagi"
"Baik Non"
Meta pulang dengan membawa info tersebut kepada Neneknya. Nenek merasakan bahwa Rudiansyah itu menghindari dan mencari alasan.
"Pergilah ke kantornya Rudiansyah Meta untuk bicara, atau kita berdua yang akan pergi jika dia masih mengelak"
"Baik Nek"
"Nenek tidak usah kwatir aku tahu dimana titik kelemahan Rudiansyah, menghindar itu tak akan berlangsung lama, Meta punya banyak hal untuk membuat dia bertanggung jawab"
Sampai sore pun Handphone Rudiansyah tetap dimatikan hanya telpon pribadi yang dihidupkan yang hanya dan bunga serta anak-anaknya yang tahu nomor telpon kecil itu.
Rudiansyah belum siap menerima apa yang akan terjadi ke depan nya tapi dia juga tidak bisa menolak pesona Meta yang mampu melumpuhkan kesetiannya kepada Bunga istrinya almarhum.
**
Pagi sekali dengan mobilnya yang diletakkan di ujung jalan akhirnya Meta berhasil mengikuti Rudiansyah ke kantornya. Sesampai dihalaman parkir Meta turun bersamaan dengan Rudiansyah.
"Mas.... " Meta memanggil nama tersebut dan me dekati Rudiansyah.
"Kamu Meta!"
"Iya Mas, kemana aja kok telponnya dimatikan, apakah kamu aku menghindari aku"
"Ohhhh tidak, Mas lagi sibuk ada monitoring kemarin"
"Aku mau kasih ini kepada Mas"
Meta memberikan secarik kertas tes kehamilannya.
"Aku positif Mas, dan jika Mas berani menghindari aku dan tidak bertanggung jawab, aku dan Nenek tidak akan tinggal diam. Selama ini Nenek tidak tahu hubungan kita tapi Nenek akan bertindak jika tahu yang menghamili cucunya adalah ayah dari sahabat cucunya sendiri."
"Mas mau aku sebarkan ini dikantor dan bukti perselingkuhan Mas dengan ku kepada Dinar dan orang kantor"
"Lalu mau kamu apa? "
"Temui Nenekku dan nikahi aku"
"Tapi aku tak bisa menikah dengan kamu istriku baru sepuluh hari meninggal apa kata orang-orang nanti Meta"
"Istri Mas sudah Mati dan dikubur sedangkan aku, dalam sehari perutku akan mulai membesar"
"Sekarang Mas Pilih"
"Tunggu aku dirumah Nenekmu aku akan menemui kamu disana dan menyelesaikan persoalan ini"
"Baiklah aku tunggu tapi jangan Mangkir"
Meta pergi dari parkir kantor Rudiansyah yang masih memegang surat tes kehamilan perempuan itu. Kepalanya sakit, dadanya sesak keputusan apa yang akan diambilnya dalam masalah ini. Dia tidak mau menghancurkan karirnya dan membuat anaknya membencinya dia harus atur semua, bagaimanapun Anak yang ada di kandungan Meta itu adalah anaknya,sebagai laki-laki dia harus bertanggung jawab.
Rudiansyah Melangkah gontai, bagaimanapun dia harus tetap tenang.
Sampai menjelang Magrib Meta dan Neneknya nampak gelisah menunggu Rudiansyah.
"Nenek sudah tahu adegan yang kita mainkan"
"Iya tenang Nenek sudah hafal"
Meta nampak menyusun rencana saat Rudiansyah akan datang nanti. Dan benar beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan berwarna hitam memasuki rumah sederhana itu. Setelah memarkirkan mobil tersebut Rudiansyah turun dan memandang sekeliling rumah. Takut ada tetangga yang dia kenal lewat.
Meta keluar rumah dan berlari menyambut Rudiansyah, Meta mengandeng tangan Rudiansyah untuk diajak masuk.
"Mas sudah datang, Mari Mas kita temui Nenek Meta" drama pertunjukan Antara Meta dan Neneknya pun dimulai.
"Siapa Meta? Nenek nampak keluar dari dapur seolah-olah kaget.
" Kita kedatangan tamu Nek"
" Ah... Pak Rudi? " Nenek Meta beradegan seolah kaget akan kedatangan Rudiansyah.
"Jadi..... jadi... ini yang menghamili kamu Meta" dengan spotan Nenek Aini menampar Meta.
"Dia kan suami Buk Bunga, jadi kamu berselingkuh dengan Pak Rudi"
"Ampuun Nek" Meta pura-pura menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bersujud.
"Meta mencintai Mas Rudiansyah Nek"
"Anak bodoh, Tapi dia sudah menikah dan memiliki anak"
Nenek Aini beradegan dengan marah, muka nya beringas merah dan menjambak rambut Meta.
Rudiansyah yang menyaksikan adegan tersebut sempat kaget dan mengambil tangan Nenek Aini yang sedang menjambak rambut Meta.
"Sudah Nek, jangan siksa Meta lagi dia tidak bersalah saya yang salah sudah mendekati Meta cucu Nenek dan anak didalam perutnya adalah anak saya"
"Kamu sudah menghamili cucu saya Pak"
Nenek Aini berpura-pura gemetar dan menangis, kedua orang tersebut memang hebat berhasil membuat Rudiansyah benar-benar terpojok dan merasa bersalah
"Kita bicarakan ini dengan tenang Nek"
Rudianto mengangkat Meta yang sudah acak-acakan dengan adengannya yang total.
"Boleh Saya duduk?"
"Silakan" mereka bedua duduk di kursi yang sederhana tersebut.
"Sejak kapan Anda berhubungan dengan Cucu saya Pak Rudi"
"Saya dan Meta sudah menjalin hubungan lebih dari enam bulan lalu saat terakhir dia magang di kantor saya"
"Bapak sudah menikah kenapa masih mendekati cucu saya dan Bapak tahu Meta dan Dinar itu bersahabat"
"Ya saya tahu saya khilaf untuk semua itu Buk Aini"
"Sekarang bagaimana dengan nasib cucu saya Pak Rudi, Bapak tahu dia sudah tidak punya orangtua dari kecil dan anda menyakiti dia bahkan tega menghamilinya, sungguh saya tidak menyangka bahwa yang datang saya tunggu hari ini sebagai pacar cucu saya adalah anda Pak Rudi"
Adegan Nenek Aini memang luar biasa bahasa penekanan membuat Rudiansyah merasa terpojok dan bersalah semakin kuat.
"Kami sudah khilaf Buk Aini, saya memang sangat menyukai Meta dan akhirnya kamu melakukan itu atas dasar suka sama suka"
"Ya suka sama suka tanpa paksaan"
Kalimat Rudiansyah berbalik menggetarkan hati Nenek Aini, suasana berbalik sekarang Rudiansyah yang menguasai panggung.
"Meta tahu saya punya istri dan anak walau saat ini saya sudah duda ditinggal mati oleh istri saya."
"Saya akan bertanggung jawab pada kehamilan Meta dan anaknya"
"bertanggung Jawab bagimana, saya mau cucu saya segera anda nikahi"
"Saya akan menikahi Meta tapi saya tidak bisa menikahi Meta secara resmi"
"Maksud Bapak Apa"
"Saya tahu perbuatan saya salah dimata istri dan keluarga saya sekarang, tapi bagaimanapun saya harus menghormati istri saya Bunga, yang baru meninggal sepuluh hari bagaimana saya langsung menikah apa kata orang-orang nanti dan ini tidak, menyangkut saya saja,juga Meta apa kata para tetangga nanti yang tahu bahwa Meta sudah menghancurkan rumah tangga saya yang datang kerumah saya hanya sebagai pelakor."
"Jadi mau Bapak Apa, menunggu istri Bapak Bangkit kembali dan meminta restu" Nenek Aini mulai menunjukan taringnya, perempuan tua itu sudah ahli akan kejahatan dan dendamnya jadi menghadapi Rudiansyah tak takut bagi nya dengan senjata kehamilan Meta. Namun Nenek Aini, tidak tahu bahwa Rudiansyah bukanlah lelaki bodoh, dia sudah menghadapi berbagai macam hal di kehidupanya. sebagai pejabat.
"Saya tidak mengatakan minta restu. mana mungkin saya harus meminta restu pada istri saya yang sudah tiada, saya hanya ingin menghargainya, tanah kuburannya masih merah dan saya sudah membawa Meta kerumah saya sebagai istri saya baru, yang Ada Meta dan keluarga saya akan dicemooh banyak orang."
"Saya akan menikahi Meta secara Siri, setelah menikah saya akan membawa Meta dari kampung ini dan menyewakan rumah untuk dia"
"Selama menikah Meta harus tetap menjaga rahasia ini, saya akan menanggung semua biaya kehidupan nya, Nenek tahu saya butuh proses untuk mengurus semua data karena saya seorang pejabat pemerintah, dan selama itu perut Meta akan membesar"
"Jadi Bapak akan menikahi Cucu saya secara sembunyi-sembunyi"
"Iya saya rasa itu deal, karena perut Meta akan semakin.besar dan dia tidak akan malu karena memiliki suami walau nikah secara Siri dan saya akan tetap bertanggung jawab"
Otak Nenek Aini mulai berfikir keras dan tak mudah bagi dirinya menaklukkan lelaki di depannya, karena apa yang dikatakannya itu benar. Meta yang mendengar ucapan Rudiansyah, nampak kaget karena dia menginginkan nikah reemi dan bisa menguasai harta Rudiansyah dan membuang Dinar, wanita yanga selalu bahagia dan bangga dengan keluarganya, kini sudah dihancurkannya.
Meta menerima perkawinan ini dan akan menjalankan strategi lainnya nanti setelah menjadi istri Rudiansyah, yang penting saat ini adalah menyelamatkan perutnya lebih dahulu yang semakin lama pasti akan membesar.
"Bagaimana kami menolak"
"Nenek"
"Ini adalah negosiasi saya sudah bersedia mempertanggung jawabkan semua, jika Nenek Aini menolak saya akan lepas tangan dan silakan apa yang anda ingin lakukan saya siap menunggu"
"Nenek jangan" Meta menangis menguatkan kepura-puraannya.
"Meta bersedia menikah dengan Mas Rudiansyah walau secara Siri yang pasti Anak ini punya Ayah dan mengetahui siapa Ayahnya"
"Jadi kamu bersedia Meta? "
"Iya semakin hari perut ini akan semakin besar Nek tak ada waktu lagi"
"Baiklah"
Akhirnya mereka sepakat akan melangsungkan pernikahan Siri di kediaman Ustad yang akan menikahi mereka dua hari lagi yang dicari oleh Rudiansyah.
Setelah itu Rudiansyah akan membawa Meta ke apartemen yang disewanya.