Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan di Balik Redupnya Langit
Debu-debu yang semula melayang statis di udara perlahan luruh, jatuh bersamaan dengan meredupnya pendaran merah di sekujur lengan Naomi. Napas gadis itu tersengal, dadanya naik turun dengan tidak teratur seiring dengan keputusannya untuk menarik kembali energi rune purba yang sempat mengamuk. Langit Sanjaya yang tadinya memerah pekat bagai genangan darah, perlahan menyusut, kembali menjadi abu-abu redup, warna langit yang biasa menyelimuti kerajaan itu saat musim gugur mulai menyapa.
Keheningan yang tersisa di pelataran kini terasa lebih dingin. Tekanan luar biasa yang sempat membuat para pengawal berlutut telah lenyap, meninggalkan rasa lemas yang luar biasa di dalam tubuh Naomi. Ia hampir saja terhuyung ke belakang jika Ares tidak dengan sigap menahan bahunya.
"Kau aman sekarang," bisik Ares, matanya menatap cemas pada garis-garis hitam yang kini tercetak permanen di kulit lengan saudarinya.
Di ujung pelataran, derap langkah kuda yang megah memecah keheningan yang tersisa. Kereta kencana berlambang burung pegasus hitam, simbol dari Kerajaan Warden, merangsek masuk ke tengah halaman istana yang hancur. Pintu kereta terbuka kasar, dan turunlah Raja Warden bersama Ratu Cici. Wajah kedua penguasa itu dipenuhi oleh kombinasi antara amarah yang tertahan dan harga diri yang terluka.
Ratu Cici berlari kecil menghampiri Ciara yang masih dipapah oleh para pengawalnya. "Ciara! Demi Dewa, apa yang terjadi denganmu?" Ratu Cici memeluk putrinya, lalu menatap tajam ke arah Raja Sanjaya yang masih mematung di atas balkon.
Raja Warden melangkah maju, pedang upacaranya bergemerincing halus. "Sanjaya! Kau mengundang kami ke sini untuk sebuah aliansi suci, bukan untuk melihat putriku dijadikan target amukan sihir oleh anak harammu!" Suara Raja Warden menggelegar, penuh dengan ancaman perang yang nyata.
Raja Sanjaya, yang kini tampak seperti pria tua yang kehilangan sisa-sisa kejayaannya, hanya bisa menunduk. "Ini... ini adalah kesalahpahaman yang akan kami selesaikan, Yang Mulia."
"Tidak ada yang perlu diselesaikan lagi hari ini!" potong Ratu Cici sambil menuntun Ciara masuk ke dalam kereta kencana. "Kami membawa Ciara pulang ke Warden sekarang juga. Tapi jangan mengira aliansi ini batal. Perjodohan ini... pernikahan antara Ares dan Ciara akan tetap berlanjut setelah badai di istanamu ini kau bersihkan, Sanjaya! Kerajaan kami tidak akan membiarkan garis keturunan suci ini runtuh hanya karena kekacauan domestikmu."
Ciara, sebelum pintu kereta ditutup, sempat menoleh ke arah panggung eksekusi. Matanya yang biru jernih menatap Naomi dengan tatapan yang sulit diartikan, tidak ada lagi penghinaan, melainkan rasa hormat yang dingin kepada musuh yang sepadan. "Kita akan bertemu lagi di altar, Ares. Dengan atau tanpa monster itu di sisimu," gumam Ciara sebelum kereta kencana itu berbalik arah dan memacu kudanya meninggalkan pelataran Sanjaya, meninggalkan kepulan debu yang perlahan menipis.
Setelah rombongan Kerajaan Warden menghilang di balik gerbang utama, pelataran istana kembali sepi. Para prajurit Sanjaya menurunkan senjata mereka atas perintah Ares. Ratu Ara sendiri telah meninggalkan balkon dengan langkah kaki yang menghentak, enggan menatap suaminya yang telah menorehkan luka pengkhianatan terdalam di hatinya.
Ares berbalik, menghadap Naomi yang kini terduduk di tepi panggung kayu. Rantai-rantai yang hancur berserakan di sekitar kakinya. Ares berlutut di depan gadis itu, mencoba meraih jemari Naomi yang terasa sedingin es.
"Naomi," panggil Ares, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan.
Naomi mendongak. Di dalam benaknya, kilasan masa lalu saat ia hanya bisa memandang Ares dari balik jendela dapur kembali berputar. Rasa kagum, debaran jantung yang selalu hadir setiap kali sang pangeran lewat, dan rasa cemburu yang membakarnya saat melihat Ciara...semuanya kini terasa seperti lelucon yang kejam.
"Kita tidak bisa, Ares," ucap Naomi, air mata yang tulus perlahan menetes di pipinya yang pucat. Ia menarik tangannya dari genggaman Ares. "Rasa yang selama ini ada di dalam dadaku... rasa cemburu yang membuatku ingin menghancurkan Ciara... semuanya adalah kesalahan."
Ares terdiam, tenggorokannya tercekat. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Naomi. Rasa hangat yang selalu ia rasakan setiap kali Naomi berada di dekatnya, kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan dari Ciara, ternyata bukanlah benih-benih romansa biasa. Itu adalah panggilan darah.
"Satu ayah, beda ibu," lanjut Naomi dengan senyum yang dipaksakan, sebuah senyuman yang penuh dengan kepedihan. "Darah Raja Sanjaya mengalir di nadiku, sama seperti mengalir di nadimu. Semesta mengikat kita sebagai saudara, Ares. Bukan sebagai sepasang kekasih."
Ares mengepalkan tangannya di atas lutut. Kenyataan ini menghantamnya lebih keras daripada perpindahan rune semalam.
Perjodohannya dengan Ciara masih harus berlanjut demi keselamatan politik kerajaan, sementara gadis yang selama ini menjadi alasan mengapa ia ingin bertahan di istana yang dingin ini, ternyata adalah saudarinya sendiri yang tidak akan pernah bisa ia miliki.
"Takdir benar-benar suka bercanda dengan kita," bisik Ares, menatap langit Sanjaya yang semakin meredup, kembali ke warna abu-abu yang menjemukan.
Naomi berdiri, dibantu oleh Martha yang segera memeluknya dari belakang. Naomi menatap Ares untuk terakhir kalinya hari itu dengan tatapan seorang kakak perempuan yang melepaskan adiknya menuju tugas besar. "Jalani takdirmu dengan Ciara, Pangeran Ares. Dan biarkan aku... menjalani takdirku sendiri sebagai pemegang rune yang terbuang."