Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayembara Penentu Kipas 102
Pangeran muda Syah Hang dan panglima Wai Hang sudah tiba di penjara istana Perdana menteri Dong Zhang. Keduanya di penjara dalam satu kurungan. Dan tempatnya berbeda dari penjara pada umumnya.
"Sebenarnya apa yang direncanakan pangeran?" Wai Hang memandangi sang pangeran bertopeng yang tetap tenang meski di dalam penjara.
"Besok kita pasti keluar dari tempat ini panglima Wai" dengan senyum yang disembunyikan dibalik topengnya.
"Anda yakin?" keraguannya membuat rasa kepercayaan pada pangeran Syah Hang mulai terkikis.
"Iya, aku sangat yakin"
"Dong Zhang sangat licik pangeran" Wai Hang mengatakannya dengan penekanan.
"Aku tau itu panglima. Tapi apa yang sedang kucari ada disini"
"Maksudnya pangeran?"
"Kipas 102 ada di istana ini"
"Pangeran seperti memiliki cermin sakti dari dewa langit yang bisa melihat sesuatu yang tersembunyi" Wai Hang terkekeh karena meragukan ucapan pangeran bertopeng.
"Besok aku akan mendapatkan kipas itu. Dan juga kudaku"
Wai Hang hanya diam dengan segala keraguannya. Sikap dan sifat pangeran Syah Hang terlihat berubah. Seolah menjadi anomali setelah memakai topeng Hua Khon. Dan mungkin itu dampak dari energi yang dimiliki topeng Hua Khon.
"Perdana menteri tiba!"
Seluruh penjaga penjara memberi hormat pada perdana menteri Dong Zhang tanpa terkecuali.
"Bukakan pintu, aku ingin masuk" perdana menteri Dong Zhang menunjuk penjara pangeran Syah Hang dan Wai Hang.
"Baik tuan perdana menteri"
Pintu penjara pangeran muda Syah Hang dan panglima Wai Hang pun dibuka oleh penjaga. Dong Zhang masuk ke dalam ruang penjara itu. Wai Hang melirik ke arah pangeran muda Syah Hang yang tetap duduk tenang di tempatnya.
"Aku datang kemari tidak hanya sekedar ingin bertemu kalian" perdana menteri Dong Zhang mengusap-usap jenggotnya.
"Kalian berdua bukan orang biasa. Aku tau itu, jadi aku ingin menawarkan kalian untuk ikut sayembara yang aku buat besok. Sebagai imbalannya pemenang utama akan aku jadikan pengawal kususku"
"Terdengar sangat menarik tuan menteri Dong Zhang. Tentunya kami akan memikirkannya malam ini. Tapi ada syarat untuk tuan menteri" pangeran Syah Hang memulai diplomasinya.
Dong Zhang tertawa geli mendengar ucapan dari pangeran bertopeng alias sang putra mahkota asli.
"Syarat apa yang tuan bertopeng tawarkan?"
"Syaratnya cukup sang pemenang yang menentukan hadiahnya" dengan senyum kecerdikan di balik topengnya.
Perdana menteri Dong Zhang terdiam sesaat untuk menimbang-nimbang syarat yang pangeran bertopeng ajukan.
"Baiklah, aku setujui syarat yang tuan bertopeng ajukan. Tapi jika tuan kalah, maka topeng itu menjadi milikku" perdana menteri Dong Zhang tersenyum penuh kelicikannya.
"Anda harus pikirkan baik-baik pangeran bertopeng" Wai Hang berdiri dari duduknya.
"Tuan perdana menteri, jika topeng ini menjadi taruhannya. Baiklah biarkan besok menjadi penentuannya. Aku sangat berharap pendekar Xhan juga ikut dalam sayembara esok"
"Anda mengenal pendekar Xhan?" perdana menteri Dong Zhang tidak menyangka jika pangeran bertopeng juga mengenal pendekar bayarannya.
"Pendekar Xhan pendekar yang cukup terkenal. Apalagi sekarang dia memegang kipas legendaris 102"
"Darimana pangeran tau kalau kipas itu ada disini?" ujar panglima Wai dalam hatinya.
"Anda benar-benar bukan orang sembarangan. Baiklah aku tunggu besok di aula utama" perdana menteri Dong Zhang pun keluar dari penjara meninggalkan pangeran bertopeng dan panglima Wai Hang.
"Panglima Wai, persiapkan tenaga untuk sayembara esok. Tidurlah lebih awal" pangeran Syah Hang pun membaringkan tubuhnya di atas tumpukan jerami padi kering yang disusun rapi.
"Semoga keberuntungan ada dipihak kita pangeran" Wai Hang pun merebahkan tubuhnya di samping pangeran bertopeng.
~~
Istana Pusat Ibukota
Selir Tsu En bersama Raja Hang Dzo yang sedang sakit di kamarnya.
"Aku akhir-akhir ini selalu dihantui rasa bersalah yang tiada henti" Raja Hang Dzo menghela nafas panjang.
"Seharusnya paduka tidak berpikir seperti itu. Paduka hanya menjalankan peraturan kerjaan. Jadi paduka tidak bersalah" Selir Tsu En selalu meracuni pikiran Raja Hang Dzo.
"Tapi bagaimana pun apa yang aku lakukan sangat kejam" buliran air mata itu kembali membasahi mata Raja Hang Dzo.
"Yang mulia paduka, apakah aku tidak bisa membuat paduka merasa bahagia? Aku sudah berusaha menjadi pengganti kakak Hyung sebaik mungkin. Tapi jika masih kurang untuk paduka, biarkan aku pergi dari istana ini" selir Tsu En meneteskan air mata buayanya.
"Aku tidak pernah menginginkan mu pergi Tsu En"
"Jika paduka tidak menginginkan ku pergi, jangan pernah berfikir tentang kakak Hyung lagi" selir Tsu En memeluk Raja Hang Dzo dengan raut wajah penuh dengan kepalsuannya.
"Aku hanya merasa bersalah dan berdosa telah membuang putra kandungku sendiri" Raja Hang Dzo menyibak air matanya.
Setelah dua puluh tahun lamanya, Raja Hang Dzo tersiksa batinnya dengan rasa bersalahnya telah membiarkan putra mahkotanya tersingkirkan entah kemana rimbanya.
~~
Di Istana Tepi Barat Kota
Pangeran Hang Djie tengah bercinta dengan wanita-wanita nya. Seperti biasanya, pangeran Hang Djie kembali berenang ke lembah lendir kenikmatan paling durjana.
Malam itu pangeran Hang Djie tengah mengangkangi wanita-wanitanya dengan gagahnya. Malam itu pun kembali pangeran Hang Djie telah menembus bagian inti di tengah selangkangan wanita-wanitanya.
AAARRRGGHHHH....
Lenguhan disertai cengkeraman tanda konak pada wanita-wanitanya yang sampai pada klimaksnya. Hingga berkali-kali menggema di kamar durjana miliknya.
~~
Pangeran muda Syah Hang alias pangeran bertopeng sedang duduk bermeditasi. Topeng Hua Khon miliknya memantulkan siluetnya di bawah cahaya sinar lampu yang temaram.
"Lima jam lagi, aku harus persiapkan semuanya dengan baik" pangeran Syah Hang duduk dengan bersandar di dinding penjara istana Perdana menteri Dong Zhang.
Pasukan penjaga penjara pun datang membawakan secarik kertas berisikan pesan dari perdana menteri Dong Zhang.
"Surat dari tuan perdana menteri Dong Zhang untuk tuan bertopeng"
"Terima kasih" pangeran Syah Hang menerima surat dari perdana menteri Dong Zhang.
"Sepertinya perdana menteri Dong Zhang sangat menginginkan topeng ini" ujar pangeran Syah Hang dalam hatinya.
"Kipas 102 harus kembali ke tanganku. Dan topeng ini juga tidak akan kubiarkan jatuh ke siapapun"
Lalu pangeran bertopeng membaca surat dari perdana menteri Dong Zhang.
"Tuan bertopeng, 5 pendekar sudah terdaftar menjadi peserta sayembara nanti. Dan aku sangat berharap anda benar-benar mengikuti sayembara yang aku adakan nanti"
5 liung Fah, 206 Mashe
Perdana menteri Istana Dzo
Dong Zhang,,,,
Pangeran Syah Hang menghela nafasnya cukup panjang. Kali ini ia benar-benar sedang berpikir keras untuk mengambil keputusan. Keputusan sebagai penentu untuk kipas sakti 102 pemberian ketua Putih sang guru dan juga orang tua yang telah megasuhnya dari kecil.
"Sayembara ini akan menjadi penentu siapa yang layak memiliki kipas legendaris 102 itu"