Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Tidak Ramah
Pagi hari datang membawa bias cahaya matahari yang mulai merayap naik.
Namun di dalam rumah mewah Arsen, atmosfernya terasa berbanding terbalik. Suasana sarapan pagi itu berlangsung persis seperti biasanya: dingin, sunyi, dan sangat tidak nyaman.
Meja makan panjang berbahan kayu mahoni yang mampu menampung belasan orang itu kini hanya ditempati oleh tiga orang saja; Arsen, Axel, dan Elio.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka suara. Hanya bunyi lentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen yang menjadi satu-satunya melodi di dalam ruangan besar tersebut.
Elio melirik ke arah kakaknya diam-diam dari sudut mata. Bekas kemerahan di pipi kiri Axel memang sudah hampir samar dan menghilang pagi ini.
Namun, suasana hati sang kakak jelas terlihat belum membaik sama sekali. Axel menyantap makanannya dengan wajah sedatar tripleks, tatapannya kosong mengarah ke piring, dan dia sama sekali tidak menoleh sedikit pun ke arah sang ayah.
Di tempatnya, Arsen tampak membaca berita bisnis melalui layar tabletnya sambil sesekali menyeruput kopi hitam tanpa gula. Pria itu bersikap sangat tenang, seolah-olah insiden tamparan keras semalam tidak pernah terjadi.
Namun, hanya Arsen sendiri yang tahu bahwa sepanjang malam tadi, dia sama sekali tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak.
“Axel,” suara berat Arsen akhirnya memecah keheningan yang mencekam itu. Gerakan sendok di tangan Axel langsung terhenti seketika, namun bocah itu tetap bungkam.
“Setelah pulang sekolah nanti, kamu harus langsung pulang ke rumah. Tidak ada alasan untuk keluyuran lagi.”
Axel kembali menggerakkan sendoknya, melanjutkan makannya seolah suara Arsen hanyalah angin lalu.
Sikap acuh tak acuh itu sontak membuat rahang Arsen kembali mengeras menahan dongkol.
Namun kali ini, pria itu mencoba sekuat tenaga untuk meredam emosinya agar tidak meledak di depan si bungsu.
“Papa sedang bicara dengan kamu, Axel.”
Mendengar itu, Axel perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan mata kedua manusia berkarakter keras itu akhirnya saling bertemu di udara.
Dan untuk sepersekian detik, atmosfer di dalam ruang makan tersebut terasa semakin dingin dan membeku.
“Aku dengar,” jawab Axel dengan nada datar yang terkesan dingin.
Setelah mengeluarkan dua kata itu, dia kembali menunduk dan menyelesaikan suapannya.
Elio langsung otomatis menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencengkeram sendok kecilnya dengan erat.
Meskipun baru berusia enam tahun, bocah kecil itu sudah cukup paham dengan situasi tegang ini; jika ayah dan kakaknya sudah mulai saling melempar tatapan tajam, maka suasana rumah akan menjadi sangat menakutkan.
Beruntung, ketegangan pagi itu tidak berlanjut menjadi pertengkaran hebat. Beberapa menit kemudian, Axel berdiri dari kursinya lebih dulu.
“Permisi.”
Bocah itu melangkah pergi begitu saja meninggalkan area meja makan, meninggalkan Arsen yang masih mematung, dan meninggalkan keheningan yang semakin lama terasa semakin menyakitkan di dalam rumah megah tersebut.
...----------------...
Sementara itu, berbeda jauh dengan kemewahan rumah Arsen, fajar di kontrakan kecil Alana justru berakhir dengan dengung kipas angin tua dan posisi tidur yang sukses membuat lehernya mati rasa saat fajar menyingsing.
“Auww...” Alana langsung meringis tertahan begitu kelopak matanya terbuka. Lehernya terasa sangat kaku dan nyeri, persis seperti habis dipakai untuk mengangkat tabung gas tiga kilogram semalaman.
Perlahan, gadis itu mengangkat kepalanya dari atas tumpukan buku kuliah yang kini tampak lecek penuh bekas lipatan pipi. Butuh waktu beberapa detik bagi kesadarannya untuk benar-benar terkumpul sepenuhnya.
Namun, begitu matanya menangkap layar ponsel yang tergeletak di samping bantal, netranya langsung melotot sempurna.
05.12
“Ya Allah, hampir aja!” Alana langsung bangkit dan duduk terduduk tegak.
Untung saja dia belum kesiangan. Kalau sampai jarum jam melesat melewati pukul lima tiga puluh, dia dipastikan akan terlambat menyiapkan bahan jualan untuk pagi ini.
Gadis itu memaksakan diri untuk berdiri meskipun seluruh tubuhnya berteriak protes karena pegal. Punggung sakit, leher nyeri, dan kakinya sempat kesemutan. Rasanya benar-benar seperti habis dipukuli oleh kerasnya kehidupan secara berjamaah.
Namun seperti biasa, tidak ada waktu bagi seorang Alana untuk mengeluh terlalu lama.
Beberapa menit kemudian, Alana sudah berdiri tegak di dapur kecilnya yang super sempit. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas, apron usang sudah terpasang rapi, dan sebuah cobek batu berukuran besar kini sudah berada di hadapannya.
“Cabai lima kilo… bawang dua kilo… ayam marinasi…” Tangannya mulai bergerak cepat dan otomatis.
Suara hantaman ulekan batu yang beradu dengan cobek menggema konsisten di ruangan sempit itu.
Sinar matahari pagi perlahan mulai merayap masuk melalui celah jendela kecil dapur, sementara Alana masih sibuk bergulat dengan tumpukan cabai yang jumlahnya sama sekali tidak manusiawi.
Matanya mulai berair dan hidungnya memerah akibat hawa pedas yang menyengat udara.
Namun, tangannya tidak berhenti bergerak sedikit pun. Karena dia tahu betul, jika dia berhenti berjuang hari ini, maka tidak akan ada uang yang mengalir masuk ke dompetnya.
Tepat pukul enam lewat sedikit, kedai kecil ayam geprek itu resmi dibuka.
Beberapa pelanggan tetap yang mayoritas adalah mahasiswa langsung berdatangan memadati area depan etalase, seolah sudah sangat hafal jadwal jualan Alana.
“Kak Alana, satu dibungkus ya!”
“Siap!”
“Teh hangat satu, ya!”
“Siap, langsung dibuat!”
Pagi itu berjalan dengan cukup lancar dan ramai, hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
Begitu pelanggan terakhirnya pergi, Alana langsung bergerak kilat bak kesurupan untuk bersih-bersih dan menutup etalase.
Namun, tepat saat dia sedang mengelap meja kasir, ponsel di dalam saku apronnya bergetar heboh. Nama Naira terpampang jelas di layar. Alana langsung mengangkat panggilan itu, menjepit ponselnya di antara telinga dan bahu.
“Kenapa, Nai? Gue lagi ribet bebenah nih.”
“Alana! Lo udah jalan ke kampus belum?! Hari ini gue sama Damar nggak bisa ketempat lo.” suara Naira di seberang sana terdengar panik.
Alana mengernyit bingung. “Belum, ini baru mau siap-siap mandi. Santai aja sih, kelas kan jam sembilan.”
“Santai bapak lo gundul! Lo lupa hari ini kelasnya siapa jam pertama?”
Seketika itu juga, gerakan tangan Alana yang sedang memegang kain lap langsung membeku. “Hah? Kelas... oh, Pak Arsen?”
“Iya! Pria kaku itu kemarin kan sempat bilang, dia benci banget sama mahasiswa yang nggak disiplin. Kalau lo telat satu menit aja di hari kedua dia mengajar, habislah riwayat lo, Alana!”
Mendengar itu, pasokan oksigen di paru-paru Alana rasanya seperti tersedot habis. Kebahagiaan paginya lenyap dalam sekejap.
“Gue tutup telepon dulu!”
Alana langsung memutus panggilan sepihak. Kepanikan tingkat tinggi langsung menguasai dirinya. Sisa pagi itu dihabiskannya dengan bergerak kilat.
Dia mandi seadanya, menyambar baju kuliah yang masih agak lembap dari jemuran, dan tanpa sempat menyentuh sisir apalagi dandan, Alana langsung mengunci pintu kontrakan rapat-rapat.
Gadis itu melangkah dengan ritme super cepat—setengah berlari—menyusuri gang-gang tikus dan trotoar jalan besar di bawah sengatan matahari pagi yang mulai terasa terik.
Bau sisa cabai dan bawang goreng yang samar-samar masih menempel di ujung jarinya seolah ikut terbawa angin seiring langkah kakinya yang kian terburu-buru.
Napasnya mulai memburu, sementara jarum jam di pergelangan tangan terus bergerak kejam tanpa mau berkompromi.
Perjuangan jalan kaki dengan kecepatan penuh itu akhirnya membawa Alana tiba di gerbang fakultas tepat saat jam dinding besar di lobi menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit.
Alana terlihat berjalan setengah berlari di sepanjang koridor, tampak kepayahan seperti peserta lomba maraton yang kehabisan napas.
Tas ransel di punggungnya berguncang hebat, binder di pelukannya hampir terjatuh sampai tiga kali, dan tatanan rambutnya sudah berantakan tidak karuan akibat keringat yang mulai menetes di pelipisnya.
“MISI! PINJAM JALANNYA BENTAR!” teriak Alana heboh sambil menerobos kerumunan mahasiswa yang sedang berjalan santai di koridor gedung fakultas.
Beberapa mahasiswa langsung menoleh dengan pandangan heran, sementara Alana terus memacu kedua kakinya tanpa memedulikan harga diri lagi.
“Nggak boleh mati sekarang… gue belum kaya…” gumamnya tak beraturan dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan ngos-ngosan.
Begitu tiba di depan pintu ruang kelas yang sudah tertutup rapat, dia langsung menemukan sosok Naira dan Damar yang rupanya sedang berdiri di koridor dengan wajah cemas.
“Gimana? Pak Arsen udah masuk?” tanya Alana buru-buru sambil memegangi lututnya yang lemas.
Naira menatap Alana dengan pandangan prihatin sekaligus ngeri, lalu menunjuk ke arah jendela kaca kelas yang memperlihatkan sesosok pria tegap berkemeja hitam sedang berdiri di depan proyektor. “Udah masuk dari lima menit yang lalu. Dan lo tahu sendiri kan, dia paling benci orang telat.”
Damar hanya bisa menghela napas panjang yang sangat berat melihat nasib sahabatnya itu. “Alana, Alana… tamat riwayat kita hari ini.”
“Gue hanya manusia biasa yang berjuang jalan kaki sekuat tenaga, Damar,” bela Alana lemas.
Belum sempat mereka melanjutkan perdebatan kecil itu, pintu kayu kelas mendadak terbuka dari dalam.
Sosok Arsen kini berdiri tegak di ambang pintu, menatap Alana lurus-lurus tepat di matanya dengan pandangan sedingin es yang memancarkan aura ancaman akademik luar biasa.
Detik itu juga, jantung Alana rasanya seperti merosot jatuh ke perut.
“Selamat pagi. Kenapa kalian masih berdiri di luar?” suara berat Arsen terdengar datar, namun sukses membuat bulu kuduk Alana meremang.
Alana rasanya ingin menangis kencang di tempat itu juga menghadapi kenyataan hidupnya yang pahit di hari kedua kuliah bersama dosen killer ini.
...----------------...
Namun di saat yang bersamaan, jauh di sudut kota yang lain.
Seorang anak laki-laki bernama Axel yang sedang duduk diam di dalam kelas sekolahnya, tiba-tiba saja teringat pada sosok gadis penjual ayam geprek cerewet yang terus-menerus memaksanya untuk berbicara semalam.
Dan tanpa disadari oleh dirinya sendiri, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sudut lipatan bibir bocah dingin itu tampak bergerak terangkat naik dengan sangat tipis. Nyaris menyerupai sebuah senyuman tulus.
Dan tanpa mereka semua sadari, roda takdir yang bertugas mempertemukan jiwa-jiwa yang terluka itu kini perlahan-lahan mulai bergerak melangkah lebih jauh.