Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Mantan Suami
Malam merayap lambat di atas langit ibu kota, meninggalkan jelaga hitam yang seolah membungkus kamar utama kediaman Mahesa dengan atmosfer yang mencekik. Di dalam ruangan yang luas itu, Alfandi Rian Mahesa berjalan mondar-mandir bagai singa yang terkurung dalam sangkar besi. Kemeja kerjanya sudah kusut masai, dua kancing teratasnya terbuka, menampilkan urat-urat leher yang menegang kemerahan seiring dengan napasnya yang memburu kasar.
Kemurkaan, rasa malu, dan cemburu yang membakar hebat bergolak menjadi satu di dalam dada Rian, menciptakan ramuan racun yang mengacaukan seluruh fungsi warasnya.
"Sialan! Kurang ajar kamu, Sintia!" umpat Rian setengah berteriak, suaranya parau dan bergetar hebat karena menahan amarah yang meledak-ledak.
Ia menyugar rambutnya dengan kasar, menatap nanar ke arah laci meja kerja tempat ia biasa menyimpan dokumen-dokumen penting yang kini telah berpindah ke tangan pengacara Sintia. Rian benar-benar tidak menyangka. Selama tujuh tahun pernikahan mereka, Sintia adalah wanita yang paling penurut, seorang istri yang jiwanya telah ia jinakkan hingga tak pernah sekalipun memprotes keputusannya. Bagaimana mungkin wanita yang sama kini nekat menelanjanginya di depan majelis hakim? Bagaimana mungkin Sintia dengan begitu tega mengungkit urusan modal perusahaan dan kepemilikan rumah mewah ini?
Namun, di atas semua tuntutan hukum yang mengancam sisa hartanya, ada satu hal yang jauh lebih menyiksa batin Rian: bayangan Kenzi Hutama.
Setiap kali Rian memejamkan mata, wajah oriental yang teramat tampan dan angkuh itu kembali hadir, menertawakan harga diri maskulinnya yang telah runtuh ke dalam selokan. Sentuhan tangan Kenzi di pinggang ramping Sintia di lobi pengadilan tadi pagi terasa seperti besi panas yang ditempelkan langsung pada jantung Rian. Rasa cemburu yang teramat hebat mencengkeram tenggorokannya hingga sesak. Rian tidak rela. Ia tidak sudi melihat wanita yang baru saja ia buang dan ia cap sebagai "barang cacat yang mandul", kini justru berdiri dengan anggun di bawah dekapan pria dari kasta tertinggi di negeri ini.
Rian menyambar ponselnya yang tergeletak di atas ranjang dengan gerakan menyentak. Ibu jarinya yang gemetar mencari nama Sintia di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil.
Tuuut... Tuuut... Tuuut...
Suara nada sambung itu terdengar datar, memotong keheningan kamar. Jantung Rian bertalu kencang. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya begitu erat hingga pelipisnya sakit.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”
"Aaaarrghh!!" Rian menjerit frustrasi. Ia membanting ponselnya ke atas kasur beludru. "Angkat, Sintia! Angkat teleponku, sialan! Jangan bersembunyi di balik punggung pria itu!"
Rian mencengkeram kepalanya sendiri. Ia tahu betul ia tidak bisa tinggal diam. Jika sidang berikutnya tiba dan Bramantyo berhasil membuktikan semua aliran dana itu, maka tamatlah riwayatnya. Rumah ini akan disita, perusahaannya akan dilikuidasi, dan ia akan keluar dari ruang pengadilan sebagai seorang pecundang yang bangkrut total.
"Aku harus menemuinya. Aku harus membuat wanita bodoh itu membatalkan semua tuntutan gila ini!" desis Rian, matanya berkilat penuh tekad yang nekat dan berbahaya. Ia akan menggunakan cara apa pun—baik rayuan, manipulasi, ataupun ancaman—untuk menundukkan Sintia kembali di bawah kakinya.
****
Sementara badai amarah sedang memporak-porandakan kamar utama, di kamar sebelah yang menjadi kamar sementara Arka, pemandangan yang bertolak belakang terjadi.
Anak laki-laki kecil berusia enam tahun itu sedang duduk di atas lantai karpet, berusaha menyusun balok-balok mainan dengan tangan-tangan mungilnya. Wajahnya yang polos tampak mendamba kehangatan, sepasang mata elangnya sesekali melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, berharap sang ibu akan masuk untuk membacakannya dongeng sebelum tidur atau sekadar mengusap rambutnya.
Namun, wanita yang ia harapkan sama sekali tidak berniat menoleh ke arahnya.
Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke jalan raya, Suci Wahyuni berdiri tegak. Ia mengabaikan keberadaan anak kandungnya sendiri sepenuhnya. Bagi Suci, Arka telah menyelesaikan tugas utamanya: menjadi tiket masuk untuk meruntuhkan posisi Sintia dan memikat hati Anne. Kini, setelah pintu gerbang kediaman Mahesa terbuka untuknya, nilai kegunaan bocah itu mendadak menyusut di mata licik Suci.
Fokus hidup Suci saat ini telah bergeser ke tempat yang jauh lebih berkilau.
Tangan Suci bergerak lincah di atas layar tablet pintarnya. Ia sedang menjelajahi mesin pencari, mengetikkan kata kunci yang sejak sore tadi berputar-putar di kepalanya: Kenzi Hutama.
Ratusan artikel, foto, dan video tentang pewaris tunggal Hutama Group itu langsung memenuhi layarnya. Suci memperbesar sebuah foto yang menampilkan Kenzi dalam balutan setelan tuksedo hitam di sebuah acara amal internasional. Wajah tampan berstruktur tegas tanpa cela, sepasang mata sipit yang memancarkan pesona dingin yang mematikan, dan pembawaan aristokrat yang sempurna.
Suci menarik napas dalam-dalam, matanya berbinar penuh gairah keserakahan yang tak terbendung. Bibirnya yang dipulas lipstik merah muda menyunggingkan sebuah seringai yang amat mengerikan.
"Pria seperti inilah yang pantas bersanding denganku," bisik Suci pada pantulan kaca jendela yang gelap. "Bukan pria pecundang seperti Rian yang bahkan tidak bisa mempertahankan rumahnya sendiri dari amukan mantan istrinya."
Suci sama sekali tidak peduli pada nasib Rian yang berada di ambang kebangkrutan. Baginya, Rian hanyalah sebuah sekoci tua yang kini bocor dan siap tenggelam. Menaruh kesetiaan pada pria yang akan segera menjadi gembel adalah kebodohan terbesar yang tidak akan pernah Suci lakukan dalam hidupnya. Ia harus bergerak cepat. Sebelum ketukan palu hakim merampas seluruh harta keluarga Mahesa, Suci harus sudah berhasil menancapkan kuku-kuku bisanya pada tubuh Kenzi Hutama.
****
Otak kriminalnya mulai merancang sebuah rencana kejahatan yang teramat rapi. Ia harus mencari tahu di mana klub malam yang biasa dikunjungi Kenzi, jadwal pertemuan bisnisnya, atau acara sosial apa pun yang akan dihadiri oleh pria oriental itu. Ia akan mendesain sebuah "pertemuan tidak sengaja" yang sempurna, menggunakan seluruh daya pikat sensualnya untuk membuat Kenzi berpaling dari Sintia.
"Mama... Arka haus. Mau minum susu," sebuah suara cicitan lirih memecah keheningan ruangan. Arka berdiri di belakang Suci, menarik ujung gaun ibunya dengan tatapan memohon.
Suci tersentak, merasa privasi pikirannya diganggu. Ia menurunkan tabletnya dengan kasar, lalu membalikkan badan, menyorotkan tatapan matanya yang teramat dingin dan tajam pada anak kandungnya sendiri.
"Jangan manja, Arka! Ambil sendiri ke dapur atau panggil Nenek!" bentak Suci dengan nada ketus, sama sekali tidak mencerminkan kelembutan seorang ibu yang selama ini ia pamerkan di depan Rian dan Anne. "Mama sedang sibuk urusan penting! Jangan mengganggu!"
Bocah kecil itu ketakutan. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis saat melihat kilat kemarahan di mata ibunya. Tanpa suara, Arka mundur perlahan, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah gontai dan kepala menunduk dalam.
Suci bahkan tidak melihat ke mana anaknya pergi. Ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap jendela, melanjutkan pencariannya tentang kehidupan Kenzi Hutama. Ambisinya telah membutakan seluruh nuraninya. Di atas puing-puing rumah tangga Mahesa yang mulai retak, sang ular telah bersiap melepaskan kulit lamanya demi memburu sangkar emas baru yang jauh lebih megah di atas awan.